
Pagi tadi, pihak dealer menghubungi kami, untuk mengkonfirmasi alamat, karena pukul sepuluh nanti, mereka akan mengantar mobilku.
Aku begitu bersemangat, ketika mereka akhirnya datang, walaupun sedikit telat, tidak mengapa!
Begitu mereka pergi, aku sungguh ingin sekali 'test drive' mobil pertamaku ini!
"Kau yakin, bisa mengendarainya?" Young Joon tampak ragu, ketika aku membuka pintu mobil ini.
Aku menatap sinis kepadanya, kemudian kembali menutup pintu mobil, dan melipat kedua tanganku.
"Jika kau ragu, mengapa kau membelikan mobil ini untukku!" Ucapku kemudian berlalu, namun Young Joon segera menggapai tanganku, dan tersenyum konyol.
"Ayolaahh... Mengapa kau harus se-serius itu?" Ucapnya dengan wajah yang di buat semanis mungkin!
Aku menatap tajam ke arahnya sejenak, kemudian tersenyum sinis!
"Hahahaa! Lucu sekali!" Kataku kembali melanjutkan langkahku, namun Young Joon segera menyergapku!
Jantungku, lagi-lagi berdegup kencang, dengan posisi seperti ini! Wajah kami begitu dekat, tidak! Tidak hanya wajah, namun dadaku kini berbenturan dengan dadanya.
"Jenny..."
Aku secara reflek, melepas tubuhku dari 'kurungannya'
"Aku haus!" Kataku kemudian berlalu.
Aku segera berjalan menuju kulkas yang berada di pantry lantai bawah, dan mengambil botol air minum, lalu menuangkannya ke dalam gelas!
"Huuuuufffttt!" Lenguhku sambil mengipas-ngipas wajahku dengan tangan, sesaat setelah meneguk air.
Young Joon kini telah berdiri di depan pintu masuk, dan menatapku, membuatku seketika memalingkan tubuhku darinya.
Dia berjalan menghampiriku kini.
"Jenny... Tidak inginkah kau mengisi bensin mobilmu?" Ucapnya ragu di belakang punggungku.
Aku menoleh ke arahnya, salah tingkah...
"Nnngggg..."
"Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Hahahahaa! Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi penumpang sedan eropa." Katanya sambil mengusap belakang kepalanya.
Aku menghela nafas kasar, diiringi senyum mengejek!
"Yang benar saja!" Kataku kemudian berlalu melewatinya, ke arah luar rumah.
Young Joon mengikutiku, sekilas ku lihat, dia tersenyum samar.
Ketika aku masuk ke dalam mobil, dia juga ikut masuk ke dalamnya, dan duduk di sebelah kursi kemudi, itu membuatku menoleh ke arahnya, ketika aku memasang sabuk pengaman.
"Apa yang kau lakukan?" Sinisku.
Young Joon menatap heran kepadaku, sambil memasang sabuk pengamannya.
"Hey, apa maksudmu!" Protesnya
"Ya lu mau ngapain duduk disitu, bloon!" Aku memekik, dan dia terlihat semakin heran
"Jenny, apa yang kau katakan?!"
Aku menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaannya.
"Tuan Park Young Joon, apa yang sedang anda lakukan di KURSI ITU!!!" Ucapku dengan menekankan kata di kalimat terakhir.
Young Joon terlihat salah tingkah kini.
"Ooohh.... Hahahahahaaaa... Itu..."
Aku segera menyalakan mesin, sebelum dia melanjutkan ucapannya!
"Jenny..."
"Diamlah!" Ketusku.
Aku begitu fokus melajukan mobil dengan type automatic ini. Karena jujur saja, aku lebih terbiasa mengendarai mobil dengan type manual.
"Jenny, kau terlihat belum terbiasa." Katanya sambil terus memperhatikan gesture ku ketika melajukan mobil ini.
"Hmmm... Ini agak berbeda dengan mobil papaku." Jawabku sesekali menoleh ke arah spion.
"Tapi tenang saja! Meskipun jarang, setidaknya aku pernah meminjam mobil Clara! Walaupun kemudinya berada di sebelah kanan!" Kataku menoleh sekilas ke arahnya, sambil tersenyum.
Young Joon mengangguk samar, sambil tersenyum.
Kau tahu, selama aku mengemudi, Young Joon selalu tersenyum. Ku pikir, dia tersenyum karena aku terlihat antusias sekali terhadap mobil ini!
Yeah! Faktanya memang begitu! Hahahahahaa!!!
Aku sungguh sangat bahagia! Tentu saja!
"Young Joon, Terima kasih..." Kataku, begitu kami tiba di rumah.
Young Joon tersenyum, manis sekali... Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan sedikit memiringkan kepalanya.
"Hanya Terima kasih?" Ucapannya membuatku memudarkan senyum.
Apa maksud dari ucapannya?! Jangan-jangan?!
Aku melebarkan mataku!
Tidak! Jangan bilang kalau...
"Apakah itu setimpal?" Young Joon kini menegakkan tubuhnya, kemudian melipat kedua tangannya.
"Yo-Young Joon... Ma-maksudmu..." Aku tersenyum ngeri, terlebih ketika dia mulai mendekat.
