
"Tidak sama sekali!" Dia menyela ucapanku dengan tegas!
Young Joon sama sekali tidak menoleh ke arahku, dan dia seolah tahu kemana arah pembicaraanku.
"Setelah kau pindah ke Indonesia, aku berniat pindah ke sana juga sebenarnya, namun ternyata, ayahku malah ditugaskan ke Korea, jadi aku melanjutkan sekolahku di Korea, sampai SMA. Dan kuliah di Australia." Young Joon memulai kisahnya.
"Dan Kimberly... Dia selalu mengikutiku! Hah! Lucu sekali dia!" Young Joon tampak tersenyum saat menceritakan hal itu.
"Apa kau tidak pernah sedikitpun memiliki..."
"Tidak sama sekali! Bahkan aku sebenarnya takut kepadanya!" Wajah Young Joon terlihat aneh ketika mengatakan hal tadi.
"Tapi... Bukankah kau pernah menahanku ketika aku hendak memukulnya?" Ucapku.
Pertanyaan ini sebenarnya sudah lama ingin ku tanyakan kepadanya.
Young Joon menghentikan laju mobilnya, karena lampu lalulintas berwarna merah, kemudian dia menatapku
"Jenny, jika saat itu aku membiarkanmu memukul wajah Kimberly, dapat dipastikan, pertemuan kita tidak akan sampai aku lulus dari sekolah itu, dan ayahmu, dia tidak akan tetap bekerja di perusahaan tempatnya bekerja waktu itu." Ucapnya dengan ekspresi wajah serius.
Lampu lalulintas kini berwana hijau, Young Joon kembali memacu mobilnya.
"Mengapa seperti itu?" Aku sungguh penasaran
"Karena ayah Kimberly adalah orang yang cukup berpengaruh di provinsi tempat kita tinggal dulu." Young Joon terlihat tenang ketika menjelaskan ini
"Bagaimana kau bisa tahu?" Aku masih saja penasaran.
"Dulu, saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SD, dan Kimberly kelas 1 SD, ada seorang gadis kecil yang selalu meniru gayanya."
"Lalu?"
"Kimberly melaporkan itu kepada ayahnya, dan tidak lama kemudian, gadis itu pindah dari sekolah, bahkan rumah!"
Aku termenung sejenak, bahkan hanya meniru gayanya saja, itu dapat berakibat fatal! Apalagi jika meninjunya?!
Aku tersenyum mendengar penjelasan Young Joon.
"Lagipula, ibuku tidak menyukai Kimberly!" Imbuhnya kemudian, seraya menoleh ke arahku sekilas.
"Lalu, apakah itu alasan mengapa kau tidak pernah..."
"Tentu saja tidak!" Young Joon tersenyum yakin
"Lalu?"
"Aku sudah mencintai gadis lain, saat umurku 8 tahun." Young Joon menjelaskan
"Apakah itu cinta pertamamu?"
"Tentu!" Ucapnya sambil tersenyum lebar!
Aku sedikit heran mendengar penjelasan Young Joon.
"Bagaimana mungkin, anak umur 8 tahun sudah mengerti cinta?"
"Mengapa tidak?" Young Joon menoleh ke arahku.
"Apa aku mengenalnya?" Aku sedikit cemburu, sebenarnya
"Tentu!" Young Joon kembali menoleh ke arahku.
"Apakah itu Michelle?" Sinisku.
Aku menyebut nama seorang gadis cantik yang waktu itu dekat dengan Young Joon.
Gadis itu adalah teman sekelas Young Joon.
"Bukan!" Young Joon dengan tegas membantahnya!
"Lalu?" Aku menatap wajah Young Joon, menanti jawaban darinya.
"Jennifer Elizabeth Lie, atau Lie Huan Zhu!" Ucapnya tegas, sambil menatap wajahku.
Aku sungguh sangat terkejut mendengar jawaban Young Joon!
Mana mungkin?!
Jika saat itu umur Young Joon adalah 8 tahun, berarti umurku masih 6 tahun!
Dan itu berarti, dia mencintaiku, sejak aku baru saja duduk di bangku sekolah dasar!
Aku tidak habis pikir, apakah mungkin, ada seorang pria, yang mencintai seorang gadis selama 20 tahun tanpa adanya kepastian?!
Sejujurnya, aku tidak terlalu mempercayai kata-kata Young Joon yang tadi, namun..
"Dan jika kau bertanya, bagaimana seorang anak umur 8 tahun bisa mengerti apa itu cinta, aku akan menjelaskan kepadamu." Ucapnya, membuyarkan lamunanku.
"Ibuku selalu berbicara tentang perjodohan dengan ayahku, di depanku. Dan saat itu umurku baru 7 tahun. Aku masih ingat betul, waktu ibuku menunjukan foto seorang gadis kecil yang cantik kepadaku, ibu berkata 'bukankah gadis ini sangat cantik?' dan aku bilang, ya! Aku menyimpan foto gadis itu, bahkan sampai saat ini." Ucapnya penuh semangat.
Kemudian Young Joon tampak meraih sesuatu dari saku belakang celananya, ya, dia mengambil dompetnya, lalu menyerahkannya kepadaku.
