Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Bertemu Mike



"Sudah sampai..." Kataku, menoleh ke arah Young Joon, begitu kami tiba di depan rumah Shierly.


Young Joon yang kini berada di balik roda kemudi, tersenyum lalu menoleh ke arahku.


"Baiklah, apakah..."


"Aku pergi sekarang, ku rasa mereka telah menungguku di dalam... Sampai jumpa!" Ucapku kemudian berlalu.


Tidak! Tentu saja aku tidak ingin memperkenalkan Young Joon kepada teman-teman, uummm... Maksudku, tidak sekarang!


Ketika baru saja memasuki halaman rumah Shierly, Mike tiba-tiba muncul dari dalam, di ikuti oleh Mark dan juga Shierly.


Aku menghentikan langkahku, begitu ku tatap wajah sendunya...


"Mi-Mike... Aku..."


Mike berlari kecil ke arahku, kemudian memeluk tubuhku erat...


Ada kenyerian luar biasa di hatiku, ketika ku dengar isakannya.


Dia mengecup puncak kepalaku, sesaat sebelum menguraikan pelukannya.


"Aku hampir mati menahan rindu disini..." Kalimat pertama yang dia ucapkan, sungguh membuat dadaku terasa sesak.


Aku segera memeluknya, sambil terus mengusap lembut punggungnya.


Pada akhirnya, air mataku mengalir begitu saja...


*********************************


Shierly membelalakkan mata, serta membekap mulutnya tak percaya.


"Ooohhh, sial!" Mark terlihat kacau, sedangkan Mike... Dia tersenyum pedih.


Mereka seakan tak percaya ketika aku menjelaskan tentang pernikahanku secara langsung kepada mereka. Karena sewaktu mereka melihat postingan Clara yang menandai media sosialku, mereka pikir, aku hanyalah menjadi model gaun pengantin.


"Semua nyata, aku kini sudah menjadi istri orang." Kataku seraya menunjukkan jari manis yang terdapat cicin disana.


"Lalu bagaimana hubungan kalian?" Shierly menatapku dan juga Mike secara bergantian.


Aku menghela nafas, dan berpikir sebelum menjawab, namun Mike...


"Aku tidak akan melepasnya, tidak untuk saat ini!" Ucapnya kemudian merangkul dan mengecup keningku.


Entahlah, hanya saja... Ketika Mike melakukan hal itu kepadaku, ada rasa bersalah di dalam hatiku...


Seketika ucapan papa sesaat sebelum aku pergi ke Amerika, kembali terngiang di telingaku...


"Jaga diri baik-baik disana, ya... Dan selalu ingat, sekarang kamu itu, sudah jadi istri orang... Selalu minta izin sama Young Joon, tiap kali ada keperluan."


Aku termenung sejenak... Benar apa yang papa ucapkan... Aku kini adalah istri orang... Ya, aku adalah istri Park Young Joon, laki-laki yang tadi mengantarku kesini.


****************************


"Aku akan mengantarmu..." Ucap Mike sambil menyelipkan rambutku, di balik daun telinga.


Aku mengangguk, dan Mike segera berjalan menuju sepeda motornya.


Shierly dan Mark segera menghampiriku, bahkan Shierly langsung memelukku.


"Kapan kau akan mulai kuliah?" Katanya kemudian menguraikan pelukan.


"Minggu depan, sesuai jadwal." Kataku sambil mengusap lembut pipinya.


Mark terlihat bergidik melihat sikap kami, Shierly yang menyadari sikap Mark, segera berjalan ke arahnya, lalu meninju bahu Mark.


"Aaawwww!!!" Pekik Mark


"Apa maksudmu menatap kami seperti itu, huh!" Kesal Shierly sambil berkacak pinggang.


"Kalian itu..."


"Ayo, Jen..." Mike telah tiba di hadapanku dengan sepeda motornya.


"Baiklah, aku pulang dulu, ya..." Kataku kemudian melambaikan tangan kepada dua orang yang sedang berdebat itu.


*************************


Sepanjang perjalanan menuju rumahku, aku dan Mike membisu, aku bahkan sedikit memberi jarak ketika menaiki sepeda motornya...