"Apa ucapan Terima kasih, setimpal dengan harga mobil itu?" Wajahnya, entah bagaimana aku dapat menjelaskannya!
Keringat dingin mulai timbul di pelipisku, jantungku? Entah seperti apa iramanya kini!
Aku memejamkan mata, sambil berusaha menelan ludah.
Dan ketika aku membuka mata, wajah Young Joon sudah berada tepat di depan wajahku, dan membuatku tersentak!
"Aku ingin..."
"Young Joon, aku..."
Young Joon kini mengerutkan keningnya. Itu membuatku semakin sesak, terlebih dengan posisi seperti ini.
"Aku belum siap..." Kataku.
Mataku kini berkaca-kaca, rasanya sesak sekali! Lebih sesak ketika Young Joon menyentuh daguku, dan mengangkat wajahku untuk menatapnya.
"Aku hanya ingin kau membantuku membuat makan malam, apa kau belum siap untuk itu?"
Aku merasa malu terhadap diriku sendiri! Mengapa pikiranku terlalu dangkal kepanya?!
Aku tersenyum lega!
"Yeah! Tentu saja aku sudah siap! Hahahahaaaa!"
Young Joon mengerutkan keningnya melihat sikapku!
*****************************
Hari ini adalah hari pertama Young Joon bekerja di kantor barunya.
Kini aku tengah menyiapkan sarapan untuknya.
Segelas susu, serta beberapa potong sandwich.
Aku tersenyum begitu melihatnya menuruni tangga, dan berjalan ke arah meja makan.
"Waaahhh... Sepertinya lezat." Katanya tersenyum, kemudian duduk.
"Yeah! Makanlah!" Kataku, kemudian duduk di hadapannya.
"Jenny, bukankah dua hari lagi kau mulai kuliah?" Katanya kemudian melahap sandwich.
"Hmmmm... Ada apa? Aaahhh... Kau tidak perlu mengantarku, sudah ada mobil." Kataku
Young Joon terlihat ragu menatapku.
"Kau yakin?"
"Yeah! Tentu saja! Aku tidak ingin merepotkanmu!" Kataku meyakinkan.
"Ayolah! Kau kan baru saja pindah tugas!"
Young Joon terlihat berpikir.
"Oppa... Aku bisa..." Aku menggodanya
Hahahahaaa! Kau tahu, tiap kali aku menyebutnya dengan panggilan itu, wajah Young Joon seketika memerah! Hahahahaa!!!
"I-itu..."
"Oh, ya! Hari ini aku mau pergi dengan Shierly!" Kataku, kemudian melahap sandwich.
"Hanya Shierly?" Young Joon terlihat ragu.
"Hmmmm... Ada apa?"
"Kau yakin, hanya Shierly?"
"Ya, tentu saja! Aku ingin mencari beberapa referensi mata kuliahku, karena aku tidak dapat menemukannya ketika di Indonesia." Jawabku kembali mengunyah sandwich.
"Jenny..."
"Mike sedang tidak berada di DC, kau tidak perlu khawatir."
Young Joon terperangah.
Aku mengerti maksud dari ucapannya.
"Kalaupun Mike ada, aku tetap akan memegang teguh batasan ini... Joon, aku..."
"Jenny..."
Wajahnya kini menunjukkan ekspresi bersalah.
"Jenny, aku..."
"Young Joon... Aku telah berjanji kepada papa, bahwa aku harus bisa menjaga diriku..."
Hening...
"Young Joon, beri aku waktu... Aku sedang mencari cara, untuk melepaskan diriku dari Mike..."
Aku segera berlalu, namun...
"Jenny..."
Aku menghentikan langkahku.
Dapat ku dengar langkah kaki Young Joon berjalan ke arahku.
"Jenny..." Young Joon menatapku, sambil tersenyum.
Dia tampak mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya.
Dompet! Bahkan dia membuka dompetnya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Aku melihat sekilas, terdapat foto di dalam dompetnya, namun aku tidak dapat memastikan, foto siapa itu!
"Ini..." Katanya sambil mengulurkan 2 buah kartu kepadaku.
"Gunakan ini, ketika kau membutuhkan uang cash." Katanya sambil menunjukkan kartu debit kepadaku.
"Pinnya tanggal pernikahan kita." Katanya, kemudian aku meraih dua kartu itu.
"Bagaimana jika aku menghabiskannya?" Aku sedikit menggodanya.
Young Joon tersenyum.
"Itu hakmu! Toh, itu adalah milikmu!" Katanya
"Jika uang di kartu debit itu habis, aku akan mengirimkannya lagi, dan jika kartu kredit nya sudah over limit, aku akan menukar kartumu dengan kartu yang limitnya lebih besar." Katanya lagi.
"Young Joon... Apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Tentu saja tidak! Kau kan istriku!" Ucapnya tersenyum lebar
Aku termenung menatapnya... Bukankah dia adalah pria yang sempurna?
Tapi mengapa aku belum juga dapat melunak?
"Baiklah, aku pergi dulu, ya..." Katanya, kemudian berlalu
"Young Joon!" Aku menghampirinya.
"Ya?" Dia menoleh ke arahku.
"Terima kasih..."
Dia hanya tersenyum, kemudian berlalu