Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Weird



Pagi ini, terasa aneh!


Aku masih memandangi wajahku di kaca wastafel kamar mandi, sambil menyikat gigiku. Aku tidak henti-hentinya merengek. Bahkan saat keluar dari kamar mandi pun, aku masih saja merengek, meratapi kejadian semalam.


"Aaaaahhhh... Gw kenapa sih ini." Aku bersimpuh di lantai, sambil menempelkan wajahku di samping ranjang.


Bahkan beberapa menit sekali aku melihat ke arah carport, berharap Young Joon sudah berangkat kerja, namun nihil!


Bahkan sampai jam 10 pagi, mobilnya masih berada di carport.


Sampai ponselku berdering, dan saat kulihat layar ponselku...


Mike!


Tidak ada alasan untuk menolak panggilan darinya!


"Hey, Jen. Mengapa kau belum datang juga?" Ujar Mike di seberang sana


"Mmmmm... Begini, Mike..."


"Apa kau tidak masuk hari ini?" Nada bicara Mike terdengar seperti sindiran


"B-bukan begitu, Mike... Sepertinya aku tidak enak badan, jadi..."


"Ku rasa malam pertamamu benar-benar melelahkan!" Mike menutup panggilan.


'Deegggg!'


Kata-kata Mike tadi, benar-benar menghujam jantungku!


Bukan! Bukan karena aku mengkhawatirkan perasan Mike, tapi... Hey! Mungkin itu salah satunya... Tapi... Aaahhh...


Aku benar-benar bingung saat ini!


Satu hal yang pasti, kata-kata Mike tadi, kembali mengingatkanku pada kejadian semalam, dan membuatku kembali merengek!


Tiba-tiba mesin mobil Young Joon berbunyi!


Aku buru-buru melihat ke arah carport, dan tidak lama kemudian, mobilnya pergi meninggalkan rumah kami!


Aku menyentuh dadaku dan bernafas lega, lalu berjalan ke arah lemari pakaian, bersiap untuk berangkat kuliah.


*********************


Aku sudah siap untuk berangkat kuliah!


Aku bahkan agak sedikit terburu-buru karena ada beberapa kelas yang ku tinggalkan.


Minum susu mungkin bisa mengisi perutku yang sedikit lapar dalam keadaan tergesa-gesa seperti ini, jadi aku agak berlari ke arah dapur, dan langsung berhambur menuju kulkas, membuka pintu kulkas, dan mengambil susu cair yang memang selalu tersedia disana, ah... Bahkan susu 'biasa' ini, nampak terlihat nikmat sekali kelihatannya!


Tak menunggu lama aku segera meneguknya.


Kau tau, saat aku tengah meneguk susu, mataku menangkap sosok yang sebenarnya sedang kuhindari sejak aku bangun tidur tadi, spontan saja aku menyemburkan susu yang sudah ada di dalam mulutku ini dan terbatuk-batuk sambil menunjuk ke arah pintu masuk rumah kami!


Sosok itu berlari ke arahku, lalu dengan sigap menuangkan air putih ke dalam gelas, dan menyodorkannya kepadaku


"Kau ini kenapa! Minum ini!" Ucapnya sambil menyodorkan gelas berisi air putih, lalu menepuk-nepuk punggungku pelan.


Aku langsung meraih gelas itu dan meneguknya sampai habis.


Nafasku terengah-engah setelahnya, dan langsung memicingkan mataku ke arahnya, hingga membuatnya menghentikan tepukan tangannya di punggungku


"Kau! Bukankah kau sudah berangkat, tadi!" Suaraku agak tinggi kepadanya


"Apa maksudmu?" Jawabnya seolah tidak terjadi apa-apa


"Dengar, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mobilmu tadi meninggalkan rumah ini!" Aku masih mengintimidasinya.


"Sebentar!" Aku berjalan ke arah pintu masuk, untuk memastikan bahwa aku sedang tidak bergurau tentang mobil Young Joon yang meninggalkan rumah ini.


Saat ku buka pintu, mobil Young Joon sudah tidak ada di carport, lalu aku kembali ke dapur untuk menghampirinya, dan minta penjelasan darinya


"Ke-kemana mobilmu?" Aku kembali meninggikan suaraku kepadanya


"Aaahh, memang tidak ada, ya?"


What???!!!


Dia masih bisa tersenyum bodoh sambil menggaruk-garuk kepala dengan jemarinya!


"Aaarrrgghhh!!! Bahkan mobilmu di curi orang sekalipun, kau bisa tidak tahu!!!" Aku memekik kepadanya


"Hah! Benarkah!" Dia terlihat seolah terkejut!


