Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
New Colours!



Hari ini adalah hari terakhir Matthew berada di Kansas, besok dia akan kembali bertugas ke Syria.


Kami bertiga berencana untuk memancing di danau yang biasa aku dan Clarence kunjungi. Hubungan Clarence dan Matthew sudah mulai membaik kali ini!


"Kau akan kalah lagi kali ini, anak manja!" Matthew mengejek Clarence


"Kita lihat saja nanti! Aku sudah sangat ahli sekarang!" Clarence tersenyum mengejek Matthew.


Ternyata, penyebab ketidak sukaan Clarence kepada Matthew adalah karena hal seperti ini! Clarence kalah dari Matthew tahun lalu, dan harus membayar $1000 yang mereka jadikan taruhan!


Melihat kelakuan mereka, benar-benar membuatku sejenak melupakan tentang Young Joon!


Kami tertawa bahagia, bahkan sesekali berdebat! Clarence tertawa lepas sekali, aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini sebelumnya


***********************


"Aku sudah mengatakannya padamu! Aku sudah sangat ahli kali ini!" Ejek Clarence kepada Matthew


"Aaahhh, kau hanya sedang beruntung kali ini!" Ketus Matthew


"Jangan lupa untuk mentransfer $5000 ke rekening ku!" Clarence tampak sangat puas kali ini


"Heeeyy, jangan lupakan juga, komisi juri!" Protesku


"Aaaahhhhh... Gadis Asia ini, materialis sekali!" Kesal Matthew, disambut tawa bahagia kami.


Clarence akhirnya dapat membalas kekalahannya tahun lalu dari Matthew. Dia terlihat puas sekali, dan terus menerus mengejek Matthew sepanjang perjalanan kami menuju rumah bibi.


Keesokan harinya, bibi benar-benar merasa sedih, karena hari ini adalah hari keberangkatan Matthew


"Kabari aku, jika kau telah sampai disana, nak." Bibi terisak mengucapkan itu


"Bu, aku berjanji, akan kembali dengan selamat dan tetap tampan."  Matthew menghibur, dan bibi menepuk dadanya


"Bi, masih ada lelaki yang lebih tampan disini." Clarence menggoda bibinya


"Apa maksudmu! Aku lebih tampan darimu!" Matthew tak terima


"Heeeyy... Jangan lupakan, ada gadis cantik disini!" Sahutku, dan mereka semua tertawa


"Baiklah, bu, aku pergi dulu, ya..." Ujar Matthew.


Matthew memeluk ibunya, kemudian menghampiri Clarence.


"Bernafaslah dengan baik! Dan jangan pernah mencoba untuk menyaingi ketampananku!" Matthew menggoda Clarence, kemudian memeluknya


"Kau juga, jagalah dirimu dengan baik, dan jangan lupakan tentang $5000!" Sahut Clarence.


Ucapan Clarence membuatku tertawa, bibi keheranan, dan Matthew kesal.


"Aaahhh, kau ini! Bahkan saat kepergian ku sekalipun, kau masih bisa seperti ini!" Ketus Matthew dengan wajah kesal.


Aku dan Clarence tertawa, kemudian Matthew menghampiriku.


"Semoga kau mendapat pengganti yang lebih baik! Jika saja kau mau menerima keadaanku..."


"Apa maksudmu! Pergilah cepat! Mobilmu sudah lama menunggumu! Mereka sudah bosan melihat dramamu disini!" Clarence segera menyela ucapan Matthew.


Clarence lalu mendorong-dorong tubuh Matthew ke arah minibus di depan sana, aku dan bibi tertawa melihat kelakuan mereka


"Heeeyy, aku belum selesai bicara! Elle, beritahu aku akun media sosial dan nomor teleponmu melalui ibu, ya!" Matthew melambaikan tangan ke arah kami, dengan Clarence yang masih mendorong-dorong tubuhnya ke arah minibus


"Bukankah mereka menggemaskan?" Ucap bibi.


Bibi terlihat bahagia sekali melihat kelakuan anak dan juga keponakannya, aku menatap bibi, kemudian kembali menatap mereka


"Ya, melihat mereka seperti itu, membuatku dapat melupakan semua kesedihanku sejenak." Aku tersenyum seraya melihat ke depan


"Apa kau merasa sedih selama ada disini?" Bibi menyelidik, aku segera tersadar


"Ah, itu... Oh... Bu-bukan apa-apa, bi! Aku hanya merindukan kedua orang tuaku, itu saja." Aku berdalih, kemudian bibi merangkulku


*******************


Kami menjalani hari-hari dengan sangat bahagia. Aku sempat menghubungi mama dan papa, bahwa aku akan pulang 3 hari lagi.


"Kamu pulang sama Young Joon, nak?" Tanya mama di seberang sana


"Young Joon lagi sibuk banget sekarang, ma... Dia sih sebenarnya mau mau aja, tapikan akunya kasihan sama dia." Ujarku sedikit berbohong kepada mama


"Ooohhh, gitu. Ya udah, kabari mama kalo kamu udah sampai di bandara, ya!" Mama terdengar memaklumi di seberang sana


"Mama sama papa ngga usah repot-repot jemput, aku mau mampir ke rumah Gina dulu sebentar." Aku mencari alasan


"Emang kamu mau ngapain?" Selidik mama di seberang sana


"Aku mau ambil barang aku yang ketinggalan waktu itu. Itu dari Young Joon, kalo dia tau, nanti dia bisa marah, ma." Aku kembali mencari alasan


"Ooohhh, yaudah deh." Mama terdengar mengerti


"Yaudah, udah dulu ya, ma! Aku mau beres-beres dulu nih!"