"Bukalah!" Young Joon menoleh ke arahku, seraya mengulurkan dompetnya.
Lalu aku segera meraih, kemudian membuka dompet itu. Aku benar-benar terkejut ketika membuka dompet itu! Young Joon meletakkan foto pernikahan kami, dan juga foto masa kecilku disana!
Dia bahkan meletakkan foto masa kecilnya di samping foto masa kecilku!
Mataku berkaca-kaca melihat ini.
Aku menyadari, Young Joon saat ini tengah memperhatikanku.
"Ini..." Ujarku seraya menunjukkan potret yang ada di dompet Young Joon, dan menoleh ke arahnya...
"Ya..." Young Joon menoleh ke arahku.
"Ibu berkata kepadaku, bahwa kau akan bersekolah di tempatku. Aku luar biasa bahagia saat itu. Dan aku berjanji akan selalu menjaga gadis itu." Young Joon melanjutkan ceritanya.
"Dan saat pertama kali kita bertemu, jantungku berdebar kencang sekali! Bukankah lucu, seorang anak berusia 8 tahun, bisa gugup karena seorang gadis! Hahahaaa!" Imbuhnya lagi.
Aku menitikkan air mata melihat ekspresi Young Joon.
"Dan jika kau bertanya, mengapa aku tidak menyatakan cintaku? Jujur saja, aku merasa takut." Wajah Young Joon terlihat sedih.
"Takut kenapa?" Tanyaku lagi.
"Aku takut kau jijik kepadaku." Young Joon tertawa renyah.
"Mengapa aku harus jijik?" Kataku
"Karena kau pernah mengatakan itu kepada temanmu, Maria, saat kau menolak Daniel." Young Joon menjelaskan, dan aku mengingat kejadian yang sudah lama sekali terjadi.
"Saat itu Maria bertanya kepadamu, mengapa kau menghindari Daniel, dan kau menjawab, bahwa kau jijik kepada Daniel karena dia menyatakan cinta kepadamu. Kau berkata pada Maria, bahwa anak seusia kalian, tidak pantas membicarakan tentang cinta. Hahahaha!"
Aku ikut tertawa melihatnya tertawa.
"Dan kau, sejak kapan kau mencintaiku?" Young Joon menatap wajahku, dan akupun menatap wajahnya.
Aku terdiam, lalu tersenyum.
"Bagaimana kau bisa tahu, bahwa aku mencintaimu?" Kataku seraya tersenyum.
Young Joon terlihat salah tingkah.
"Ah, itu... Itu..."
"Sejak aku menolak cinta Daniel."Aku menyela ucapannya.
Young Joon pun tersenyum, kemudian menggenggam tanganku, lalu mengecupnya.
...****************...
"Kejadian di ruangan ku waktu itu..." Young Joon melanjutkan percakapan kami.
"Saat kau mengetuk pintu ruangan ku, mesin pelacak yang alat pelacaknya ku letakkan di kolong mobilmu berbunyi keras sekali. Ku pikir, mesin itu sedikit rusak, karena harusnya itu berbunyi tepat disaat mobilmu terpakir di halaman parkir, bukan disaat kau berjalan ke arah ruanganku." Wajah Young Joon murung kali ini.
"Lalu, telepon di ruangan ku ikut berdering juga. Dan aku terburu-buru ingin melihatnya, namun aku tersandung kaki Kim, dan itu membuatku berada di posisi seperti yang kau lihat, ketika kau membuka pintu ruangan ku." Young Joon menoleh ke arahku, dan aku menoleh ke arah lain.
Aku mencoba untuk mengingat kembali kejadian waktu itu.
Yaaahh... Ketika aku mengetuk pintu ruangan Young Joon, aku mendengar suara seperti 'tititittiiiittt' dari dalam, dan juga bunyi panggilan telepon.
Dan itu terdengar semakin keras, ketika ku buka pintu ruangan itu.
"Dan yang kau hubungi setiap kali aku pulang dari kampus? Dan kau bilang..."
"Aku mencintaimu..." Ucapnya seraya menatap wajahku.
Young Joon kemudian memijak pedal rem, karena lampu lalulintas berwana merah.
Young Joon lalu menarik nafas dalam, kemudian kembali menoleh ke arah depan.
"Bukankah aku pernah menjelaskan itu kepadamu, sebelumnya?" Ucapnya sambil menatapku.
Aku mengingat-ingat setiap kejadian yang terjadi selama pernikahan kami.
Dan tiap saat dia menelpon seseorang itu, sepertinya Young Joon tidak pernah menjelaskan tentang apapun kepadaku.
"Sepertinya, tidak pernah." kataku kemudian menatap wajahnya
"Saat aku menelpon seseorang barusan, 전혀 나는 아무에게도 연락하지 않습니다, 네가 집에 있다는 걸 알기 때문에 기분 전환 일 뿐이야. 무엇을해야할지 말해야할지 모르겠습니다. 내가 말할 때, 나는 당신을 사랑합니다나를 믿어 라. 그래, 그게 진실이야 사랑해" Young Joon kembali mengucapkan kata-kata itu!
