Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Rahasia Kecil Park Young Joon



POV Young Joon


Satu hari sebelum pernikahanku dengan Jennifer, Kimberly datang ke kantorku!


"Apa yang kau lakukan disini!" Suaraku agak tinggi kepada gadis yang saat ini telah duduk di hadapanku


"Ayolah Oppa! Tidakkah kau ingin memberikan pelukan hangat kepadaku, sebelum hari pernikahanmu besok?"


Gadis ini tampak sangat santai sekali, membuatku tidak habis pikir dengannya!


"Minumlah denganku malam ini, jika tidak ingin pestamu ku buat rusak besok!" Ucapnya santai, kemudian pergi, setelah meninggalkan sebuah kertas bertuliskan alamat di meja kerjaku.


Aku segera meraih kertas itu, sesaat setelah Kimberly meninggalkanku.


Aku sempat memikirkan kata-katanya barusan, hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya malam ini!


Ya Tuhan! Aku bahkan melupakan jadwalku hari ini untuk pergi ke gereja!


Sial! Gadis itu benar-benar mengacaukanku!


...****************...


Sepanjang perjalanan menuju gereja, pikiranku sungguh berkecamuk!


Perkataan Kimberly begitu mengusik hatiku, hingga membuatku tidak fokus dalam mengemudi!


Aku bahkan beberapa kali diberi peringatan oleh pengemudi lain, ketika aku tidak juga melajukan mobilku, ketika rambu lalu lintas berwarna hijau!


Ketika tiba di gereja, aku menatap wajah Jennifer sekilas.


Ada sedikit rasa lega di hatiku, melihat keadaannya saat ini, maksudku, dia tidak terlihat tertekan sama sekali, bahkan selama proses yang kami lakukan di gereja.


Kau tahu, walaupun sejenak, ketika aku berlatih mengucapkan sumpah janji pernikahan yang akan ku ucapkan di hari pernikahanku esok, ada sensasi aneh, entah sensasi seperti apa, yang jelas... Aku sangat, bahkan teraaaamaaaat bahagia!


Yeah! Ikrar yang ku ucapkan, walau hanya sebatas 'simulasi', itu dapat membuatku melupakan ucapan Kimberly, walau hanya sejenak!


Ketika semua proses telah kami jalani, aku teringat akan suatu hal!


Harusnya aku dan Jenny menata apartemen kami hari ini!


Ku tatap arloji di tangan kiri ku, pukul 11.30!


Tidak! Aku tidak ingin mengajak Jenny bersamaku!


Jenny tidak boleh lelah hari ini, karena esok, adalah hari penting kami, terlebih...


Aku harus menemui Kimberly malam ini, dan aku tidak ingin Jenny mengetahui hal itu!


Jika kau bertanya, mengapa aku menyetujui pertemuan dengan Kimberly malam ini?


Baiklah, akan ku jelaskan satu persatu.


Pertama, Kimberly adalah wanita gila yang terobsesi kepadaku!


Kedua, Kimberly tidak pernah main-main dengan ucapannya,


Dan yang terakhir, Jenny dan Kimberly, saling mengenal!


Yeah! Kami bertiga pernah bersekolah di sekolah dasar yang sama, ketika di China dulu.


Kimberly satu kelas di bawahku, sedangkan Jenny, dia dua kelas di bawahku.


Hubungan mereka kurang baik, bahkan Jenny, yang notabene adalah adik kelas Kimberly, pernah ku dapati hendak meninju wajah Kimberly! Hahahahaaa!


Jenny-ku memang di kenal sebagai preman sekolah!


Entah apa yang membuat mereka berkelahi, yang jelas, aku menahan tangan Jenny, agar dia tidak menyentuh wajah Kimberly.


Bukan! Bukan karena aku tak ingin Kimberly terluka!


Justeru aku takut, Jenny lah yang nantinya akan terluka!


Kau tahu mengapa? Itu karena ayah Kimberly adalah walikota dimana kami tinggal saat itu.


Pernah ada suatu kejadian dimana seorang gadis, teman sekelas Kimberly, harus di keluarkan dari sekolah itu, hanya karena Kimberly tidak menyukai gadis itu selalu meniru dirinya!