"Oke, jaga diri baik-baik ya, nak! I love you!"


"I love you too, ma!" Ujarku kemudian memutus sambungan telepon.


Malamnya, aku kembali membuka media sosialku.


Sudah ada pesan di kotak masuk disana.


Aku segera menekan ikon kotak masuk, dan... Yup! Arjuna


Arjuna : jen, lagi apa lu?


Jenny Lie : lagi prepare. 3 hari lagi gw balik indo.


Arjuna : ohya! Waaah, gasabar nih gw!


Jenny Lie : semoga kita bisa ketemu, yes!


Arjuna : yaaah, semoga aja!


Jenny Lie : ko' lu kelihatannya bete begitu? Ada masalah?


Arjuna : iya, istri gw.


Jenny Lie : kenapa istri lu? Lu lagi ada masalah sama dia?


Jenny Lie : yatuhan, sorry bgt, Jun.


Arjuna : gapapa, nanti juga dia balik lagi ke gw!


Jenny Lie : iya, semoga aja ya, Jun! Gw do'ain yang terbaik buat lho, deh!


Arjuna : makasih ya, Jen! Btw, ludah pesan tiket untuk kemari?


Jenny Lie : udah, pas gw masih di DC.


Arjuna : lu naik pesawat darimana? DC atau Kansas?


Jenny Lie : kansas.


Arjuna : oh, lu ke indo sama siapa?


Jenny Lie : sendiri lah, sama siapa lagi? Gw kan dah jadi janda sekarang, hahahaha!


Arjuna : hahahhahaaa... Btw Jen, lu masih ada rasa gk sih, sama mantan lu?


Aku terdiam melihat pesan terakhir Arjuna. Namun, tidak ada yang harus ku sembunyikan darinya!


Jenny Lie : masih! Bahkan masih sama seperti dulu.


Arjuna : klu masih cinta, kenapa lu cerai?


Jenny Lie : gw gk mau sakit lagi, Jun! Gw dah kasih dia 2x kesempatan! Gada ke 3! Prinsip aja sih sebenarnya.


Arjuna : emang yang ke2, fatal bgt, ya?


Jenny Lie : banget!


Arjuna : kenapa?


Jenny Lie : susah klu di omongin via chat, Joon!


Arjuna : ya pelan-pelan aja!


Jenny Lie : nanti aja deh, klu gw ada waktu lebih!


Arjuna : ah, ok!


Jenny Lie : udah dulu, yes! Gw dah ngantuk berat, neh! Mo sleeping beauty dulu.


Arjuna : ah, ok, bye!


Jenny Lie : bye!


Aku segera menekan tombol keluar, kemudian menarik selimut, kemudian tidur.


**************************************


"Mengapa ini harus terjadi kepadaku?" Bibi Margareth menangis sejadi-jadinya


"Bi, aku berjanji, pasti akan kembali lagi." Aku menenangkan bibi Margareth


"Mengapa kau begitu tega kepadaku?" Bibi kembali merengek


"Bi, aku berjanji." Aku kembali menenangkannya


"Mengapa harus secepat i..."


"Bi, aku akan tinggal disini untuk menemanimu." Clarence tiba-tiba menyela, kemudian aku dan bibi Margareth menoleh ke arah Clarence


"Benarkah?" Bibi memastikan


"Iya, aku akan menemanimu, sampai anakmu yang sok tampan itu pulang!" Clarence meyakinkan bibinya, aku tersenyum bahagia melihatnya


************************


"Aku akan menghubungimu, begitu aku tiba di Indonesia." Kataku sebelum pergi, kepada Clarence


"Yaaahhh... Jaga dirimu baik-baik... Tetaplah bernafas." Wajah Clarence nampak sedih


"Tentunya! Kau juga, ya!" Kataku, kemudian memeluknya erat.


"Terima kasih untuk semua..." Kataku kemudian meneteskan air mata


"Aku akan sangat merindukanmu..." Clarence terdengar lirih, kemudian melepaskan pelukanku


"Hubungi aku jika..."


"Aku akan tetap menghubungimu... Jangan terlalu mengkhawatirkanku... Aku sangat menyayangimu, adik kecilku!" Aku menyela ucapannya, lalu mengusap rambut Clarence, kemudian beranjak pergi.


"Bye... Aku akan sangat merindukanmu..."  Ujarku seraya melambaikan tangan dan tersenyum, kemudian Clarence membalas lambaian ku


*********************


Aku sudah berada di dalam pesawat.


Kursi sebelahku masih kosong, padahal pesawat sebentar lagi lepas landas.


Saat aku mengeluarkan ponsel serta earphone dari dalam tas kecilku, tiba-tiba seseorang duduk di bangku kosong sebelahku.


Aku segera menoleh kepadanya, hendak menyapa, dan...


Aku benar-benar terkejut melihat sosok di sebelahku kini.


Aku bahkan sempat menelan ludah ketika menatapnya, dan segera menatap layar ponselku, untuk menyembunyikan rasa gugupku.


Aku memasang earphone di ponsel, juga telingaku, setelah itu aku menekan ikon musik, dan mencari lagu favoritku.


Ah, ketemu!


'In the Arm of An Angel-Sarah Mclachlen'


"Kau masih sering mendengar lagu itu?" Laki-laki itu berkata tanpa menoleh ke arahku.


Aku tidak langsung menjawabnya, dan memilih untuk menekan tombol play, kemudian menjawab pertanyaannya.


"Hmmmmm..." Aku terpejam setelahnya.


🎼In the Arm of an Angel is playing...