Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Surat Dari Nenek...



Rumah kami kini telah di penuhi oleh para kerabat, serta para tetangga yang ingin melihat nenek untuk terakhir kalinya.


Sedangkan aku yang masih belum dapat menerima kenyataan, bahwa nenekku akhirnya pergi meninggalkanku untuk selamanya, hanya bisa meratap di kamar nenekku. Aku terus memanggil namanya, sambil memeluk selimut yang selalu beliau kenakan.


Benar apa yang nenek katakan beberapa hari yang lalu, andai saja aku tidak kembali ke Indonesia, aku pasti akan sangat menyesal!


Nenek... Aku menangis, meratapi kepergiannya yang begitu cepat...


Nenek... Aku sungguh sangat menyesali fakta, bahwa aku belum juga dapat menepati janjiku, untuk menikah hingga akhirnya nenek pergi untuk selamanya... Nenek...


"Tok.... Tok... Tok..." Seseorang mengetuk pintu, namun aku seolah enggan menjawab, hingga akhirnya, pintu kamar terbuka.


"Jen..." Clara dan Gina kemudian menghampiri, dan langsung memelukku...


"Lu yang sabar ya, Jen... Gw paham ko' gimana sedihnya, lu..." Ucap Gina, kemudian melepaskan pelukannya.


Aku menatap wajah Gina, yang saat ini sedang menghapus air matanya.


Sedangkan Clara, Clara masih terus menangis di bahuku.


...****************...


Pemakaman nenek dilaksanakan pada hari itu juga, mengingat seluruh keluarga dan juga orang-orang dekat kami, telah berkumpul.


Kami memutuskan, untuk memakamkan nenek di pemakaman yang tidak terlalu jauh dari rumah nenek...


Setelah prosesi pemakaman usai, dan satu per satu orang telah pergi, mama dan papaku mengajakku untuk pulang, namun aku menolaknya...


Aku ingin berada disini lebih lama lagi... Aku ingin mengenang kembali kebersamaanku dengan nenek...


Papa memakluminya, kemudian akhirnya meninggalkanku disini.


Tidak! Aku tidak sendiri disini, papa tidak akan membiarkan itu terjadi, jika hanya aku sendiri disini.


Ya! Ada Young Joon bersamaku...


Dia yang dengan sabar, membelai lembut bahuku...


Dia berusaha untuk membuatku merasa lebih tenang...


"Sudahlah... Nenek sudah bahagia sekarang... Beliau sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang..." Ucap Young Joon.


Aku menoleh ke arahnya, kemudian memeluknya erat... Entahlah! Aku seolah ingin menumpahkan semua rasa sedihku...


Dan kebetulan, hanya dia yang saat ini masih bertahan disini denganku...


...****************...


 


Young Joon akhirnya mengantarku pulang.


Dan saat kami tiba di rumah, masih ada banyak tamu disana, termasuk kedua orang tua Young Joon.


Aku langsung menuju kamar nenek, sesaat setelah mengucapkan kata maaf, karena tidak dapat bergabung bersama mereka, dan mereka pun memaklumi itu semua.


Aku segera merebahkan tubuhku, di atas ranjang nenek... Air mataku kini sudah tidak lagi menetes, dan aku lebih memilih untuk tersenyum.


"Nek, Jen udah ikhlas..." Ucapku lirih. "Nenek baik-baik disana, ya..."


"Tok... Tok... Tok...!"


"Mbak Jenny..." Suara Mbok Minah terdengar samar, memanggil namaku.


Aku segera bangkit, dan duduk


"Masuk aja, mbok..." Ucapku.


Mbok Minah kemudian masuk, setelah ku persilahkan.


Dia langsung menghampiriku, dapat ku lihat sekilas, mbok Minah membawa sesuatu.


"Ada apa, mbok... Duduk sini..." Ucapku seraya menepuk-nepuk sisi sebelah kananku.


Mbok Minah agak ragu, namun akhirnya duduk juga.


"Mbak, anu... Ini, ibuk ada titip ini ke saya..." Ucap mbok Minah, seraya menyodorkan kotak kayu berukuran kecil yang sedari tadi dia bawa, kepadaku.


Aku segera meraih kotak tersebut.


"Apa ini, mbok?" Tanyaku


"Kurang tau, mbak... Cuma, ibuk pesan ke saya, katanya kasih ini, kalo ibuk sudah nggak ada." Ucap mbok Minah lirih.


Aku menatap mbok Minah, kemudian tersenyum.


"Makasih ya, mbok..." Aku segera memeluk mbok Minah...


"Yang sabar ya, mbak..." Ucap mbok Minah, seraya mengusap punggungku.