Aaahhh, aku ingat ini!
Tapi aku hanya mengerti kalimat terakhirnya saja!
Dan setelah itu, Young Joon bertanya kepadaku, apakah 'dia' akan terkesima?
Aku benar-benar kesal jika mengingat kejadian itu!
"Mana ku mengerti apa yang kau..."
"Saat aku menelpon seseorang barusan, sebenarnya aku tidak sedang menghubungi siapapun, itu hanyalah pengalihan, karena aku tau, kau sudah pulang, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan atau aku katakan. Dan saat aku berkata, aku mencintaimu, percayalah, aku mengatakan itu untukmu. Ya, itulah kebenarannya... aku mencintaimu... Sangat mencintaimu" Young Joon menatapku dalam.
Aku benar-benar terkesima mendengar kata-katanya, hingga membuat mataku berkaca-kaca.
Kami saling menatap satu sama lain.
"Joon..." Kataku dengan suara bergetar
"Ya, istriku sayang..."
"Orang di belakang kita sudah membunyikan klakson... Lampunya sudah hijau." Kataku mengingatkannya, dan dia langsung menginjak pedal gas
"Hahahaaaaaaaaa!!!" Kami tertawa bersamaan
"Joon..."
"Hmmm..."
"Apa kau mengerti, saat aku mengumpatmu dalam bahasa Indonesia?" Tanyaku memastikan
"Ya, tentu!" Aku benar-benar terkejut mendengar pengakuannya!
"Semua?" Tanyaku memastikan
"Ya, semua!" Young Joon meyakinkanku!
Dugaanku tepat!
Aku menjadi salah tingkah saat ini, dan... Ah!
"Lalu, beberapa kali aku melihatmu senyum-senyum sendiri saat malam hari di depan layar laptop, apa kau sedang chating dengan seseorang?" Selidikku
"Ya, tentu saja!" Jawabnya tegas
"Dengan siapa?" Tanyaku
"Seseorang tentunya! Oh ya, dia yang mengajarkanku bahasa Indonesia, lho!" Young Joon menjelaskan
"Wanita atau..."
"Wanita!" Jawabnya tegas
"Apa dia..."
"Dia tahu, bahwa aku sudah memiliki seorang istri. Dan dia pun seorang istri." Young Joon kembali menjelaskan
"Iiissshhh... Hubungan pertemanan macam apa itu!" Ketusku sebal
"Hubungan pertemanan yang baik."Jawabnya sambil tersenyum
"Apa kau sebahagia itu ketika chat dengannya?"
"Sangat!" Ucapnya lalu tersenyum lebar,.
Dan aku menatapnya dengan tatapan tajam.
Young Joon buru-buru menghilangkan senyumnya ketika menyadari bahwa aku menatapnya dengan tatapan menakutkan.
"Aaahhhh.... Aku lapar sekali, sepertinya pizza dapat sedikit mengganjal perutku." Young Joon terlihat salah tingkah melihat tatapanku yang sama sekali tidak berubah.
Dia terus salah tingkah, hingga akhirnya menepikan mobilnya.
Setelah mobil menepi, Young Joon menatapku yang masih tetap menatapnya penuh kemarahan, dan...
Young Joon melepaskan sabuk pengamannya, lalu... Kembali menciumku dengan buas!
Aku meronta sekuat tenaga, namun ciumannya semakin menjadi-jadi!
Tidak lama kemudian, dia melepas ciuman itu, lalu menatap wajahku dan berkata.
"Bukankah kita belum pernah mencobanya di mobil?" Ucapnya dengan tatapan yang sungguh liar dan menjijikkan!
Aku mendorongnya sekuat tenaga! Dan itu agak berhasil
"Kau mau mati!" Aku menjambak rambutnya!
"Aaarrgghh!!! Ini sakit sekali sayang!" Young Joon mengerang kesakitan.
"Cepat pakai sabuk pengaman, dan jalankan mobil ini agar kita cepat sampai!" Ujarku lalu melepaskan cengkeraman tanganku di rambutnya.
Young Joon segera mengenakan sabuk pengamannya secepat mungkin, lalu menyalakan mesin mobil, kemudian memacunya.
Young Joon mengusap-usap kepalanya seraya mengeluh
"Aaawww... Kepalaku sakit sekali! Aku harus ke..."
"Ayo kita ke UGD sekarang! Dan aku akan dengan senang hati meminta dokter untuk segera menyuntik matimu, Joon!" Ketusku
"Ayolah, istriku... Aku tidak tahan saat melihat ekspresi wajah seksimu tadi..." Rengek Young Joon, dan ini membuatku menjadi gila
"Mungkin, kedepannya, saat melihatku bernafas sekalipun, kau akan selalu berhasrat, laki-laki sialan!" Umpatku
"Aaaahhhh... Mungkin itu akan ku masukkan ke dalam daftar peraturan..."
'Buuuuggg!'
"Aaaarrrghh!" Young Joon kembali mengerang kesakitan akibat tinjuku!
"Mengemudilah dengan baik!" Kataku dengan tatapan lurus ke depan.
Sedangkan Young Joon, dia merintih kesakitan, seraya mengusap-usap pipinya!