Mike sesekali menggenggam tanganku, dan aku membiarkannya...


Rasanya aneh! Sungguh aneh!


Ketika belum menikah dulu, walaupun aku tidak memiliki sedikitpun perasaan cinta kepada Mike, aku akan sangat menyukai, ketika Mike menggenggam tanganku seperti ini... Tapi sekarang, rasanya aku ingin sekali mengakhiri perjalanan ini, agar Mike tidak selalu menggenggam tanganku!


Kami tiba di depan rumahku, aku segera turun dari sepeda motornya, dan ketika aku hendak melepas helm, Mike dengan sigap melepasnya untukku.


"Terima kasih..." Ucapku sambil tersenyum.


Mike tersenyum, kemudian meletakkan helm itu di atas kemudi sepeda motornya, lalu mengecup keningku.


"Ini, simpanlah!" Katanya setelah menyerahkan helm yang ku pakai tadi, kemudian berlalu.


Aku menatap helm ini, dan tersenyum kecil.


Mike... Maafkan aku...


Dadaku kembali sesak, ketika mengingat pertemuan tadi... Pertemuan kembali, setelah beberapa bulan ini...


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, dan ketika aku baru saja berbalik, Young Joon sudah berdiri di hadapanku!


"Selamat malam..." Ucapnya sambil tersenyum.


Menatapnya seperti ini, membuatku merasa sangat bersalah atas kejadian di rumah Shierly tadi.


"Bagaimana reuninya tadi? Apa kalian bersenang-senang?" Young Joon kini melipat kedua tangannya, masih sambil tersenyum.


Aku segera berlalu, tanpa menjawab pertanyaannya, namun langkahku terhenti ketika tiba-tiba Young Joon berkata...


"Bukankah itu helm sepeda motor?"


**********************************


POV Young Joon


Sepanjang jalan menuju kediaman temannya, Jenny selalu tersenyum. Dia terlihat sangat bahagia.


Wajar rasanya mengingat, sudah cukup lama dia meninggalkan teman-temannya.


"Sepertinya kau bahagia sekali." Kataku, menolehnya sekilas.


Jenny menoleh ke arahku sambil tersenyum.


"Tentu saja! Aku sangat merindukan mereka!" Katanya penuh semangat.


"Mereka? Ku pikir kau hanya akan menemui Shierly?" Kataku, dan Jenny memudarkan senyum.


"Disana! Rumahnya di sebelah sana!" Ujarnya sambil menunjuk sebuah rumah, yang berjarak beberapa meter dari sini.


"Sudah sampai..." Katanya, kemudian melepas sabuk pengaman, sambil menoleh ke arahku, begitu kami berhenti di depan sebuah rumah yang memiliki halaman cukup luas.


Aku tersenyum menoleh ke arahnya.


"Baiklah, apakah..."


"Aku pergi sekarang, ku rasa mereka telah menungguku di dalam... Sampai jumpa!" Ucapnya kemudian berlalu.


Dia tidak membiarkanku untuk ikut bersamanya, menjumpai teman-temannya. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku tentang...


Seorang pria menyambut kedatangan istriku. Mereka saling menatap, hingga akhirnya berpelukan erat... Ingin rasanya meninju wajah pria tersebut, terlebih ketika dia mengecup puncak kepala istriku!


Sakit? Tentu saja!


Jantungku berdegup hebat saat ini, menahan amarah yang sungguh menggebu!


Itu pasti Mike! Kekasih Amerika yang pernah Jenny ceritakan kepadaku!


Aku mencengkram roda kemudi dengan sangat kuat, bahkan meninjunya! Betapa aku sangat terluka melihat pemandangan ini, namun... Aku kembali teringat, tentang apa yang membuat kami pada akhirnya pindah ke Amerika...


Air mataku mengalir dengan bebas, ketika mengingat pengkhianatanku terhadapnya... Aku mencengkram kuat rambutku dengan kedua tanganku!


Entah apa yang akan terjadi kepada Jenny, jika dia mengetahui fakta bahwa aku tidur bersama Kimberly?!


Mengapa semua ini harus terjadi?!


