Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Goodbye, Nenek...



Pikiranku tidak menentu saat ini... Air mataku tidak henti-hentinya mengalir disini, melihat keadaan nenekku yang semenjak kemarin berada di ruangan ICU, melalui kaca.


Wajahnya di penuhi alat medis, yang berfungi untuk menopang kehidupannya.


Hanya ada aku dan Clara disini, sedangkan, kedua orang tua kami, serta kak Victor, sedang mengurus sesuatu.


"Jen, gw ke toilet sebentar, ya..." Ucap Clara dengan wajah sendu. Aku mengangguk, tanpa menoleh ke arahnya, dan terus fokus menatap ke arah nenekku.


Sesaat setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya kemarin, kondisi nenek menurun drastis, dan mengharuskannya untuk mendapatkan perawatan intensif, di ruang ICU.


Aku memutuskan untuk menjaga nenek, dan menolak untuk kembali ke rumah, ketika keluargaku menyuruhku.


Kedua orang tua Young Joon, sempat kesini siang tadi, sedangkan Young Joon...


"Bagaimana keadaannya?" Seseorang bertanya kepadaku, dan aku menjawab tanpa menoleh ke arahnya


"Belum ada perubahan." Jawabku, masih fokus menatap nenekku, dengan suara datar


"Dia pasti akan segera pulih." Sahut orang tersebut


"Hmmm... Ku harap be..." Aku segera menoleh ke arah sosok itu... PARK YOUNG JOON!


Laki-laki itu kini berdiri di sampingku, menatap ke arah nenek.


Aku terpaku melihatnya, dia menyadari itu, kemudian menoleh ke arahku.


"Apa kau sudah makan?" Tatapannya sungguh lembut. Air mataku menetes seketika.


Young Joon sedikit membungkukkan tubuhnya, dan menatap dalam ke arah mataku, kemudian menyapu air mataku.


Young Joon masih di posisi yang sama, membuatku merasa sedikit canggung.


Menatap matanya, membuatku merasa sedikit nyaman. Entahlah! Aku menyukainya! Dan berharap dia tidak merubah posisinya.


Namun harapanku sirnah, ketika akhirnya Young Joon menegakkan tubuhnya, dan... Memelukku...


Young Joon menempatkan wajahku tepat di dadanya.


Dia membelai lembut rambutku, yang ku biarkan terurai.


Air mataku tumpah di dalam pelukan Young Joon...


Aku tidak mengetahui secara pasti, mengapa aku seperti ini, hanya saja... Pelukan Young Joon, membuatku merasa lebih baik...


Hatiku seolah meminta Young Joon agar tidak melepaskan pelukannya...


Hatiku seolah menginginkan pelukan ini, lebih lama lagi...


"Nenekmu akan baik-baik saja, Jenny..." Ucapnya lembut.


Entahlah, apakah ini hanya perasaanku saja, atau Young Joon memang benar-benar mengecup puncak kepalaku? Masa bodoh! Aku tidak peduli!


Aku hanya ingin lebih lama lagi, berada di pelukannya.


Namun, pada akhirnya aku sadar akan sesuatu! Apa yang sedang ku lakukan kini!


Ada apa denganku!


Mengapa aku jadi 'murahan' begini!!!


Aku segera melepas pelukan Young Joon.


"M-maaf..." Kataku, kemudian kembali menatap ke arah nenek, dengan perasaan yang benar-benar kacau.


Young Joon kini menghampiriku


"Jenny, aku membawa ini." Ucapnya sembari menunjukkan sebuah bungkusan.


Aku menoleh ke arahnya sekilas.


"Ibuku membuatkan ini untukmu." Ucapnya.


Aku segera menoleh ke arahnya.


"Ku pikir, kita bisa makan ini bersama. Kebetulan aku belum makan, siang tadi."


"Eh... Ada Young Joon." Clara menyapa Young Joon.


"Young Joon, dapatkan kau mengajak Jenny untuk makan? Dia belum makan apapun dari kemarin." Ujar Clara.


Aku dan Young Joon menatapnya


"Ah, baiklah..." Ucap Young Joon


"Gw nggak laper, Ra... " aku menyela ucapan Young Joon


"Gih, Jen! Gw udah makan tadi... Biar nenek gw yang jaga." Ucap Clara.


Aku masih tak bergeming, hingga akhirnya Clara menghampiriku,dan meraih kedua tanganku.


"Jen, kalo nenek lihat lu kaya' gini, yang ada nanti dia tambah sedih..." Ucap Clara lirih.


Aku menatap wajah Clara.


"Gih, sana..." Aku segera mengangguk.


