
Nyatanya, rasa itu tidak pernah mati, bahkan tidak untuk 1 detik pun!
Itu hanya 'tertidur' dan tidak mati...
Aku tidak menolak pada saat papa berkata bahwa nenek akan menjodohkanku dengan Park Young Joon, teman masa kecilku.
Aku tidak membantah sedikitpun, bukan! Ini bukan karena nenek!
Bukan pula karena aku tidak ingin hubungan keluarga kami menjadi buruk!
Bukan karena siapapun, bukan pula karena apapun!
Aku adalah orang yang cukup egois dalam urusan perasaan!
Ini murni, hatiku yang menerimanya...
Hatiku yang mengizinkannya...
Hatiku yang masih menyediakan tempat untuk Park Young Joon...
Joon Oppa...
Aku masih menantimu...
Namamu masih terukir di dalam hatiku...
Bahkan di dasar jiwaku, kau masih orang yang sangat ku cintai...
Dan aku merasakan nyeri luar biasa dalam diriku, mendengar kata-katamu semalam.
Itu selalu terngiang di telinga serta pikiranku.
Kini, di depan meja rias, aku berusaha memoles wajahku secantik mungkin.
Aku ingin terlihat cantik, di saat sebelum dia menyatakan perasaannya kepada gadisnya.
Aku tidak mengetahui pasti, apa alasanku melakukan ini semua.
Hanya saja, setidaknya aku ingin dia bisa dapat merasa bangga, pernah memilikiku sebagai istrinya, yang cukup cantik untuk dia tunjukan di hadapan teman-teman kantornya.
Aku sudah siap untuk pergi menuju kantornya, dengan bekal yang ku buat untuk makan siangnya nanti.
Ku pikir, setelah memberikan bekalnya, dan jika dia mengizinkanku untuk makan siang bersamanya, aku akan pergi menemui Mike untuk mengakhiri hubungan kami, dan menghilang untuk beberapa waktu, untuk memulihkan luka hatiku.
Dicampakkan oleh orang yang ku cintai, dan mencampakkan orang yang mencintaiku.
Ku pacu mobilku menuju kantor Young Joon dengan perasaan yang entah bagaimana, entah seperti apa.
Satu hal yang pasti, sakit!
Ada luka di hatiku, karena kata-kata Young Joon yang begitu bersemangat ingin menyatakan cinta kepada gadisnya.
Dia ingin mempersiapkan segalanya sendiri setelah pulang kerja, dan mungkin tidak akan pulang hari ini.
Semalam, adalah awal kehancuran hidupku. Bukankah sebelumnya aku sudah mengakui perasaanku terhadap Young Joon kepada Arjuna?
Bukankah ini konyol? Kau dicampakkan, sesaat setelah kau mengakui perasaanmu?
Aku sudah berada di lobby perusahaan tempat Young Joon bekerja, kemudian aku bergegas menuju resepsionis untuk menanyakan letak ruang kerja Park YoungJoon.
"Permisi, aku ingin menemui tuan Park Young Joon." Sapaku kepada seorang pria muda yang berdiri di balik meja resepsionis.
"Mohon maaf nona, tapi tuan Park saat ini sedang menemui seseorang." Jawabnya ramah.
"Aku hanya ingin memberikan ini kepada suamiku." Ucapku sambil menunjukan sebuah tas jinjing berisi kotak makan.
Pria muda berambut coklat, dan cukup tampan itu tampak terkejut mendengarku mengucapkan kata 'suamiku'.
"Oh, ya... Hmm..."
"Aku tidak akan lama, aku pasti akan pulang sesegera mungkin setelah memberikan ini." Aku memastikannya
"Mmmm... Begini... Mmmm... Ah, ok! Ruang kerjatuan Park ada di lantai 5." Resepsionis itu kedengaran agak ragu
"Ah, ok terima kasih, tuan tampan." Kataku sedikit menggoda.
Resepsionis itu tersenyum manis, kemudian aku berlalu.
Saat aku mulai melangkahkan kakiku, tiba-tiba resepsionis itu berkata...