Cukup lama aku memperhatikan mereka dari sini, bahkan aku baru pergi, 1 jam setelah mereka akhirnya masuk ke dalam rumah itu.


Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya aku berfantasi liar tentang pertemuan ini...


Membayangkan itu saja, sudah membuat hatiku terasa amat nyeri!


Aku sudah tiba di depan rumah kami, dan langsung masuk ke dalamnya, begitu memarkirkan mobil yang Bryan gunakan untuk menjemput kami di bandara tadi.


Aku meraih sebotol Anggur putih dari dalam kulkas, dan menuangkannya ke dalam gelas.


Ku pikir, minum dapat membantuku untuk menghapus pikiran jahatku terhadap istriku!


Nihil! Nyatanya aku terus mengingat adegan demi adegan yang ku saksikan tadi!


Mengapa Jenny membiarkan laki-laki itu memeluk serta mengecup puncak kepalanya?!


Apakah dia lupa, bahwa dia kini telah menjadi istriku!


"Aaaaarrrrgggghhhh!!!"


'Praaaaaaaaaang!'


Aku melempar gelas yang masih berisi anggur putih itu ke lantai dengan keras!


Ada apa ini?! Mengapa aku harus merasa se sakit ini?!


Sudah 3 jam berlalu, dan hari sudah mulai gelap. Ku raih ponselku untuk memastikan, apakah Jenny menghubungiku untuk menjemputnya?


Nyatanya tidak sama sekali!


Bodoh! Young Joon! Ada apa denganmu!


Aku segera membersihkan pecahan gelas yang ku lempar tadi, agar Jenny tidak mengetahui hal ini.


Ketika aku membuang serpihan gelas, dapat ku dengar suara mesin sepeda motor berhenti tepat di depan rumahku.


Aku segera berjalan ke arah jendela, untuk memastikan.


Benar saja! Itu Jenny, dan seorang pria yang baru saja melepas helmnya.


Darahku kembali mendidih, melihat pria itu mengecup kening istriku!


Sekuat hati aku menahan amarahku, dan bergegas hendak menjumpai mereka, namun sayang! Pria tadi nyatanya telah pergi, begitu aku tiba tepat di belakang Jenny.


Jenny terlihat memaku di hadapanku, sambil menenteng helm berwarna hitam, dan saat dia berbalik, dia terlihat sangat terkejut.


"Selamat malam..." Ucapku sambil tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa dengan hatiku.


Jenny terlihat salah tingkah, dan dari raut wajahnya, dia terlihat merasa bersalah kepadaku. Apakah terjadi sesuatu?!


"Bagaimana reuninya tadi? Apa kalian bersenang-senang?" Aku kini melipat kedua tanganku, masih sambil tersenyum.


Jenny segera berlalu, tanpa menjawab pertanyaanku, namun langkahnya terhenti ketika aku berkata...


"Bukankah itu helm sepeda motor?" Ucapku kemudian menghampirinya.


Jenny tampak ragu untuk menolehku.


"I-itu... Oppa..."


Sebutan itu... Rasa sakitku hilang begitu saja, mendengarnya memanggilku dengan sebutan itu.


Ada rasa sejuk di hatiku saat ini, hingga membuatku bingung hendak berkata apa...


"Maafkan aku, tadi Mi..."


Aku menatap tajam ke arahnya, sebelum dia melanjutkan ucapannya.


Jenny terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.


Sekuat hati aku berusaha untuk tersenyum...


"Baiklah, tidak masalah." Kataku sambil tersenyum.


Jenny tersenyum lega.


"Terima kasih." Jawabnya sambil tersenyum


"Yeah! Hey, sudah malam, ayo kita masuk!


Kemudian kami masuk ke dalam.


Ketika berada di dalam, Jenny meletakan helm itu di di samping rak sepatu, kemudian berjalan ke arah tangga.


Langkahnya terhenti ketika aku berkata...


" Jenny, kau sudah makan?"


Jenny menoleh ke arahku sambil tersenyum.


"Sudah..." Katanya kemudian berlalu.


Entahlah... Semenjak kejadian tadi, ada hal aneh di dalam hatiku.


Apakah ini hanya perasaanku saja? Atau Jenny yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu?


Entahlah!