
"Clarence!!!" Setengah menjerit aku melambaikan tangan ke arah Clarence yang baru saja tiba di bandara.
Clarence berlari kecil ke arahku, kemudian langsung memelukku, begitu tiba di hadapanku.
"Bagaimana perjalanannya?" Ujarku, kemudian menguraikan pelukan.
"Huuufffttt... Ini sangat melelahkan, Elle!" Keluhnya.
Aku tertawa lepas, mendengar keluhannya, kemudian kami berjalan ke arah sebuah taksi.
"Mau kemana, mbak?" Ujar sopir taksi, sesaat setelah kami masuk ke dalam taksinya.
"Kemang Village Residence, pak!" Sahutku.
Dan taksi pun melaju.
"Lalu, kapan kita akan ke Lo..."
"Lombok!" Seruku
"Ah, ya!"
"Besok!" Sahutku lagi.
"Apa kau yakin?" Clarence tampak mengerutkan keningnya.
Aku tersenyum.
"Yeah! Aku telah memesan tiket untuk kita!"
***************************
Lombok... Aku kembali lagi...
Tempat dimana harusnya aku menikmati bulan madu yang indah, bersama suamiku dulu, Park Young Joon...
Aku kembali memilih penginapan yang waktu itu kami tempati.
Entahlah! Aku hanya ingin kembali bernostalgia tentang apa saja yang pernah terjadi disini.
"Wow, Elle! Ini luar biasa sekali!" Clarence berdecak kagum, melihat penampakan yang ada di hadapannya saat ini.
Aku menoleh ke arahnya, sambil tersenyum.
"Yeah! Itulah mengapa aku mengajakmu untuk kesini."
Clarence lalu menoleh ke arahku.
"Omong-omong, darimana kau mendapat rekomendasi tempat ini?"
Aku tersenyum, lalu menatap ke arah pegunungan, alih-alih menjawab pertanyaan Clarence.
"Aku pernah kesini sebelumnya, dan masih banyak tempat menarik lainnya, yang belum ku datangi." Jawabku, lalu kembali menoleh ke arahnya.
"Benarkah? Kapan?"
Aku segera mengalihkan pembicaraan...
"Baiklah, Clare, ku pikir aku harus memeriksa barang-barangku dulu." Kataku kemudian berlalu, meninggalkan Clarence yang masih penasaran.
*********************
Malamnya, ketika kami tengah bersantap malam, di restoran, dan meja yang sama, ketika aku dan Young Joon makan malam waktu itu.
Clarence kembali mengagumi pemandangan di tempat ini.
"Ini benar-benar luar biasa, Elle! Dan makanannya... Ummmm... Ini lezat sekali!" Ucapnya seraya mengunyah ayam Taliwang.
"Hmmm... Young Joon juga menyukai itu." Jawabku.
"Maaf?" Clarence menatapku heran.
"Ummmm... I-itu... Maksudku... Aahh... Clare!" Kataku salah tingkah.
"Hmmm, ada apa?" Clarence masih menatapku.
"Begini, tadi pihak perusahaan di Jerman membalas surelku."
"Hmmm, lalu?"
"Kemungkinan, aku akan berangkat kesana dua minggu lagi." Jawabku.
Clarence tampak murung, mendengar ucapanku, kemudian mengangguk samar, lalu kembali menyantap makannya.
"Hmmm... Baiklah."
"Yeah! Ummm... Clare..."
"Ya, Elle? Ada apa?"
"Besok aku akan menunjukkan tempat yang tak kalah indah dari ini."
"Benarkah? Dimana itu?" Clarence sangat antusias kali ini.
"Itu agak jauh dari sini, maka dari itu, persiapkanlah dirimu!"
"Tentu!"
"Ummm... Apakah kau menyukai kamarmu?"
"Yeah! Sangat! Ku pikir, iklim di Indonesia akan sangat panas, nyatanya tidak! Aku sangat menyukai tempat ini! Dan kamarku, itu sangat nyaman!"
"Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya." Ucapku, kemudian menyesap minumanku.
***********************
Ketika hendak merebahkan tubuhku di atas ranjang, ponselku berdering.
Sudah ku duga, itu pasti Young Joon!
Dia tidak pernah absen untuk menghubungiku setiap hari!
"Ya, ada apa tuan Park?" Aku sedikit menggodanya si seberang sini.
"Hahahahaaa!!! Hey! Apa yang sedang kau lakukan, nyonya Park?" Ucap Young Joon di seberang sana.
"Hahaha... Aku baru saja hendak tidur, sudah pukul 10 malam disini."
"10 malam? Hey! Baru pukul 9 pagi disini! Harusnya sekarang pukul 9 malam disana!" Protes Young Joon.
"Hahahaaa! Ya, itu jika di Jakarta, tapi sekarang kan... Ummm... Hey! Apa kau tidak bekerja?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Yeah! Saat ini aku sedang berada di kantor... Hey! Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Hahahaaaa!!! Apa yang ingin kau ketahui, tuan?"
"Ayolah, sayang! Jangan buat aku mati penasaran!"
