
Pukul 7 pagi, aku telah siap, dengan riasan, serta gaun pengantin yang ku impikan...
Aku menatap bayangan diriku di sebuah cermin besar yang ada di hadapanku kini, kemudian mengusap lembut wajahku.
Aku tidak pernah ber make up seperti ini.
Ini tidak tebal, tidak juga terlalu tipis, namun, sempurna!
Aku bahkan hampir tidak mengenali diriku sendiri saat ini, bahkan hati kecilku seolah berkata.
'Siapa dia? Siapa gadis itu? Mengapa dia begitu cantik dengan balutan gaun itu? Apakah benar, itu adalah kau, Jennifer?'
Aku tersipu malu, begitu mendengar kata hatiku.
Gaunnya begitu pas di tubuhku! Gaun ini seolah memang dibuat khusus untukku!
Sejujurnya, aku memiliki ukuran tubuh yang dapat dikatakan, biasa saja.
Tinggi badan yang hanya 160cm, ukuran dada yang tidak besar, namun...
Gaun ini seolah menutupi semua kekurangan itu!
Saat memandangi bayangan diriku disana, aku kembali mengingat mendiang nenekku...
Andai saja, beliau ada disini saat ini...
Andai saja beliau dapat menyaksikan pemberkatan ini, andai saja...
"Jenooolll!!! Ya tuhaaannn!!!" Clara dan Gina menghampiriku, dan terlihat membekap mulut, serta membelalakkan mata seolah takjub.
Aku sumringah melihat mereka.
"Sumpaaahhh!!! Lu caanntiiikkk bangeeeett!!!" Ucap mereka gemas, kemudian memelukku.
"Thanks..." Ucapku kemudian menguraikan pelukan mereka
"Young Joon pasti pangling deh, ngeliat lu begini." Ucap Clara.
Omong-omong tentang Young Joon, bahkan sampai detik ini, dia tidak juga menghubungiku...
Hanya mendengar namanya saja, membuatku memudarkan senyum di wajahku.
Clara tiba-tiba memelukku dari belakang, serta menopang wajahnya di bahuku, sambil menatap ke arah cermin di hadapan kami saat ini.
"Lu berdua bakalan jadi pasangan yang sempurna! Lu cantik, berpendidikan, udah gitu, berkarakter pula!" Katanya, kemudian bergeser ke hadapanku, lalu menyentuh wajahku dengan kedua tangannya.
"Dan Young Joon yang ganteng, mapan, udah gitu baik!" Katanya sambil menatap wajahku.
Aku termenung mendengar ucapan Clara
"Woooy!!! Ambil foto dulu, dooonkkk!!!" Gina dengan hebohnya berlari ke arah kami, sambil mengacungkan ponselnya.
Kami pun tertawa riang, dan mengambil beberapa gambar untuk di abadikan, hingga...
"Eheemmm..." Seseorang berdehem di pintu kamarku yang memang sudah terbuka.
Aku segera menoleh ke arahnya, dan langsung berlari menghampirinya, kemudian memeluknya.
"Papa...." Ucapku penuh keharuan.
Dapat kurasakan, papa menahan tangisnya.
Dan akupun segera menguraikan pelukanku, kemudian menatap wajahnya.
Mata papa berkaca-kaca, dan aku segera mengusapnya.
"Pa..."
"Sayang... Kamu benar-benar cantik, nak!" Ucap papa, yang akhirnya tak kuasa menahan tangisnya...
Mama menghampiri kami, kemudian memelukku.
Akupun tidak kuasa menahan tangisku, hingga akhirnya mama melepaskan pelukannya.
"Nanti make up nya luntur, lho!" Canda mama, dan akupun tertawa di sela tangisku.
Papa kemudian menangkap wajahku, dengan kedua tangannya.
"Sayang, nenek pasti bahagia di sana." Ucap papa, kemudian mengecup kening, serta puncak kepalaku.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" Seru mama, dan kami semua pun mengiyakan.
