
Kami berhenti di depan sebuah kantor pos yang berada di Cleveland, Ohio.
Clarence tampak sedang berbincang dengan seseorang disana.
Ya, mungkin itu adalah orang yang Clarence hubungi saat di perjalanan kami beberapa waktu lalu.
Clarence pernah berkata kepadaku, bahwa dia memiliki beberapa kerabat di Cleveland, ketika aku masih tinggal di sebuah apartemen disana. Orang itu sempat menoleh ke arahku dari sana, dan aku hanya tersenyum kecil dari dalam mobil. Tidak lama kemudian, Clarence masuk ke dalam mobil.
"Apa kau lapar?" Tanya Clarence seraya memasang sabuk pengaman, kemudian menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
"Ya, sedikit." Jawabku
"Baiklah, kita makan dulu di restoran cepat saji disana." Ujar Clarence seraya menunjuk ke arah depan
*****************
"Apa kau akan kembali ke rumahmu ketika kita sampai di DC nanti?" Ujar Clarence, kemudian menggigit sandwich nya
"Aku akan menyewa sebuah motel." Jawabku lalu menyeruput kopi
"Ah, baiklah..."
"Kau tidak perlu meminjamkan identitasmu lagi kali ini." Ujarku tersenyum memandang wajahnya
"Maksudmu?" Clarence terlihat heran
"Aku akan menggunakan identitas ku." Jawabku meyakinkan
"Apa kau..."
"Aku memiliki 2 nama lahir. Satu secara universal, dan satunya lagi, nama keluarga." Jelasku
"Maksudmu?" Clarence kembali keheranan
"Itu membutuhkan waktu yang lama untuk kau mengerti." Sahutku lagi.
Aku mengunyah sandwich ku, dan Clarence menatapku penuh tanda tanya.
**********************
Kami telah tiba di DC, dan kami sudah berada di depan meja resepsionis sebuah motel yang letaknya tidak jauh dari rumah Clarence.
"Lie Huan Zhu." Kataku kepada wanita paruh baya yang berdiri di belakang meja resepsionis itu.
Kemudian dia memberiku sebuah kunci yang terdapat dua buah angka, setelah aku membayar sejumlah uang kepadanya
"Kamar nomor 15, itu ada di lantai 2, nona." Ujar resepsionis itu.
"Terima kasih." Kataku.
Kemudian aku dan Clarence berlalu, dan berjalan melalui tangga yang letaknya beberapa meter dari ruangan tadi.
"Ah, ini dia kamarnya." Ujarku.
Aku segera memasukan kunci ke lubang kecil di bawah kenop pintu bernomor 15, dan membukanya.
Ruangannya lebih kecil dari kamar motel yang ku sewa di Brooklyn.
Tapi tak mengapa, setidaknya ini cukup jika hanya aku sendiri yang tinggal disini.
"Elle, aku..."
Aku segera memeluk Clarence hangat.
"Terima kasih banyak, Clare... Aku berhutang banyak kepadamu. Entah bagaimana aku bisa membalasnya." Kataku kemudian melepaskan pelukanku.
Clarence memaku, dan akhirnya menatap wajahku.
"Tetaplah bernafas, dan hiduplah dengan baik, itu sudah cukup untuk membalas semua yang selama ini ku berikan kepadamu." Clarence berkata dengan nada suara yang tenang dan tulus.
Jika saja, aku tidak memberinya batasan... Jika saja, aku dapat membuka hatiku untuknya... Jika saja...
"Aku akan pulang sekarang, kau dapat menghubungiku jika perlu sesuatu, dan..." Clarence tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya
"Dan apa?" Selidikku
"Rambutmu sudah mulai panjang lagi, warnanya juga sudah mulai pudar, makanlah yang banyak, agar tidak kurus sekali seperti ini." Katanya kemudian berlalu.
Aku segera mengejarnya, yang kini telah berada tiga langkah dari pintu motel ini.
"Bagaimana dengan kulitku?"
Clarence menghentikan langkahnya, dan berbalik ke arahku.
"Aku menyukainya..." Katanya kemudian melanjutkan langkahnya.
Aku menutup pintu, setelah punggung Clarence tidak lagi terlihat.
************************
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, dan segera terbangun, lalu melihat ke arah pintu, mengingat kejadian beberapa bulan lalu di Brooklyn.
Aku kemudian tersenyum pahit, dan kembali termenung, membayangkan sesuatu.
Ya, aku membayangkan jika Young Joon kembali menemukanku.
Apa yang harus ku lakukan jika dia benar-benar menemukanku? Bukankah jarak motel ini dan rumah kami itu sangat dekat?
Ini hanya memakan waktu 15 menit dari sini!
Aku terus membayangkan hal itu.
Aku juga masih membayangkan tayangan di tv tentang Young Joon, yang berusaha mencariku, serta kata-kata bibi Margareth bahwa Young Joon sudah 3 bulan menghadiri acara itu.
Ya tuhan... Aku benar-benar sudah lelah, benar-benar lelah!
Lelah terus berlari...
Lelah terus berkhayal...
Dan lelah terus dipermainkan oleh keadaan!
