
Aku terpaku mendengar ucapan Young Joon. Dia mau mengantarku, itu tandanya, aku akan kembali melalui perjalanan dengannya.
Sejujurnya, aku tidak merasa keberatan sama sekali, hanya saja...
"Kau melamun lagi?" Kata-kata Young Joon membuyarkan lamunanku
"Eh? Bagaimana?" Kataku sedikit gugup.
Young Joon melipat kedua tangannya, dia menatapku heran.
"A-aku... "
"Apa ada yang membebani pikiranmu?" Tatapan mata Young Joon begitu dalam.
Aku menghela nafas panjang, Young Joon segera mendekat.
"Aku tidak langsung pulang." Kataku, Young Joon mengerutkan dahinya
"Maksudmu?"
Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, karena jujur saja, agak bingung untuk menjawab pertanyaan ini.
Jika aku jawab bahwa aku akan ke apartemen Clara terlebih dahulu, laki-laki yang selalu ingin tahu ini pasti bertanya, untuk apa?
Dan itu akan membuatku kesal! Jadi aku memutuskan untuk mengatakan tujuan utamaku kepadanya.
"Aku mau mengunjungi gallery baju pengantin siang ini, dan tempatnya tidak jauh dari rumah Clara, jadi..."
"Kau mau fitting gaun pengantin?" Young Joon memastikan. Aku menatap wajahnya, kemudian mengangguk samar.
Aku dapat melihat dengan jelas, Young Joon tampak menahan senyum di wajahnya.
"Jen, anak-anak udah pada kumpul di depan, tuh! Yuk, ah!" Ucap Clara sambil menyeret kopernya.
Aku langsung menoleh ke arahnya
"Ra, tunggu!" Kataku kemudian menghampirinya, Clara pun menghentikan langkahnya
"Ada apa?" Sahutnya.
"Gini, kita kan mau ke apartemen lu dulu, nah, Young Joon kan mau nganter gw, jadi..."
"Gw malas jadi obat nyamuk, ya!" Ketus Clara, kemudian melanjutkan langkahnya. Aku bergegas menghadangnya.
"Please..." Ucapku memohon.
...****************...
Pada akhirnya, Clara setuju untuk pulang ke apartemennya bersamaku dan juga Young Joon.
Dia langsung memilih untuk duduk di kursi penumpang, dan melarangku untuk duduk bersamanya, dengan alasan, ingin tidur disana.
"Gw disini ya, Jen! Gw mau lanjutin tidur gw, lu kan tau, semalam gw kurang tidur!" Ketusnya ketika aku hendak membuka pintu mobil tadi.
Benar saja, sepanjang perjalanan, Clara benar-benar memejamkan matanya.
Entah karena memang rasa kantuk, atau karena ucapannya tadi pagi, bahwa dia tidak ingin menjadi obat nyamuk? Hahahahahaa! Ada-ada saja gadis ini.
Lalu, aku dan Young Joon?
Sepertinya biasa, kami selalu membisu di awal perjalanan, hingga pada akhirnya salah satu diantara kami memecahkan keheningan.
"Omong-omong, apa aku boleh ikut bersamamu?" Ucapnya memecahkan keheningan.
"Eh? Apa?" Kataku menoleh ke arahnya.
Young Joon tersenyum, dan menoleh ke arahku sekilas
"Apa aku boleh ikut bersamamu ke gallery?" Young Joon kini menatapku.
Lampu lalu lintas kini berwarna merah, itu sebabnya Young Joon dapat menatapku tanpa harus sesekali menoleh ke arah jalan.
Aku yang semula menatap wajahnya, kini sedikit tertunduk. Entahlah! Tiap kali tatapan kami saling beradu, ada sesuatu yang sedikit mengusik hatiku.
Aku memutuskan untuk menoleh ke arah jalan, dan memperhatikan lampu lalu lintas, berharap itu segera berganti warna, dan membuat Young Joon tidak lagi menatap wajahku lama-lama.
"Hey! Itu sudah berwarna hijau!" Kataku seraya menunjuk ke arah lampu lalu lintas.
Young Joon segera menoleh ke arah depan, kemudian memijak pedal gas.
Suasana kembali hening, hingga tiba-tiba ponselku bergetar. Saat ku raih ponselku, ternyata Mike menghubungiku.
Aku sedikit ragu untuk menjawab panggilan Mike, hanya saja, ku pikir sudah terlalu lama kami tidak saling terhubung, bahkan aku sempat menolak panggilan darinya beberapa kali.
"Mengapa kau tidak menjawab panggilan itu?" Ucap Young Joon.
Aku terkejut mendengar ucapan Young Joon, hinga akhirnya aku menjawab panggilan Mike.
"Ya, Mike..." Sapaku di seberang sini
"Mengapa kau selalu menolak panggilanku?" Ketus Mike di seberang sana.
Yeah! Begitulah Mike! Dia selalu saja mempermasalahkan hal kecil!
