Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Arjuna



Tentang Arjuna...


Dia adalah teman media sosialku, semenjak beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya, ketika aku masih duduk di kelas XI sekolah menengah.


Saat itu Arjuna baru saja duduk di bangku kuliah.


Arjuna adalah Pria berkebangsaan Indonesia, yang menimba ilmu di Australia.


Kami tidak pernah bertemu sama sekali, hanya saja, berbincang dengannya melalui media sosial, sangat membuatku nyaman...


Tidak! Bukan nyaman seperti yang kalian kira!


Kami tidak menyimpan sedikitpun perasaan satu sama lain! Arjuna memiliki gadis yang sangat amat dia cintai, begitupun aku!


Hey 'begitupun aku'?


Entahlah! Hanya saja, saat itu hatiku masih dimiliki oleh seseorang, dan bukan Mike tentunya!


Aku selalu menceritakan banyak hal kepada Arjuna, itu sebabnya Arjuna mengetahui beberapa hal yang ku sukai, bagaimana teman-temanku, apa hobiku, siapa pacarku, bahkan apa saja yang pernah dan tidak pernah aku lakukan dengan pacarku!


Hahahahaaaa! Masa bodoh! Aku sudah merasa nyaman mencurahkan perasaanku dengan Arjuna.


Mungkin karena aku telah menganggapnya sebagai kakakku sendiri, karena seperti yang kalian tahu, aku adalah seorang anak tunggal.


Dan kak Victor?


Sejujurnya kami tidak sedekat itu, karena selisih umur yang cukup jauh antara kami, di tambah lagi, kami agak jarang berkomunikasi.


Ada beberapa kesamaan antara aku dan juga Arjuna.


Dan yang paling menonjol adalah, kami sama-sama akan melaksanakan pernikahan tahun ini!


Arjuna : Jen


Itu adalah pesan terakhir, dari sekian banyak pesan yang ia kirimkan kepadaku, dan pesan itu telah dikirimkan olehnya tiga hari yang lalu.


Aku tersenyum kecil, melihat beberapa pesan yang ia kirimkan sebelumnya, dan langsung membalasnya


Jenny Lie : Hai, Jun


Arjuna tidak langsung membalas pesanku, karena media sosialnya sedang tidak online saat ini.


Jadi, aku memutuskan untuk keluar dari kotak masuk, dan melihat beberapa postingan di timelineku.


Namun entah mengapa, aku merasa sedikit bosan melihat beberapa postingan yang ada disana, hingga akhirnya, aku memutuskan untuk melihat profile Arjuna.


Sampai saat ini, tidak ada yang berubah dari profile dan postingan Arjuna, semenjak pertama kali kami berteman. Hanya terdapat beberapa postingan disana, seperti foto pepohonan, sungai, dan laut.


Dia bahkan menggunakan foto gunung sebagai foto profile nya.


Dan, ya! Aku bahkan tidak mengetahui seperti apa wajah Arjuna!


Aku akhirnya memutuskan untuk keluar dari media sosialku, namun ponselku sedikit bergetar ketika aku baru saja menekan tombol kunci ponselku.


Aku langsung membuka kunci ponselku, ada notifikasi media sosial disana, dan aku langsung menyentuh ikon media sosial, ada kotak masuk disana, dan aku langsung membuka kotak masuk.


Arjuna : Jen! Lu kemana aja?


Aku tersenyum kecil melihat balasannya darinya, dan langsung membalas pesan Arjuna


Jenny Lie : Sorry baru bisa balas, gw lagi di Indonesia, Jun...


Arjuna : Serius, lu?


Jenny : Iya, Jun


Arjuna : tumbenan hari gini lu udah di Indonesia?


Jenny Lie : Iya... Nenek gw sakit


Arjuna : Ya Tuhan... Trus, gimana keadaannya sekarang?


Aku tidak langsung menjawab pesan Arjuna yang ini, agak ragu sebenarnya untuk mengatakan yang sebenarnya, karena bagiku, mengatakan bahwa nenekku telah meninggal, seolah membuka luka yang kini telah mulai berangsur pulih.


Namun, jika aku mengatakan hal sebaliknya, itu akan membuat rasa sakitnya menjadi semakin buruk!


Jenny Lie : Nenek gw udah gk ngerasa sakit lagi sekarang, Jun... Nenek gw dah tenang disana...


Aku tersenyum ketika menjawab pertanyaan Arjuna tadi.


Arjuna : Gw turut berduka cita ya, Jen... Semoga nenek lu tenang disana... Dan lu beserta keluarga diberi ketabahan.


Jenny Lie : Thank's, Jun...


Tiba-tiba aku merasakan desakan yang teramat untuk buang air kecil!


Dengan sedikit meringis, aku turun dari ranjang, dan sedikit berlari menuju pintu keluar kamar ini, agar secepat mungkin dapat tiba di kamar kecil yang terletak tidak jauh dari kamar ini, dengan tetap menatap layar ponselku.


Aku mempercepat langkahku begitu menutup pintu kamar, hingga...


"Buuuuuggggghhhh...!!!"