Aku akan menghentikan ini.
Ya! Aku akan menemui Park Young Joon, ketika pesan surel tentang perceraian ku di balas!
**************************
Sudah tiga hari aku disini.
Aku belum juga menghubungi Clarence.
Tidak apa, aku tidak bisa terus-menerus merepotkannya!
Aku tidak ingin membuatnya menjadi semakin berharap padaku.
Aku sedikit lapar, dan berniat akan keluar sebentar untuk pergi ke restoran cepat saji, aku bosan dengan makanan yang ada disini.
Setelah bersiap, aku segera keluar dari kamar, dan langsung menguncinya.
Aku mengenakan kaos polos berwarna hijau muda berlengan sedang, serta celana jeans panjang.
Setidaknya, aku tidak terlihat begitu mencurigakan sekarang.
Aku memutuskan berjalan kaki menuju restoran cepat saji yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.
Ku pikir, aku ingin sedikit bernostalgia dengan kota ini, kota yang sudah hampir 4 bulan ku tinggalkan.
Sepanjang perjalanan, dapat ku lihat mobil yang berlalu lalang, anak-anak yang sedang bermain di taman bermain, dan beberapa pejalan kaki yang mengajak hewan peliharaannya berjalan-jalan di sore hari.
**********************
Aku telah tiba di sebuah restoran cepat saji yang sebenarnya tidak terlalu jauh juga dari rumahku. Saat membuka pintu restoran itu, duniaku seolah berhenti!
Aku menyadari ada seseorang disana.
Dia duduk menghadap pintu masuk.
Dan aku menyadari bahwa dia memperhatikanku, bahkan sejak aku membuka pintu, sampai ketika aku memesan makanan. Saat pramusaji bertanya kepadaku
"Makan disini, atau di bawa pulang, nona?" Sapa pramusaji itu ramah.
Aku bingung dengan pertanyaan itu, bahkan aku sedikit ragu untuk menjawabnya.
"Makan disini " jawabku sedikit ragu
Aku sudah membawa pesananku, dan aku memutuskan untuk duduk di bangku tepat di belakang orang yang sedari tadi memperhatikanku.
Dapat ku lihat sekilas, ekspresi wajahnya ketika aku melewatinya.
Dia tampak berpikir, dan bingung tentang apa yang akan dia lakukan.
Aku menikmati santapanku setenang mungkin namun tetap saja! Terasa ada yang mengganjal di hatiku!
Bagaimana tidak!
Aku duduk tepat di belakang orang yang sudah hampir 4 bulan ini mencariku!
Ya! Orang itu adalah Park Young Joon!
Aku sempat melihat keadaannya sekilas.
Betapa kacaunya dia saat ini!
Rambut yang agak panjang tidak beraturan, bulu-bulu di wajah yang dibiarkan, serta pakaian yang tampak lusuh!
Tubuhnya benar-benar kurus!
Aku makan sambil terus berpikir, apakah Young Joon begitu hancur, sepeninggalku hampir 4 bulan ini?
Young Joon masih terus ada di sana, dan kembali menatapku.
Aku memutuskan untuk naik taksi menuju motel. Dan ketika sampai, aku sesegera mungkin menuju kamar motel ku, karena aku ingin segera menghubungi Clarence disana.
Setelah tiba, aku langsung mengunci pintu, dan mencari ponsel yang memang sengaja ku tinggalkan.
Ah, itu dia! Aku meraih ponsel yang memang selalu ku letakkan di atas rranjang
Ku buka layar kunci ponsel, kemudian ku tekan ikon 'panggilan'. Tersambung!
"Clare..." Sapaku di seberang sini
"Ya, Elle, apa ada masalah?" Clarence terdengar khawatir
"Clare, aku bertemu Young Joon tadi." Aku menjelaskan
"Maksudmu? Aku akan kesana sekarang..."
"Tidak usah... Dia tidak mengenaliku." Aku berkata dengan suara terbata-bata
"Elle apa kau menangis?" Clarence kembali terdengar khawatir
"Tidak... Air mataku sudah habis saat di Kansas." Aku tersenyum pahit
"Hahahaaa... Itu... Elle.."
"Hmm...?"
"Apakah dia mengenalimu?" Clarence memastikan
"Entahlah, dia hanya memperhatikanku semenjak aku masuk ke dalam restoran." Jelasku
"Apakah dia terlihat mencurigaimu?" Clarence kembali memastikan
"Bukankah kau bilang, bahwa kau hampir tidak mengenaliku waktu kita pergi menuju Kansas?" Aku meyakinkannya.
Clarence tidak menjawab pertanyaanku.
"Bukankah aku sangat kurus sekarang?" Ucapku.
Saat mengatakan hal itu, aku segera mengingat Young Joon...
Tubuh Young Joon juga sangat kurus tadi.
"Dan kulitku? Bukankah ini terlalu coklat untuk ukuran gadis Asia timur?" Aku sedikit menggodanya
"Aaahhh... Kau benar!" Clarence terdengar sedikit lega di seberang sana
"Rambutku baru sepanjang bahu, dan warna hijaunya masih ada, walaupun sudah agak pudar! Jangan lupakan tindikan di hidung, serta tatto di bahu kananku, Clare! Itu cukup besar!" Aku kembali meyakinkannya
"Yaaahh.. baiklah, Elle..."
