Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Impossible!



"Dia adalah hacker paling berbahaya, dan juga paling di cari di negeri ini..." Bibi menghela nafas, dan mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"Membobol bank Negara, dan..." Bibi terisak


Air mataku mengalir dengan bebas sekarang... Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut bibi Margareth, bagaikan pedang yang kini menghujam jantungku!


Aku membekap mulutku, masih tak percaya...


"Bekerjasama dengan Black Mamba..." Tangis bibi Margareth pecah, ketika mengucapkan kata Black Mamba.


Black Mamba... Yeah!


Siapa yang tak kenal Black Mamba!


Mereka adalah kelompok mafia yang sungguh sangat ditakuti di negeri ini!


Kelompok yang hampir seluruh anggotanya adalah pria atau wanita kulit hitam, dan terkenal sangat bengis!


Ooohh Tuhan! Bagaimana mungkin Clarence dapat terlibat dengan mereka!


Bibi segera menghapus air matanya.


"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang." Ucap bibi.


************************


"Apakah kedua orang tuanya mengetahui hal ini?" Kataku kepada bibi.


"Ya, mereka kini masih terus di interogasi oleh pihak polisi." Jawab bibi tanpa menoleh ke arahku.


"Dan bibi sendiri..."


Bibi tersenyum miris...


"Mereka telah menginterogasiku, sebelum kedua orang tua Clarence."


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"


Bibi tersenyum, kemudian menoleh ke arahku.


"Tidak ada hal yang harus di curigai, dari seorang janda tua sepertiku." Jawabnya.


"Bi, bagaimana polisi akhirnya menemukan Clarence?"


Bibi menarik nafas dalam, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Polisi berkata, beberapa waktu terakhir Clarence melakukan kecerobohan..."


"Ma-maksudnya?"


"Dia banyak melakukan transaksi mencurigakan yang dengan mudah di lacak oleh pihak kepolisian..."


"Transaksi mencurigakan?"


"Yeah... Menyewa mobil, apartemen, dan lain sebagainya, menggunakan identitas dari korban Black Mamba."


Seketika aku terhentak!


Ku yakin itu adalah aku!


Yeah! Aku sangatlah yakin!


Clarence beberapa kali meminjamkan identitasnya untukku!


Yaaa tuhaan!!!


Secara tidak langsung, akulah penyebab dari semua ini!


Air mataku kembali mengalir dengan bebas...


Membayangkan, betapa pengorbanannya untukku, sangatlah besar!


Tapi...


"Adikku, Shane sungguh sangat terpukul melihat putranya harus seperti ini..."


Aku segera memeluk bibi Margareth...


Setelah tiba di depan rumah sakit, aku sungguh terkejut dengan penampakan beberapa petugas kepolisian yang berjaga disana.


Mereka bahkan berjaga sepanjang lorong menuju ruang perawatan Clarence.


"Tunggu disini, sebentar." Ujar bibi Margareth.


Bibi segera berjalan ke arah seorang polisi yang berjaga tepat di depan ruang perawatan.


Jika ku perhatikan, bibi sepertinya berusaha keras untuk meyakinkan polisi itu, hingga akhirnya...


"Elle... Kemarilah..." Ujar bibi Margareth kepadaku.


Aku segera menghampirinya.


"Ya, bi?" Kataku.


"Begini, hanya satu orang yang dapat masuk, dan polisi ini, dia akan mendampingimu." Ujar bibi Margareth.


"Ba-baiklah..." Ucapku.


Sebelum aku memasuki ruangan itu, seorang polisi tampak menginstruksikan polisi lainnya untuk menggantikan posisinya berjaga di depan pintu ruangan.


Mereka meminta seorang polisi wanita, untuk memeriksaku, serta menggeledah barang bawaanku.


Begitu mereka merasa bahwa tidak ada yang mengkhawatirkan, mereka akhirnya mempersilahkanku untuk masuk ke dalam.


Dan begitu aku memasuki ruangan...


Lututku melemas seketika, melihat penampakan sahabat kecilku, yang saat ini tengah berjuang untuk hidupnya...


Dengan langkah gontai, aku menghampiri Clarence yang tengah berbaring lemah, dengan wajah yang dipenuhi oleh alat yang berfungi untuk menopang hidupnya...


Aku segera duduk di samping bangkar Clarence, dan menggenggam tangannya, yang terdapat selang infus.


Ada dua orang polisi yang mengawasi kami.


Satu, berada tepat di sampingku, dan satunya lagi, berdiri tepat di seberangku.


