
Tepat pukul 11.00, kami telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
Kedua orang tua kami telah menunggu kami disana, mengingat, kami menghubungi mereka saat kami masih berada di Bandara Zainuddin Abdul Madjid.
Aku langsung memeluk erat mamaku, begitu kami bertemu. Air mataku mengalir begitu saja. Begitupun dengan eomma, juga papa dan appa.
**********************
Akhirnya kami menempati apartemen kami. Aku sangat terkejut melihat keadaan unit apartemen yang telah terisi oleh berbagai barang yang telah aku dan Young Joon beli waktu itu.
Semua di letakan sesuai dengan ekspetasiku, entah siapa yang menata ini semua, hanya saja, ini membuatku tersenyum puas!
Oh ya! Kedua orang tua kami turut mengantar kami kesini. Tampak raut kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Bahkan mereka berharap, kami segera memiliki anak!
"Ah, itu... Itu..."
"Kurasa kami harus menikmati masa-masa berdua dulu untuk sementara waktu, iyakan sayang..." Young Joon merangkulku sambil tersenyum menatapku.
Aku menatapnya, dan kedua orang tua kami, tersipu malu.
Saat kedua orang tua kami telah meninggalkan tempat ini, aku segera memasuki kamarku, begitupun dengan Young Joon.
Yeah! 'Rumah tangga kami' selalu dihiasi hari-hari tak berarti!
Kami bagaikan dua orang asing yang tinggal di dalam satu atap!
Young Joon yang hampir selalu pergi di saat aku belum terbangun, dan pulang disaat aku telah terlelap.
Atau jikapun kami pada akhirnya berpapasan, aku lebih memilih untuk menghindar, sebelum Young Joon memulai percakapan.
Jika kalian bertanya, tidak pernahkah ada percakapan diantara kami?
Tentu saja ada!
Walaupun hanya sekedar, 'Jenny, apa kau lapar?'
'Young Joon, ponselmu berdering'
Atau percakapan tidak berarti lainnya.
Dan jika kalian bertanya lagi, tidak pernahkah kami pergi bersama?
Jawabannya adalah, TIDAK!
Aku terbiasa melakukan sesuatu sendiri, atau bersama teman-temanku.
Oh ya, kedua orang tuaku telah kembali ke Amerika, untuk menuntaskan pekerjaan papa, yang hanya tersisa beberapa bulan lagi, begitupun kedua orang tua Young Joon, mereka telah kembali ke Korea, jadi mereka tidak dapat memantau secara langsung, bagaimana kondisi sesungguhnya rumah tangga anak mereka.
Kalian tahu, bahkan selama 3 bulan pernikahan kami, tidak ada tanda-tanda hubungan ini mengalami kemajuan, hingga suatu hari, Mike menghubungiku lagi, setelah beberapa kali penggilannya selalu ku tolak.
Hari ini entah mengapa, aku ingin sekali berbincang dengannya, jadi, tidak ada salahnya aku menjawab panggilannya kali ini, toh Young Joon pernah berkata, bahwa aku dapat tetap menjalin hubungan dengan Mike, asalkan aku masih mengetahui batasan.
Hanya panggilan melalui telepon, tidak melewati batas, 'kan?
"Ya, Mike!" Sapaku di seberang sini, sambil merebahkan tubuh di atas sofa yang menghadap ke televisi.
"Yo, Jen! Mengapa kau selalu menolak panggilan dariku?" Suaranya begitu lirih di seberang sana
Aku tersenyum getir mendengar ucapannya, ada rasa iba yang teramat di hatiku.
"Aku sedang menata kehidupan baruku, Mike." Jawabku
"Kehidupan baru sebagai seorang istri?" Mike tertawa kecil di seberang sana
Aku terhenyak sesaat,
"Bukan itu..."
"Tidakkah kau merindukanku? Tidaklah kau mengetahui betapa aku terluka disini?!" Mike terdengar emosional sekali di seberang sana, membuatku kehabisan kata-kata.
