Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Junior



Aku telah mengenakan celana jeans panjang, serta Jaket kulit berwarna hitam, yang memang selalu ku kenakan, tiap kali hendak bertanding di sirkuit.


Kini aku telah bersiap untuk pergi ke sirkuit tempat pertandingan dilaksanakan.


Clara sempat menghubungiku, bahwa dia mungkin akan telat datang, karena ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan, sedangkan Gina? Gina sudah terlebih dahulu pergi ke sirkuit, setelah meminta kekasihnya untuk menjemputnya.


Aku sudah meminta izin kepada kedua orang tuaku, untuk pergi ke sirkuit malam ini, dengan alasan, ingin melepas penatku, dan mereka mengizinkan.


Ketika aku hendak membuka pintu rumah, mbok Minah menghampiriku


"Mau kemana, mbak?" Tanya mbok Minah, aku menoleh ke arahnya


"Mau main sebentar ke rumah teman, mbok... Sama Clara juga, ko'!" Sahutku


"Mama sama papanya mbak, udah tau?" Mbok Minah memastikan


"Udah ko', mbok... Ya udah, aku pergi dulu, ya." Ucapku, kemudian berlalu setelah mbok Minah mengangguk.


...****************...


Aku sudah memacu Josephine.


Sepanjang perjalanan Jakarta-Bogor, aku kembali mengingat ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Clara, siang tadi di rumah Gina.


"Waktu itu gw lagi makan malam sama bokap sama nyokap, nah terus, Kak Victor telpon, trus nyokap gw yang angkat, kan." Clara membuka percakapan.


"Gw nggak paham deh tuh, apa aja yang diomongin kak Victor ke nyokap, cumaaa... Pas bokap nanya, kapan kak Victor mau balik, nyokap jawab, 'pas Jenny nikah'." Ucap Clara dengan ekspresi wajah yang serius


"Maksud lu?" Tanyaku


"Lu seriusan mau nikah, Jen?" Gina menatapku


"Ya gw tanya dong, sama nyokap, emang Jenny mao nikah kapan, trus sama siapa? Nyokap cuma jawab, kalo bisa tahun ini, sama cucunya teman nenek." Clara menjelaskan


"Whaaatttt!!!!" Gina terbelalak


"Selang beberapa hari setelah kak Victor nelpon kita, mbok Minah ngabarin, nenek kritis." Ucap Clara


Entahlah... Apa hanya aku satu-satunya orang yang baru mengetahui hal penting seperti ini?


Tidakkah ini seperti kejutan untukku?


Aku bahkan sempat menuduh nenek melakukan kebohongan, agar aku menyetujui kehendaknya.


Namun pada kenyataannya... Mengingat kata-kata papa di malam itu, tentang harapan hidup nenek yang tipis, serta ekspresi putus asa dokter, selepas memeriksa keadaan nenek, membuatku berpikir, seolah nenek memiliki firasat tentang dirinya, hingga ingin mempercepat pernikahanku.


Aku memang tidak menolak perjodohan ini, tidak sama sekali!


Bahkan aku menerima perjodohan ini, sebelum aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana keadaan nenek yang sebenarnya!


Aku seolah rela, menerima perjodohan ini!


Tidak ada niat untuk menolak sama sekali! Sungguh! Hatiku yang menjawab semua, sedangkan mulutku hanyalah perantara saja.


Jadi, secara garis besar, keadaan nenek bukanlah alasan utama, mengapa aku menyetujui perjodohan ini!


Namun pada akhirnya, aku kembali bertanya kepada diriku sendiri.


Bukankah aku belum bertemu kembali dengan Young Joon? Pertemuan terakhirku dengannya adalah 15 tahun yang lalu, ketika dia yang telah lulus, dan pada akhirnya melanjutkan sekolahnya di Korea!


Kami tidak saling terhubung setelah itu, bahkan aku seolah kehilangan jejaknya ketika akhirnya aku kembali ke indonesia, untuk melanjutkan sekolah menengah pertamaku, kemudian menetap di Amerika untuk melanjutkan sekolah menengah atasku, hingga sekarang!


