
POV Young Joon
Kami sudah berada di sebuah bar.
Keempat temanku memesankan minuman untukku
"Semoga istrimu cepat tersadar, pak!"
Keempat temanku lalu mengangkat gelas masing-masing untuk bersulang, disusul olehku.
Aku tidak tahu, sudah berapa banyak aku minum, hingga akhirnya, suara ponselku mengusik tidurku.
"Young Joon, jenny sudah sadar!" Suara ibuku terdengar bahagia sekali di seberang sana!
Aku segera bangkit dari ranjang, dan sangat terkejut melihat seseorang di sampingku
"KIMBERLY!" Aku membelalakkan mataku, melihatnya hanya ditutupi selimut!
Dan aku?!
Bahkan aku tidak mengenakan sehelai benangpun! Aku mengutuk diriku sendiri!
Istriku sedang berjuang hidup disana! Sedangkan aku!
Oh tuhan... Suami macam apa diriku ini!
Kimberly tiba-tiba terbangun
"Oppa... Ada apa..."
"KAU!!! JANGAN PERNAH TAMPAKKAN WAJAHMU LAGI DI HADAPANKU!!!" Aku berteriak kepadanya! Dan Kimberly terlihat sangat ketakutan!
**************************
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku tidak henti-hentinya mengutuk diriku sendiri!
Aku menangis sejadi-jadinya! Bahkan berteriak sekencang-kencangnya!
Aku berteriak kepada Jennifer ketika dia bermesraan melalui sambungan telepon, dengan kekasih Amerikanya!
Sedangkan aku?!
Aku tidur dengan wanita lain, di saat istriku sedang memperjuangkan hidupnya!
Begitu biadabnya aku!
Aku bahkan tidak langsung keluar dari mobilku ketika aku telah tiba di pelataran parkir rumah sakit.
Aku benar-benar merasa berdosa jika harus bertemu dengan Jennifer seperti ini. Namun, ponselku kembali berdering, ibuku kembali menghubungiku.
"Aku sudah sampai, aku akan segera kesana." Ujarku kemudian menutup panggilan, dan segera keluar dari dalam mobil.
Saat tiba di ruang perawatan Jennifer, dapat ku lihat wajahnya yang pucat, itu semakin membuatku merasa berdosa.
Hatiku teriris melihat keadaan istriku.
Aku menghampirinya dengan langkah gontai, dan mata yang berkaca-kaca.
Jennifer menatapku dengan mata yang sayu.
"Oppa..."
Hatiku benar-benar hancur mendengarnya memanggilku dengan sebutan itu.
Ibuku yang saat itu sedang duduk di sampingnya segera berdiri.
"Eomma mau mencari sarapan dulu, ya." Ujar ibuku kepada Jennifer, kemudian berlalu.
Aku segera duduk di sebelah Jennifer, dan menggenggam tangannya, lalu mengecupnya...
"Maafkan aku..." Aku menangis seraya terus mencium tangannya.
"Maafkan aku..."
"Jangan terlalu di dramatisir, akulah yang harusnya minta maaf kepadamu." Suara Jennifer terdengar lemah.
Aku menatapnya, namun tidak melepaskan genggamanku
"Apa yang kau rasakan, sekarang?" Kataku khawatir
"Aku merasa agak lapar, sebenarnya."
Wajah Jennifer terlihat datar, seolah menahan sakit
"Apakah makananmu sudah diantar?" Kataku
"Entahlah, mungkin sebentar lagi, omong-omong, kau tidak bekerja?"Jennifer nampak penasaran
"Tidak, aku ingin melihat keadaan istriku terlebih dahulu!" Kataku
"Joon, lu lebay banget sih! Jijik gw jadinya!"
Jennifer kembali berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, dan aku tersenyum mendengarnya.
"Apa kau mengerti apa yang tadi ku katakan?" Selidik Jennifer, dan aku menggeleng
"Lalu mengapa kau tersenyum?" Jennifer heran
"Aku hanya bahagia, kau telah kembali menjadi Jennifer yang hobi mengumpat menggunakan bahasa Indonesia!" Aku tersenyum, begitupun Jennifer.
********************
Kami sudah kembali ke apartemen, setelah hampir dua Minggu berada di rumah sakit. Kedua orang tua kami, mengantar kami.
"Jen, kita semua akan tetap ada disini selama kamu masih dalam perawatan."Jennifer terlihat terkejut mendengar kata-kata mamanya
"M-maksudnya?" Jennifer memastikan
"Selama kau belum benar-benar pulih, kami akan berada disini." Sahut ibuku.
Wajah Jennifer tampak menegang
"Aku akan tidur di sofa, kau tenang saja." Aku berbisik kepada Jennifer
"Ah... B-baiklah..."
