Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Our New Home



Tidak terasa, pernikahanku akan berlangsung kurang dari seminggu lagi.


Lebih tepatnya, aku akan resmi menjadi istri dari Park Young Joon, dalam waktu tiga hari ke depan.


Aku sedang bersiap sekarang, karena Young Joon akan menjemputku beberapa saat lagi, untuk mengajakku ke suatu tempat.


Ketika semua telah selesai, aku kembali mengingat kejadian beberapa malam yang lalu, ketika pada akhirnya, aku memberitahu Mike tentang rencana pernikahanku.


Aku tertegun sejenak mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya malam itu.


Aku tersenyum getir, kemudian menutup seluruh wajahku dengan kedua telapak tanganku, kemudian menghela nafas perlahan.


Mike tidak lagi menghubungiku setelah pembicaraan kami malam itu.


Mengenai teman-temanku, sampai saat ini aku belum juga memiliki nyali untuk mengatakan hal ini kepada mereka. Entahlah! Apa yang membuatku begitu lemah begini.


Tentang ucapan Young Joon bahwa aku tidak harus merasa terbebani dengan pernikahan ini, itu tidaklah semudah yang dia ucapkan!


Jelas ini sangat membebaniku!


Aku memang tidak menolak pernikahan ini.


Tidak sama sekali!


Dan aku juga pernah berkata, bahwa permintaan nenek bukanlah satu-satunya alasan mengapa aku menerima perjodohan ini!


Ya! Itu memang benar!


Hanya saja, setelah beberapa hari ini aku mulai berpikir, tidakkah ini terlalu cepat?


Umurku baru akan genap 25 tahun, bulan depan! Dan kuliahku, secara tidak langsung, Young Joon memintaku untuk menunda kuliahku terlebih dahulu!


Pikiranku kini mulai kacau!


Ya! Aku kembali merasakan dilema yang teramat!


Namun jika aku membatalkan pernikahanku saat ini, itu bukanlah hal yang benar!


Aku tidak dapat membayangkan, betapa sakitnya perasaan kedua orang tuaku dan orang tua Young Joon. Lalu keluarga besarku? Bukankah mereka akan menanggung malu akibat perbuatanku?


Tidak!


Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jika itu terjadi!


"Tok...!! Tok...!! Tokk..!!!"


"Mbak Jenny, ada mas Young Joon, mbak!" Sayup ku dengar suara mbok Minah di balik pintu kamarku.


"Ya, mbok!" Sahutku dari dalam, kemudian berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya.


Mbok Minah masih berdiri disana.


"Mas Young Joon di ruang tamu, mbak." Ujar mbok Minah, aku mengangguk samar, kemudian berlalu.


Young Joon sedang mengotak-atik ponselnya, ketika aku menghampirinya.


Dia langsung menghentikan kegiatannya, ketika menyadari kehadiranku, kemudian berdiri menghadap ke arahku.


"Oh, kau sudah siap?" Katanya tersenyum sambil mengusap belakang kepalanya.


Aku tersenyum melihatnya, kemudian mengangguk


"Dapatkah kita pergi sekarang?" Kataku.


Young Joon terlihat salah tingkah, kemudian tertawa kecil


"Oh... Hahaha.. Y-ya! Tentu!" Jawabnya.


 


...****************...


"Omong-omong, kau mau mengajakku kemana?" Kataku menoleh ke arah Young Joon, yang fokus mengemudi.


Young Joon menoleh ke arahku sekilas, kemudian tersenyum lalu kembali fokus mengemudi.


"Nanti kau akan tahu, karena sebentar lagi kita akan sampai!" Ucapnya penuh semangat.


Aku mengangguk, serta tersenyum samar, kemudian meraih ponsel dari dalam sling bag ku.


Oia! Semalam Rob mengirimiku pesan.


Dia menanyakan tentang hubunganku dengan Mike.


Rob berkata bahwa sikap Mike benar-benar aneh beberapa hari terakhir, Mike juga menjadi lebih sensitif ketika beberapa teman kami menanyakan hal tentangku.