Dia juga sering menaikkan suaranya kepadaku, namun... Mike tidaklah seburuk itu!
Aku tidak akan menerima cintanya jika dia tidak memiliki hal yang membuatku luluh!
Mike adalah orang yang cukup pengertian, walaupun tidak terlalu!
Dia pria yang baik, dan rela melakukan apapun demi aku.
Ketika dia menyatakan perasaannya kepadaku dulu, sejujurnya dia sedikit memaksaku untuk menerima cintanya.
Jujur saja, jika bukan Rob yang membujukku untuk menerima cinta Mike, mungkin saat ini aku tidak akan menjadi kekasih Mike.
Namun bujukan Rob bukanlah satu-satunya alasan mengapa aku akhirnya menerima cinta Mike! Satu hal yang membuatku akhirnya menerima cintanya, sekaligus tetap mempertahankan hubungan ini adalah...
Mike tetap ingin menjadi kekasihku, walaupun AKU TIDAK MEMILIKI SEDIKITPUN RASA CINTA KEPADANYA, SAMPAI HARI INI!
Dan jika kalian berpikir bahwa aku menerimanya karena rasa iba, itu mungkin saja!
Aku masih mengingat dengan jelas ucapannya waktu itu.
"Setidaknya, kau mau menjadi milikku... Itu saja sudah cukup. Itu (perasaan cinta) bisa bertumbuh seiring berjalannya waktu, dan akan ku pastikan, itu akan terjadi!" Ucapnya waktu itu.
Satu hal lagi!
Sampai hari ini, Mike masih menghormati prinsipku selama berpacaran dengannya.
Sebelum menerimanya sebagai kekasihku, aku memberi Mike persyaratan, yaitu...
Hal paling jauh yang dapat kami lakukan adalah, tidak lebih dari mencium kening dan memeluk!
Dia setuju, dan itu masih berlangsung sampai detik ini.
Kedua orang tuaku tidaklah mengetahui hubungan kami. Yang mereka tahu, Mike adalah sahabatku, sama seperti Rob!
Mike pernah protes akan hal itu, namun aku beralasan kepadanya bahwa, orang tuaku tidak memperbolehkanku untuk menjalin hubungan dengan siapapun, sebelum aku menyelesaikan kuliahku, dan Mike pun mengerti, walau dengan berat hati.
"Mike, ada hal penting yang ingin ku katakan kepadamu." Kataku
"Hal penting apa?" Katanya di seberang sana
"Aku akan menghubungimu nanti." Sahutku
Menyakitkan setiap kali mendengarnya mengucapkan kata 'aku mencintaimu' kepadaku.
Selama hampir dua tahun kami menjalin kasih, tidak pernah sekalipun aku membalas ketika dia berkata demikian, bahkan walau hanya melalui pesan atau sekedar menyenangkan hatinya, aku tidak pernah berkata 'aku juga mencintaimu' kepadanya.
Kalaupun sangat terpaksa, aku hanya akan menjawabnya dengan 'aku menyayangimu'.
Mike tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Aku memahami mengapa dia sering kali menaikan suaranya kepadaku, atau terlihat tampak tidak begitu mengerti diriku. Aku memahami betapa terkadang dia kehilangan batas sabarnya terhadap sikapku.
Namun yang membuatku salut terhadapnya, dia tetap bertahan, dan masih terus berusaha untuk mengambil hatiku.
Ku pikir, hari ini adalah saatnya Mike harus mengakhiri usahanya yang akan sia-sia...
Ya! Aku harus menghentikan ini semua.
"Apa tadi adalah teman..."
"Dia adalah kekasihku." Aku menyela ucapan Young Joon, kemudian menoleh ke arahnya.
"Gila lu ya!" Clara tiba-tiba terbangun dari 'tidurnya' dan mencondongkan tubuhnya agar dapat menatap wajahku lebih dekat, di kursi depan.
Young Joon yang terkejut, memijak pedal rem mendadak ketika lampu lalulintas berwarna merah, hingga membuat tubuh Clara terpental dan membentur dashboard.
"Aaaawwwww!!!" Pekik Clara.
Aku dan Young Joon langsung meraih tubuhnya, agar Clara dapat menegakkan kembali tubuhnya.
"Lu nggak kenapa-kenapa, Ra!" Ucapku khawatir, melihat sepupuku yang kini sudah kembali duduk di bangku belakang, sambil terus mengusap-usap kepalanya yang terkena benturan tadi.
Young Joon menoleh ke arah belakang.
"Mengapa kau tidak menggunakan sabuk pengamanmu?" Ujar Young Joon.
Clara menoleh ke arah Young Joon.
"I-itu..." Ucap Clara merasa bersalah, kemudian menatap tajam ke arahku.
"Jen, lu gila ya!" Pekik Clara.
Aku sungguh terkejut melihatnya seperti itu.
"Gila gimana?!" Sahutku heran
"Bisa-bisanya lu ngomong gitu di depan calon laki lu!" Clara terlihat sangat kesal.