Dan saat aku baru saja hendak masuk ke dalam mobil, mbok minah tiba-tiba berlari menghampiriku, sambil membawa tas kecilku.
"Mbak Jenny, ini kaya'nya hape mbak Jenny bunyi deh." Ucap mbok minah, kemudian berlalu
Ku pikir, itu adalah Young Joon, namun saat ku tatap layar ponselku, ternyata Mike...
"Ma, aku mau pipis dulu sebentar, ya." Kataku kepada mama.
"Ya udah, jangan lama-lama ya, sayang." Ucap mama, kemudian aku berlalu.
Beruntung, gaunku tidaklah memiliki ekor, jadi ini tidak begitu membatasi pergerakanku.
Aku segera menjawab panggilan, dan sedikit berlari menuju kamarku.
"Ya, Mike..." Kataku di seberang sini
"Wow... Aku terkejut sekali melihat postingan terbarumu dengan teman-temanmu..." Mike terdengar seperti mengejekku di seberang sana
"M-maksudmu..."
"Kau terlihat cantik dengan gaun itu..."
"Deeeegggggghhh!!!"
Ucapan Mike sungguh menghujam jantungku, dan membuatku tersentak, hingga tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Jikapun pernikahan itu benar adanya, jangan pernah berpikir bahwa hubungan ini telah berakhir!" Suara Mike bergetar di seberang sana, sebelum menutup panggilan.
Aku terdiam dan terpaku disini... Nafasku terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat mendengar ucapannya!
Aku begitu mengenal Mike! Dia tidak akan pernah main-main dengan ucapannya! Dia pasti akan...
"Jenny sayang..." Suara mama membuyarkan lamunanku. Aku segera memasukkan ponselku ke dalam tas kecil, kemudian menghampiri mama.
...****************...
Aku bahkan tidak begitu menghiraukan percakapan antara mama dan papa tentang pernikahan ini, hingga akhirnya kami sampai di depan gereja.
"Sudah sampai, yuk!" Ajak papa kepadaku.
Aku menatap papa, kemudian tersenyum.
Kak Victor membukakan pintu mobil, kemudian meraih tanganku.
Sebelum menyerahkanku kepada papa, kak Victor sempat berkata.
"Kakak nggak nyangka, Jenny cantik banget hari ini...." Ucapnya sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya, dan aku pun tersenyum.
"Jen, kita memang nggak begitu dekat, tapi percayalah, kakak sayang sama Jenny, sama seperti kakak sayang sama Clara..." Ucapnya kemudian memelukku, dan air mataku pun kembali menetes.
...****************...
Saat memasuki gereja, dengan di tuntun oleh papa, dan diiringi oleh pengiring pengantin, dunia seolah berhenti berputar, ketika sosok itu menatapku disana...
Laki-laki itu menatapku dengan tatapan seolah takjub.
Dia tidak berkedip, bahkan sedikit membuka mulutnya.
Itu membuatku semakin gugup, bahkan ketika kami kini telah saling berhadapan, sesaat setelah papa menyerahkanku kepadanya.
Ketika pastor memberi aba-aba kepadanya untuk mengucapkan ikrarnya, tiba-tiba dia berkata...
"Aku bersedia..." Ucapnya masih terus menatapku, dan itu membuat pastor bingung, hingga para tamu undangan tertawa!
"Apa aku begitu mempesona hingga membuatmu tuli!" Ketusku kepada Young Joon yang saat ini salah tingkah
"Oooh... I-itu..." Ucapnya sambil mengusap belakang kepalanya.
Kemudian pastor mengucapkan ikrar kepada Young Joon.
"Saudara Park Young Joon, apakah saudara bersedia meresmikan pernikahan ini, sungguh dengan ikhlas hati?" Ucap sang pastor, dan suasana kembali khidmat
"Ya, sungguh!" Ucap Young Joon mantap
"Bersediakah saudara mengasihi, serta menghormati istri saudara, sepanjang hidup?"