"Sayang..."
"Baiklah, Joon... Aku lelah sekali hari ini! Kau, jagalah dirimu baik-baik, sampaikan salamku pada Hellen dan yang lainnya... Bye..."
"Heeyy tunggu dulu! Kau belum menja..."
Aku segera menutup panggilan.
Young Joon tiba-tiba menghubungiku melalui panggilan video! Masa bodoh! Aku akan membiarkannya mati penasaran! Hahahahaa!
Ponselku lagi-lagi berdering, namun kali ini adalah notifikasi dari media sosial.
Ada sebuah pesan masuk disana.
Aoyama!
Mitsugi Aoyama : Hai nona cantik, bagaimana? Apa kau telah menerima surel balasan?
Yeah! Seperti Young Joon, Aoyama juga tidak pernah absen untuk menghubungiku melalui pesan, karena aku belum juga memberinya nomor ponselku.
Jenny Lie : Hai tuan tampan, aku lupa memberitahumu, yeah! Aku telah menerima surel balasan
Mitsugi Aoyama : Lalu, bagaimana?
Jenny Lie : Yeah, mereka memintaku datang untuk wawancara kerja, 3 minggu lagi. Jadi, kemungkinan aku akan kesana 2 minggu dari sekarang
Mitsugi Aoyama : Benarkah?
Jenny Lie : Yeah tentu saja!
Mitsugi Aoyama : Waaahh! Aku tidak sabar untuk menantikan hari itu!
Jenny Lie : Yeah! Begitupun aku.
Mitsugi Aoyama : Tapi, Jenny... Dapatkah aku memiliki nomor ponselmu? Agak aneh rasanya, jika harus selalu menghubungimu melalui media sosial.
Jenny Lie : Yeah! Tentu saja! Nanti akan ku kirimkan!
Mitsugi Aoyama : Baiklah! Ku tunggu!
Tidak lama kemudian, terdapat satu lagi pesan masuk.
Arjuna!
Arjuna : Jen, lu masih di Jakarta?
Jenny Lie : Gw lagi liburan, Jun
Arjuna : Dimana?
Jenny Lie : Lombok
Arjuna : Lombok?
Jenny Lie : Iya, kenapa?
Arjuna : Sendiri?
Jenny Lie : Sama teman gw
Arjuna : Rame²?
Jenny Lie : Nggak, berdua doank!
Arjuna : Ooowwhh! Si Clara² itu, ya?
Jenny Lie : Bukan! Ini teman gw yg dari Amerika! Namanya Clarence!
Arjuna : Clarence?
Jenny Lie : Iya... Oiya, gw belum pernah cerita sama lu ya, tentang Clarence?
Arjuna : Iya
Jenny Lie : Jadi, si Clarence ini yang bantu gw selama pelarian gw di Amerika! Hahahahaaa
Arjuna : Lu yakin, dia orang baik?
Jenny Lie : banget! Dia gabakal macem² sama gw! Klupun dia mau macam², dari dulu aja, kali!
Arjuna : Ko' lu bisa seyakin itu?
Jenny Lie : Ya yakinlah! Dia tuh teman gw dari SMA, dah gitu, dia tuh teman pertama gw, pas gw baru datang ke Amerika!
Arjuna : Ooowwhh gitu!
Jenny Lie : Ywdh, dah dulu ya, Jun! Gw mo sleeping beauty dulu... Bye!
************************
Keesokan harinya, sesuai dengan rencanaku dan juga Clarence, kami mengunjungi beberapa destinasi wisata yang sungguh sangat sayang, jika kami lewatkan!
Kami benar-benar menikmati liburan ini! Dan Clarence, dia tidak henti-hentinya mengembangkan senyum, tiap kali menangkap beberapa gambar, melalui kameranya.
"Elle, si pria sok tampan itu pasti akan sangat iri, begitu aku menunjukkan gambar-gambar ini!" Clarence tersenyum, sambil menoleh ke arahku.
"Siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi, kalau bukan Matthew!"
Dan kami pun tertawa!
Clare, masih tersisa 5 hari lagi kita disini, ku pikir, aku masih akan menunjukkan sebuah tempat yang tak kalah menariknya dengan ini."
"Benarkah? Apa masih ada lagi?"
Aku mengangguk.
"Waaahh! Memangnya ada berapa banyak lagi, tempat menakjubkan disini, Elle?" Clarence sangat antusias!
"Banyaaaaakkkk sekali!"
"Baiklah! Aku sungguh tidak sabar! Hey, Elle! Tidak dapatkah kita menambah masa liburan ini?"
"Clare, aku harus mempersiapkan diriku untuk pergi ke Jerman!"
Clarence tampak kecewa kali ini.
"Lagi pula, kita dapat datang kesini, lain kali! Atau jika kau ingin, kita dapat mencoba untuk mendatangi tempat lain! Masih banyak tempat yang indah di Indonesia!"
"Benarkah?!" Clarence kembali bersemangat, dan aku pun mengangguk, sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu!" Ucapnya kemudian kembali menangkap gambar.