Bahkan tidak lama setelah gadis kecil itu di keluarkan dari sekolah kami, keluarga mereka pindah, entah kemana.


Dan aku tak ingin itu terjadi kepada Jenny-ku.


...****************...


Aku telah tiba di dalam unit apartemen. Sudah ada Angga, Denis, serta Bi War, anak dari Mbok Minah, asisten setia, keluarga Jenny.


Sejujurnya, sepulang mengantar Jenny ke rumahnya malam itu, aku menghubungi mama Jenny, untuk meminta izin kepada beliau agar beliau mau 'meminjamkan' salah satu asisten rumah tangga mereka, untuk membantuku menata apartemen.


Mereka pun mengizinkanku membawa Bi War.


Aku juga meminta bantuan Angga serta Denis, mengingat, mereka pasti lebih memahami selera Jenny, dibanding dengan diriku.


Mereka berdua sungguh sangat bersemangat sekali, ketika ku mintai bantuan!


Itulah sebabnya, mereka berdua setuju menemuiku di kantor pagi tadi, untuk mengambil kunci akses apartemen, serta menjemput Bi War dari kediaman keluarga Jenny.


Yeah! Aku cukup mengetahui, bagaimana persahabatan mereka dengan calon istriku ini.


Waktu menunjukkan pukul 19.37, unit ini telah siap 60%!


Setidaknya, kamar Jenny sudah siap 100%!


Yeah, itulah yang terpenting!


"Masih banyak waktu, kalian akan berbulan madu dulu, 'kan?" Ucap Angga kepadaku


Aku tersenyum, kemudian mengangguk.


"Kami akan menyelesaikan ini, selama kalian berbulan madu!" Sahut Denis penuh semangat, walaupun raut wajahnya terlihat lelah.


Aku segera merangkul mereka berdua, kemudian tersenyum.


"Aku sungguh sangat berterima kasih, atas bantuan kalian."


Mereka berdua tertawa, begitupun denganku.


"Apa tidak ada pesta bujang?" Ucapan Denis, membuatku memudarkan senyum di bibirku.


Aku tidak langsung menjawab, karena tidak mungkin aku mengatakan kepada mereka, bahwa aku akan menemui Kimberly, maka...


"Ada beberapa berkas yang harus ku selesaikan..."


Mereka mengerutkan kening, dan aku pun tertawa renyah.


"Ayolah... Aku benar-benar ingin menikmati bulan madu yang indah dengan gadisku, tanpa harus memikirkan urusan kantor."


Mereka berdua tampak mengerti, kemudian tertawa lepas


"Baiklah." kata Angga.


...****************...


Aku sudah berada di dalam bar, yang dimaksud oleh Kimberly.


Dapat ku lihat dia sedang duduk di depan meja yang menghadap ke arah rak berisi berbagai jenis minuman beralkohol.


Aku segera menghampirinya.


"Aaahh... Oppa!" Kimberly segera turun dari kursi dan memelukku dengan erat.


Aku merasa risi sekali dengan kelakuannya!


"Aku sangat merindukanmu..."


Aku segera melepaskan pelukannya, kemudian duduk.


"Aku sudah memesankan ini untukmu." Kimberly menyodorkan sebuah gelas berisi red wine kepadaku. "Minumlah!"


Dia terlihat bersemangat sekali!


"Apa yang kau inginkan?" Kataku tanpa berbasa-basi


"Oppa... Kau ini..." Kimberly tampak menekuk wajahnya.


"Aku hanya ingin melakukan ritual pelepasan!" Kimberly terlihat bersemangat sekali sekarang!


"Apa maksudmu?" Kepalaku agak terasa pening sekarang


"Aku hanya ingin memberikan sesuatu, sebelum aku benar-benar melepasmu." Kimberly kemudian meneguk red wine nya, lalu menuangkan red wine ke dalam gelasku.


"Apa yang ingin kau berikan?" Kepalaku kembali merasakan pening, dan aku kembali meneguk wine yang di tuang Kimberly.


"Sesuatu yang sangat berharga!"


Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan rasa peningku.


Bahkan aku tidak dapat mendengar dengan baik, apa yang Kimberly katakan.


