Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Show Must Go On!



Tiga hari setelah kepergian Clarence, aku dan keluarganya berkumpul di kediaman orang tua Clarence, rumah dimana bibi mengajakku.


Yeah! Rumah mewah itu adalah kediaman milik orang tua Clarence!


Seingatku dulu, kedua orang tua Clarence memang jarang berada di rumah, tidak heran jika Clarence selalu merasa kesepian.


Mereka semua masih berkabung atas kepergian putra semata wayangnya, terutama ibunya.


"Aku sungguh sangat menyesal, bahkan di sisa hidupnya, aku tidak berada di sisinya..." Ibu Clarence terisak di dalam pelukan suaminya yang berusaha terlihat tegar.


"Sudahlah... Semua telah terjadi..." Ucap ayah Clarence, menahan air mata.


Kepedihan sungguh sangat menyelimuti rumah ini. Bahkan Matthew yang menurut cerita Clarence adalah pria yang paling menyebalkan, dia terlihat paling murung, semenjak hari pemakaman.


Yeah... Begitulah hidup!


Kau tidak akan pernah tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupmu...


Kau bahkan tidak pernah tahu, apa yang tengah menanti mu, di depan sana...


Satu hal yang pasti, setelah apa yang telah terjadi, entah itu baik ataupun buruk... Hidup harus terus berjalan...


*****************


Setelah 8 hari berada di Amerika, hari ini akhirnya aku kembali ke Jerman.


Keluarga Clarence, terutama bibi Margareth, begitu berat untuk melepas kepergianku...


"Elle, sayang... Jangan karena Clarence telah tiada, kau tidak ingin mengunjungiku lagi..." Ucap bibi tersedu.


"Iya, bi... Aku berjanji, aku akan mengunjungiku, saat waktu luang." Kataku menenangkan.


"Janji?"


Akupun mengangguk, sambil tersenyum lalu memeluknya...


Kembali ke Jerman...


Yeah, ada sesuatu yang beda sekarang...


Tidak akan ada anak tampan yang kapanpun itu, selalu dapat ku andalkan untuk melepas semua kepedihanku...


Yeah!


Kini aku benar-benar akan menanggung semuanya sendiri...


Biarlah, toh aku tidak dapat selalu melibatkan orang lain, dalam setiap permasalahanku, kan?


Pukul 8 malam, aku telah kembali memijakkan kakiku di Bremen, Jerman...


Masa cutiku masih tersisa dua hari lagi, Oh ya! Aoyama beberapa kali menghubungiku, dan aku sempat menjawab panggilannya sekali.


Dia bertanya tentang keadaanku, dan sepertinya dia telah mengetahui tentang alasanku mengambil cuti, walau dia tidak mengetahui secara pasti, kemana aku pergi.


Aoyama hanya berkata, bahwa dia berharap yang terbaik, dia juga berkata...


"Jaga dirimu baik-baik, dan pulanglah dalam keadaan seperti saat kau datang ke negeri ini..."


Lalu Young Joon...


Aku bahkan hampir saja menyerah, untuk selalu menunggunya...


Biarlah, toh kami sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun.


Hanya sebatas 'pacaran', itu tidaklah berarti apapun...


Setelah berkeliling kota selama 2 jam, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke apartemen...


Aku sudah merasa cukup lelah hari ini...


Lelah, sedih, dan hancur...


Semua sudah cukup meremukkan seluruh tubuhku!


Begitu tiba di lobby apartemen, hendak berjalan ke arah lift, duniaku seolah berhenti melihat sosok yang saat ini duduk di sofa lobby, terperangah menatapku sambil tersenyum bahagia...


Binar kebahagiaan begitu tampak di wajahnya... Dia segera berdiri, kemudian menghampiriku, yang saat ini masih membeku...


"A-aku..."


Seketika aku tersadar, dan langsung berjalan ke arah lift, yang kebetulan pintunya telah terbuka, karena ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam sana.


Orang tersebut, tanpa ku minta, segera mengikutiku dari belakang.


Hening, bahkan hingga aku membuka pintu unit apartemenku!


Selain perasaan yang ku rasakan sebelumnya, kini perasaan yang lainnya, ikut bertambah...


Marah, kesal, bahagia, bahkan rindu yang seolah kini telah terlepas, setelah berbulan-bulan lamanya!


Park Young Joon!


Kini dia telah masuk ke dalam apartemenku bersamaku!


Aku menghentikan langkahku, dengan posisi membelakanginya.


Terjadi pergolakan di dalam hatiku saat ini, hingga menyebabkan sebuah sensasi yang bahkan aku sendiri tidak dapat memahaminya!


Ku dengar langkah kakinya mendekat ke arahku, dan... Dia mememelukku dari belakang, lalu mengecup puncak kepalaku...


"Bagaimana keadaanmu? Aku begitu merindukanmu, hingga hampir mati rasanya..." Ucapnya, kemudian mempererat dekapannya.