"Mike aku..."
"Aku begitu mencintaimu, Jen! Tidak dapatkah kau mengerti akan hal itu?"
"Mike, aku mengetahuinya... Tahukah kau, bahwa aku juga merindukanmu disini..."
"Hanya rindu?"
"A-aku... Mike... Aku..."
"Bagaimana dengan perasaanmu terhadapku?"
'Deggggghhhhh!'
Pertanyaannya kali ini begitu menghujam jantungku! Aku terduduk, sambil memijat kening karena frustasi mendengar ucapannya.
"Mike, aku menyayangimu, kau pun tahu itu." Jawabku, kemudian menoleh ke arah pintu masuk
Young Joon! Sejak kapan dia berada disana?!
Tatapan wajahnya, serta raut wajahnya yang sungguh tak biasa, membuatku merasa ada yang salah dengannya!
"Jenny, kau masih sama seperti dulu!"
"Mike!" Ucapku masih tetap menatap Young Joon.
Panggilan terputus, Young Joon dengan penampilan yang sungguh kacau, menghampiriku yang masih menempelkan ponsel di telinga, dengan tatapan memburu.
"Tidakkah sedikit saja kau menghargai perlakuanku selama ini?" Young Joon meninggikan suaranya kepadaku, masih dengan menenteng tas kerjanya!
"Maaf?" Aku agak terkejut melihat sikapnya yang tidak biasa ini.
"Apa kau salah makan hari ini?" Jawabku santai seraya memainkan ponsel.
"APAKAH SELAMA INI AKU SUNGGUH MENYIKSAMU!" Young Joon berteriak kepadaku!
Aku bersumpah! Aku sungguh ketakutan dengan sikapnya kali ini!
"ADA APA DENGANMU!!!" Aku segera berdiri dari sofa, kemudian berlalu, namun Young Joon dengan sigap menarik tanganku!
"Dengar! Aku sudah cukup bersabar dengan semua perlakuanmu kepadaku! Bahkan aku sampai bertanya kepada diriku sendiri, rasa sabar mana lagi yang dapat ku gunakan untuk menghadapimu!Dan malam ini, aku tidak dapat menahannya lagi!" Young Joon menatap wajahku tajam.
Aku menatapnya dengan tatapan penuh kebencian! Hingga...
'Paaaaaaaaakkk!!!' Aku menamparnya, keras sekali! Dapat ku lihat sudut bibirnya terluka.
"KAU PIKIR KAU INI SIAPAAAA!!!" Kataku kemudian berjalan cepat menuju ke kamarku.
Young Joon segera mengikutiku, namun aku langsung menutup dan mengunci pintu kamarku.
"Jenny... Tolong buka pintunya, Jenny... Maafkan aku... Jenny... Bukalah... Aku mohon maafkan aku!" Young Joon masih terus membujukku!
Masa bodoh! Dia pikir dia siapa! Bahkan papa tidak pernah sekali pun meninggikan suara, apalagi berteriak seperti itu kepadaku!
Aku segera mengganti pakaianku! Ya! Ku pikir aku akan pergi malam ini, entah kemana! Yang pasti pergi jauh dari Young Joon, agar tidak melihat wajah menyebalkanya itu!
Aku telah mengenakan celana jeans, serta jaket kulit kesayanganku, kemudian membuka pintu kamarku.
Young Joon masih berada disana, aku tidak peduli, dan memilih tidak menghiraukannya lalu meraih helmku.
"Mau kemana kau?" Katanya, mengikuti langkahku, bahkan sampai aku membuka pintu unit ini.
"Jenny... Katakan kepadaku!" Katanya dengan nada frustasi.
Namun aku masih terus berlalu, tanpa mengindahkannya.
"Maafkan aku, aku hanya sedang cemburu... Ku mohon, jangan pergi." Young Joon terus memohon kepadaku.
