
Clara! Saudara sepupu sekaligus sahabatku! Tentang Clara, gadis cantik nan modis yang hanya selisih umur satu di bawahku ini memiliki sifat yang bertolak belakang denganku.
Clara adalah gadis yang sangat memperhatikan setiap detail penampilannya, sedangkan aku tidak.
Clara yang dapat bersikap agresif, jika berada di dekat seseorang yang menarik perhatiannya, berbeda dengan diriku, yang lebih memilih menghindari orang yang membuatku tertarik.
Banyak hal tentang Clara yang sulit untuk ku ungkapkan, namun di samping itu semua, Clara adalah pribadi yang baik dan menyenangkan.
"Ko' lu udah datang?" Ucapku kepada Clara yang kini sudah mengecup kening nenek
"Iyaa donk." Ucapnya kemudian langsung memelukku erat. "Kangen bangeeettt gw tuh sama lu, Nyet!" Kemudian menguraikan pelukannya.
"Setan emang lu ya!" Ucapku seraya mencubit hidung Clara, kemudian kembali memeluknya. "Gw juga kangen banget sama lu, Raaaa...."
"Cepat sembuh deh nenek, lihat cucu-cucu nenek kaya' gini." Nenek tersenyum melihat tingkah kami, Clara langsung melepas pelukanku, dan berpaling ke arah nenek
"Cepat sembuh gimana, orang makan aja susah gitu!" Clara melipat kedua tangannya
"Araaaa..." Nenek memasang mimik seolah meminta Clara untuk tidak melanjutkan kata-katanya.
"Nek, Ara tuh bicara fakta, ya... Nenek kan..."
"Udaaahh... Selama ada gw, nenek nggak bakal susah makan lagi!" Sahutku, nenek pun tersenyum
"Percaya deh, gw mah!" Clara terlihat sebal, dan akupun segera merangkulnya hingga akhirnya Clara kembali tersenyum.
"By the way, Jen... Lu udah ketemu calon laki lu?" Clara menatap wajahku, dan aku menoleh ke arah nenek yang kini terlihat salah tingkah.
"M-maksud lu?" Ucapku, kemudian menoleh ke arah Clara.
Aku sedikit heran, bagaimana Clara bisa mengetahui hal ini.
"Ara..." Nenek tampak ingin menghentikan percakapan tadi. Sedangkan Clara, dia terlihat bingung sekarang.
Aku segera berdiri, dan menghampiri nenek. Aku seolah menyadari akan suatu hal. Entahlah, apakah ini hanya suatu kebetulan, atau memang ini sudah di rencanakan. Satu hal yang pasti, aku hanya ingin memastikan, bahwa pikiran jahatku saat ini tidaklah benar, hingga akhirnya, aku memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sebenarnya tidak pantas ku katakan kepada nenek.
"Nek, nenek beneran sakit, kan?" Ucapku sedikit menekankan, nenek terlihat sedih mendengar ucapanku tadi
"Jen, lu gila, ya! Nenek tuh benaran sakit, lah! Mana ada main-main." Protes Clara yang tampak kesal melihat sikapku kepada nenek
"Ara, ko' panggilnya Jen, harusnya cici." Nenek berusaha mengalihkan pertanyaanku
"Nek..." Aku kembali menegaskan pertanyaanku, dan Clara kembali memprotes sikapku
"Jen, yang bener a... "
"Mi..." Tiba-tiba papa masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang sungguh sangat suram.
Kami bertiga menoleh ke arah papa yang kini menggenggam erat tangan nenek.
Aku memperhatikan dengan saksama raut wajah papa yang memancarkan kesedihan mendalam, serta sorot mata nenek yang menunjukkan seolah nenek pasrah atas apapun.
"Joseph, mommy sudah tau." Nenek tersenyum lembut, kemudian membalas genggaman tangan papa. Air mata papa tidak dapat terbendung lagi.
"A-ada apa, pa..." Suaraku sedikit tertahan. Papa tidak menjawab pertanyaanku, sedangkan nenek, nenek menatap ke arahku
"Jen sayang... Sebentar lagi, nenek nggak akan ngerasa sakit lagi..." Nenek berkata dalam senyum yang sulit ku artikan.
Papa tiba-tiba keluar dari dalam ruangan, setelah mendengar kata-kata nenek barusan. Dan Clara, matanya mulai berkaca-kaca, kemudian memilih ikut keluar ruangan. Sedangkan aku? Aku masih bingung dengan keadaan ini. Aku menatap nenek yang saat ini tersenyum dengan tatapan kosong ke arah pintu masuk ruangan ini. Aku menghampiri nenek, menatap wajahnya dalam, kemudian menggenggam tangannya.
"Nenek..." Ucapku lirih, nenek menoleh ke arahku, masih dengan senyum yang sama.
Wajah nenek tampak bercahaya, entahlah! Melihat nenek seperti ini, hatiku sungguh merasa pilu. Nenek membalas genggaman tanganku.