"Maaf?" Young Joon menoleh ke arah Clara.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, hanya saja, Clara... Dapatkah kau menggunakan sabuk pengamanmu?" Ucap Young Joon, kemudian melajukan kembali kendaraan.
Clara yang merasa tidak enak akhirnya memakai sabuk pengaman.
"Ra, maksud lu gimana, sih?" Aku membalikkan tubuhku ke arah kursi belakang.
Clara yang masih terlihat kesal, kini menghela nafas kasar
"Huuufftt... Jen! Lu masih sama Mike?" Aku tersentak mendengar ucapan Clara.
"Te-terus, masalahnya?" Kataku terbata-bata
"Lu tau kan, bentar lagi, lu tuh nikah!" Umpat Clara.
"Ya te-terus gw harus gimana?!" Sinisku, kemudian kembali menghadap jalan.
"Hahaha! Wow! Kocak lu! Menurut lu apa!" Clara sedikit berteriak kini.
Dan aku kembali menoleh ke arahnya
"Ko' lu jadi bentak gw, sih!" Ketusku
"Ya jelas, lah!" Sahut Clara
"Young Joon udah tau, ko'!" Balasku
"Terus, kalo dia udah tau..."
"Nanti gw bakalan ngomong sama Mike, kalo gw mau nikah! Puas lu!" Kesalku, kemudian kembali ke posisi semula.
Clara... Dia adalah gadis modern yang cukup relijius. Baginya, pernikahan adalah hal sakral yang tidak dapat di permainkan.
Dia pernah berkata kepadaku, bahwa dia akan menikah ketika menemukan orang yang tepat, karena ia ingin pernikahannya hanya terjadi satu kali seumur hidup!
Karena dia tidak ingin mengingkari janjinya di hadapan Tuhan, saat dia berikrar di depan altar nanti.
Itulah sebabnya, dia sangat marah ketika mendengar aku masih menjalin hubungan dengan Mike, ketika pernikahanku akan berlangsung kurang dari sebulan lagi.
"Lu bebas menjalin hubungan sama siapapun dalam waktu bersamaan saat status lu belum jadi istri/suami orang! Tapi kalo lu udah jadi istri/suami orang, semua udah beda!" Ucap Clara waktu itu, disaat aku menegurnya, karena kerap kali memiliki 'hubungan ganda'.
"Laaahh! Kenapa bisa gitu? Ko' lu kocak, sih?" Protesku kalau itu.
"Karena saat pacaran, perjanjian lu cuma sebatas antara lu sama pacar lu! Beda sama nikah! Saat nikah, Kita tuh bikin perjanjian nggak cuma sama pasangan! Tapi juga Tuhan! Paham lu!" Ucap Clara
...****************...
Kami telah tiba di apartemen Clara.
Young Joon memutuskan untuk langsung pulang, dan berkata bahwa akan kembali lagi, begitu kami akan ke gallery.
Saat aku merebahkan tubuhku di atas ranjang Clara, Clara tiba-tiba menghampiriku, dan ikut merebahkan tubuhnya tepat di sampingku.
"Jen! Yang bener aja! Nyali lu gede amat ngomong kaya' tadi sama si Young Joon!" Ucapnya seraya menopang kepalanya dengan tangan, menatapku.
Aku menoleh ke arahnya
"Ngomong apaan?" Jawabku sedikit malas
"Ya lu ngomong kalo yang nelpon lu tuh, cowok lu! Gila! Sumpah!" Clara langsung duduk.
"Ya, kan emang begitu kenyataannya! Masa' iya gw kudu bohong sama dia, kalo yang nelpon gw tuh nyokap gw! Kan nggak mungkin! Aneh lu!" Sahutku, kemudian berbalik membelakangi Clara.
Clara langsung menarik tubuhku, agar kembali menghadap kepadanya
"Woy! Jennifer! Lu benar-benar ya!" Aku langsung duduk, dan menatap wajah Clara
"Nanti malam, gw bakalan ngomong sama Mike, gw bakal nikah bulan depan, puas!" Kataku kemudian kembali merebahkan tubuhku.
Sejujurnya, aku sedikit dilema saat ini.
Ya! Ini tentang Mike...
Bagaimana cara untuk mengatakan kepadanya tentang pernikahanku, tanpa melukai hatinya?
Hanya itu...
Aku cukup mengenal Mike! Dia sosok yang terlihat tangguh di luar, namun begitu rapuh di dalam.
Dia pernah menangis histeris, ketika aku berkata bahwa hubungan kami tidak akan berhasil.
Aku memang pernah berkata, bahwa dibanding kepada teman-temanku, aku lebih siap mengatakan tentang pernikahanku kepada Mike, tapi kini...
Namun setidaknya, bukankah Mike juga berhak bahagia? Bukankah dia berhak mendapatkan sosok yang dapat mencintainya dengan tulus, bukan karena rasa iba?