Apa? Cemburu?! Apa aku tidak salah dengar?
Masa bodoh! Aku masih terus berlalu, tanpa menghiraukan eksistensinya!
Dia bahkan mengikutiku sampai ke parkiran motor!
"Jenny, ku mohon..."
Aku segera menyalakan mesin sepeda motorku, kemudian berlalu!
Rasa kesal menyelimuti hatiku saat ini! Persetan dengan Young Joon!
Ku pikir mama dan papa benar-benar telah salah menilai Young Joon!
Mereka berkata bahwa Young Joon tidak akan menyakitiku! Lalu, bagaimana dengan yang tadi!
Aku memacu sepeda motorku dengan kecepatan tinggi, entah kemana tujuanku kali ini! Satu hal yang pasti, aku ingin pergi jauh dari Young Joon!
Entah sudah berapa jauh aku memacu sepeda motorku malam ini, satu hal yang pasti, jalannya semakin sepi, hingga membuatku dengan leluasa menambah kecepatan laju 'Josephine', hingga ketika berada di sebuah tikungan, sebuah truck besar dengan kecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan, dan membuat konsentrasiku buyar, lalu membuatku membanting kemudi ke arah kiri! Siaaalll! Ada pohon besar disana! Apa yang harus ku lakukaaaannn........
'BRAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!'
POV Young Joon
Setelah Jenny berlalu dengan sepeda motornya, aku terus mengikutinya, hingga akhirnya, sebuah truk besar menghalangi pandanganku! Sial! Aku kehilangan jejaknya! Aku tidak mengetahui pasti kemana tujuan istriku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke apartemen, dan menghubungi kediaman nenek, juga teman-teman Jennifer, berharap Jennifer ada disana.
Namun nihil! Tidak satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Jennifer!
Hingga 3 jam kemudian, saat aku duduk di ruang keluarga, menanti kabar tentang Jennifer, ponselku berdering.
Nomor tidak di kenal terpampang di layar ponselku. Aku segera mengangkatnya.
"Selamat malam?" Sapaku di seberang sini
"Atas nama bapak Park Young Joon? Kami dari kepolisian lalu lintas wilayah Cisarua, Bogor." Seseorang di seberang sana tampak sangat khawatir. Dapat ku dengar samar-samar suara sirine
"Ya, saya sendili..." Jawabku agak ragu di seberang sini
"Terjadi kecelakaan tunggal, dengan korban bernama Jennifer Elizabeth Lie! Apa bapak mengenal korban?" Jantungku berdegup dengan keras mendengar penjelasan orang tersebut.
"Dimana dia sekalang?"
Aku langsung berlari menuju parkiran untuk mencari mobilku. Setelahnya, ku pacu mobilku secepat mungkin agar dapat sampai ke rumah sakit yang orang tadi sebutkan!
Sepanjang perjalan, aku sungguh sangat menyesali perbuatanku! Mengapa aku harus meluapkan kekesalanku kepada Jennifer! Ya tuhan! Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Jennifer...
Aku menyesali kecemburuanku terhadapnya...
Aku sangat mencintainya! Sangat!
*************************
Aku sudah berada di UGD rumah sakit, dan mencari dimana istriku, namun pihak rumah sakit berkata, bahwa Jennifer sudah dibawa ke ruang operasi, untuk melakukan tindakan operasi, karena ada beberapa organ dalamnya yang bermasalah akibat hantaman yang cukup kuat.
"Dengan keluarga pasien Jennifer Elizabeth Lie?" Seseorang menghampiriku
"Ya, saya..."
"Bisa ke ruangan saya sebentar?" Aku segera mengikuti orang tersebut ke sebuah ruangan
"Duduklah." Orang itu mempersilakanku
"Saya dokter Anita, yang bertanggung jawab atas operasi nona Jennifer. Kalau boleh saya tahu, apa hubungan bapak dengan pasien?" Tanya dokter dengan agak ragu
"Saya suaminya." Kataku dengan pasti
"Begini, pak. Kemungkinan pasien untuk bertahan, sangat..."