"Tuan Park sedang menemui seorang klien penting, ku harap kau tidak salah paham, Nyonya Park." Suaranya tenang, namun terdengar seperti sebuah peringatan.
"Aku akan menemui suamiku setelah klien itu pergi." Aku menjawab tanpa menoleh kepadanya, lalu melanjutkan langkahku menuju ke arah lift, dan langsung masuk ke dalamnya, karena pintu lift sudah terbuka saat aku tiba disana, dan langsung menekan tombol nomor 5.
Aku masih ingat apa yang resepsionis tadi katakan, jadi aku sempat berpikir, menunggunya dulu, atau langsung memberikan ini kemudian langsung pergi, tanpa harus makan bersama. Oke, aku sudah tiba di lantai 5!
Aku segera melangkah keluar dari lift, dan melangkah menyusuri lorong, hingga akhirnya, aku tiba di ruangan yang dipenuhi meja penuh komputer, dan karyawan yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Aku menghampiri meja tempat dimana seorang gadis pirang tengah memperbaiki riasannya.
"Permisi." Sapaku ramah.
Gadis itu tidak menyadari kehadiranku karena terlalu fokus dengan riasannya.
"Permisi!" Suaraku agak keras kali ini hingga membuatnya terkejut!
"Ooohhh..." Dia tampak gelagapan, dan langsung menaruh alat make up nya terburu-buru.
"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" Gadis itu memperbaiki posisi duduknya
"Aku ingin menemui tuan Park Young Joon, resepsionis di lobby tadi memberitahuku bahwa kantornya ada di lantai 5, jadi apakah..."
"Ya, benar ini kantor tuan Park. Apa kau ingin melakukan sesi wawancara kerja dengannya?" Gadis itu memperhatikan setiap detail penampilanku
"Aku ingin memberi ini untuk suamiku." Jawabku seraya menunjukan tas bekal.
Dia tampak terkejut sekali mendengar itu, dan kembali gelagapan, bingung mau menjawab apa, dan semua karyawan yang ada disana menatapku dengan tatapan aneh
"Ahhh.. i-itu... Mmmmm... Itu... Begini Nyonya Park..."
"Jennifer!" Sahutku
"Y-ya... Begini Nyonya Jennifer, sa-saat ini tuan Park sedang ada meeting penting, jadi mungkin kau bisa menitipkannya padaku?" Gadis itu tiba-tiba berdiri, dan menawarkan dirinya
"Tidak, aku hanya ingin memberikan ini, lalu pergi, aku berjanji." Ujarku memastikan, seraya mengacungkan dua jari ke udara, pertanda sumpah
"Ngngngng... Begini..." Gadis itu menggigit bibirnya cemas
"Katakan, dimana ruangannya, aku sudah berjanji kepadamu bahwa aku hanya memberikan ini, dan langsung pergi." Aku kembali menyaksikan, gadis itu tampak ragu, lalu menunjukkan sebuah ruangan, tepat di sudut depan mejanya dengan sangat hati-hati
"Aaahh, terimakasih... Siapa namamu?" Tanyaku
"He-Hellen..." Jawabnya ragu
"Oke, terima kasih banyak, Hellen..." Kataku, kemudian berlalu.
Aku melangkah menuju ruangan yang Hellen tunjukkan tadi, diikuti oleh tatapan aneh seluruh karyawan di ruangan ini.
Setelah sampai di depan pintu ruangan itu, aku segera mengetuknya dengan penuh semangat.
'Tok... Tok... Tok...!'
Tidak berapa lama kemudian, terdengar sahutan dari dalam...
"Masuklah!"
Aku mengenal betul suara itu, lalu aku buka pintunya dengan sangat berhati-hati, aku takut mengganggu pertemuan suamiku.
Dan begitu pintu terbuka...
Jantungku hampir saja terlepas melihat pemandangan yang saat ini ku saksikan di ruangan yang cukup luas ini!
Lututku terasa lemas melihat adegan ini! Suamiku, membungkuk, menghadap wajah seorang wanita!
Dan saat dia menoleh ke arahku, aku dapat dengan jelas melihat wajah siapa wanita yang akan 'diserang' oleh laki-laki yang saat ini masih berstatus suamiku!