"Jen... Maafin nenek, ya..." Nenek berkata seraya mengecup tanganku, kemudian meletakkannya di pipinya. Air mataku mengalir begitu saja.
Aku langsung memeluk nenek
"Maafin Jen, nek... Maafin Jen..." Ucapku lirih, nenek membelai rambutku
"Jen... Waktu nenek nggak lama la..." Aku segera melepas pelukanku, dan menatap nenek
"Nggak!!! Jen nggak mau denger nenek ngomong gitu!"
"Jen..."
"Nenek harus sembuh! Nenek kan bilang, mau liat Jen pake baju pengantin macam barbie yang waktu itu nenek hadiahin ke Jen..." Ucapku sembari menghapus air mataku, nenek menggenggam tanganku
"Jadi.. Jen mau, nikah sama Young Joon?" Mata nenek berbinar...
Aku tertegun melihat tatapan penuh harap dari nenek, hingga akhirnya aku mengangguk...
"Jen akan lakuin apapun untuk ngebahagiain nenek..." Ucapku mantap, dan nenek tersenyum bahagia...
...****************...
"Satu-satunya organ dalam mommy yang berfungsi, cuma jantung..." Papa kembali menangis setelah mengucapkan hal tadi.
Mama memeluk bahu papa, dan menenggelamkan wajahnya disana, lalu om Sam, beliau memeluk erat tubuh istrinya yang sudah tidak dapat membendung air matanya.
Sedangkan aku dan Clara... Kami berdua bingung harus melakukan apa, karena apa yang mereka rasakan, kami pun merasakannya...
"Kesempatan mommy hidup, hanya 20%..." Tangis kami semua pecah di ruang tunggu rumah sakit, pada malam itu.
Aku segera bangkit, dan berlari menuju ruangan dimana nenek berada...
Aku berlari secepat mungkin agar dapat sesegera mungkin sampai ke ruangan nenek...
Aku ingin sekali memeluk erat nenekku...
Aku ingin meminta maaf kepadanya, karena telah melukai hatinya...
Aku terus berlari, hingga tanpa sengaja tubuhku menabrak meja dorong yang sedang dibawa oleh seorang perawat, hingga apa yang yg ada di atasnya, jatuh semua.
"Maaf..." Ucapku kepada perawat tersebut, kemudian kembali berlari...
Nenek, ya... Nenek... Aku harus secepat mungkin menghampirinya.
Aku telah sampai tepat di depan ruang rawat nenek, lalu membuka pintunya perlahan, kemudian melangkah masuk dengan perlahan, dan terus memandangi wajah nenekku yang tertidur nyenyak sekali...
Beliau tersenyum dalam tidurnya, seolah tidak merasakan rasa sakit, yang sebenarnya tengah menggerogoti seluruh tubuhnya.
Wajahnya begitu teduh...
Aku menghentikan langkahku, tepat di depan bangkar, dan menghapus air mataku, kemudian menghampiri nenek, dan langsung memeluknya.
"Maafin Jen..." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku...
...****************...
Keesokan harinya...
"Jenny... Sayang... Bangun, cantik... Jenny..." Sayup ku dengar suara nenek memanggil namaku, serta belaian lembut tangannya di kepalaku yang terlelap tepat di sampingnya, dengan posisi tubuh di kursi yang berada di samping bangkar. Aku segera terbangun.
"Um... Eh... Nenek butuh apa?" Tanyaku dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur, kemudian segera menegakkan tubuhku dari kursi.
"Jen... Jen pulang dulu gih sana... Nenek kasihan lihat Jen tidur kaya' tadi, pasti sakit deh badan Jen..." Ucap nenek lembut, aku tersenyum, kemudian membelai lembut tangan nenek
"Badan Jen nggak sakit ko' nek... Nenek tenang aja. Ngomong-ngomong, sarapan nenek belum datang?" Tanyaku kepada nenek
"5 menit lagi paling, sekarang baru jam 7 kurang lima." Jawab nenek
"Ya udah, kalo gitu, Jen cuci muka dulu ya, nek." Kataku, dan nenek mengangguk samar.
Saat aku hendak masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangan ini, tiba-tiba seorang perawat, dan seorang dokter datang membawa peralatan medis. Aku menunda rencanaku, dan memilih menghampiri mereka.
"Selamat pagi, oma... Gimana keadaannya sekarang?" Tanya dokter yang sepertinya seusia papaku itu ramah, kemudian memasang stetoskop
"Baik banget ini, dok... Cucu saya sudah datang soalnya." Ucap nenek seraya menunjukan dengan dagunya. Dokter dan perawat itu tersenyum kepadaku.
"Oohh, ini cucu oma yang sering oma ceritain itu, ya?" Ucap dokter ramah kepadaku, aku mengangguk dan tersenyum.
"Di periksa dulu ya, oma..." Ujar dokter kemudian memeriksa nenek.