Akhirnya aku dan Jennifer kembali tidur dalam satu ruangan.
Namun, ada yang berbeda dari Jennifer sekarang. Dia lebih banyak bicara kepadaku, bahkan tak jarang dia meminta saran kepadaku.
"Aku ingin memelihara seekor anak anjing, bagaimana menurutmu?" Aku segera bangun dari tidurku, di atas sofa yang berada tepat di depan ranjang Jennifer.
"Tetap disana! Dan jangan berusaha untuk mendekat!"
Dia tidak pernah berubah untuk yang satu ini, dan akupun tersenyum
"Ayolah, Jenny! Aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya!" Kataku seraya tertawa
"Aku tidak dapat mempercayaimu begitu saja!" Gerutunya
"Baiklah... Bagaimana tadi?" Kataku
"Bagaimana apanya!" Jennifer terlihat kesal menatapku
"Tadi kau ingin apa?" Tanyaku lagi
"Tidak! Tidak! Itu akan sedikit merepotkan sepertinya! Aku tidak mau!" Aku tersenyum melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan.
********************
Kondisi Jennifer sudah mulai membaik sekarang, dan kedua orang tua Jennifer sudah kembali ke Amerika, begitupun kedua orang tuaku, mereka sudah kembali ke Korea.
Kini, aku dan Jennifer sudah berada di meja makan, menyantap makanan yang ku buat, khusus untuknya.
"Jenny..."kataku
"Hmmm... Ada apa, Joon?" Jenny menatapku seraya menyantap hidangan
"Ummm... Apa kau tidak berencana untuk melanjutkan kuliahmu lagi?" Kataku, Jennifer terlihat berpikir.
"Entahlah... Hanya saja..."
"Jika kau masih menginginkan itu, kita akan ke Amerika, dan tinggal disana sampai kau menyelesaikan kuliahmu. Asalkan..." Jennifer menatapku, matanya berkaca-kaca, seolah tak percaya atas apa yang baru saja keluar dari mulutku.
"Asalkan apa?" Sela Jennifer
"Kau tidak lagi mengendarai sepeda motor untuk selamanya." Jennifer terlihat berpikir, dan aku kembali melanjutkan makanku.
"Dan tentang kekasihmu..." Aku menatap piringku
"Jika aku kembali ke Amerika, bukankah tidak mungkin, jika aku tidak..."
"Kau dapat bertemu dengannya kapanpun kau mau..." Aku menatap wajah Jennifer dalam, Jennifer memaku.
"Namun setidaknya, kau tetap harus kembali kepadaku." Aku segera beranjak, dan berlalu.
Langkahku terhenti, namun tidak berbalik ke arah Jennifer.
"Setidaknya kau tetap harus mengetahui batasanmu sebagai seorang istri." Kataku kemudian melanjutkan langkahku.
Saat di kamar, aku terus memikirkan kata-kataku terhadap Jennifer, seraya menatap langit Jakarta dari jendela kamarku.
Ku pikir, ini adalah satu-satunya cara, untuk menghapus rasa berdosaku padanya.
'Tok... Tok... Tok! '
POV Jennifer
Ucapan Young Joon begitu membekas di dalam pikiranku. Aku segera menyelesaikan makan malamku, dan berniat untuk menghampiri Young Joon, setelah membereskan serta mencuci piring bekas makan kami.
Seteleh selesai, aku memberanikan diri mengetuk pintu kamar Young Joon.
'Tok... Tok... Tok!'
"Joon, apa kau sudah tidur?" Kataku dengan hati-hati.
Tidak lama kemudian, Young Joon membuka pintu kamarnya
"Ada apa, Jenny? Masuklah!" Young Joon mempersilakanku untuk masuk ke kamarnya
"Tidak! Disini saja!" Jawabku.
Entahlah! Sampai detik ini, aku masih saja merasa waspada terhadap Young Joon!
"Ya tuhan, Jenny..."
"Begini, Joon..." Aku merasa cukup sungkan menatap wajahnya dengan posisi kami yang hanya berjarak dua jengkal ini.
Young Joon agak membungkuk, lalu mendekatkan wajahnya kepadaku, mengingat, tinggi badan kami yang tidak seimbang.
"Hmmmmm....?"
Aku menatap wajahnya, dan sedikit bergeser ke belakang untuk memberi jarak.
"Begini... Tentang rencanamu itu..." Kataku agak ragu
"Aaahhh... Itu, ada apa?" Katanya kembali menegakkan tubuh
"Apa kau serius tentang itu?" Aku memastikan
"Tentu saja!" Katanya
"Apa kau tidak takut, jika ini dapat berdampak kurang baik untuk rumah tangga kita?" Aku menatapnya dengan tatapan penuh keraguan.