Yang membuatku heran, nenek berkata kepadaku, bahwa kedua orang tuaku, serta kedua orang tua Young Joon masih tetap berkomunikasi hingga kini!


Kedua orang tuaku bahkan tidak pernah membahas tentang keluarga itu di depanku! Bukankah itu sedikit aneh? Entahlah! Fakta mengenai kejadian yang ku alami akhir-akhir ini, sungguh membuatku sedikit kacau!


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya aku sampai di sirkuit! Sudah sangat ramai disana! Dan pertandingan sudah hampir di mulai! Aku segera menghampiri Denis yang berada di meja panitia, sesaat setelah aku memarkir Josephine di tempat yang berada tidak jauh dari meja panitia.


Denis yang menyadari kedatanganku, langsung menghampiriku.


"Ipeeellll!!!!" Denis langsung memelukku.


"Anjrittt! Lu makin cantik aja, sih! Makin bikin gw sakit hati aja gara-gara lu nolak gw dulu!" Ucap Denis, kemudian menguraikan pelukannya.


Aku tertawa mendengar ucapan sahabatku semenjak SMP ini.


"Bisa aja, lu! Yang lain pada kemana?" Kataku seraya menoleh ke arah sekitar


"Gina belom nyampe, macet katanya! Clara otw..."


Kemudian beberapa lelaki menghampiri kami.


"Nah, Ipel! Ini Fery, promotor acara." Denis memperkenalkan seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan, dan berumur sekitar 30an yang kini mengulurkan tangannya kepadaku.


"Ini Arnold, adiknya Fery, terus ini Aldi, lu pasti udah tau lah siapa dia!" Denis menepuk bahu laki-laki yang selama ini selalu menjadi rivalku.


"Pastinya, donk!" Sahut laki-laki tampan, pemilik nama Aldi itu


"Jadi, gw panggilnya siapa nih? Ipel, gitu? " Tanya Arnold sedikit menggoda, dan kami tertawa!


"Lu panggil aja Jenny! Ipel mah panggilan sayang gw untuk dia!" Sahut Denis, dan kami kembali tertawa.


Di sela-sela obrolan kami, Gina dan kekasihnya menghampiri kami


"Guys, sorry ya telat! Macet banget ini! Udah 2012 padahal, tapi Jakarta masih macet aja yah!" Keluh Gina


"Eh, Gina! Elu jakarta macet aja ngeluh terus! Gw ngadepin kelemotan lu hampir tiap hari aja, biasa aja!" Sahut Denis, di sambut gelak tawa kami semua yang berada disana.


"Udah jam 8 nih, mulai lah!" Ucap Denis


"Oke, ayo!" Sahut yang lainnya, kemudian kami menuju arena.


"Jen, nanti lu turun, ya!" Ucap Denis seraya mengatur beberapa kertas


"Oke, boleh! Lawan Aldi lagi?" Jawabku


"Aldi nggak bisa, sekarang lap nya Aldi justeru." Ucap Denis kemudian menatapku yang kini duduk telat di sampingnya


"Oowwhh, ya udah, gampang! Toh gw juga cuma tamu, ko'!" Jawabku, kemudian memperhatikan pertandingan.


"Woooyyy!!! Pada nggak nungguin gw sih, lu!" Clara tiba-tiba menghampiri kami dengan raut wajah kesal, kami menoleh ke arahnya


"Lu kelamaan dandan, Cleopatra!" Sahut Denis, kemudian kami tertawa


"Sialan lu!" Umpat Clara


"Clara, bukan Cleopatra!" Protes Clara, dan kami semua kembali tertawa!


"Lagian lu, Ra! Kita kan ke sirkuit, bukan kondangan!" Sahut Gina, kami kembali tertawa mendengar kecadelannya


"Ngomong R aja belum becus lu! So'-so'an komenin gw!" Umpat Clara lagi, kemudian duduk di belakangku.