"Hmmm..."
"Segera hubungi aku, jika hal buruk terjadi." Suara Clarence terdengar lembut sekali ketika berkata seperti itu
"Pasti, terima kasih, Clare..." Kataku kemudian menutup panggilan.
Aku segera melepas bajuku, dan hanya menyisakan kaos tanpa lengan sebagai dalaman, dan memutuskan untuk merebahkan tubuhku di ranjang, kemudian mengambil remot tv, lalu menyalakan tv.
Aku sedang tidak ingin memikirkan apapun, juga siapapun sekarang!
Aku memilih Chanel yang sedang menayangkan film kartun. Ini cukup menghiburku.
Aku tertawa selama menonton ini, hingga...
'Tok... Tok... Tok...!'
Aku ingat kejadian ini!
Aku pernah mengalaminya beberapa bulan yang lalu!
Jantungku berdegup kencang sekali saat ini.
Aku yakin itu dia!
Sekuat tenaga ku persiapkan diriku untuk membuka pintunya.
Aku benar-benar menahan diriku untuk segalanya.
Ya, aku sudah siap...
'Tok... Tok... Tok...!'
"Ya... Sebentar." Aku membuat suara yang agak aneh sekarang.
Saat aku membuka pintu, benar dugaan ku! Laki-laki itu kini berdiri tepat di hadapanku! Tatapannya kosong, dan matanya berkaca-kaca
"你在找人吗?(apa kau sedang mencari seseorang)?" Aku membuat suaraku seaneh mungkin.
"你也是中国人吗?(apa kau orang cina juga)?" Ujarku sambil menunjuk ke arahnya.
Young Joon malah memelukku, dan dia menangis.
"先生你是 ?(tuan, kau ini kenapa)?" Tanyaku masih dengan bahasa cina, dan suara yang benar-benar aneh.
Young Joon segera melepaskan pelukannya ketika menyadari sesuatu.
Ya, aku tahu! Dia melihat tatto di punggung sebelah kananku.
Young Joon menatap wajahku nanar!
Dan tampak menyesal.
"Maafkan aku." Sesalnya, kemudian menoleh ke arah bawah.
"Tidak apa-apa." Jawabku
"kupikir kau orang cina." Kataku sedikit menggoda.
Young Joon kembali menatap mataku, kemudian tersenyum dan berlalu.
"Tarif ku $500/jam! Kau bisa mengunjungiku kapanpun kau mau, tuan!" Ujarku dengan bergaya centil.
Young Joon tiba-tiba menghentikan langkahnya, kemudian berbalik ke arahku.
Aku melipat kedua tanganku, dan bergaya menggodanya dengan senyum ala wanita genit.
Young Joon menatapku, lalu tersenyum pahit, kemudian melenggang pergi.
Aku segera menutup pintu dan langsung menguncinya.
Aku berlari ke arah ranjang dan memegang dadaku.
Ini berdegup kencang sekali!
Ya tuhan... Apa yang baru saja terjadi?!
Tidak terasa, air mata mengalir begitu saja...
Aku kembali menangis sekarang!
Aku menangis sejadi-jadinya...
Aku benar-benar hancur!
Aku hancur melihat laki-laki yang saat ini masih berstatus suamiku tadi.
Betapa hancurnya dia!
Betapa buruknya dia!
Ya tuhan... Apa yang telah ku lakukan kepadanya?!
Ya tuhan...
Namun aku segera menyadari akan suatu hal!
Apa bedanya dia dan diriku kini?
Bukankan aku sama hancurnya dengan dirinya? Tubuhku kini juga semakin kurus?
Bahkan kulitku menghitam?
Aku menghancurkan tubuhku!
Aku bahkan menindik hidungku!
Jangan lupakan tattoo bunga dandelion yang berukuran sedang di punggung sebelah kananku!
Ya tuhan... Aku bersedih ketika melihat keadaannya, namun aku melupakan keadaanku yang sama menyedihkannya dengan pria itu!
**********************************
Aku membuka media sosial, dan kembali mencari nama akunku di ikon pencarian.
Young Joon memposting sesuatu disana, ya... Hampir setiap hari Young Joon mengunggah sesuatu di akun media sosialku.
Dan aku melihat postingan terbarunya, sekitar 2 jam yang lalu
'aku melihat seorang gadis Asia saat makan di sebuah restoran cepat saji. Begitu melihatnya, aku teringat akan dirimu. Rambut hijau sebahu, dan kulit yang sedikit coklat. Dia memang berbeda denganmu! Bahkan sangat berbeda! Istriku tidak menindik hidungnya, juga tidak mentatto tubuhnya! Betapa bodohnya aku memeluknya berharap itu adalah kamu! Apakah aku sudah begitu gila?'
Kau tidak gila,Perk YoungJoon...
Itu memang aku...
Ya! Kau baru saja bertemu dengan istrimu tadi... Aku tersenyum getir, dan kembali meneteskan air mata...