Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Speechless



Pukul 10 malam, dan pesta pun telah usai.


Kami memutuskan untuk bermalam di hotel ini, sebelum akhirnya kami akan melakukan penerbangan ke lombok keesokan harinya, pada pukul 5 pagi.


Kini, aku duduk di depan meja rias, dan masih terus memandangi bayangan diriku di cermin yang terdapat pada meja rias ini.


Dan saat aku melepas satu per satu perhiasan yang melekat pada diriku, dapat ku lihat Young Joon mendekat ke arahku, melalui pantulan cermin.


Aku segera berbalik ke arah Young Joon.


"Jangan mendekat!" Kataku penuh kewaspadaan.


Young Joon segera menghentikan langkahnya.


"Heeeyy! Mengapa! Kita kan sudah suami is..."


"Aaaaarrrggg!!!" Aku menutup telinga, sambil memejamkan mata.


Aku membuka mataku setelahnya, dan dapat ku saksikan, Young Joon sedikit meringis karena keheranan melihat sikapku.


"Jangan pernah berpikir macam-macam! Jangan pernah berusaha untuk menyentuhku! Dan jangan..."


"Aku hanya akan menyentuh wanita yang ku cintai dan juga mencintaiku..." Young Joon menyela ucapanku.


Sejujurnya, ucapannya tadi membuatku merasa sedikit lebih tenang, namun tetap saja...


"Karena aku ingin melakukannya tanpa harus terpaksa, ataupun memaksa... Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan itu." Young Joon kembali melanjutkan kata-katanya.


Aku termenung mendengar ucapannya.


Young Joon segera membalik badan, kemudian berjalan menuju sofa yang berada tidak jauh dari ranjang.


"Kau, tidurlah di atas ranjang, dan aku, aku akan tidur disini " Ucapnya, kemudian merebahkan tubuh di atas sofa.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kini aku sudah berada di dalam sebuah bathtub. Ku pikir, berendam dengan air hangat dapat menghilangkan rasa lelahku.


Aku kembali mengingat kejadian demi kejadian yang ku alami dalam waktu seminggu ini.


Telepon dari Mike, sikap Young Joon yang sungguh aneh, serta... Ucapan Young Joon tadi!


Ada apa dengan Young Joon? Bukankah kemarin, sikapnya begitu dingin terhadapku? Lalu mengapa kini dia kembali menjadi Young Joon yang...


"Aaarrrggggghhhh!!!!" Aku berteriak sambil mengacak-acak rambutku, hingga...


"Tok...! Tok...! Tok...!"


"Jenny, ada apa denganmu?"


Young Joon! Apa yang yang dia lakukan! Aku segera melepas tangan dari rambutku.


"Ti-tidak ada apa-apa... Ka-kau, pergilah!" Sahutku dari dalam sini


"Apa kau yakin?" Young Joon memastikan.


"Y-ya... Aku baik-baik saja!" Ucapku


Aku langsung membilas tubuhku, kemudian mengenakan pakaian yang sudah ku persiapkan sebelum mandi tadi.


Ya! Aku harus mengenakan pakaian yang dapat membuatku merasa aman, agar laki-laki itu tidak dapat melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku!


Aku sungguh tidak dapat mempercayai ucapannya! Sungguh!


Saat aku keluar dari kamar mandi, Young Joon ternyata sedang menonton acara televisi, kemudian langsung berdiri, dan hendak menghampiriku begitu melihatku berjalan ke arah ranjang.


"Tetap disana!" Kataku sambil menujuk ke arahnya, kemudian duduk di ranjang, masih terus menatapnya.


"Ada apa denganmu?!" Young Joon terlihat kesal


"Menurutmu?!" Kataku, kemudian menarik selimut namun tidak merebahkan tubuhku.


"Apa kau sedang tidak enak badan?" Young Joon terlihat khawatir


"Apa maksudmu?!"


"Mengapa kau mengenakan pakaian seperti itu?" Katanya sedikit meringis.


Aku terhenyak mendengar ucapannya, kemudian menatap tubuhku yang kini tengah mengenakan pakaian berlapis-lapis, hingga membuat tubuhku terlihat besar.