"Clare... Bagaimana kabarmu? Mengapa seperti ini?" Kataku, seraya menahan tangis.


"Clare... Cepatlah pulih... Aku begitu merindukanmu..."


"Clare... Aku menyayangimu..."


Terlihat pergerakan di jemarinya.


"Pak, apa kau melihat itu?! Jarinya bergerak!" Kataku kepada kedua orang polisi itu.


Kedua polisi itu kemudian mendekat, untuk memastikan.


"Nona, apa kau yakin? Tidak ada apa-apa disini!" Kesal salah seorang dari mereka.


"Aku bersumpah, jarinya tadi bergerak!"


"Nona, ayolah!"


Aku sungguh kehabisan kata-kata, melihat sikap kedua polisi ini.


Aku kembali duduk, dan menggenggam tangan Clarence!


"Clarence! Ku mohon! Lakukan sesuatu, agar mereka percaya bahwa aku tidak sedang bergurau!" Kataku agak memaksa.


"Nona, kau dapat mengganggu ketenangan pasien!"


"Clare, ku mohon... Clare... Kau tahu, aku begitu menyayangimu sebagai sahabat terbaikku, sampai kapanpun!"


'Tiiiiiitttttttttttttttttttttttttttt......'


Apa ini?! Apa yang terjadi?!


Mengapa seperti ini?!


Salah seorang polisi dengan sigap pergi ke luar dari ruangan ini.


"Apa yang terjadi?! Ada apa ini?" Kataku berdiri dari dudukku.


Polisi itu terlihat panik, hingga akhirnya seorang dokter, beserta 5 orang perawat memasuki ruangan ini, dan langsung memeriksa keadaan Clarence.


Aku pernah melihat kejadian seperti ini, beberapa tahun yang lalu!


Dokter yang menempelkan alat pacu jantung berkali-kali, perawat yang menatap ke penuh harap ke arah monitor, dan...


TIDAK!!!


Itu tidak akan terjadi kepada Clarence!


Clarence masih terlalu muda untuk meninggalkan dunia ini!


Clarence tidak mungkin...


Wajah dokter, dan juga para perawat terlihat pucat...


Dokter menatap ke arah jam tangannya, dan memberitahu waktu kematian kepada perawat, dan kedua polisi yang berada disana...


Clarence... Sahabatku... Satu-satunya lelaki yang mencintaiku tanpa syarat.... Laki-laki yang merasa bahagia, walau hanya melihatku bernafas...


Laki-laki yang telah mempertaruhkan hidupnya untukku...


Laki-laki yang selalu siap untuk membantuku kapanpun itu..


Laki-laki yang saat ini... Telah benar-benar pergi meninggalkanku untuk selamanya...


Clarence... Mengapa harus seperti ini?


Mengapa harus dengan cara seperti ini?!


Clarence... Aku sungguh sangat membencimu...


Aku begitu membencimu, ketika kau tiba-tiba menghilang disaat kita berlibur!


Aku begitu membencimu, ketika bahkan sampai akhir hayatmu, aku belum juga membalas setiap kebaikan yang kau lakukan kepadaku...


**************************


Clarence Marshall Douglas...


Setelah melewati proses yang panjang, dua hari kemudian dia dimakamkan...


Masih, masih dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian!


Bahkan kematiannya, menjadi headline news di negeri ini...


Kedua orang tua, Clarence, bibi Margareth, dan sepupunya yang lain, termasuk Matthew, turut hadir selama prosesi pemakaman ini.


Hancur?


Tentu saja!


Jangankan pihak keluarganya, bahkan akupun begitu hancur mengetahui banyak fakta yang dapat dengan mudahnya Clarence simpan selama ini!


Inilah jawaban dari setiap pertanyaanku selama ini...


Pertanyaan tentang, bagaimana Clarence dapat memiliki uang sebanyak itu?


Mengapa di selalu minta dihubungi hanya melalui telepon umum?


Dan pertanyaan lainnya, yang berkat kejadian ini, akhirnya dapat ku ketahui.


Menurut cerita bibi, andai saja Clarence tidak berusaha untuk melarikan diri, polisi tidak akan memembak dirinya waktu itu.


Karena polisi masih ingin mengorek banyak keterangan, yang dapat mereka pastikan, Clarence lah kunci nya!


Namun takdir berkata lain...


Clarence seolah ingin menyimpan semua sendiri, bahkan sampai ke akhirat...


Clarence...


Seburuk apapun dirimu di mata orang lain... Kau tetap adik kecilku yang manis...


Aku begitu menyayangimu, dengan segenap hatiku...


Selamat jalan, Clarence...