"Young Joon, tolong jaga Jenny, ya." Ucap Clara, kemudian melepaskan kedua tanganku, dan Young Joon pun mengangguk.


"Tentu! Ayo..." Young Joon meraih tanganku, dan membawaku bersamanya.


Aku menatap tanganku yang kini tengah di genggam Young Joon, lalu menghentikan langkahku, sambil terus menatap tangan kami.


Young Joon segera berbalik ke arahku, dan menatapku yang masih menatap tangan kami.


Dia menyadari akan sesuatu.


"Aaahh... Maaf." Ucapnya kemudian melepaskan tanganku dengan lembut.


"Ayo..." Ajaknya, dan akupun melanjutkan langkahku.


...****************...


 


Aku dan Young kini duduk berhadapan, sambil menyantap hidangan yang di buat oleh bibi Ji Hyo, di kantin rumah sakit.


Bibi Ji Hyo membawakan Soup ikan yang masih hangat, serta daging sapi yang di iris tipis, yang rasanya cukup pedas, namun sangat nikmat!


Aku dapat menyaksikan, betapa wajah Young Joon memerah, ketika menyantap masakan daging tersebut.


Aku tersenyum kecil, melihat ekspresi wajahnya itu.


"Ada apa denganmu?" Tanyaku, menatap wajahnya.


Young Joon mengibas-ngibaskan wajahnya, sesaat setelah meneguk banyak sekali air putih, lalu menatapku.


"Ibuku bilang, kau sangat menyukai pedas, tapi aku tidak mengira dia membuat racun seperti ini!" Ucapnya masih mengibas-ngibaskan wajahnya.


Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya barusan!


"Hahahahahaaaaaaaahahahaaa!" Young Joon menatapku heran, kemudian tersenyum.


Aku segera menyadari itu, kemudian menghentikan tawaku.


"Me-mengapa kau menatapku seperti itu." Ucapku yang salah tingkah, kemudian kembali menyantap hidangan.


"Setidaknya, setelah sekian lama. Akhirnya aku dapat membuatmu tertawa kembali." Jawabnya, kemudian kembali menyantap hidangan.


Pipiku terasa panas, mendengarnya berkata seperti itu. Sempat hening sesaat, hinga akhirnya aku menghabiskan hidanganku.


"Ini enak sekali!" Ucapku seraya merapikan peralatan makan yang ku gunakan.


"Benarkah?! eomma pasti senang mengetahui ini." Ucap Young Joon, kembali menyantap makanannya. Dan akupun mengangguk


"Yeah! omong-omong, bagaimana bibi bisa tahu, jika aku sangat menyukai pedas?" kataku, sesaat setelah meneguk air minum.


Young Joon sedikit kebingungan menjawab pertanyaanku, dan sempat menghentikan makannya.


"Ah, baiklah, Waktu itu..." Ucapku, mengalihkan pembicaraan tadi


"Hemmmm....?" Young Joon menatapku.


"Bukankah sebelumnya kita pernah bertemu disini?" Tanyaku kepadanya, yang baru saja menyelesaikan makannya.


Young Joon tidak langsung menjawab, dan lebih memilih tersenyum menatap ke arah bawah, seraya mengusap belakang kepalanya.


"Aaahhh... Itu... Hahahaa..." Young Joon terlihat salah tingkah menatapku, yang kini menatapnya.


"Apa kau telah mengenalku saat itu?" Aku melipat kedua tanganku di atas meja, dan sedikit memiringkan kepalaku, sambil terus menatap wajah Young Joon.


Young Joon terlihat semakin salah tingkah kini.


"Ummmm.... Itu... Ummmm... Itu... "


"Jenny!!!" Clara menghampiri kami, dengan wajah yang sangat pucat!


"Nenek..." Aku segera berlari menuju ruang ICU, di susul oleh Young Joon dan juga Clara.


...****************...


Setelah sampai di depan ruang ICU, dapat ku saksikan dengan jelas, dokter serta beberapa perawat terlihat sangat panik sambil terus memperbaiki beberapa alat medis, dan sesekali memeriksa keadaan nenek.


Hatiku sungguh sakit melihat pemandangan itu. Aku hanya berfokus dengan pemandangan itu, tanpa menghiraukan keadaan sekitar, bahkan aku tidak menghiraukan ketika Young Joon merangkulku, dan mengusap lembut rambutku, berusaha untuk menenangkanku yang kini telah berurai air mata.


Tidak lama kemudian, kedua orang tua kami, serta kak Victor datang.


Clara langsung memeluk ibunya, sedangkan aku, aku langsung berlari ke arah papa dan langsung memeluknya.