"Dasar bodoh! Biar ku telpon polisi, untuk melaporkan kejadian ini!" Ucapku kemudian meraih ponsel, dan mengetik nomor panggilan darurat.


Saat panggilan terhubung...


"Halo..."


Tiba-tiba Young Joon meraih ponsel yang menempel di telingaku, dan mematikan sambungan telepon itu.


"APA YANG KAU LAKUKAN!!!" Aku berteriak padanya, karena merasa kesal sekali dengan kelakuannya kali ini!


Young Joon mengembalikan ponselku, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajahku


"Itu tidak hilang, dan aku yang menyuruh orang itu membawa mobilku. Aku mengambil cuti dadakan hari ini." Ucapnya sambil menatap wajahku.


Aku mulai merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini, dan memutuskan menjauhkan wajahku dari wajahnya kemudian berlalu menuju kulkas dan membukanya, untuk mendinginkan wajahku yang kurasa mulai memanas.


"Lalu, mengapa mobilmu dibawa oleh orang lain?" Selidikku, masih dengan posisi jongkok menghadap ke dalam kulkas, yang pintunya kutahan agar pas dengan tubuhku.


"Aaahhh... Orang itu bernama Jack, dia ku pinta untuk menjemput orang yang saaaangaaatt spesial untukku." Young Joon mengatakan itu dengan sangat tulus, dan secara spontan aku berdiri hendak menutup pintu kulkas, lalu...


'buggghhh!'


"Aaaawwwww!!!"


Aku menyentuh puncak kepalaku yang terbentur pintu kulkas, dan Young Joon dengan sigap berlari ke arahku, kemudian merangkul tubuhku lalu mengusap puncak kepalaku lembut.


"Ada apa denganmu hari ini!" Dia terlihat cemas sekali.


Aku menatap wajahnya dalam, karena wajah kami berdekatan satu sama lain.


Aku benar-benar terkesima...


Young Joon memang tampan...


Benar apa yang dikatakan Clara waktu itu...


Aku beruntung bisa menjadi istrinya!


Young Joon sangat tampan, mandiri, dan mapan! Dan jujur saja, dia sangat bertanggung jawab!


Dia juga bisa mentolerir setiap perlakuan burukku kepadanya dengan santai.


Dia sempurna! Bahkan jika dibandingkan dengan Mike, Young Joon lebih sabar dalam menghadapiku!


Young Joon tidak pernah menaikkan suaranya kepadaku, kecuali karena hal yang membahayakanku, ah! Jangan lupakan kejadian di malam pertengkaran kami!


Sedangkan Mike?


Mike sering kali meninggikan suaranya kepadaku bahkan untuk hal kecil sekalipun!


Young Joon, bahkan dia yang memberi ide untuk berpisah kamar sewaktu kami masih di Indonesia demi kenyamananku.


Tidak pernah sekalipun dia mencoba untuk 'menyentuhku', walaupun sebenarnya dia bisa.


Dia selalu berkata kepadaku...


"Aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang ku cintai, dan mencintaiku. Karena aku ingin melakukannya dalam keadaan tulus. Bukan karena memaksa, ataupun terpaksa."


Dia mengatakan itu dengan sangat tenang, dan menyentuh.


Bahkan ketika selesai mengucap sumpah janji suami-istri di depan altar, Young Joon lebih memilih mengecup keningku dibanding bibirku.


Ya tuhan! Mata kami sekarang saling bertemu!


Young Joon ternyata menyadari bahwa aku menatapnya dari tadi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, dan secara reflek, aku membungkuk berlagak menggaruk-garuk lututku


Young Joon masih berdiri di tempat tadi, tanpa bergeser sedikitpun


"Apa wajahku setampan itu, hingga membuatmu betah berlama-lama menatapnya?" Ucapnya santai!


Ciss! Percaya diri sekali dia! Lalu aku kembali menegakkan tubuhku, dan menatap wajahnya sebal!


"Dengar, tuan Park Young Joon! Aku baru saja mendapat benturan kecil di kepalaku, dan mungkin terjadi sedikit gegar otak disana. Jadi, fungsi otakku mungkin agak sedikit terganggu, hingga beberapa syarafnya tidak dapat berfungsi. Dan secara kebetulan, saat aku menatapmu, syaraf itu sedang tidak berfungsi!" Ucapku lalu memalingkan tubuhku darinya, kemudian berjalan ke arah meja dapur untuk mengambil minum


"Apa kau mahasiswa kedokteran yang sedang mengambil gelar spesialis syaraf?" Ucapnya dengan wajah bodoh


Demi tuhan, apakah tampang cerdasnya hanyalah topeng untuk menutupi betapa bodohnya laki-laki ini?!