Wajah dokter terlihat sedikit menegang selepas memeriksa nenek, begitupun perawat yang sedang mencatat hasil pemeriksaan. Nenek menyadari hal itu.
"Dok..." Ucap nenek memecahkan keheningan
"Ya, oma..." Sahut dokter, sambil tersenyum
"Kira-kira waktu saya cukup nggak, sampai pemberkatan cucu saya?" Mata nenek berkaca-kaca ketika mengucapkan hal tadi, namun tetap tersenyum, hingga membuat suasana kembali hening.
Dokter segera menghampiri nenek, dan duduk di samping nenek, lalu meraih tangan nenek, dan tersenyum.
"Oma... Melihat semangat oma untuk sembuh, dukungan keluarga, serta izin tuhan. Saya percaya, apa yang oma harapkan, pasti akan terwujud." Ucap dokter dengan mata berkaca-kaca.
"Yang penting oma makannya nggak susah, terus minum obatnya harus mau." Ucap dokter lagi, kemudian bangkit dari duduknya dan nenek pun tersenyum.
"Apapun akan saya lakukan, yang penting bisa lihat pemberkatan cucu saya." Sahut nenek bersemangat.
"Naaahh... Gitu, dong! Harus semangat!" Ucap dokter, sembari mengepalkan tangan ke udara.
Kami semua tersenyum.
"Oke, sudah selesai untuk pagi ini, saya permisi dulu ya, oma..." Ucap dokter kepada nenek.
"Neneknya disuruh makan yang banyak ya, dik..." Ucap dokter kepadaku
"Pasti, dok." Jawabku, kemudian dokter serta perawat berlalu meninggalkan kami.
Sepeninggal dokter dan juga perawat tadi, aku segera menghampiri nenek, dan menggenggam tangan nenek
"Nenek ko' ngomongnya begitu!" Rengekku. Lagi-lagi nenek hanya tersenyum
"Terus nenek harus ngomong apa, donk?" Nenek kini menggodaku.
"Nenek... "
"Permisi..." Seorang perawat datang, sembari membawa meja dorong yang terdapat makanan di atasnya.
"Oma Lie, ini sarapannya." Ucapnya seraya menyusun mangkuk berisi bubur, dan air putih di atas meja yang memang di khususkan untuk meletakkan hidangan khusus pasien.
"Ini obatnya, diminum 5 menit setelah makan ya, oma..." Ucapnya, dan aku segera menghampiri perawat tersebut
"Makasih ya, Sus." Kataku sambil tersenyum, dan suster pun membalas senyumku.
"Oma mau saya yang... "
"Ada saya ko' Sus." Aku segera menyela ucapan suster
"Oke, saya permisi dulu ya, kalo gitu." Ucap perawat tersebut, kemudian berlalu.
Aku segera meraih mangkuk berisi bubur tersebut, kemudian duduk di samping nenek, hendak menyuapinya
"Ini harus habis ya, nek! Kalo nggak, aku nggak mau nikah!" Ancamku, sambil tersenyum. Nenek tertawa mendengar ancamanku
"Serem amat itu ancamannya..." Dan kami pun tertawa.
Walaupun pada akhirnya, nenek tidak menghabiskan semua buburnya, setidaknya itu hanya tersisa sedikit.
Aku langsung ke kamar mandi, hendak mencuci wajahku, sesaat setelah selesai memberikan nenek obat.
Ketika mencuci wajah, aku kembali mengingat ucapan nenek kepada dokter tadi.
Hatiku terasa nyeri mengingat hal tadi.
Tapi aku tidak boleh menangis! Ya! Nenek tidak boleh melihatku bersedih.
Aku harus bersemangat, agar nenek cepat pulih, walaupun kemungkinannya sangat kecil...
Ketika aku sedang menggosok gigiku, samar ku dengar beberapa orang datang, dan mengajak nenek berbincang. Ada suara mama dan papa di sana. Mereka berbincang menggunakan bahasa Mandarin, aku dapat memahami percakapan mereka,karena aku cukup fasih dalam bahasa itu.
Dan seorang pria berbicara dengan bahasa yang tidak dapat ku mengerti, namun nenek dapat menjawabnya dengan fasih!
Sepengetahuanku, nenek sangat fasih berbahasa mandarin, Korea, dan Belanda.
Mungkin pria tadi berbicara dengan bahasa Korea.
Aku sangat fasih menggunakan bahasa Mandarin, makanya aku mengerti saat mereka, termasuk mama dan papaku berbincang dengan bahasa itu, tetapi tidak dengan bahasa pria yang satunya lagi.
Siapa mereka?
Sebenarnya aku tidak merasa asing dengan suara itu, hanya saja...
Aku segera berkumur, dan kembali membasuh wajahku, kemudian keluar dari kamar mandi, untuk mencari tahu, siapa yang saat ini sedang berbincang dengan nenek dan kedua orang tuaku.
Ketika aku kembali...