
Dadaku terasa sesak, tiap kali Young Joon mengucapkan hal itu.
Pipiku memanas karenanya...
"A-apa maksudmu...?"
"Hari ini, aku sama sekali tidak mendengar umpatanmu... Hahahahaaa..." Katanya kemudian menatap lurus ke depan.
Apa?! Apa maksud dari ucapannya itu?!
"Apa mak..."
"Lebih mudah menghadapi Jennifer Elizabeth Lie, ketika dia mengumpat." Ucapnya, menoleh ke arahku
Aku tertegun, memikirkan ucapannya.
Apakah dia mengenalku sebagai orang yang hobi mengumpat, hingga dia berkata demikian? Apakah aku tidak pernah bersikap manis kepadanya selama ini? Apakah...
Suara perutku memecahkan keheningan ini, kami saling menatap, kemudian tertawa...
"Baiklah, bagaimana ini?"
"Bagaimana apanya?" Jawabku
"Dimana kita akan makan malam ini?"
Aku berpikir, dan tidak juga menemukan jawaban, sudah pukul 22.00, wajar saja jika banyak restoran yang sudah tutup.
"Begini saja, bagaimana kalau kita telusuri jalan, siapa tahu ada restoran yang masih buka?" Kataku
"Aaaahh... Baiklah!" Ucap Young Joon, sesaat sebelum menyalakan mesin mobil, kemudian melajukannya.
Di sepanjang jalan, kami saling memperhatikan sekeliling, berharap menemukan tempat yang cocok untuk makan, namun nihil! Kalaupun ada restoran yang buka, tidak lebih dari restoran cepat saji, ataupun restoran yang menyajikan menu yang sering ku jumpai di Amerika sana!
Young Joon menghentikan laju kendaraannya, begitu melihatku yang terlihat frustasi karena tidak juga menemukan restoran yanga cocok, hingga...
Aku menatap tenda pecel lele yang berada tepat di depan mobil kami.
Aku menatap Young Joon sambil tersenyum, begitupun Young Joon.
"Ada apa? Apa kau memiliki ide?" Ucapnya sambil tersenyum.
Aku menunjukkan tenda itu dengan alisku kepadanya.
"Maksudnya?" Young Joon mengernyitkan kening
"Kau belum pernah mencoba itu, kan?" Kataku seraya menunjukkan tenda tempat makan itu.
Young Joon menoleh ke arah sana, kemudian menggeleng samar.
"Belum..."
"Ayo! Kita makan disana!" Ucapku penuh semangat, kemudian melepas sabuk pengaman.
************************
"Aku akan memilihkanmu hidangan yang saaaangat lezat!" Kataku seraya menatap tulisan menu
Young Joon, turut menatap tulisan itu, di sebelahku.
"Rere goleng klem..."
"Lele goreng kremes, Young Joon!" Ucapku kemudian menatap sinis ke arahnya.
Young Joon tersenyum menatapku.
"Hahahaa... Apa itu...?"
"Catfish." Sahutku
Dia terlihat berpikir, kemudian...
"Ah, ok!"
"Kau mau coba?" Kataku
"Ok! Boleh!"
"Maaasss!" Kataku seraya melambaikan tangan ke arah seorang pelayan
"Ya, mba'... Mau pesan apa?" Ucap pria yang tampaknya seusiaku sesaat setelah menghampiriku, bersiap mencatat pesanan, dengan buku kecil serta pulpen.
"Saya mau pesan lele kremes, 1... Teruss... Burung dara goreng nya, ada?" Kataku menoleh ke arahnya
"Ada, mba'!" Sahutnya dengan pasti
"Ok, itu satu, udang asam manis, 2 porsi, nasi 2 porsi, es teh manis 1,es jeruk 2." Kataku.
Si pelayan kemudian berlalu, sesaat setelah mencatat pesananku.
Aku yang semula duduk di sebelah Young Joon, kini berpindah posisi, dan duduk di hadapannya.
"Hey, mengapa kau duduk disana?" Protesnya
Aku menoleh ke arahnya.
"Hmmmm... Ada apa?" Kataku
"Mengapa kau disana, tidak disini?" Ucapnya seraya menunjuk ke arah tempat aku duduk sebelumnya.
"Aku tidak terlalu suka duduk bersebelahan, jika hanya makan berdua." Jawabku
Yeah... Aku memang tidak menyukai itu... Entahlah! Aneh saja bagiku!
Young Joon meringis menatapku, dan aku tersenyum, hingga tiba-tiba sepasang yang sepertinya sepasang kekasih masuk ke dalam tenda ini, hendak mencari tempat yang sebenarnya tidak terlalu ramai ini.
Si gadis menghampiri Young Joon, dan pria yang sepertinya kekasih dari si gadis, membuntutinya dari belakang.
"Iiissshhh... Kamu apa-apaan sih!" Pekik gadis itu kepada si pria.
"Pu-pukan... Saya pukan Song Joongki." Ucap Young Joon sambil meringis.