Aku menabrak tubuh seseorang, hingga hampir terjatuh, namun orang tersebut berhasil menahan tubuhku!


Aku segera meraih ponselku yang terjatuh, sambil berterima kasih terhadap sosok itu.


"Apa kau baik-baik saja?" Ucapnya mendekat ke arahku, dan aku secara reflek sedikit melangkah mundur.


"A-aku baik-baik saja... Terima kasih..." Jawabku, dan langsung berbalik, kemudian sedikit berlari ke arah kamar kecil.


Selesai buang air kecil, aku tidak langsung keluar dari kamar kecil ini.


Entahlah! Aku merasa agak ragu untuk langsung keluar dari sini.


Aku takut, orang itu masih berada disana, dan kembali bertemu denganku...


Aku takut kembali bertemu... Park Young Joon...


Aku membuka pintu kamar kecil ini perlahan, dan sedikit mencondongkan kepalaku keluar, untuk memperhatikan keadaan sekitar.


Bagus! Tidak ada siapapun disana! Aku tersenyum sambil mengelus dadaku, kemudian melangkah keluar dari sana.


Dan saat baru saja menyentuh kenop pintu kamar...


"Apa kau sedang menghindariku?" Suara Young Joon benar-benar mengejutkanku, hingga membuatku tersentak! Dia kini berjalan mendekat ke arahku, dan berdiri tepat di sampingku, sambil terus menatapku.


Sejujurnya, aku agak bingung harus bagaimana.


Aku bisa saja langsung masuk ke dalam kamar, tanpa harus mempedulikannya, hanya saja, itu bukanlah tindakan yang benar, dan secara tidak langsung, aku seolah membenarkan ucapannya tadi.


Aku segera melepas kenop pintu, dan berbalik ke arahnya, kemudian melipat tanganku, lalu tersenyum sinis sambil menatap wajah datarnya.


"Maaf?" Sinisku.


Young Joon mengangkat sebelah alisnya, kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya, sambil terus menatapku, dan membuatku secara reflek melangkah mundur.


Gerak gerikku membuat Young Joon mengerutkan keningnya, dan kembali menegakkan tubuhnya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, kemudian sedikit memiringkan kepalanya sambil menatapku.


"Ada apa denganmu?" Ucapnya dengan nada heran


"Aku?" Sahutku sambil menunjuk wajahku dengan jari telujukku, dengan nada yang tidak kalah heran


"Iya, kau!" Jawabnya.


Aku menghela nafas kasar tak percaya


"Apa yang salah denganku?" Ketusku


"Mengapa kau malah bertanya kepadaku, bukankah harusnya kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?"


Wow! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu dengan wajah datar! Itu membuatku kehabisan kata-kata!


"Young Joon, deng... "


"Oppa!" Aku benar-benar dibuat mati kutu ketika dia menyela ucapanku dengan ucapannya tadi.


"Ma-maaf?" Ucapku sedikit terbata-bata.


Young Joon kembali mendekat, namun kali ini aku tidak melangkah mundur.


Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamarku, dan menatap lurus ke depan.


"Pertama, aku dua tahun lebih tua darimu." Ucapnya, kemudian dia menoleh ke arahku.


"Di negaraku, jika seorang gadis berusia lebih muda dari seorang pria, mereka wajib memanggil pria itu dengan sebutan 'oppa'." Ucapnya, kemudian kembali menatap lurus ke depan.


"Kedua..." Young Joon menegakkan kembali tubuhnya, dan menghadap ke arahku.


"Akan terasa manis, jika di panggil 'oppa' oleh calon istri." Ucap Young Joon kemudian berlalu, meninggalkanku yang menghela nafas kasar berkali-kali, sambil terus tersenyum konyol, mendengar ucapannya barusan!


Apa-apaan dia! Aku membekap mulutku tak percaya, sambil memegang kenop pintu.


Apa maksud laki-laki itu! Apa dia sungguh tidak waras?!


Dia bertanya kepadaku, ada apa denganku?


Bukankah harusnya aku yang bertanya demikian kepadanya?


Hahahahaaa! Lucu sekali dia! Aku tertawa miris mengingat ucapannya tadi, hingga...


"Lu kenapa, Jen?" Clara menatapku heran.


Dan aku menjadi sedikit salah tingkah.


"Aaahh... I-itu... Ng... Gi-gini..." Ucapku gugup.


Clara tiba-tiba meletakkan tangannya di keningku.


"Jen, lu nggak kenapa-kenapa, kan?" Ucap Clara sedikit khawatir.


Aku menatap Clara heran


"M-maksud lu?" Jawabku semakin bingung.


Clara meraih kedua tanganku


"Jen, gw tau... Lu masih terpukul atas meninggalnya nenek, cuma... Show must go on, Jen..." Ucapan Clara membuatku membelalakkan mata, serta membuka mulutku.


"Kita istirahat sekarang, ya..." Ucap Clara kemudian merangkulku, dan membawaku masuk ke dalam kamar, dalam keadaan masih terus membuka mulutku, dan membelalakkan mata ke arahnya.