"Apa maksudmu?!" Aku meletakkan gelas yang baru saja ku isi dengan air dan berbalik menghadapnya


"Kau tampak lancar sekali saat memberi penjelasan tentang sistem syaraf?" Dia tersenyum seolah takjub!


Apa dia harus memasang tampang dan senyum bodoh seperti itu setiap kali membuatku kesal? Aku menarik nafas dalam, mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi bedebah sialan ini


"Semerdeka lu aja deh, Joon!" Ucapku, lalu meneguk air yang baru saja ku tuang, kemudian berlalu meninggalkannya.


"Heeeyy, tunggu dulu!" Ucapnya.


Dan aku benar-benar menghentikan langkahku!


"Apa lagi?" Kataku, lalu membalikkan tubuhku ke arahnya


"Apa kau tidak ingin meminta maaf kepadaku?" Ucapnya dengan wajah polos.


Apa lagi ini??? Apa dia sudah gila??? Minta maaf?? Untuk apa!


"Joon, akulah yang baru saja terbentur di bagian kepala, BUKANNYA KAU!" Aku berkata seraya tersenyum menahan rasa kesal


"Kau terbentur karena kesalahanmu sendiri, mengapa kau berkata demikian, seolah aku..."


"Kalaupun mau hilang kewarasan, itu adalah aku, bukannya kau!!!" Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi rasa kesal ku hingga aku berteriak kepadanya


"Mengapa kau malah berteriak kepadaku, bukannya minta maaf?" Ketus Young Joon


"Minta maaf untuk apa? Kesalahan apa yang telah ku perbuat kepadamu, tuan Park Young Joon?" Aku kembali merendahkan suaraku


"Untuk kejadian semalam." Dia mengatakannya tanpa beban!


Dan aku terbelalak!


Jantungku seakan berhenti berdetak!


Kejadian semalam adalah alasan mengapa harusnya aku menghindarinya, namun takdir berkata lain!


Semesta benar-benar tidak memihak padaku kali ini!


"A-aku... Joon... Joon, denger, ini semua cuma salah paham! Lu tau kan, semalam itu cuma kecelakaan! Gw benar-benar gada niat untuk nyium lu, semalam itu, kecelakaan, gw benar-benar nggak sengaja." Aku rasa cara ini cukup ampuh untuk menghilangkan rasa gugupku


"왜 나를 의도적으로 키스하지 않습니까? (Kenapa kau tidak menciumku dengan sengaja saja?)" Young Joon menjawabku dengan bahasanya!


Aaahh, bagus! Ini cukup membuatku agak lebih tenang!


"Salah lu sendiri, kenapa lu ngedeketin muka lu di depan muka gw, gw pikir lu mau nyium gw, makanya..."


"과연!(memang!)" Young Joon menatap wajahku dari jauh, begitupun aku.


Aku merasa, dia mengerti apa yang sejak tadi aku ucapkan, namun dia menjawabnya dengan bahasanya. Rasanya kami seperti sedang berbincang mengenai hal yang sama, namun dalam bahasa yang berbeda. Aku melangkah ke arahnya, saat kami berhadapan, aku bahkan menatap wajahnya.


Young Joon masih tetap menatap ke arahku berdiri sebelumnya.


Young Joon dengan tatapan tegasnya ke arah lain, dan aku dengan tatapan penuh tanda tanya tepat ke arah wajahnya


"Joon, apakah kau mengerti dengan apa yang tadi ku ucapkan?" Kataku pelan, namun tegas.


Young Joon kini menatapku, tatapannya masih sama seperti tadi, melihat ke arah mataku, namun terlihat sedikit tegas. Kami saling menatap. Aku menunggu jawabannya, dan dia yang terlihat berpikir mencari cara untuk menjawab pertanyaanku.


"Aku..." Saat Young Joon baru saja mengucapkan kata itu, ponselku tiba-tiba berdering.


Ketika ku raih ponsel dari dalam tasku, betapa terkejutnya aku, melihat nama "Mama" di layar ponselku.


Aku langsung menjawab panggilan mama, dan mengalihkan perhatian ku dari Joon. Joon terlihat bernafas lega.


"Halo, ma." Sapaku disini


"Hai, Jen. Mama sama papa dah di mobilnya Joon, nih!" Ujar mama di seberang sana, terdengar bersemangat sekali


"Ooohhh... APAAAA!!!" Apa aku tidak salah dengar tadi?!