Aku yang sejak tadi memperhatikan kelakuan gadis itu, akhirnya berdiri, dan si pria menatapku.
"Mba', dia itu bukan Song Joongki..." Ketusku
Young Joon akhirnya berdiri, dan tersenyum kepadaku, seolah lega.
"Maaf, maksudnya gimana ya, mba'?" Sahut gadis itu seolah tak percaya menatapku.
"Dia itu orang China, Song Joongki kan dari Korea!" Kataku, masih dengan nada dan mimik wajah ketus!
Young Joon tampak melebarkan matanya, begitupun dengan gadis itu, semakin tak percaya!
"Idiihhh... Si mbaknya kenapa sih! Lagian mbak tuh siapa sih, sok..."
"Maaf, bung... Mengapa kau menatap istriku seperti itu?" Ucap Young Joon kepada pria yang sepertinya memang kekasih gadis itu, dan secara otomatis, si gadis menghentikan ucapannya, dan menoleh ke arah pria yang memang sedang menatapku seolah kagum.
Aku menoleh ke arah pria itu, namun Young Joon menghampiriku, dan langsung merangkulku.
"Dengar, nona... Saya pukan Song Joongki... Saya suami dali wanita ini." Ucapnya kemudian menatapku.
Si gadis tampak malu, dengan sikapnya, kemudian mengigit bibirnya.
"Dan kau, bung... Saya pikil, tidak baik karau kamu lihat-lihat cewek rain, di depan pacal kamu..." Ujarnya kepada si pria.
Si gadis menatap tajam ke arah si pria, kemudian bergegas pergi meninggalkan pria yang akhirnya menyusulnya.
Aku segera melepas rangkulan Song Joongki, ummm... Maksudku Young Joon.
"Kau dapat berbicara dengan bahasa Indonesia?" Selidikku.
Young Joon terlihat salah tingkah, mengusap belakang kepalanya, sambil tertawa konyol!
"Hahahaa... I-itu... Ha-nya sedikit, tidak banyak." Jawabnya salah tingkah.
"Apa kau mengerti setiap umpatanku dengan bahasa Indonesia?" Selidikku lagi.
Wajahnya memerah, dia semakin terlihat salah tingkah.
"I-itu... Itu..."
"Pesanannya, mbak!" Ujar seorang pelayan, seraya menghidangkan makanan yang ku pesan tadi.
"Eh, iya, mas.. Makasih..." Sahutku, kemudian duduk, begitupun dengan Young Joon, yang kemudian memilih duduk di tempat semula, seolah menghindari pertanyaanku.
*************************
Aku masih terus menatapnya yang kini tampak bersemangat menyantap hidangan.
"Waaahhh.... Kau benar! Ini lezat sekali! Apa ini namanya?" Ucapnya sambil menunjuk lele goreng kremes
"Eh, oooh... Lele goreng kremes." Jawabku kemudian tersenyum.
"Aaahh... Ya! Rere..."
"Lele, Young Joon! Lu bego banget sih!" Kesalku, kemudian menyendok kuah ke dalam nasiku.
Young Joon tertawa mendengar umpatanku, begitupun dengan diriku.
Young Joon sepertinya sangat menyukai hidangan ini, hingga memesannya kembali sebanyak 3 kali! Wow!
***************************
"Waaaahhhh.... Aku kenyang sekali!" Ucapnya di balik roda kemudi.
"Jelas saja! Kau tampak seperti orang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah makan, tadi!" Ketusku, kemudian mengenakan sabuk pengaman.
"Benarkah?" Katanya tersenyum tak percaya menatapku.
"Hhmmmmm...."
Young Joon tampak kesulitan mengenakan sabuk pengamannya, melihat ukuran perutnya yang membesar, hingga membuatku kehilangan kesabaran, lalu mengenakan itu untuknya.
"Selesai!" Kataku, sesaat setelah berhasil memasangkan sabuk pengaman itu, kemudian kembali duduk di posisi semula.
Young Joon menatapku tak percaya. Dia sedikit membuka mulutnya, dan matanya yang sipit itu agak membesar.
"Tunggu apa lagi, ayo jalankan mobilnya!" Kataku
"Aaahh... I-iya..." Sahutnya kemudian melakukan mobil.
"Makanan tadi... Benar-benar lezat!" Katanya, sesekali menoleh ke arahku.
"Hmmmm.... Kau menyukainya?" Kataku, menoleh ke arahnya.
"Ya! Tentu saja!" Jawabnya penuh semangat.
Aku menatapnya, kemudian tersenyum.
"Menyukai apanya?" Kataku sambil tersenyum menatapnya.
"Maksudnya?" Katanya menoleh sekilas ke arahku, yang saat ini masih menatapnya.
"Menyukai hidangannya, atau orang yang memesankan hidangannya?"
'Ciiiiiiiiiiiiiiitttttt!'
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar begitu keras, ketika Young Joon memijak pedal rem secara mendadak!
Beruntung, kami mengenakan sabuk pengaman, sehingga tidak terjadi benturan!