Hingga tiba-tiba, wajah Jennifer melintas di hadapanku.


Jennifer tersenyum kepadaku, sambil terus berbicara, entah apa yang dia bicarakan.


Aku hanya terus tersenyum melihat wajahnya.


Bahkan aku mengiyakan, ketika Jennifer mengajakku segera meninggalkan tempat itu.


...****************...


Kami sudah tiba di sebuah kamar.


Entah mengapa aku merasa bergairah sekali!


Jennifer tampak menanggalkan seluruh pakaiannya, dan menggodaku dengan tubuh 'polosnya'


Aku sudah tidak dapat menahannya lagi!


Yeah!


Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah lama hanya ada di dalam angan-anganku!


Kesempatan untuk menyentuh Jennifer, wanita yang paling ku cintai!


Aku segera melucuti satu per satu pakaianku, dan langsung menyerangnya!


Kemudian, aku tidak tahu, apa yang selanjutnya terjadi, hingga...


Ponselku berdering!


Saat ku raih ponselku, nama "Ibu" tertera di layar ponselku.


"Ya, Bu..." Sapaku di seberang sini.


Aku masih merasakan sedikit pening


"Young Joon, kau tidak pulang malam ini?" Kata-kata ibu benar-benar mengejutkanku!


Aku segera menoleh ke samping!


Dan...


Kimberly!


Apa yang dia lakukan disini?!


"Bu, aku akan segera pulang sekarang!" Kemudian menutup sambungan telepon.


Aku segera bergegas mengenakan pakaianku.


"Oppa... Kau mau kemana?" Suara Kimberly terdengar lemah sekali.


Dia berusaha untuk duduk.


"Kau jantan sekali tadi."


Ucapannya menghentikan kegiatanku.


Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


Entah mengapa, sikapnya membuatku begitu jijik kepadanya!


Aku segera menghampirinya, dan berkata


"Dengar, aku tidak tahu apa yang telah terjadi diantara kita, hanya saja, kumohon..."


"Aku menyerahkannya dengan tulus... Aku mencintai Oppa..." Kimberly memelukku, aku merasa sangat muak dengan gadis ini sekarang!


"Kumohon, jangan pernah hubungi aku lagi! Dan tentang tadi... Maaf! Aku melakukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri."


Aku segera berlalu ke arah pintu keluar, hingga...


"Oppa, aku bahagia memberikan kesucianku kepadamu..." Kata-kata Kimberly menghentikan langkahku.


Bukankah aku begitu brengsek, meninggalkan gadis yang dengan sukarela menyerahkan kehormatannya untukku begitu saja?


Tapi aku sungguh tidak sadar saat melakukannya!


Aku kembali melanjutkan langkahku, seraya melihat ke arah jam tangan, pukul 2 dini hari sekarang!


Aku harus segera menuju apartemenku!


Pagi nanti adalah hari terpenting dalam hidupku!


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, aku kembali mengingat kejadian yang ku alami hari ini!


Apa yang sebenarnya terjadi!


Mengapa aku harus menemui gadis sialan itu!


Apa yang sebenarnya terjadi diantara kami?!


Kalaupun ada suatu hal yang kami lakukan, mengapa aku tidak dapat mengingat itu semua!


Mengapa aku tidak dapat mengingat sedikitpun tentang hal itu!


Namun, bukankah tadi Jenny ada bersamaku?!


Bukankah Jenny bahkan...


"Arrrggggghhhhh!!!" Aku berteriak seraya menarik rambut dengan kedua tanganku.


Sopir taksi bahkan memperhatikanku dari spion dalam mobil.


Jennifer!


Hanya nama, serta wajah itu yang terlintas di dalam benakku...


Jennifer...


Bukankah kita sempat bercumbu dengan gairah yang membara?


Bukankah aku hampir saja dapat menyentuhmu andai saja aku dapat menahan rasa pening yang teramat di kepalaku?


Bukankah...


KIMBERLY!


Ya!


Wanita yang ku cumbu itu, bukanlah Jennifer!


Namun, apakah kami benar-benar melakukan 'hal' itu?!


Apakah aku benar-benar telah merampas kesucian gadis itu?!


Ya Tuhaaaan... Aku benar-benar merasa kacau!