Papa segera membelai lembut rambutku, dan mengecup puncak kepalaku.


"Nenek akan baik-baik saja, sayang..." Suara papa bergetar, menahan tangis...


Satu jam kemudian, akhirnya dokter beserta perawat keluar dari ruangan nenek, dan langsung menghampiri kami.


"Keluarga Oma Lie?" Ucap dokter.


Kami semua yang berada disana, langsung mendekat ke arah dokter yang terlihat sangat putus asa.


"Saya minta perwakilan dari keluarga Oma Lie untuk ke ruangan saya sekarang, ya." Ucap dokter itu.


Akhirnya, setelah kesepakatan, papa dan tante Vera mengikuti dokter menuju ruangannya.


Kurang lebih 2 jam, setelah papa dan tante Vera pergi ke ruangan dokter itu, tepatnya pukul 19.48 malam.


Mereka akhirnya menghampiri kami.


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Raut wajah papa menegang, dapat ku lihat, wajah tante Vera tampak lesu dan pucat, seolah tidak ada gairah.


"Jenny, kamu pulang sekarang ya, sayang... Kamu belum pulang dari kemarin, lho." Ucap papa kepadaku. Aku menggeleng


"Aku mau tetap disini, jagain nenek..." Ucapku lirih


"Jen, nanti kamu ikutan sakit kalo gini terus..." Bujuk Mama yang sedari tadi duduk di samping kananku, kini mengusap lembut rambutku


"Aku cuma mau mastiin..." Aku tersenyum getir.


Mereka semua terlihat pasrah.


"Ya udah, biar Jenny sama saya, om." Sahut Victor


"Victor, kamu harus ikut om." Sahut papa.


Aku menatap papa


"Ada apa sih sebenernya?" Tanyaku.


Wajah mereka memucat.


"Jen..."


"Kenapa sih dalam keadaan kaya' gini, kalian malah ninggalin nenek?!" Aku menyela ucapan papa.


Papa menghampiriku, beliau sedikit membungkuk, lalu menangkap kedua pipiku, kemudian memelukku.


Young Joon yang sedari tadi duduk di samping kiriku, tiba-tiba bangun, dan berdiri di belakang papa yang kini masih memelukku.


"Biar aku saja yang menemani Jenny." Katanya.


Papa pun segera melepas pelukannya, lalu menghampiri Young Joon yang masih berdiri di belakangnya.


"Apa kau yakin?" Ucap papa, Young Joon mengangguk, dan papa langsung memeluknya.


...****************...


 


Pukul tiga dini hari, dan aku masih saja terjaga, begitupun dengan Young Joon, yang masih menyandarkan bahunya untukku.


"Tidurlah..." Ucapnya, dan akupun menggeleng samar.


"Aku sempat berbincang dengan nenekmu, beberapa hari yang lalu." Ucap Young Joon.


Aku segera menegakkan tubuhku perlahan, dan menatapnya


"Benarkah?" Ucapku tersenyum kecil, dan Young Joon tersenyum kemudian mengangguk samar.


"Apa yang nenek katakan?"


"Nenek menanyakan keadaanku, dan..." Young Joon agak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


Aku sedikit memiringkan kepalaku


"Dan...?" Tanyaku memastikan.


Young Joon menatap wajahku, namun tidak juga menjawab, hingga tiba-tiba, terdengar suara


"Tiiiitttt... Tiiit... Tiiiitttt..." Dari dalam ruangan nenek!


Kami segera bangkit, dan melihat ke arah dalam, namun Young Joon yang baru melihat sekilas, langsung berlari meninggalkanku yang saat ini sedang panik, hingga beberapa menit kemudian, dia kembali dengan tiga orang perawat dan juga seorang dokter jaga, yang langsung bergegas masuk ke dalam ruangan nenek, dan langsung mengambil tindakan!


Young Joon menghampiriku, aku sempat menoleh ke arahnya, wajahnya begitu panik, menatap ke arah dalam.


Beberapa menit kemudian, kami dapat melihat langsung dari balik kaca, wajah murung para perawat yang menghentikan kegiatan mereka, serta dokter yang meletakkan alat pacu jantung yang dia gunakan sesaat setelah memeriksa keadaan nenek tadi.


Dokter segera melihat ke arah jam tangannya, kemudian menatap wajah para perawat, dan para perawat pun, mengangguk secara bersamaan.


...****************...


 Jakarta, 20 Juni 2012... Telah kembali ke pangkuan Bapa Kami di Surga, Ny. Lie Tjeng Nioh/ Tina Lie...