
Sekuat apapun aku mencoba untuk terus mempertahankan istriku, pada akhirnya semua sirnah, ketika putusan cerai itu akhirnya terjadi...
Jennifer, istri cantikku yang memiliki hati sekeras batu, memilih untuk meninggalkanku...
Dia melepaskanku...
Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya...
Menyakitkan rasanya, jika kau tidak tahu secara pasti, apa penyebabnya...
Aku bahkan tidak pernah tahu, betapa dia terluka oleh semua perlakuanku kepadanya...
Aku bahkan tidak pernah tahu, betapa hancurnya dia, atas dugaan pengkhianatan yang dia tuju kepadaku...
Pengkhianatan yang bahkan tidak pernah sekalipun ku lakukan, karena...
Hanya namanya yang terukir di dalam benakku...
Yeah...
Ku pikir, bentuk pengkhianatan adalah ketika kau membagi hatimu untuk orang lain, seperti yang Jennifer tujukan kepadaku dan juga Kimberly!
Jika dia berpikir bahwa aku telah membagi cintaku kepada Kimberly, dia sungguh salah besar!
Aku sama sekali tidak pernah mengkhianatinya, untuk perasaanku!
Namun, jika tidur dengan Kimberly dalam keadaan tidak sadar, apakah itu dapat di kategorikan ke dalam bentuk dari pengkhianatan?
Tapi Jennifer tidak mengetahui hal itu!
Aku tidak akan pernah memberitahunya sampai kapanpun! Bahkan jika aku harus mati sekalipun!
Ketika dia memutuskan untuk melepas semua ini...
Semua hancur! Hidupku hancur!
Aku berjalan tanpa arah, melakukan hal yang seharusnya tidak ku lakukan...
Kecuali tersenyum pedih, selebihnya, aku bahkan sampai lupa, bagaimana cara untuk tersenyum...
Ya! Yang dapat ku lakukan saat ini hanyalah... Membiarkan diriku terluka.
********************
Berbulan-bulan menjalani hidup tanpa Jenny di sisiku, nyatanya membuatku bagai jasad tak bernyawa...
Hingga pada suatu hari, Edward Liem sahabatku, mengunjungiku.
Dia sungguh sangat khawatir melihat kehancuranku.
Keadaan rumah yang berantakan, serta diriku yang tampak seperti orang yang telah kehilangan kewarasan, membuatnya memperkenalkanku kepada seorang psikiater.
Awalnya aku enggan untuk mengikuti sarannya, karena bagiku, mengunjungi psikiater, tidak akan membuat Jenny-ku kembali ke pelukanku!
Namun aku tersadar ketika Edward berkata...
"Mengunjungi psikiater, mungkin belum tentu dapat membuat mantan istrimu kembali, namun... Melihat semua kekacauan ini, ku rasa itu akan membuatnya semakin enggan untuk kembali!" Ucapnya kemudian menuang kembali anggur putih ke dalam gelas.
Seketika, aku menoleh ke arahnya.
"Buatlah dirimu lebih baik dari sebelumnya!" Ucapnya sesaat setelah menyesap minumannya.
"Mulai semua dari awal, dan lakukan apa yang membuatnya dapat kembali menerimamu!"
*********************
Pada akhirnya, ucapan Edward menyadarkanku... Hingga akhirnya, aku bersedia untuk mengikuti sarannya, menemui psikiater!
Nataschya Wilhelmina!
Aku benar-benar berterima kasih kepadanya, karena...
Berkat dirinya, aku dapat kembali menjadi Park Young Joon yang jauh lebih baik!
Dia psikiater handal, yang mampu membantuku untuk bangkit dari keterpurukanku!
Dia juga yang mampu membuatku membuatku jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya!
Dia hampir selalu mengatakan hal itu, tiap kali aku mencurahkan perasaanku tentang Jenny.
"Ku pikir, kau belum sepenuhnya mengerti tentang perasaanmu yang sebenarnya terhadap mantan istrimu, Park!" Ucapnya sambil tersenyum.
Aku menatapnya heran.
Dia kemudian bangkit dari duduknya, lalu menyeduh kopi.
"Apa maksudmu?" Ucapku, lalu menoleh ke arahnya.
Nataschya yang telah selesai menyeduh dua gelas kopi, kembali duduk di tempat semula, sesaat setelah meletakkan dua gelas kopi, di meja yang terletak tepat di hadapannya.
Dia tersenyum, alih-alih menjawab ucapanku.
"Kau bilang, rasa cintamu hanya tercurah kepadanya?"
Aku langsung mengangguk.
"Ya! Aku tidak dapat menoleh wanita lain!" Jawabku dengan pasti.
Lagi-lagi dia tersenyum.
"Park, apa kau pernah mendengar, apa itu obsesi?"
Aku seolah mengerti, kemana arah pembicaraan ini.
"Maksudmu, perasaanku terhadap Jenny, bukanlah cinta, dan hanya obsesi semata?" Sinisku kepadanya.
Nataschya menyadari sikap tidak sukaku terhadap ucapannya. Dia tersenyum, kemudian menyeruput kopinya.
"Tidak juga, hanya saja..."
"Nataschya, aku sungguh sangat memahami diriku di banding orang la..."
"Park, dengar! Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu, hanya saja... Pahamilah akan satu hal." Ucapnya dengan tatapan yang tegas.
"Pertama-tama, kau harus dapat memahami tentang perasaanmu terlebih dahulu!" Ucapnya kemudian berdiri, lalu berjalan ke arahku.
"Kau harus dapat menentukan, mana perasaanmu yang lebih dominan, lalu..."
Aku segera berdiri, dan menghampirinya.
"Dengar, Nataschya! Aku lebih memahami itu, lebih dari apapun!" Ucapku kemudian berlalu.
Namun, ketika baru saja menyentuh kenop pintu ruangannya, langkahku terhenti ketika Nataschya berkata...
"Jangan biarkan itu tumbuh secara bersamaan, terlebih, ketika obsesimu lebih besar dari rasa cintamu!"
Hening, hingga akhirnya aku berlalu...
************************
Obsesi dan cinta!
Tidak! Tentu saja perasaanku terhadap Jenny, bukanlah sebuah obsesi!
Ini murni cinta! Tanpa sedikitpun di bumbui oleh obsesi!
Entah apa yang ada di dalam pikiran Nataschya, ketika dia mengatakan hal itu! Hanya saja, itu sungguh mengusik hatiku!
Tentang Jenny...
Setelah aku kembali menjadi Park Young Joon yang pernah dia kenal, aku kembali mencari tahu tentang dirinya.
Dimana dia berada, apa saja yang dia lakukan, serta... Tentang rencananya untuk kembali ke Indonesia!
Menurut kabar yang ku dengar, Jenny telah mendapat gelar masternya!
Aaahh.. Tentu saja aku sangat bahagia mendengarnya!
Dan orang tua kami...
Aku bahkan tidak memiliki nyali untuk mengatakan itu kepada mereka! Tidak akan pernah!
Ku rasa, Jenny juga merasakan hal yang sama, karena baik orang tuaku, maupun orang tuanya, tidak pernah membahas tentang itu.