"A-aku..." Ucapku, kemudian Young Joon terlihat hendak menghampiriku.


"Tetap disana!" Aku sedikit memekik kepadanya, Young Joon langsung menghentikan langkahnya.


"Ya Tuhan, Jenny! Aku sudah berkata..."


"Aku tetap tidak dapat mempercayaimu!" Sahutku, dan itu membuat Young Joon kehabisan kata-kata.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Suara gemericik air, sungguh mengusik tidurku.


Aku membuka mataku perlahan, dan begitu terkejut melihat sosok yang melintas di hadapanku, dengan tubuh yang hanya berbalut handuk!


Park Young Joon!


Ya Tuhan! Mataku terbelalak melihat penampakannya kini!


Walaupun samar, setidaknya aku dapat cukup jelas melihat tubuhnya yang begitu atletis!


Beruntung dia tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya kini.


Dan ketika dia hendak melepas handuknya, aku segera membalikkan tubuhku ke arah yang berlawanan dengannya!


Jantungku berdegup kencang! Tubuhku terasa panas! Bahkan aku seolah dapat merasakan aliran darahku!


Aku merasakan getaran hebat pada diriku saat ini! Ya Tuhan! Ada apa denganku?! Ini sungguh menjijikkan! Aku merasa jijik pada diriku sendiri saat ini! Aku bahkan mengutuk diriku sendri, hingga...


"Jenny..."


"Deeeggghhh!!!"


Duniaku seolah berhenti! Begitupun dengan jantungku!


Ini terasa sesak! Sungguh teramat sesak!


"Jenny..."


"I-iya..." Kataku kemudian terbangun dengan tergesa-gesa, tanpa menoleh ke arahnya.


Nafasku tidak beraturan kini! Ini aneh! Sungguh sangat aneh! Aku merasakan panas di pipiku saat ini!


Apakah laki-laki itu telah mengenakan pakaiannya? Apakah...


"Jenny, sudah pukul tiga, apa kau tidak ingin bersiap?"


Young Joon kini telah berdiri di hadapanku! Aku secara reflek menoleh ke arahnya!


Ada sedikit rasa lega dalam hatiku, hingga aku dapat menghela nafas panjang, seraya mengusap dadaku, namun tetap menatap Young Joon, dengan tatapan, entah seperti apa!


Young Joon telah mengenakan pakaian, hanya saja, pikiranku masih saja terbenam di dalam pemandangan yang beberapa waktu tadi ku lihat!


Aku memang tidak melihat secara keseluruhan 'bentuk tubuhnya'.


Namun, walau hanya melihatnya bertelanjang dada saja, pikiranku kembali...


"Aaarrrggggghhhh!!!" Aku kembali mengacak-acak rambutku!


Young Joon segera menghampiriku, dan duduk di sampingku, kemudian memegang kedua bahuku


Aku segera menoleh ke arahnya


"Jenny, ada apa denganmu?!" Ucap Young Joon, masih memegang kedua bahuku.


"A-aku..."


Aku segera menyadari akan suatu hal, kemudian segera menghempas tangan Young Joon, lalu berdiri, dan bersikap konyol, dengan mengusap belakang kepalaku.


"Um... Ba-bagaimana tadi?" Ucapku, sambil tersenyum konyol.


Young Joon tampak begitu heran melihat sikapku, dan langsung berdiri, kemudian melipat kedua tangannya.


"Ada apa denganmu?" Ucapnya heran


Aku tertawa salah tingkah dibuatnya.


"Hahaha.. Itu... Hahahaa... Uhum... Apa katamu tadi?" Kataku, masih salah tingkah.


Young Joon mengerutkan keningnya, kemudian menyentuh keningku dengan telapak tangannya.


Itu membuatku memudarkan senyum.


Young Joon menatap wajahku dalam, sesaat setelah melepaskan tangannya dari keningku.


Tatapan kami saling beradu kini, dan itu membuat nafasku kembali sesak.


"A-aku..." Aku segera mengalihkan tatapanku ke bawah


"Apa kau tidak ingin bersiap?" Ucapnya


Aku kembali menoleh ke arahnya.


"I-itu..."


"Baiklah, aku akan keluar sekarang." Ucapnya, kemudian berlalu.


