
******SEPENINGGAL JENNIFER******
POV Park Young Joon
"Ada apa denganmu, huh!" Mitsugi menatap tajam ke arahku
"Apa maksudmu!" Ketusku, seraya menatap Mitsugi
"Tidakkah kau merasa ada yang salah pada dirimu! Mengapa kau selalu mengganggu kencanku dengan..."
Aku langsung mencengkeram kerah baju Mitsugi.
"Kau boleh saja mengencani gadis manapun, tapi tidak dengan gadisku!" Ucapku dengan tatapan begitu tajam!
Mitsugi kemudian menghempas kedua tanganku.
"Bukankah wanita yang telah bercerai, sudah tidak lagi memiliki keterikatan dengan siapapun?" Mitsugi mengejekku.
Mataku memerah mendengar ucapannya, bahkan hatiku terasa amat panas!
"Tutup mulutmu!"
"Park Young Joon! Berusahalah menerima kenyataan! Kau sudah bukan lagi bagian terpenting dalam hidupnya!" Mitsugi kembali mengejekku
"Jangan terlalu percaya diri, Mitsugi! Dia masih mencinta..."
"Dia sama sekali tidak ingin kembali padamu."
Nada bicara Mitsugi sangat serius kali ini, dan itu membuat nafasku terasa sesak!
Mitsugi berjalan ke arahku, dan menepuk pelan bahuku.
"Jika kau mencintainya, lepaskan dia sesegera mungkin." Ucapnya kemudian berlalu, meninggalkanku yang masih terpaku.
...****************...
POV Jennifer
Aku sudah berada di kamarku, kembali memikirkan kejadian tadi.
Memikirkan kata-kata Aoyama, dan juga memikirkan Young Joon!
Pikiranku saat ini benar-benar kacau!
Terdapat pilihan yang cukup rumit disana!
Aku masih mencintai Young Joon, namun enggan untuk kembali.
Aku juga tertarik kepada Aoyama, namun tak ingin ini menjadi semakin dalam.
Sejujurnya, aku ingin sekali memeluk Young Joon, aku merindukannya... Sangat!
Namun jika mengingat tentang apa yang telah dia perbuat selama ini, itu membuatku kembali membencinya!
Seseorang membuka pintu apartemenku, itu pasti Young Joon, dia telah kembali!
'Tok... Tok... Tok...!'
"Jenny, apa kau sudah tidur?" Suara Young Joon terdengar lemas sekali di balik pintu kamarku.
Bahkan untuk menjawabnya saja, tenggorokanku terasa tertahan.
"Jenny, besok aku akan kembali, pukul 4 sore. Do'akan semoga aku sampai dengan selamat, ya..." Suaranya terdengar mulai terisak.
"Aku akan sangat merindukanmu... Ku mohon, selalu kabari aku tentang keadaanmu, dan..."
Young Joon menangis, seperti melepas semua kesakitan yang selama ini dia pendam, begitupun aku!
Aku memeluk lututku seraya menangis, menatap pintu kamarku.
"Aku sudah mentransfer $55.000 ke rekeningmu. Jika itu sudah habis, kau dapat meminta lagi kepadaku, kapanpun kau butuhkan..." Young Joon kembali terisak.
"Jenny, tak inginkah kau memberiku kesempatan lagi? Katakan kepadaku, apa yang harus ku lakukan, agar kau mau kembali kepadaku?"
Aku sungguh tidak tahan lagi mendengar semuanya.
Aku sungguh ingin memeluk Young Joon...
"Jenny... Aku sangat mencintaimu... Tanpa batas waktu... Karena waktuku telah berhenti, sesaat setelah aku menyadari, bahwa aku mencintaimu... Lebih dari apapun..."
Aku mulai turun dari ranjang, dan melangkahkan kakiku menuju pintu kamar.
Saat kubuka pintu kamarku, dapat ku saksikan, Young Joon duduk di lantai depan kamarku, mendekap erat lututnya, untuk menyembunyikan tangisnya.
Young Joon kemudian menyadari kehadiranku, dan segera berdiri, lalu menatap wajahku...
"Aku..."
Aku segera memeluknya, dan menangis di dalam pelukannya.
Young Joon mendekap tubuhku erat, dia mengecup puncak kepalaku, dan kembali terisak.
"Jenny... Maafkan aku..."
Ya tuhan... Apa yang harus ku lakukan?
*******************
Aku melepas pelukanku, kemudian menatap wajah Young Joon, begitupun dengannya.
Aku tersenyum kepadanya, kemudian meraih wajahnya, dan ku kecup bibirnya.
Ya, ini terjadi lagi... Semakin panas disini...
Young Joon mendorong tubuhku hingga ke dalam kamar, dan menjatuhkanku di atas ranjangku, tanpa melepaskan ciumannya.
Saat hendak melepas bajuku, dia segera menghentikan ciumannya, lalu menatapku cukup lama, kemudian berdiri.
"Maaf..." Dia tersenyum getir.
Aku segera duduk, dan menatap ke depan, kemudian tertawa.
Sedangkan Young Joon menatapku dengan tatapan heran.
"A-da apa denganmu?" Young Joon benar-benar tidak mengerti dengan sikapku.