"LAKUKAN APAPUN AGAL ISTLI SAYA TETAP HIDUP! BAGAIMANAPUN DAN BELAPAPUN!!!" Aku menggebrak meja dokter itu. Dokter terlihat sangat ketakutan
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin." Dokter tersebut menjawab dengan terbata-bata.
*******************************
Aku sudah berada di luar kamar operasi, sungguh berharap keajaiban akan datang.
Aku sudah menghubungi orang tua Jennifer, dan juga kedua orang tuaku, mereka segera mencari tiket menuju Indonesia.
Aku juga menghubungi teman dekat Jennifer, mereka juga sedang menuju kemari.
Lampu operasi sudah mulai padam, itu tandanya operasi sudah selesai.
Aku segera berdiri dan menunggu dokter datang, bersamaan dengan itu, teman-teman Jennifer tiba. Ketika dokter keluar dari ruangan, kami semua segera menghampirinya
"Keluarga Jennifer Elizabeth Lie?" Sapa dokter dengan wajah yang sedikit tegang
"Ya, kami..." Kami menjawab dengan serentak
"Begini, operasi telah berhasil, pasien sudah melewati masa kritisnya..." Kami semua lega mendengar penjelasan dokter tadi.
"Hanya saja... Pasien masih mengalami sedikit trauma pada otaknya, dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama agar pasien kembali sadar." Kami sangat khawatir mendengar penjelasan dokter
"Tapi, apakah..."
"Kami sudah melakukan yang terbaik, sisanya, tergantung semangat hidup dari si pasien." Dokter terlihat lemas, begitupun kami.
"Saya permisi dulu."
***************************
Ini sudah hari ke tiga Jennifer disini, dan tidak ada tanda-tanda dia tersadar.
Aku selalu menggenggam erat tangannya, berharap dia segera bangun.
"Maafkan aku... Aku terlalu mencintaimu... Bangunlah, sayang... Aku berjanji, kau dapat melanjutkan kuliahmu, jika kau telah sembuh... Aku berjanji, kau dapat bertemu dengan Mike, kapanpun kau mau... Kita akan ke Amerika... Sembuhlah sayang..." Aku menangis seraya menggenggam lalu mencium tangannya.
Tiba-tiba ibu mertuaku datang
"Young Joon, pulanglah... Mama akan merawat Jen.. kau harus tetap semangat, agar Jen cepat sembuh..." Ucapan mama Jennifer benar-benar menenangkanku.
"Kau, tetaplah bekerja, mama ada disini untuk selalu jaga Jen, ya..." Aku mengangguk.
Dan ibuku tiba-tiba masuk ke ruangan
"Young Joon, ibu juga akan menjaga Jennifer, kau tak perlu khawatir."
Aku tersenyum melihat mereka yang begitu menyayangi istriku
"Baiklah, aku pulang dulu... Aku akan segera kesini secepatnya."
Kemudian aku berlalu meninggalkan istriku, setelah mencium keningnya.
***********************
Aku sudah berada di apartemen, dan bersiap untuk mandi, kemudian beristirahat, mengingat aku belum juga terlelap semenjak kecelakaan yang menimpa istriku.
Keesokan harinya, aku bersiap untuk ke kantor, dan berencana untuk menjumpai istriku pada malam harinya.
Ketika berada di kantor, aku menghubungi mama Jennifer untuk menanyakan keadaan istriku. Namun belum ada perubahan yang berarti.
Ini membuatku benar-benar frustrasi, hingga teman sekantorku mengajakku untuk sejenak menghilangkan rasa kalutku, dan aku menyetujuinya! Mengingat kata-kata ibu mertuaku, bahwa aku harus tetap bersemangat agar istriku cepat pulih.