Namun Rob tidak menyinggung tentang pernikahanku, itu tandanya, Mike tidak berbicara apapun tentang percakapan kami malam itu kepada teman-teman kami disana.


Aku membuka media sosialku, sepertinya teman-temanku begitu aktif akhir-akhir ini, karena timeline-ku penuh sekali dengan postingan mereka.


Aku tersenyum melihatnya, dan jujur saja, itu membuatku merindukan saat-saat bersama mereka.


Ketika aku melihat satu per satu postingan mereka, hatiku terusik oleh salah satu postingan. Disana tertulis...


"Jika kau ingin ini berakhir, bukan seperti ini caranya! Karena apapun yang terjadi, aku tidak akan melepasmu!"


Itu adalah Mike! Dadaku terasa sesak melihat kalimat itu... Aku memutuskan untuk keluar dari media sosialku, karena semakin aku melihat kesana, hatiku akan semakin sakit!


Dan ketika baru saja hendak memasukkan kembali ponselku ke dalam sling bag, ponselku berdering.


Aku segera menoleh ke layar ponsel, kemudian menjawab panggilan itu.


"Ya, Den! Ada apa?" Sapaku di seberang sini


"Oiii, Ipel! Sorry ya, gw beloman balikin Josephine!" Ucap Denis di seberang sana.


Aku tersenyum mendengar suaranya yang terdengar sendu


"Santai aja! Kaya' sama siapa aja lu!" Sahutku di seberang sini


"Nanti malam gw anter Josephine ke rumah lu, ya." Katanya.


"Terserah kapan lu sempat aja, Den... Oya, BTW gimana, lu akhirnya ketemu nggak, sama Elma?" Kataku, Denis tidak langsung menjawab pertanyaanku.


"Iya, Pel... Kita udah selesai..." Suara Denis terdengar lirih. Aku turut prihatin mendengar ucapannya tadi.


"Sorry ya, Den... Gw..."


" Hubungan kita emang udah salah dari awal, Pel..." Denis menyela ucapanku, dia terdengar putus asa sekarang.


"Seharusnya kita emang nggak boleh bikin ini semakin jauh, kalo pada akhirnya ini cuma bakalan jadi sia-sia..." Denis terdengar semakin emosional di seberang sana.


"Dan yang paling gw sesali, kenapa harus sekarang, kenapa nggak dari awal aja! Setidaknya, gw nggak bakalan ngerasa sesakit ini, seandainya dari awal Elma ngomong kalo ini bakalan sia-sia..." Denis terisak di seberang sana.


Aku tertegun mendengar ucapan Denis tadi.


Bukankah kisah Denis dan Elma, tidak jauh berbeda dengan kisahku bersama Mike?


Aku dan Mike juga menjalani hubungan yang cukup rumit! Hubungan cinta sepihak, tanpa kedua orang tuaku mengetahuinya, serta...


Hubungan yang sebenarnya sia-sia, namun tetap dipaksakan...


Aku berpikir, apakah Mike juga merasakan apa yang saat ini Denis rasakan?


Dadaku kembali sesak, ketika membayangkan hal itu...


"Pel, udah dulu, ya... Nanti gw kabarin lu kalo gw udah mau jalan." Ucap Denis membuyarkan lamunanku.


"Eh? I-iya Den..." Sahutku di seberang sini, kemudian Denis menutup panggilan.


"Ada apa?" Kata Young Joon, aku menoleh ke arahnya


"Eh? Ada apa?" Kataku


"Kau melamun lagi?" Ucapnya tanpa menoleh ke arahku.


"Oohh... I-itu..."


"Siapa yang menghubungimu tadi?"


"Oohh... Itu... Temanku yang waktu itu meminjam sepeda motorku." Sahutku kemudian tersenyum, lalu menatap ke arah jalan


"Ooohh... Denis!" Ucap Young Joon sambil tersenyum, aku mengangguk samar


"Hhmmm..."