Young Joon sempat terdiam, dan terlihat berpikir, lalu menghela nafas
"Bukankah rumah tangga ini hanyalah sebatas formalitas bagimu?"
'Deeeggggghhhh!'
Jantungku berdegup kencang, mendengar ucapannya tadi!
Nafasku terasa sesak! Bahkan, mataku kini berkaca-kaca.
"Tapi orang tua kita sangat berharap banyak terhadap rumah tangga ini." Jawabku dengan suara yang terbata-bata.
"Aku permisi dulu." Kataku kemudian berbalik, dan berlalu.
Namun aku segera menyadari akan suatu hal, dan menghentikan langkahku.
"Bersabarlah sedikit lagi, aku sedang berusaha menerima kenyataan, bahwa kini aku adalah istrimu."
Aku kemudian menoleh ke arahnya.
"Namun jika kau sudah tidak dapat menahannya, kau dapat pergi, kapanpun kau mau." Aku tersenyum getir, kemudian melanjutkan langkahku.
POV Young Joon
Aku menatap punggung Jennifer, hingga dia masuk ke kamarnya.
Bahkan aku berdiri beberapa menit setelahnya di depan pintu kamarku, untuk memikirkan kembali kata-kata Jennifer.
"Aku akan selalu sabar menantimu." Kemudian aku masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya.
***************************
POV Jennifer
Aku segera membanting tubuhku di atas ranjang, begitu menutup pintu kamar, dan kembali memikirkan kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Young Joon.
Bukankah seharusnya aku bahagia, karena akan kembali ke Amerika, dan dapat berkumpul kembali dengan teman-temanku?
Namun persyaratan dari Young Joon, sesungguhnya cukup berat untukku, mengingat, aku begitu mencintai dunia sepeda motor, namun...
Melihat kondisi sepeda motorku yang hancur akibat kecelakaan malam itu...
Huuuffffttt!
Mungkin ini saatnya aku harus hiatus dari dunia yang dulu sangat ku impikan!
Biarlah! Toh ini juga demi kebaikanku.
Dan tentang kata-katanya...
'Bukankah rumah tangga ini hanyalah sebatas formalitas bagimu?'
Sejujurnya, itu membuatku terluka...
Itu selalu saja terngiang di telingaku, dan membuatku sulit untuk memejamkan mata, hingga akhirnya, aku memutuskan untuk meraih ponselku.
Aku meraih ponselku yang selalu ku letakan di atas nakas yang berada tepat di samping ranjang.
Waktu menunjukkan pukul 20.37
Apakah Arjuna sudah tidur? Entahlah!
Aku segera membuka media sosialku, dan segera menekan ikon pesan, untuk menghubungi Arjuna.
Jenny Lie : Jun, dah tidur?
5 menit kemudian, Arjuna membalas pesanku
Arjuna : Hai, Jen! Belum, ada apa?
Aku tersenyum, dan langsung membalas pesannya dengan penuh semangat
Jenny Lie : Jun, gw lagi dilema
Arjuna : Dilema kenapa?
Jenny Lie : Young Joon tadi nawarin gw untuk balik ke Amerika
Arjuna : Terus?
Jenny Lie : Tapi ada syaratnya
Arjuna : Apa tuh?
Jenny Lie: Gw gaboleh naik motor lagi
Arjuna : Terus?
Jenny Lie : Ya akhirnya gw iyain
Arjuna : Udah, itu doank?
Aku tidak langsung membalas pesan Arjuna, hingga...
Jenny Lie : Ya
Arjuna : Laki lu tau tentang Mike?
Jenny Lie : Ya, gada yang bisa gw tutupin
Arjuna : Terus, gimana respon laki lu?
Jenny Lie : Ya dia bilang, gamasalah gw hubungan lagi sama Mike, selama gw tau batasan
Arjuna : Nah, trus lu dilema kenapa? Bukannya harusnya lu senang, bisa ketemu lagi sama Mike?
Jenny Lie : Jun, gw emang senang balik lagi ke Amerika, toh gw jadi bisa ketemu sama teman-teman gw
Arjuna : Terus, Mike?
Jenny Lie : Gw gk paham, Jun! Setiap dekat Joon, gw selalu lupa sama Mike! Dan sejujurnya, selama beberapa bulan disini, gw sama sekali gk kangen sama dia! Bahkan, setiap dia call gw, macam malas rasanya untuk angkat, klu gk terpaksa² bgt!
Arjuna : Ko' bisa?
Jenny Lie : Gangerti!
Arjuna : Jangan-jangan
Jenny Lie : Jangan-jangan apa?
Arjuna : Nggak
Jenny Lie : Nggak jelas lu! Ywdh, gw bobok cantik dulu, ya! Dah ngatuk bgt! Bye!
Aku segera memejamkan mataku, sesaat setelah meletakkan ponselku di atas nakas.