Aku segera berlari ke arah pintu keluar kamar ini, kemudian menguncinya, dan menghela nafas sambil memegang dadaku, begitu Young Joon meninggalkan kamar ini.


Ya Tuhan! Laki-laki itu sungguh membuatku kehilangan akal!


Aku segera berjalan menuju koper, dan mengambil sebuah out shoulders dress selutut, berwarna biru laut, kemudian segera mengenakannya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Aku telah siap, dan segera menyeret koper ku hendak membuka pintu.


Begitu pintu terbuka, aku begitu terkejut melihat Young Joon sudah berada disana!


Mataku terbelalak melihatnya! Begitupun Young Joon yang sangat terkejut melihat penampilanku!


Mulutnya sedikit terbuka, serta mata sipitnya terlihat sedikit membesar.


"A-apa yang kau lakukan?!" Ketusku.


Young Joon terlihat salah tingkah, kemudian mengusap belakang kepalanya.


"A-aku... Aku baru saja hendak menghampirimu." Jawabnya kemudian sedikit meringis


"Kapan kita berangkat?" Kataku dengan nada sinis


"Baiklah, kita akan berangkat sekarang." Jawabnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kami sudah berada di dalam mobil yang memang di sediakan untuk keberangkatan kami menuju bandara.


Aku duduk tepat di samping Young Joon.


Sejujurnya, aku masih merasa sedikit mengantuk, mengingat tadi aku hanya tidur sebentar.


Rambutku! Ya Tuhan! Bahkan aku lupa untuk mengikat rambutku, karena memory otakku yang sedikit bermasalah karena melihat pemandangan berberapa waktu yang lalu!


Ketika aku hendak mengikat rambutku, tiba-tiba Young Joon menahan tanganku.


"Jangan diikat..." Katanya sambil menatapku, kemudian melepas tangannya perlahan.


Aku segera menghentikan kegiatanku, kemudian menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu?" Kataku, kemudian mengerutkan kening.


Young Joon terlihat berpikir sebelum menjawab.


"I-itu..." Katanya sambil mengusap pelipis, dengan ujung jarinya.


"Rambutmu akan rontok, jika kau terus menerus mengikat rambutmu."


Aku menaikkan sebelah alisku, kemudian melepas tanganku dari rambut.


Aku memang memiliki masalah dengan rambutku, terutama kerontokan!


Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengatasinya, namun tetap saja nihil!


Mendengar ucapan Young Joon tadi, membuatku berpikir, mungkin ini yang menyebabkan segala usahaku untuk mengatasi kerontokan pada rambutku sia-sia!


Ya! Aku selalu mengikatnya setiap hari!


"Ah, ok!" Kataku, kemudian kembali menoleh ke depan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pukul 4.30, kami telah tiba di bandara.


Kedua orang tua kami, serta saudara dan juga teman-tamanku telah menunggu kami disana.


Mereka segera berhambur ke arah kami.


"Jenny....!!!" Clara dan Gina segera memelukku.


"Gimana semalem?" Ucap Gina, aku mengerutkan kening


"Gimana apanya?" Jawabku


Eomma dan mama kemudian menghampiri lalu memelukku, bergantian.


"Semoga kalian selamat sampai tujuan." Ucap mama kepadaku dan juga Young Joon


"Semoga kalian bersenang-senang, ya!" Sahut eomma.


"Kami menanti kabar baik, selepas kalian berbulan madu." Appa menimpali.


Itu membuatku dan juga Young Joon saling menatap, kemudian tersenyum konyol!


"Baiklah, hati-hati di jalan ya, sayang..." Ucap papa, kemudian memelukku.


Ketika kami hendak berlalu, Clara tiba-tiba menghampiriku


"Jen, tunggu dulu!" Ujarnya, seraya menyeret sebuah koper.


"Ada apaan, Ra?"


Clara segera menukar koperku, dengan koper yang dia bawa.


"Lho, ko'?" Tanyaku heran


"Untuk kenyamanan lu, kita semua udah persiapin semua keperluan lu di dalam sini." Katanya sambil menunjuk ke arah koper.


Aku merasa terharu, dan segera memeluknya