...****************...


 


Malamnya, aku memutuskan untuk tetap berada di kamar nenek, aku sempat berpesan kepada semua, bahwa aku tidak ingin kemana-mana, dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Walaupun sedikit keberatan, mereka akhirnya menyetujui keinginanku.


Saat ini aku sedang membuka kotak kayu kecil yang sore tadi mbok Minah berikan kepadaku.


Terdapat beberapa foto kebersamaanku dengan nenek disana, serta kalung yang selalu nenek pakai.


Aku menatap kalung itu sesaat, kemudian tersenyum.


Dan saat aku hendak memasukkan kembali beberapa foto dan juga kalung yang tadi ku keluarkan dari kotak kecil ini, aku melihat sebuah amplop kecil.


Aku segera meraihnya, sebelum memasukkan kembali foto dan juga kalung nenek ke dalam kotak itu.


Saat ku buka amplop berukuran sedang tersebut, terdapat secarik kertas disana, dan akupun langsung menariknya, dan langsung melihat isinya.


Untuk Cucuku tersayang, Jennifer...


Jen, saat Jen baca surat ini, itu berarti, nenek sudah nggak bisa ketemu Jen lagi...


Air mataku kembali menetes melihat kata-kata pertama yang terdapat di surat ini.


Aku bahkan membutuhkan waktu beberapa menit, untuk menenangkan hatiku, agar dapat melanjutkan membaca isi surat dari nenek.


Jen, kalung yang ada di dalam kotak ini, tolong di jaga baik-baik, ya...


Kalau Jen kangen sama nenek, Jen pakai kalung itu...


Jen, dokter bilang nenek tuh hebat lho!


Kata dokter, untuk penyakit macam nenek, biasanya orang cuma bisa bertahan beberapa bulan aja, tapi nenek, nenek tetap bertahan, setelah beberapa tahun.


Nenek yakinkan diri nenek untuk terus bertahan untuk Jenny...


Nenek mau lihat cucu yang paling nenek sayang, bersanding dengan laki-laki yang sempurna...


Aku kembali menangis sejadi-jadinya ketika membaca tulisan tadi...


Bahkan sampai akhir hayatnya, aku belum juga bersanding dengan siapapun...


Aku kembali menguatkan hatiku untuk kembali membaca isi surat dari nenek


Jen, nenek sudah pilihkan kamu jodoh yang nenek sangat yakini, pasti dapat menggantikan nenek untuk jaga Jen... Nenek tahu, awalnya Jen pasti agak ragu, tapi nenek yakin, Young Joon adalah satu-satunya laki-laki yang tepat untuk Jen...


Jen, Young Joon nggak pernah absen untuk temuin nenek setiap tahunnya, sikapnya semakin meyakinkan nenek, kalau dia adalah laki-laki yang cocok untuk cucu kesayangan nenek...


Waktu itu Jen pernah tanya sama nenek, kenapa harus Jen, dan bukan Clara yang di jodohkan?


Nenek jawab sekarang ya, sayang...


Pertama, Clara adalah anak dari anak perempuannya nenek, yang artinya, segala hal tentang Clara, adalah hak serta tanggung jawab daddy nya Clara...


Bukan, bukan berarti papa nggak punya hak dan kewajiban atas Jen!Bukan sama sekali!


Jen tetap hak papa, tapi kebahagiaan Jen, adalah tanggung jawab nenek...


Nenek nggak mau lihat cucu yang paling nenek sayang, jatuh ke dalam pelukan orang yang salah...


Jen... Firasat nenek nggak pernah salah...


Kamu tahu, sebelum papa kamu mengenal mamamu, papamu dulu pernah pacaran sama teman SMA nya, dan nenek bilang sama papa, perempuan itu, bukan perempuan baik!


Papa tadinya nggak percaya sama omongan nenek, sampai akhirnya, pacar papa itu ninggalin papamu untuk nikah sama laki-laki yang lebih kaya!


Dan saat papa bawa mamamu ke rumah ini, firasat nenek mengatakan, perempuan ini bisa membawa anak nenek ke dalam kehidupan yang bahagia...


Dan itupun terbukti!


Tapi Jen, sekalipun nenek dan mendiang nenek Young Joon pernah saling berjanji untuk menjodohkan cucu kami masing-masing, namun jika sikap Young Joon ternyata nggak sesuai kriteria yang nenek cari untuk cucu nenek, nenek nggak akan segan-segan mengingkari janji ini...


Tapi anak ini...


Nenek rasa, sudah agak sulit menemukan anak seperti Young Joon di dunia ini...