Aku menatap heran kepada Young Joon, ketika dia tiba-tiba menepikan mobilnya ke sebuah apartemen mewah.


"Ki-kita mau kemana?" Tanyaku menatap wajahnya heran.


Young Joon tersenyum, kemudian menatap wajahku, ketika dia telah mendapatkan tempat untuk memarkirkan mobilnya.


"Sampai!" Ucapnya kemudian membuka sabuk pengamannya.


"Ayo!" Young Joon menoleh ke arahku dengan penuh semangat! Ini membuatku menjadi semakin bingung!


...****************...


 


Unit ini masih kosong, hanya ada beberapa perlengkapan rumah tangga yang memang sudah di sediakan oleh pihak pengelola apartemen.


Unit apartemen ini sedikit lebih besar dari Unit milik Clara.


"Ini adalah kamar utama." Kata Young Joon sesaat setelah membuka pintu sebuah ruangan.


Ruangan ini cukup besar.


Terdapat kamar mandi di dalamnya.


Ah! Aku tertarik untuk menuju ke arah balkon yang terdapat di kamar ini, karena jujur saja, aku selalu menyukai rumah yang terdapat balkonnya, apalagi jika itu terdapat di depan kamar! Sempurna!


Aku segera menggeser pintu yang menuju ke balkon tersebut, lalu menikmati pemandangan jakarta dari atas sini.


Berbeda rasanya, ketika kau melihat pemandangan bawah dari lantai dua rumahmu, dengan lantai 15 apartemen ini!


Ini sungguh jauh berbeda!


Hahahaa! Aku tersenyum membayangkan, jika aku akan berada disini setiap hari!


Tunggu, setiap hari?


Aku bahkan belum menanyakan kepada Young Joon, apa alasannya membawaku kesini...


"Apa kau menyukainya?" Young Joon tiba-tiba sudah berdiri di belakangku, aku berbalik ke arahnya.


"Ma-maksudmu?" Kataku, kemudian sedikit bergerser menjahuinya.


Young Joon tersenyum, kemudian melangkah maju, lalu memegang besi penyangga balkon, dan tersenyum sambil menatap pemandangan disana.


Young Joon kini menatapku.


"Jika kau setuju, kita akan tinggal disini setelah menikah nanti." Ucapnya dengan senyum yang sangat tulus


"DEG!"


Jantungku seketika berdegup hebat!


Aku terhenyak mendengar ucapan Young Joon tadi


"I-itu... Itu..."


"Baiklah, kita akan melihat-lihat ruangan lainnya." Ucap Young Joon, kemudian berlalu


Kami sudah berada di sebuah ruangan yang berada tepat di sebelah kamar utama tadi.


Ruangan ini berukuran sedikit lebih kecil dari kamar utama, dan tidak terdapat kamar mandi di dalamnya.


"Ini kamar..." Young Joon tampak ragu melanjutkan kata-katanya, begitu aku menatap ke arahnya.


...****************...


 


Kami akhirnya memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran cepat saji, setelah melihat apartemen tadi.


Aku setuju untuk tinggal di apartemen itu, setelah pernikahan kami nanti.


Banyak hal yang ku pertimbangkan sebelum akhirnya aku setuju untuk tinggal disana, selain aku menyukai suasananya, setidaknya aku dapat merasa sedikit leluasa tanpa harus merasa sesak seperti biasa, ketika aku masih tinggal bersama kedua orang tuaku.


Bukan, bukan karena kedua orang tuaku sangat mengekangku!


Mereka tidaklah seperti itu, hanya saja... Selama tinggal bersama mereka, aku tidaklah memiliki privasi!


Mama yang tidak pernah mengetuk pintu kamarku, setiap kali beliau hendak masuk kesana, kemudian selalu saja memantau kegiatanku, ketika aku sedang beraktivitas dengan gadgetku, entah itu ponsel, ataupun laptop! Papa? Beliau tidak jauh berbeda dengan mama!