"Ya, saya bersedia..."
Hatiku bergetar mendengarnya...
Aku bahkan dapat melihat, mamaku dan juga eomma sudah meneteskan air mata di kursi yang terletak tepat menghadap ke arah kami.
Dan ketika pastor mengatakan hal yang sama kepadaku, aku tidak dapat langsung menjawabnya, aku menatap wajah papa, yang mengangguk samar di seberang sana.
"Ya, saya bersedia..." Ucapku, di sambut tepuk tangan meriah para tamu undangan.
Sesaat setelahnya, Young Joon meraih tanganku, dan menggenggamnya erat, kemudian menatap dalam ke arah mataku.
"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, serta para saksi... Maka aku, Park Young Joon, dengan niat yang suci, dan ikhlas hati, telah memilihmu, Jennifer Elizabeth Lie, menjadi istriku...
Aku berjanji untuk selalu setia kepadamu, dalam untung dan malang...
Dalam suka, dan duka...
Di waktu sehat, dan juga sakit...
Dengan segala kekurangan dan juga kelebihanmu...
Aku akan selalu mencintai dan juga menghormatimu, sepanjang hidupku..."
Suaranya terdengar tegas, namun sangat tulus...
Bahkan dapat ku lihat, matanya berkaca-kaca ketika mengucapkan ikrar tadi...
Air mataku menetes, setelahnya...
Young Joon membuka tirai yang sedari tadi menutupi wajahku.
Dan untuk pertama kalinya, Young Joon meraih daguku.
Aku pasrah... Aku tidak ingin melukai hati kedua orang tua kami, jika aku menolak apa yang akan Young Joon lakukan kepadaku saat ini, hingga akhirnya aku lebih memilih untuk memejamkan mata, disertai dengan tetesan air mata...
Namun, percayalah! Young Joon tidaklah mengecup bibirku! Dia malah mengecup keningku!
Jujur saja, aku sangat terkejut!
Aku segera membuka mataku, ketika bibirnya masih menempel di keningku!
Dan ketika Young Joon melepas kecupannya, dia tersenyum menatapku.
"Aku akan selalu menghormatimu, sepanjang hidupku..." Ucapnya sambil tersenyum, dan aku kembali meneteskan air mataku...
...****************...
Setelah pemberkatan, kami langsung menuju tempat resepsi, yang di adakan di sebuah hotel.
Pestanya cukup meriah, hampir semua teman-temanku dan juga teman kantor Young Joon, menghadiri pesta pernikahan kami.
Semua terlarut dalam meriahnya pesta, dan saat aku berdansa dengan papa, ada banyak hal yang papa ucapkan kepadaku...
Dan semua ucapan papa, membuatku meneteskan air mata haru...
Dan kata-kata terakhir yang papa ucapkan, sebelum akhirnya 'menyerahkanku' kepada Young Joon untuk berdansa dengannya adalah...
"Papa bahagia lihat Jen bersanding sama Young Joon..." Ucap papa dengan suara bergetar.
Dan saat aku sudah berada di dalam pelukan Young Joon, aku segera melepaskan pelukannya.
"Aku tidak bisa berdansa..." Ucapku kemudian berlalu, namun Young Joon segera menarik tanganku, dan membawa tubuhku ke dalam pelukannya, hingga membuat tanganku secara reflek, memeluk lehernya...
Kami saling menatap kini... Jarak diantara wajah kami, sungguh sangat dekat, jantungku seolah berhenti berdetak...
Bahkan untuk menelan ludah saja, rasanya sangat sulit.
Young Joon tersenyum...
"Relaks saja... Ikuti iramanya..." Ucapnya kemudian membawa tubuhku diiringi alunan musik romantis, serta cahaya lampu, yang seolah dibiarkan redup...