Young Joon berdiri, dan terpaku. Dan aku yang akhirnya sadar dari 'kejutan' ini, segera beranjak pergi...
"Maaf..." Ucapku Lalu menutup pintu ruangan itu, dan melangkah dengan kehancuran..
Aku mendengar Young Joon memanggil namaku, kemudian mengejarku.
Seluruh karyawan di ruangan ini menatapku, bahkan aku dapat melihat Hellen sedang menempelkan gagang telepon di telinganya. Namun aku sama sekali tidak menghiraukannya, aku berlari agar secepat mungkin tiba di lift.
Semesta mendukungku kali ini, pintu lift langsung tertutup dan lift meluncur ke bawah.
Pintu lift sudah terbuka, dan aku langsung berlari.
Resepsionis tadi melihatku.
Saat aku sudah berada di dalam mobil dan hendak menyalakan mesin, Young Joon berlari ke arah mobilku, dan aku buru-buru menyalakan mesin mobilku, kemudian langsung memacunya.
********************
Di sepanjang perjalanan, aku terus mengingat kejadian menuju ruangan Young Joon sambil menangis.
Jawaban ragu-ragu orang yang ku jumpai, tatapan terkejut mereka ketika aku mengatakan kata 'suamiku' untuk menggambarkan sosok Park Young Joon, dan kata 'Klien Penting' untuk menggambarkan sosok yang sedang bersama suamiku.
Klien penting! Kimberly Tan.
Aaaaarrrfggghhh!!!
Ponselku berdering, Itu adalah panggilan masuk dari Young Joon!
Aku dapat melihatnya, karena aku meletakkan ponselku di atas dasboard mobil.
Aku tidak ingin menjawabnya sama sekali! Namun, aku meraih ponselku.
Aku ingin menghubungi seseorang, karena sejujurnya aku tidak tahu akan kemana.
Ku tekan tombol 'tolak' pada layar ponselku, kemudian ku cari nama 'Mike'.
Aku menghubungi Mike, dan berusaha sekeras mungkin, agar suaraku terdengar biasa saja, saat panggilan terhubung...
"Mike..." Sapaku di seberang sini
"Jen, ada apa?" Mike menjawab di seberang sana
"Kau dimana?" Tanyaku lagi
"Aku di rumah Mark, ada apa?" Jawabnya diseberang sana, dan aku langsung menutup panggilan.
Aku memacu mobilku ke arah rumah Mark, dengan hati yang hancur, lalu kembali menangis! Menangis perih...
Aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan terhadap Mike ketika aku tiba di rumah Mark nanti.
Entah memutuskn hubungan dengannya, sesuai rencana awalku, atau menjadikannya sandaran, karena kekecewaanku kali ini.
Aku telah tiba di seberang rumah Mark.
Rumah Mark sederhana, tanpa ada pagar jadi, aku bisa melihat keadaan dari sini, heeey... Tunggu! Bukankah itu Shierly?
Apa yang dia lakukan di rumah Mark?
Dan, itu Mike!
Saat aku hendak membuka pintu mobilku, aku melihat Mike membawakan Shierly minuman.
Aku tidak jadi membuka pintu mobilku, namun tetap memperhatikan kegiatan mereka.
Tampak percakapan kecil diantara mereka, dan mereka tampak sangat nyaman satu sama lain. Itu terlihat saat mereka tersenyum di setiap percakapan.
Bukankah akan mengganggu jika aku menemui mereka sekarang?
Jadi, aku memutuskan untuk menyalakan mesin mobilku, meninggalkan mereka.
Aku sempat melihat bayangan mereka melalui kaca spion mobilku.
Mereka berciuman, dan aku tersenyum...
Kalau kau tanya, apakah aku merasa sakit melihat pemandangan itu?
Dapat ku pastikan, aku merasa lega!
Aku tidak perlu mencampakkan Mike... Setidaknya, aku tidak perlu menyakiti siapapun disini.
Tidak mengapa, cukup aku saja yang terluka disini.
******************
Aku masih memacu mobilku dalam tangis penuh luka.