Aku langsung menatap tajam ke arah Youn Joon! Dan dia terlihat puas sekali melihat ekspresi terkejutku!


"Mama papa Joon juga ikut! Cuma, kita nggak bisa lama-lama disana, cuma 3 Minggu aja, nak." Mama benar-benar bersemangat sekali di seberang sana, tiba-tiba mama Joon mengambil alih telepon


"Jen, Eomma真的很想你,你知道!由于您在美国,所以从未打电话给妈妈!(Eomma kangen banget sama kamu, lho! Sejak kamu di Amerika, kamu nggak pernah menelepon eomma!)" Eomma terlihat begitu sedih di seberang sana


"对不起,妈妈... 我的课表真的很紧... 但是现在妈妈在这里,我们可以见面很多! (Maaf, Eomma.. Jadwal kelasku padat banget... Tapi sekarang kan eomma ada di sini, kita bisa bertemu sepuasnya!)" Kataku merasa bersalah, kemudian menghiburnya


"Aaahh... Iya...iya... 在她家见,美丽!我的孩子,我非常爱你!(Sampai jumpa di rumah ya, cantik! Anakku, aku sangat mencintaimu!)" Ucap eomma dengan penuh semangat!


Eomma memang benar-benar mencintaiku layaknya anak kandung sendiri, dia terdengar bahagia sekali di seberang sana.


"我也很爱欧玛!(Aku juga sayang banget sama eomma!)" Ucapku kemudian menutup panggilan.


Mataku memicing ke arah Young Joon, aku sangat ingin membunuhnya saat ini!


"Dengar, sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu. Namun aku tahu kau masih tidur, maka dari itu..."


"MENGAPA TIDAK KAU KATAKAN DARI TADI, BAJINGAN SIALAN!!!" Aku berlari ke arah Young Joon, dan dia langsung berlari menghindari ku.


"Dengar, aku takut mengganggumu, ku pikir kau tidak dapat tidur semalaman, makanya..." Suaranya tersengal-sengal karena berkata sambil berlari.


"PERSETAN DENGAN ITU SEMUA, PARK YOUNG JOON!!!" 


'Buuuuugghhh!'


Kakiku tersandung kaki meja, dan membuatku terjatuh, tepat di atas punggung Joon, yang juga ikut terjatuh


"Aaaawwwww...." Kami mengaduh secara bersamaan


"Aaahh, pinggangku..." Keluhnya


"Aaawww... Wajahku..." Aku ikut mengeluh, lalu berusaha bangun dari punggung YoungJoon, dan itu membuatnya reflek terbangun, kemudian duduk tepat di sampingku, dan menanyakan keadaanku


"Kau baik-baik saja?" Young Joon tampak sangat khawatir.


Dia memperhatikan wajah, serta anggota tubuhku yang lain


"Kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri dulu, aku beruntung terjatuh di atas tubuhmu, sedangkan kau..."


"Aaahhh... Kau benar... Ini sakit sekali... Badanmu berat sekali. Aku harus pergi ke UGD sekarang."


Young Joon berlagak meregangkan otot-otot tubuhnya, itu membuatku muak, dan reflek meninju punggunya!


'Buuuuugghh!'


"Aaarrrgghhh... Ini sakit!" Ujarnya seraya menekuk tubuhnya ke arah belakang


"Rasakan! Itu akibat menyembunyikan hal penting kepadaku!" Ujarku lalu berdiri.


"Ayo cepat! Jangan buang-buang waktu, kemasi pakaianmu yang ada di kamarmu!" Ujarku kepadanya


"Aku sudah menaruhnya di dalam koper, tinggal di bawa saja." Young Joon menunjuk ke arah sebuah koper besar di depan kamarnya


"Baiklah, aku akan menyusunnya di lemari kamarku." Kataku kemudian berjalan ke arah koper yang ditunjuk olehnya tadi


"Di kamarmu tidak ada sofa seperti apartemen kita di Jakarta." Ucapan Young Joon, menghentikan langkahku.


Aku terdiam dan berpikir...


"Apa masih ada waktu untuk membeli sofa sekarang?" Aku membalikkan tubuhku ke arahnya.


"Mereka akan tiba kurang dari 1 jam dari sekarang, sedangkan perjalanan ke toko furniture terdekat akan memakan waktu 30 menit." Young Joon terlihat frustrasi, begitupun aku


"Aaahh, yang terpenting kita bereskan ini dulu!" Ucapku kemudian kembali berjalan menuju koper Joon.