Aku menarik nafas dalam sambil terpejam, menguatkan diriku, agar mampu untuk melepas dekapannya!


Ya! Aku segera melepas dekapannya, lalu berbalik ke arahnya, dan...


'PAAAAAAKKKKKK!!!!'


"Sayang..." Ucapnya seraya menyentuh pipinya.


Ku lihat sudut bibirnya terluka, namun aku enggan mempedulikan itu, dan kembali melanjutkan seranganku terhadapnya!


Aku memukul tubuh bagian atasnya, bahkan memendang kakinya!


Young Joon tetap diam, seolah memahami perasaanku...


Aku bahkan terus memukulinya, hingga tenagaku benar-benar habis, bahkan aku hampir saja terjatuh, jika saja Young Joon tidak meraih tubuhku...


"Sudah puas?" Ucapnya dengan tatapan teduh


"Lakukanlah lagi, jika kau masih ingin..." Ucapnya seraya memasrahkan tubuhnya untuk kembali ku serang.


Aku menatapnya nanar...


Entah apa yang ku rasakan saat ini, hanya saja...


Aku langsung memeluknya...


Erat... Sangat erat... Enggan sekali untuk melepasnya...


Setengah menjerit aku menangis di dalam pelukannya...


"Maafkan aku... Maafkan aku, sayangku..." Ucapnya kemudian mengecup puncak kepalaku...


Aku segera menguraikan pelukanku, begitu aku merasa telah selesai menumpahkan semua rasa rinduku disana...


Masih, aku masih terisak...


Young Joon menghapus sisa air mata di pelupuk mataku.


"Maafkan aku..." Ucapnya seraya mengangkat daguku.


Aku tersenyum sinis kepadanya.


"Untuk apa kau datang?" Sinisku.


"Aku sudah tidak dapat menahannya lagi..." Ucapnya lirih.


Aku menghela nafas kasar, lalu berpaling darinya, namun Young Joon dengan sigap meraih tanganku, membuatku kembali menatap wajahnya.


"Ku mohon, maafkan aku..."


"Ku pikir aku akan memberimu ruang, agar kau tidak merasa sesak, namun ternyata... Akulah yang merasa sesak disini..." Ucapnya lirih, dengan mata yang berkaca-kaca.


Jadi, selama ini dia tidak menghubungiku, adalah untuk memberiku ruang, agar tidak merasa sesak?


Jadi, selama ini dia telah salah paham atas perkataanku, yang menginginkan ruang agar tidak merasa sesak?


Mengapa dia sangat bodoh dalam memahami ucapanku?!


Tidak berada di dekatnya saja, itu merupakan suatu kehampaan untukku!


Ditambah lagi, tanpa komunikasi sama sekali selama berbulan-bulan seperti ini!


Aku menatapnya nanar...


Pedih... Tentu saja!


Aku menghela nafas kasar, kemudian mengecup bibirnya...


Young Joon tidak langsung menyambut ciumanku, karena mungkin dia masih tak percaya karena sikapku sebelumnya!


Namun, beberapa detik kemudian...


Dialah yang kini 'memimpin' ciuman ini!


Seperti biasa...


Kami seolah menghiraukan batasan kami, yang saat ini buka lagi suami-istri...


Aku membuka satu per satu kancing kemejanya, sambil terus berciuman, begitupun dengan Young Joon...


Young Joon bahkan sampai mengangkat tubuhku, hingga aku melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya, tanpa melepas ciuman kami!


Yeah... Ciuman panas ini berakhir dengan hubungan intim, yang terjadi secara berulang...


Karena Young Joon, tidak pernah cukup melakukan itu, jika hanya hanya sekali!


Pergulatan kami selalu berakhir dengan, Young Joon yang memelukku dari belakang...


"Apa arti dari tattoo ini?" Ucapnya lembut, di belakang telingaku.


Aneh, jika dia baru menanyakan itu saat ini, mengingat... Ketika kami melakukannya di rumah orang tuaku, tattoo ini sudah ada!


Aku berbalik ke arahnya...


"Kau tahu, gambar apa, itu?" Kataku.


"Hmmmm... Itu bunga dandelion yang rontok..." Ucapnya sambil mengusap pipiku.


"Yeah... Kau benar..." Kataku


"Lalu, apa artinya? Dan mengapa kau membuatnya sebesar itu?"


Aku tersenyum, alih-alih langsung menjawab pertanyaannya...


"Aku menggambarkannya sebagai hidupku saat itu... Cantik, dan indah... Namun rapuh!" Ucapku kemudian berbalik ke arah sebelumnya.


Young Joon kembali memelukku... Lebih erat dari sebelumnya...


"Maafkan aku... Kembalilah kepadaku, cintaku..."


Hening... Hingga akhirnya kami sama-sama terlelap...