
Aku menjemput Shierly dari rumahnya.
Seperti biasa, butuh waktu sekitar 2 jam untuk menunggunya bersiap!
"Baiklah! Ayo kita pergi!" Shierly menunjukkan senyum terbaiknya di hadapanku, yang kini sudah sangat muak menunggunya!
"Ku pikir, besok kau baru selesai!" Kataku beranjak dari single sofa kamarnya.
Shierly langsung merangkulku, dan mengecup pipiku gemas.
"Oowwhh, sayangku... Maafkan aku..." Katanya membujuk.
Ketika Shierly baru saja masuk ke dalam mobilku, dia benar-benar bersikap sungguh kekanakan... Yeah! Itulah Shierly!
"Wooowww!!! Ya Tuhan!!! Ini benar-benar keren!" Ucapnya sambil terus mengamati interior mobilku.
"Ayolah, Shierly!" Ketusku
Shierly tersenyum manja, kemudian memasang sabuk pengaman.
"Uuummmm, sayang... Apakah suamimu pria yang sangat kaya, hingga mampu memberikanmu mobil ini?" Shierly terlihat antusias sekali!
Aku menoleh ke arahnya, sambil tersenyum sinis.
"Tidak juga!"
Dia tampak sangat tidak puas dengan jawabanku.
"Bagaimana mungkin! Aaahhh!!! Mike bilang, rumah barumu berada di kawasan Georgetown..."
"Itu aset perusahaan, Shierly!" Aku agak melebarkan mataku kepadanya, dan itu cukup membuatnya sungkan.
Shierly menekuk wajahnya.
"Mengapa kau tidak mengenalkannya kepada kami?" Ucapnya sambil memainkan rambut cokelat terangnya.
Aku menoleh sekilas ke arahnya, sambil tersenyum.
"Aku malu!"
Shierly membelalakkan matanya, serta sedikit membuka mulutnya, seolah tak percaya.
"Ma-maksudmu..."
"Dia 20 tahun lebih tua dariku, tingginya sekitar segini." Kataku menyentuh sepertiga lenganku
"Tubuhnya gempal, dan pipinya..." Aku menggembungkan pipiku.
Shierly bergidik ngeri! Aku tersenyum melihat sikapnya.
"Ya Tuhan, sayang... Betapa menyedihkannya nasibmu."
Shierly membelai lembut puncak kepalaku, dan aku mengangguk sambil memasang wajah memelas.
"Dia pria tua yang beruntung!" Shierly menatap ke arah jalan, memicingkan mata, sambil melipat kedua tangan.
"Apa kau butuh bantuanku untuk..."
"Tidak perlu..." Kataku menatap kosong.
Tidak perlu, Shierly... Kau tidak perlu membantuku untuk melepaskannya dariku... Aku justeru lebih ingin kau membantuku, untuk melepas Mike dari hidupku!
Kami telah tiba di DC Mall... Mall yang biasa kami datangi, ketika kami ingin! Hahahahahaa!
Yeah! Kami lebih suka pergi ke tempat lain, jika ingin membeli sesuatu, ataupun bersenang-senang!
"Jenny, ku pikir kau harus ke salon, untuk memperbaiki tampilan rambutmu!" Usul Shierly
"Mengapa? Apa ini terlihat buruk?" Kataku sambil menyentuh ujung rambutku.
"Tidak! Bukan itu! Ayolah! Itu membuatmu terlihat lebih tua dari usiamu sesungguhnya!" Katanya sedikit meringis
"Benarkah?"
Shierly mengangguk!
Baiklah! Pada akhirnya, aku mengikuti sarannya mengingat, sudah cukup lama aku tidak memanjakan rambutku.
Ketika pegawai salon tengah memijat kepala kami dengan masker rambut, Shierly yang menyebalkan kembali menanyakan hal konyol kepadaku.
"Jen, apa pria tua itu sudah menidurimu?!" Aku yang semula terpejam, kini membelalakkan mata tak percaya!
Pegawai salon yang tengah memijat kepalaku, bahkan menghentikan kegiatannya sejenak!
Aku segera menatap tajam ke arahnya!