Saat kami sedang fokus menyaksikan pertandingan, tiba-tiba seseorang menghampiri Denis, dan membisikkan sesuatu kepadanya.


Denis mengangguk, kemudian orang tersebut berlalu.


"Um... Ipel, habis ini lu turun, ya!" Ucap Denis kepadaku


"Ah, oke!" Jawabku


"Lawan si Aldi lagi dia, Den?" Tanya Clara kepada Denis


"Itu si Aldi udah turun." Jawab Denis


"Ada pendatang baru, katanya mao nyari lawan, sekalian nyoba sirkuit." Denis menjelaskan


"Orang mana, Den? Cewek apa cowok?" Clara tampak bersemangat


"Kurang tau juga, gw! Yang pasti sih, cowok!" Jawab Denis, kembali memperhatikan pertandingan


"Ganteng, nggak?!" Clara semakin bersemangat


"Deeeeuuuhhhh!!! Kalo ada aroma cowok, mulai daaaahhh!" Sahut Denis, kembali di sambut gelak tawa kami!


"Yeee... Gw kan cuma nanya!" Ujar Clara sembari menatap kaca yang terdapat di compact powdernya, untuk memperbaiki riasannya.


Lap pertama telah usai, dan kini giliranku untuk bertanding. Aku sudah siap di garis start, dan menunggu lawanku, hingga akhirnya, seseorang dengan jenis sepeda motor yang sama denganku, hanya berbeda warna saja, berhenti tepat di sebelahku.


Sorak sorai penonton bergemuruh, menyambut kedatangannya.


Aku menoleh ke arahnya sekilas, Postur tubuhnya tinggi, mengenakan helm full face, dan hanya menyisakan matanya.


Kemungkinan orang ini adalah keturunan Tionghoa, sama seperti diriku, itu terlihat dari matanya yang sangat sipit.


Aku segera memacu Josephine, sesaat setelah seorang gadis menjatuhkan bendera, tanda pertandingan telah di mulai!


Orang tadi berusaha keras untuk dapat mengimbangi kecepatanku! Hey! Belum ada yang bisa mengalahkanku di sirkuit ini! Hahahaaaa!!!


Aku cukup percaya diri sekarang, dan merasa di atas angin, karena jarak antara kami, cukup jauh!


Namun aku cukup terkejut, ketika tiba-tiba, orang itu sudah berada tepat di sampingku!


Konsentrasiku sedikit goyah! Terlebih ketika orang tersebut menoleh sekilas ke arahku, dan membuatku sedikit oleng, hingga akhirnya dia dapat mendahuluiku!


Benar saja! Akibat rasa percaya diriku yang berlebihan, pada akhirnya orang tersebut sampai di garis finish terlebih dahulu!


Sedangkan aku?


Aku harus rela, tiba di garis finish setelah orang tersebut.


Aku segera membuka helmku, tidak lama kemudian, teman-temanku menghampiri kami, ku pikir, mereka semua penasaran dengan orang yang telah mengalahkanku malam ini.


"Congrat's ya! Lu keren juga, barusan!" Ucapku, seraya mengulurkan tangan.


"Oya, siapa nama lu?" Sapaku ramah. Orang tersebut terlihat ragu untuk menyambut tanganku, hingga tiba-tiba sorak Sorai penonton bergemuruh.


"Buka!! Buka!! Buka!!" Mereka terus meminta orang itu untuk membuka helmnya.


Orang itu kemudian menyambut tanganku singkat, lalu menyebutkan namanya...


"Junior!" Kemudian berlalu memacu sepeda motor, meninggalkan arena, di susul sorak Sorai penonton yang kecewa.


Aku sedikit heran, melihat tingkah orang tersebut.


"Den, siapa sih tuh orang! Sombong amat!" Sinis Clara.


