Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Where's Clarence?



Tidak terasa, sudah 5 hari aku dan Clarence berada di Lombok.


Telah banyak destinasi wisata yang kami kunjungi, dan itu membuat kami sangat bahagia!


Dan sore ini, aku kembali mengajaknya ke suatu tempat...


Yeah, aku mengajak Clarence ke sebuah bukit... Bukit dimana aku bertemu dengan pasangan turis yang waktu itu ku abadikan momen bulan madunya... Bukit dimana aku merasa rendah diri, melihat kemesraan pasangan turis itu, juga... Bukit dimana Young Joon akhirnya menemukanku...


"Hey! Ini indah! Ku pikir, semua yang ada Lombok semuanya indah!" Clarence tersenyum lebar, lalu kembali beraksi dengan kameranya.


"Hmmm... Memang..." Kataku, tanpa menoleh ke arahnya.


"Jenny, aku mau kesana! Sepertinya disana banyak objek yang lebih menarik!" Ujar Clarence seraya menunjuk ke arah nun jauh disana.


"Hah! Kau yakin?" Kataku menatap arah yang ditunjuk Clarence.


"Yeah! Kau mau ikut?"


Aku segera menggeleng.


"Tidak! Aku ingin tetap disini, kau pergilah! Temui aku disini lagi, ketika kau telah selesai." Jawabku, dan Clarence terlihat kecewa.


"Ayolaaahh... Tidak apa-apa... Lagi pula, tidak akan ada binatang buas, ataupun orang jahat disana." Kataku meyakinkannya.


Clarence tampak berpikir, hingga...


"Baiklah! Kau, tetap disini, ya! Jangan ke mana-mana hingga aku kembali!" Serunya, dan aku mengangguk.


Sepeninggal Clarence, aku kembali mengenang momen kalau itu...


Tempat yang sama, serta waktu yang sama...


Yang membedakan hanyalah, tidak ada pasangan turis yang meminta untuk ku abadikan kebersamaannya, dan juga... Park Young Joon, yang tiba-tiba memelukku...


Aku segera berdiri, dan menangkap beberapa gambar, untuk kembali ku abadikan.


Ku tangkap beberapa sudut menarik tempat ini.


Gambar demi gambar, sudut demi sudut, serta, langkah demi langkah...


Aku bahkan merasa seolah, aku tenggelam dalam suasana hati yang entah bagaimana rasanya, satu hal yang pasti... Aku bahagia!


Aku tersenyum lebar, ketika melihat hasil tangkapan gambarku!


Seolah belum puas dengan semua hasil bidikan kameraku, aku kembali hendak membidik gambar lagi.


Dan ketika aku berbalik, hendak membidik, jantungku hampir saja terlepas, ketika menangkap penampakan yang ada di hadapanku, melalui lensa kameraku!


Aku menurunkan kameraku perlahan, dan menatap secara langsung, sosok yang saat ini berdiri dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana, menatapku dengan agak sedikit memiringkan kepalanya.


"Haaaahhh..." Aku menghela nafas kasar, untuk melepas rasa sesak di dadaku.


Mataku terasa perih, menahan air mata yang ku harap tidak menetes, serta... Lututku terasa amat lemas...


Sosok itu masih terus menatapku dengan posisi yang sama.


"Kau..." Ucapku lirih, menatap nanar kepadanya.


Dia menyunggingkan senyum, seolah merasa puas melihat reaksiku.


Kemudian dia melipat kedua tangannya di dada, sambil tersenyum.


"A-apa yang kau la..."


"Bukankah aku telah berkata, bahwa aku akan datang seminggu lagi?" Katanya, kemudian berjalan ke arahku.


"Apa kau melupakan hal itu, nyonya Park?" Ucapnya, dengan wajah hanya berjarak sejengkal dengan wajahku.


Air mataku sudah tak dapat terbendung lagi...


"A-aku..."


Dia segera memelukku... Erat sekali... Dan air mataku, mengalir dengan bebas, di pelukannya, lagi...


"Sakit sekali rasanya, harus kembali berpisah denganmu..." Ucapnya, kemudian mengecup puncak kepalaku.


**********************


Park Young Joon...


Dia kembali menemukanku, di bukit ini...


Dan dia juga kembali memelukku, di bukit ini...


Park Young Joon...


Aku segera menguraikan pelukannya, kemudian menghapus sisa air mataku.


"Young Joon, aku..."


Young Joon segera meraih daguku, untuk menatapnya.


"Mengapa tidak menungguku, jika ingin kesini, huh?"


Caranya mengatakan hal itu, dengan wajah seperti ini, membuat hatiku bergetar.


Aku segera melepaskan diri darinya, kemudian berjalan, dan membelakanginya.


"Sudah ku katakan kepadamu, biarkan aku sedikit bernafas..." Kataku kemudian mendekap tubuhku.


Young Joon lalu menghampiriku, lalu memelukku dari belakang, dan meletakkan wajahnya di sela-sela leher dan bahuku.