Shierly terlihat meringis saat ini.
"Y-ya... Maksudku..."
"Shierly! Ku mohon, hentikan fantasi bodohmu tentang rumah tanggaku!" Ucapku dengan bola mata yang membesar, lalu kembali bersandar di kursi, dan memejamkan mata, kesal!
Aku telah selesai dengan rambutku.
Mereka memotongnya sampai ke bahu, dan memberi warna coklat tua disana.
Setidaknya, aku tampak lebih segar sekarang!
Shierly? Si perfeksionis itu kini tengah sibuk dengan kuku kakinya!
"Shierly, ku pikir aku akan mencari buku itu sendiri." Kataku kepadanya
"Ayolah sayang! Aku hanya butuh 1 jam lagi!" Protesnya.
"Yang benar saja! Sekarang sudah pukul 4 sore! Aku akan terlambat sampai rumah!" Kataku kemudian berlalu.
Aku telah mendapatkan buku yang ku cari! Dan ketika tengah berada di kasir, hendak membayar, aku tampak tidak asing dengan sosok yang melintas di depan toko buku ini!
Secepat kilat aku menyelesaikan pembayaran, agar dapat mengejar sosok itu!
****************************
Pukul 7 malam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang, setelah menyelesaikan makan kami.
"Jen, apa kau bahagia dengan kehidupanmu saat ini?" Shierly menatapku lirih
Entahlah, hanya saja... Agak aneh, jika Shierly menanyakan hal ini.
Aku cukup mengenal sahabatku ini...
Meskipun agak lambat dalam berpikir, sebenarnya dia sosok yang cukup perhatian. Tapi aku cukup terkejut dengan sikapnya kali ini.
Aku menatapnya sambil tersenyum, kemudian kembali menatap ke arah jalan.
"Meskipun dia pria tua yang tidak tampan, namun percayalah, dia adalah pria yang baik." Kataku tersenyum kepadanya sekilas.
*********************
"Terima kasih untuk hari ini, sayang..." Kataku kepada Shierly yang kini telah melepas sabuk pengaman.
"Oowwhh sayangku... Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu, karena telah mentraktirku..." Ucapnya kemudian memeluk, lalu mengecup pipiku.
"Baiklah, sampai jumpa besok di kampus! Ingat! Besok adalah hari pertamamu! Bye!" Katanya kemudian menutup pintu mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, aku kembali mengingat pertemuanku dengan Clarence, sosok yang ku lihat tengah melintas di depan toko buku tadi.
Aahh... Anak itu!
Aku telah tiba di depan rumahku, mobil Young Joon sudah ada disana. Ku raih ponsel yang ku letakkan di atas dasbor mobil, pukul 20.13!
Ketika ku buka pintu rumah, Young Joon tampak sedang menghubungi seseorang.
"Baiklah... Selamat malam, aku mencintaimu..." Ucapnya sambil menatapku, dan masih menempelkan ponsel di telinga.
Siapa? Siapa sosok di seberang sana? Siapa sosok yang membuat Young Joon mengucapkan kata cinta, yang bahkan tidak pernah dia ucapkan kepadaku?
Mataku kini berkaca-kaca! Ada rasa nyeri di hatiku saat ini.
Young Joon kini telah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, dan berjalan ke arahku.
"Waaaahhh! Sepertinya kau baru saja merubah..."
"Selamat malam!" Kataku kemudian berlalu
"Jenny..."
Aku segera menghentikan langkahku, Young Joon kini berjalan ke arahku.
"Apa kau sudah makan?" Katanya menatapku.
Malas sekali rasanya untuk menatap wajahnya kini namun, sekuat hati aku menatapnya sambil tersenyum dengan penuh usaha.
"Hmmm... Sudah!" Kataku kemudian berlalu
Ketika berbaring di atas ranjang, aku kembali memikirkan tentang kejadian tadi!
Siapa yang di hubungi Young Joon?! Apakah itu kekasihnya? Dia tidak pernah menjawab pertanyaanku tentang kekasihnya?! Mengapa hatiku nyeri mengingat kejadian tadi?! Mengapa Young Joon sungguh menyebalkan!