"Nggak tau! Orang baru. Si Rizky yang bawa." Jawab Denis


"Tau, belagu banget sih!" Sahut Gina


"Ya udah sih, biarin aja!" Ujarku kepada teman-temanku yang kini tampak begitu kesal


"Ya udah lah, ayolah! Lanjut makan dulu kita! Lapar banget ini gw!" Ucap Denis mengajak kami.


Clara dan Gina mengikuti Denis dari belakang, sedangkan aku? Aku masih menatap ke arah dimana orang tadi berlalu, kemudian tersenyum simpul.


...****************...


 Pagi ini, tidurku terusik dengan kegaduhan yang terjadi di depan kamarku.


Samar ku dengar, ada suara kedua orang tua Clara, dan jika aku tidak salah dengar, ada suara kak Victor juga!


Aku segera beranjak dari ranjangku untuk mencari tahu, apa sumber kegaduhan ini.


Namun, sebelum aku mencapai kenop pintu kamarku, mama sudah terlebih dahulu membukanya.


"Jenny..." Wajah mama terlihat murung sekali! Perasaanku menjadi benar-benar tak menentu, melihat ekspresi wajah mama.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, nak..." Ucap mama lirih


"A-ada apa emang, ma?" Tanyaku.


Seperti perkiraanku tentang suara yang ku dengar tadi, benar saja! Ada kak Victor disini, dia kini telah berada tepat di belakang mama


"Tante, tante sama yang lain duluan aja. Biar Jenny, Clara sama aku nyusul." Ucap kak Victor


"Ya udah, Jen... Kamu siap-siap sekarang juga ya, nak..." Ucap mama, masih dengan suara lirih.


...****************...


 


Kami semua, sudah berkumpul di ruangan nenek, termasuk kedua orang tua Young Joon.


Aku tidak henti-hentinya mengecup kening nenek, berharap nenek segera pulih.


Keadaan nenek sungguh sangat memprihatinkan.


Wajahnya pucat, dan tubuhnya dingin sekali.


"Nek, nenek kedinginan? Jenny pelukin, ya..." Ucapku berusaha keras menahan tangisku, melihat keadaan nenekku yang sungguh sangat lemah.


Nenek hanya tersenyum melihatku.


"Nek, nenek jangan gini donk, nek... Katanya mau nyaksiin pemberkatan Jen..." Air mataku sudah tidak tertahan lagi.


Atmosfir ruangan ini berubah sendu. Beberapa diantara kami, termasuk diriku, kini telah meneteskan air mata.


Aku tidak melepaskan pelukanku kepada nenek, bahkan ketika kak Victor menepuk pelan bahuku.


"Jen, udah..." Ucap kak Victor dengan suara sedikit bergetar.


Aku tidak menghiraukannya, bahkan aku tidak menghiraukan suara pintu ruangan yang terbuka, hingga tiba-tiba, nenek dengan suara lemahnya, menyebut nama seseorang...


"Y-yooung Jooonn..." Ucap nenek dengan suara yang terbata-bata, ketika menyadari kehadiran seseorang yang kini telah berdiri di samping kami.


"Ya, nek..." Sahut orang tersebut.


Aku segera berbalik dan menatap ke arah sosok tersebut. Aku benar-benar terkejut melihat sosok laki-laki yang kini berdiri di hadapanku ini!


Bukankah, dia adalah laki-laki yang waktu itu menyapaku di taman? Bukankah...


"Kemaariillaaahhh, n-naakk..." Suara nenek benar-benar lemah sekali.


Laki-laki tersebut segera menghampiri nenek, dan berdiri hanya beberapa senti sampingku.


Nenek mengisyaratkan untuk meminta tangan kami berdua. Dan saat tangan kami di satukan...


"Jenn... S-setelah pemakaman nenek..."


"Nggak!!! Nggak!!! Nggak neekkk!!! Aku nggak mau dengar!!!" Aku segera menutup telingaku, enggan untuk mendengar kata-kata nenek.


"Segera lakukan pemberkatan, setelah pemakamanku!" Dan seisi ruangan pun mengangguk!