Aku memahami sikap mereka, karena mereka melakukan itu semua, karena mereka begitu menyayangiku!


"Omong-omong, selama di Jakarta, kau tinggal dimana?" Tanyaku sesaat setelah menyesap minumanku.


Young Joon tersenyum


"Tidak terlalu jauh dari kantorku." Jawabnya.


Aku mengangguk samar


"Joon..."


"Hmmmm?"


"Agak aneh rasanya, jika aku tidak mengetahui sedikitpun hal tentangmu." Ucapku. Young Joon menatap mataku dalam, kemudian tersenyum.


"Apa yang ingin kau ketahui dariku?" Ucapnya sambil menopang wajahnya dengan tangan.


Sebenarnya, aku sudah cukup mendengar banyak hal tentang Young Joon dari kedua orang tuaku.


Young Joon adalah seorang sarjana bergelar Master dalam jurusan Teknik Industri.


Dia adalah lulusan terbaik dari sebuah universitas ternama di Australia.


Dan tentang pekerjaannya, dia memiliki jabatan yang cukup penting di perusahaannya.


Tidak! Dia bukanlah seorang CEO!


lTerlalu berlebihan rasanya jika menyebutnya seperti itu! Hanya saja, jabatannya cukup penting di perusahaan Manufaktur bergengsi yang cabangnya tersebar di hampir seluruh dunia.


"Tidak ada!" Jawabku datar, kemudian kembali menyesap minumanku dengan santai.


Young Joon terlihat kesal mendengar ucapanku, kemudian menegakkan tubuhnya


"Aaiisshhh! Gadis ini!" Kesalnya.


Aku tersenyum lebar melihat responnya.


"Joon oppa..." Kataku seraya menatap wajahnya.


Dapat ku saksikan, ekspresi wajah Young Joon yang sebelumnya terlihat kesal, kini terlihat melunak, bahkan sedikit memerah disana.


"Y-ya..." Dia terlihat salah tingkah kini, bahkan sedikit ragu ketika hendak menatap mataku.


Aku tertawa kecil melihatnya


"Hei! Me-mengapa kau tertawa!" Young Joon terlihat menutupi salah tingkahnya.


Itu membuatnya terlihat manis.


Hei! Ada apa denganku! Manis?


Mengapa aku seperti ini!


Aku segera memudarkan senyumku.


"Setelah menikah nanti, apakah kita akan tidur di dalam satu ruangan yang sama?" Ucapku sedikit ragu.


Young Joon menatapku serius sekarang, hingga melepaskan tangan yang tadi menopang wajahnya.


Dia terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaanku.


"Tidakkah pertanyaanmu terdengar begitu naif?" Young Joon sedikit memiringkan kepalanya.


Aku terhenyak mendengar ucapannya.


Young menarik nafas dalam, dan menghelanya perlahan. Dia menatapku tajam kali ini.


"Apakah sepasang suami istri harus tidur di ruangan yang terpisah?" Wajah Young Joon benar-benar serius!


Aku benar-benar dibuat mati kutu oleh pertanyaannya.


"A-aku..." Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa!


Young Joon seakan merasa puas melihat responku, hingga akhirnya dia tersenyum.


Sikapnya benar-benar membuatku bingung!


"Jenny, dengar..." Tatapan matanya begitu teduh sekarang, berbanding terbalik dengan tatapannya beberapa menit yang lalu.


"Eh?" Sahutku, kemudian menatap wajahnya


"Aku begitu memahami, betapa kau masih membutuhkan waktu untuk adaptasi, jadi..." Young Joon tidak langsung melanjutkan kata-katanya.


"Kau sangat antusias ketika melihat kamar utama Unit apartemen tadi, jadi..."


"Joon, aku..."


"Itu adalah kamarmu nanti, dan aku akan tidur di kamar sebelahnya." Ucap Young Joon, kemudian menyesap kembali minumannya.


Ucapannya tadi membuatku tertegun menatapnya, sedangkan Young Joon yang menyadari aku menatapnya, kini tertawa kecil.