"Apa berada di dekatmu, begitu membuatmu sesak, hmmm?"


Hening, hingga akhirnya aku kembali melepaskan diriku, lalu menghadap ke arahnya.


"Buka begitu, hanya saja..."


"Apa ada orang lain?" Sinisnya kali ini, dan itu cukup membuatku terhenyak.


"Apa kau pergi dengan orang lain?" Young Joon kini mengintimidasiku, dan itu membuatku kehabisan kata-kata.


"Apa itu pria yang waktu itu kau temui di..."


"Park Young Joon!" Aku agak meninggikan suaraku kini, dan itu cukup membuat Young Joon merasa bersalah.


"A-aku tidak bermaksud..."


"Jangan pernah berpikir, dengan statusku yang kini adalah seorang janda, kau dapat me..."


Kecupan hangat mendarat di bibirku...


Kening kami saling bersentuhan, ketika aku menghentikan ciuman ini.


"Tidak... Aku tidak pernah memikirkan hal buruk tentangmu... Tidak sama sekali..." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Seketika aku kembali mengingat Clarence!


Sudah cukup lama dia meninggalkanku disini!


Aku segera menoleh ke arah jam tanganku.


Pukul 17.18!


Sudah hampir 2 jam dia pergi!


Kemana dia!


"Ada apa, sayang?" Young Joon terlihat cemas, melihatku gelisah.


"Young Joon, begini... Aku kesini bersama temanku, dia pergi hampir 2 jam yang lalu, dan belum juga kembali!" Ucapku seraya mencari kontak Clarence di ponselku, lalu menghubunhinya, begitu ku temukan kontaknya.


'Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif! Cobalah...'


Ada apa ini? Mengapa ponselnya tidak aktif?! Apa yang terjadi kepadanya? Kemana dia pergi?!


"Ada apa?" Young Joon menghampiriku yang saat ini sungguh panik!


"Young Joon, ponselnya tidak aktif!"


"Kemana dia berkata ingin pergi, tadi?"


"Kesana!" Kataku, seraya menunjuk ke arah bukit yang tadi Clarence tunjukkan.


"Baiklah, ayo kita cari dia disana!" Ujar Young Joon, kemudian kami berjalan me arah sana.


*****************************


Pukul 19.55, matahari telah terbenam, namun kami belum juga menemukan Clarence!


Beberapa orang yang kami jumpai, juga berkata bahwa mereka tidak pernah melihatnya, ketika aku menunjukkan foto Clarence!


Kemana dia?!


Young Joon akhirnya memutuskan untuk mencarinya dengan cara menyusuri jalan ke arah penginapan, dan akupun menyetujuinya.


"Bukankah ini mobil..."


"Yeah, aku menghubungi Pak Imam, sebelum berangkat kesini." Ucap Young Joon, sesaat sebelum melajukan mobil.


Aku mengangguk samar, lalu kembali fokus ke arah jalan, berharap kami menemukan Clarence.


Sepanjang perjalanan, aku tidak henti-hentinya menoleh sisi kiri dan kanan jalan, berharap dapat menemukan Clarence, namun nihil!


Aku juga terus menghubungi ponselnya, secara berulang, berharap ponselnya sudah dapat dihubungi, juga nihil!


Kemana anak bodoh itu pergi!


Mengapa dia begitu menyebalkan begini!


"Sayang, tenangkan dirimu dulu... Kita pasti akan menemukannya, ya..." Young Joon meraih tanganku, berusaha untuk menenangkanku.


Namun tetap saja, aku masih belum merasa tenang, sebelum aku menemukan bocah sialan itu?!


"Sayang, bagaimana kalau kita ke penginapan? Siapa tahu dia ada disana?" Young Joon menoleh ke arahku sekilas.


"Eh?"


Apa yang dikatakan Young Joon, ada benarnya juga!


Mungkin Clarence pulang lebih dulu ke penginapan, setelah...


Jangan-jangan Clarence mengetahui keberadaan Young Joon, dan dia langsung kembali ke penginapan?!


Tapi, itu bukanlah tindakan yang benar!


Bukankah itu sungguh kekanak-kanakan, jika Clarence benar-benar pergi, karena hal itu?!


Namun, apa mungkin...


Akhirnya kami tiba di penginapan.


Aku buru-buru keluar dari dalam mobil, dan bergegas menuju kamar Clarence.


'Tok... Tok... Tok!'


"Clare! Apa kau di dalam?!"


'Tok... Tok...'


"Cari siapa, mbak?" Tiba-tiba seseorang menyapaku, dan aku lantas menoleh ke arahnya.


"Eh, i-iya mas... Mas tau, yang nempatin kamar ini?" Kataku.


"Iya, Mister itu... Tadi pas sore, dia kesini, habis itu, nggak lama kemudian, pergi lagi bawa koper. Sepertinya buru-buru sekali, mbak."