Aku menatap wajahnya, dan masih tetap tertawa.
"Kau langsung teringat jika aku masih datang bulan, kan?" Kataku tersenyum kepadanya.
Dia tertawa, kemudian tersenyum menatap wajahku.
"Lalu?" Ucapku.
Young Joon membungkuk, dan mendekatkan wajahnya.
"Kita bukan lagi suami istri, dan aku orang yang cukup kuno untuk itu." Katanya kemudian kembali menegakkan tubuhnya.
Itu membuatku merasa geli, dan tertawa!
"Bahkan saat melakukannya di rumah orang tuaku, kita sudah bukan lagi suami istri! Kuno macam apa itu!" Ketusku!
Young Joon terlihat salah tingkah, dia mengusap belakang kepalanya.
"Aaahhhh... Itu... Itu..." Young Joon menggaruk pelipisnya dengan telunjuk.
"Jangan terlalu naif! Aku cukup mengenalmu dengan baik, tuan Park Young Joon!" Ketusku seraya menatap wajahnya.
Young Joon kembali membungkuk dan mendekatkan wajahnya.
"Ummm... Seperti itu, ya?" Dia tersenyum, itu manis sekali!
Aku memalingkan wajahku, namun Young Joon segera meraih daguku, dan kembali menghadapkan wajahku kepadanya.
"Kalau begitu, kau pasti sudah tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya." Ucapnya lalu menggigit bibir bawahnya.
Dan ketika aku mau menghindar, Young Joon dengan sigap ******* bibirku.
Tidak! Ini tidak berakhir dengan adegan panas! Hahaha! Ini berakhir dengan Young Joon, yang berbaring di atas ranjangku, seraya memelukku dari belakang.
Hal yang selalu kusukai!
*******************
Young Joon masih memelukku, dia mencium tengkukku, kemudian meletakan wajahnya di sela-sela bahuku.
"Tidak inginkah kau kembali ke DC bersamaku?" Ujar Young Joon, kemudian mengecup bahuku.
Aku berbalik ke arahnya, dan menatap wajahnya, lalu mengusap pipinya.
"Untuk apa?" Kataku, dan Young Joon mendekapku
"Untuk kembali menjadi nyonya Park." Ucapnya.
Aku segera melepas dekapannya.
"Beri aku waktu." Aku menatap ke arah dadanya.
Young Joon menarik daguku agar wajah kami kembali berhadapan.
"Mengapa?" Wajahnya tampak kecewa
"Aku tidak ingin merasakan sakit untuk ke sekian kalinya..." Mataku berkaca-kaca.
"Tidak ada jaminan, jika kejadian sebelumnya tidak akan kembali terjadi, Joon... Aku..."
Young Joon mengecup bibirku lembut.
"Aku akan menghilang, jika itu kembali terjadi." Mata Joon berkaca-kaca ketika mengatakan itu, dan aku tersenyum getir.
"Beri aku waktu, untuk meyakinkan diriku... Ku mohon..." Ucapku Kemudian kembali memeluknya.
Young Joon menarik nafas dalam...
"Baiklah..."
********************
Kami sudah menuju bandara.
Sepanjang perjalanan, Young Joon hampir selalu mengecup tanganku, dan menatap wajahku.
"Aku mencintaimu, Jennifer..." Young Joon menatapku seraya tersenyum bahagia.
"Ini sudah ke 80 kali kau mengatakan itu!" Rengek ku.
"Apa kau menghitungnya?" Young Joon menggodaku.
"Tentu saja!" Elakku
"Waaaahhhh..."
Aku langsung mencubit lengannya, dan Young Joon meringis.
"Aku akan kembali seminggu lagi." Katanya.
Aku terkejut setengah mati mendengar ucapannya!
"Apa kau gila!" Aku menatap wajahnya heran!
"Ya! Itu semua karenamu!" Ucapnya kemudian mengelus puncak kepalaku.
"Kenapa lu ngejadiin gw kambing hitam, njir!" Umpatku dalam bahasa Indonesia
"Bial lu kanagal disini!" Young Joon menjawab dengan bahasa Indonesia, dan kami tertawa, hingga akhirnya menemukan lahan untuk parkir.
Sebelum melepas sabuk pengaman, aku berkata kepada Young Joon tentang...
"Aku akan pergi ke Jerman." Ucapku menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
Young Joon menatapku...
"Mak-maksudmu?" Young Joon kembali memastikan kata-kataku.
Aku membuka sabuk pengaman ku, menarik nafas dalam, kemudian menatap Young Joon.
"Aku akan melanjutkan hidupku di Jerman." Kataku kemudian tersenyum.
Mata Young Joon berkaca-kaca, dia terlihat bingung, hendak berkata apa.
Dia membuka sabuk pengamannya, kemudian berbalik ke arahku
"Apa kau ingin menghindariku?" Suaranya bergetar.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, dan lebih memilih untuk membelai wajahnya.
"Sebelumnya, ya..." Young Joon meraih tanganku yang ada di pipinya, kemudian mengecupnya.
"Ku mohon..."
"Berikan aku waktu, untuk membuang rasa sakitku disana."