Ya, aku berencana ke rumah Rob.
Setidaknya, aku bisa membantunya mengotak-atik mesin motor, untuk melupakan masalahku sejenak.
Setelah menempuh 1 jam perjalanan, akhirnya aku sampai di depan 'garasi' Rob.
Aku dapat melihatnya dari dalam mobilku, ketika Rob tengah memperbaiki sebuah sepeda motor.
Dia segera menyadari kehadiranku, dan langsung menghampiriku.
Akupun segera membuka pintu mobilku untuk menjumpainya.
"Heeeyy... Sudah lama sekali, Jen!" Sapanya, lalu memelukku
"Ya, Rob..." Aku mengeratkan pelukanku
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
Suara Rob begitu teduh, dia menyadari ada yang salah dengan diriku, lalu perlahan menguraikan pelukanku, dan menatap wajahku yang sembab, dan mataku yang kembali berkaca-kaca.
"Masuklah, kita akan membicarakannya di dalam." Ucapnya.
Saat merangkulku dan hendak mengajakku ke dalam rumahnya, tiba-tiba Rob menghentikan langkahnya
"Tunggu dulu." Ucapnya.
Rob berjalan ke arah mobilku, dan berjongkok untuk mengambil sesuatu di kolong mobilku, kemudian berjalan ke arahku
"Apa kau sedang menjadi mata-mata, untuk mengungkap kasus penggelapan onderdil motor yang ku lakukan?" Rob menunjukkan suatu benda kepadaku, aku menatapnya, lalu menatap benda itu.
Aku kemudian tersadar, selama ini... Young Joon selalu mengetahui keberadaanku, bahkan ketika aku berbohong kepadanya, saat aku berkata sedang melakukan tugas di rumah Shierly, padahal aku sedang berada di sebuah bar, tiba-tiba dia menjemputku di bar itu.
Jadi selama ini...
"Rob, apakah kau memiliki sepeda motor yang dapat ku gunakan?" Tanyaku, masih menatap benda itu.
"Apa maksudmu?"
Rob benar-benar dibuat bingung kali ini, dan aku meyakinkannya dengan ekspresi wajahku yang selalu bisa meluluhkannya.
"Aahhh.... Gadis ini!" Ucapanya, kemudian kami berjalan ke arah garasinya.
"Aku mau pinjam bajumu, karena tidak mungkin aku mengendarai sepeda motor dengan pakaian seperti ini." Kataku
"Mmmm... Kau bisa mengenakan baju Leony."
Aku sudah berada di atas motor, dengan pakaian 'baru', dan tas berisi beberapa pakaian milik Leony, adik Rob yang kini sudah menetap di Colorado, serta berkas yang sudah ku persiapkan beberapa waktu lalu.
Sebelum pergi, aku berpesan kepada Rob
"Rob, jika ada pria Asia datang kesini, menanyakan keberadaanku, katakan bahwa kau tidak tahu, atau kau bisa mengatakan apapun padanya, kecuali tentang sepeda motor ini."
"Ada apa ini? Apa dia itu Intel?" Tanya Rob
"Dia suamiku, kau ingin tahu semuanya, kan?" Kataku, dan Rob terdengar terkejut.
"Alihkan dia sebisa mungkin, aku tahu itulah keahlianmu selain memperbaiki sepeda motor. Aku akan menemuimu lagi setelah semuanya aman." Kataku
"Kau mau kemana sekarang?" Rob terlihat sangat mengkhawatirkanku
"Aku mau berobat. Jaga dirimu, aku pergi dulu. Dan tenang saja, dia bukan Intel, dia hanya pria kantoran bisa." Kataku, dan Rob tampak berpikir sebelum berkata
"Hati-hatilah, Jen. Segera kabari aku jika kau telah sampai." Rob tampak semakin mengkhawatirkanku.
Aku mengangguk, lalu segera memacu sepeda motor Rob, entah kemana.
Bahkan akupun tidak tahu, kemana tujuanku kali ini.
Yang ada di pikiranku kali ini hanyalah...
Pergi sejauh mungkin dari Park Young Joon...
Tapi tidak ke Indonesia...