Nenek nggak bisa menjelaskan secara detail, seperti apa Young Joon, karena keterbatasan fisik nenek untuk menjelaskan itu semua melalui tulisan...


Hanya saja, sebelum nenek merasa bersalah karena mungkin kamu akan berpikir kalau nenek terlalu memaksakan kehendak nenek...


Nenek nggak akan maksa Jenny untuk nikah sama Young Joon, kalau Jenny merasa terbebani... Karena kebahagiaan Jenny, adalah kebahagiaan nenek juga...


Nenek nggak mau lihat cucu nenek merasa tersiksa akibat permintaan konyol nenek...


Nenek cuma mau lihat cucu nenek bahagia dari sini...


Jenny, untuk terakhir kalinya nenek pesan sama Jenny... Jenny bebas memilih siapapun yang akan jadi pendamping hidup Jen nanti..


Nenek nggak mengharuskan Jen untuk nikah sama Young Joon, nggak sama sekali, sayang...


Dan kalaupun pada akhirnya Jen mau nikah sama Young Joon, nenek harap, itu memang karena keinginan Jen, bukan karena Jen merasa terbebani dengan keinginan nenek...


Nenek akan selalu menyayangi Jen, sampai kapanpun... Jaga diri baik-baik ya, sayang...


Jangan terlalu lama terlarut dalam kesedihan, setelah nenek pergi... Nenek mau lihat Jen selalu bahagia...


Karena kalau Jen bahagia, nenek sudah pasti bahagia disini...


Peluk dan cium nenek, untuk cucu nenek tersayang...


Aku kembali menangis, sambil terus memeluk surat yang nenek tulis...


Ya! Ada rasa nyeri yang teramat, di dalam hatiku...


Nenek...


Orang yang paling ku sayangi di dunia ini..


Orang yang berkata, bahwa kebahagiaanku adalah tanggung jawabnya, bahkan lebih mementingkan perasaanku di atas egonya, sekalipun mungkin egonya adalah benar...


Bukankah nenek selalu mewujudkan segala impianku? Bukankah walau dengan berat hati, nenek akhirnya mewujudkan impianku untuk melanjutkan kuliahku di Universitas yang ku inginkan, meskipun aku harus pergi jauh darinya?


Tapi mengapa, aku tidak dapat mewujudkan satu-satunya keinginan nenek?


Tidakkah aku yang egois disini? Bukannya nenek!


"Nenek..." Ucapku lirih, seraya memasukan kembali surat dan juga foto kebersamaanku dan nenek ke dalam kotak kecil itu.


Aku kemudian berjalan dengan langkah gontai ke arah lemari nenek, kemudian meletakkan kotak kecil itu, di dalam sana, lalu kembali merebahkan diriku di atas ranjang nenek, dan terus memeluk selimut nenek.


"Nek... Jen mau nikah sama Young Joon... Jen bersumpah, Jen nggak ngerasa terbebani sedikitpun... Ini murni keinginan Jen, nek..." Ucapku tersenyum tegar, dan kembali meneteskan air mata...


...****************...


 


Tiga hari semenjak kepergian nenek, aku masih tetap berada di kamar nenek, dan hanya sesekali keluar kamar, hanya untuk sekedar makan keluarga, dan kembali masuk ke kamar setelahnya.


Namun malamnya, ada hal mendesak yang mengharuskanku untuk menghadiri pertemuan malam itu...


Sudah ada kedua orang tuaku, Clara serta kedua orang tuanya dan kak Victor. Kemudian... Young Joon dan kedua orang tuanya...


Aku duduk di antara kedua orang tuaku, yang secara langsung, kami bertiga duduk berhadapan dengan Young Joon dan juga kedua orang tuanya.


"Baiklah, mengingat amanat dari mendiang ibu kami, bagaimana pendapat kalian tentang pernikahan Young Joon dan Jenny?" Papa membuka percakapan.


Suasana hening sejenak, hingga...


"Apakah ini tidak terlalu cepat? Nenek baru 3 hari yang lalu meninggalkan kita." Ucapku menatap kosong, ketika mendengarkan diskusi keluarga tentang rencana pernikahan kami.


"Jen, itu pesan terakhir nenek..." Papa mengusap lembut punggungku.


"Mungkin benar apa yang Jennifer katakan, dia butuh waktu untuk mengenang kembali kebersamaan dengan neneknya." Sahut Young Joon.


Aku segera menatap wajahnya, dan entah mengapa, air mataku menetes begitu saja.


Akhirnya, setelah memikirkan ini secara matang, kami semua sepakat untuk melaksanakan pernikahan, dalam waktu sebulan ke depan.