Love, Life, and Jennifer

Love, Life, and Jennifer
Tersadar...



"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyaku kepada Young Joon seraya mengeringkan rambutku dengan handuk.


"Ke kantorku." Jawab Young Joon seraya memilah baju yang tergantung di lemariku, kemudian...


"Pakai yang ini! Kau terlihat cantik sekali saat mengenakan gaun ini!" Young Joon menyodorkan gaun berwarna merah maroon kepadaku.


Aku ingat! Aku mengenakan gaun ini di acara ulang tahun Mr. Liem waktu itu!


Young Joon sangat bangga ketika memperkenalkanku kepada teman-temannya. Tidak sekalipun dia melepaskan genggaman tangannya selama kami berada disana.


Bahkan ketika aku ke kamar kecil sekalipun, Young Joon rela menungguku di depan pintu kamar kecil itu.


"Inikan gaun pesta!" Protesku, dan Young Joon segera meraih wajahku agar lebih dekat dengan wajahnya.


"Bukankah kau tampak seksi sekali dengan jubah mandi ini?" Ucapnya dengan ekspresi wajah datar.


"M-maksudku... Kita kan hanya akan ke kantormu saja, apa harus terlihat berlebihan begini?" Aku merendahkan suaraku


"Apa aku tidak boleh menunjukkan kepada dunia, bahwa aku memiliki istri yang saaaangaaatt cantik?" Young Joon manis sekali ketika mengatakan itu, dan akupun tersenyum, lalu memeluknya.


************************


Kami telah tiba di lobby gedung perusahaannya, resepsionis yang waktu itu ku jumpai, ada di tempat dimana pertama kali aku menemuinya. Aku menyapanya


"Hai tuan tampan! Kita bertemu lagi!" Ucapku lalu melambaikan tangan ke arahnya.


Pria muda itu tersipu malu, namun wajahnya segera menegang ketika Young Joon mengarahkan dua jari ke arah matanya dan mata Young Joon, kemudian merangkulku.


"Apa kau harus menggoda laki-laki lain, saat berada di samping suamimu, huh?!" Young Joon mengumpat kepadaku, lalu aku mengalihkan perhatiannya dengan menunjukkan lift yang pintunya sudah terbuka.


"Ah, ayo kita segera kesana." Aku menarik tangan Young Joon, dan berlari kecil ke arah lift yang pintunya sudah terbuka itu.


Saat hendak menekan tombol angka 5, ada seseorang yang mau masuk juga bersama kami, namun Young Joon dengan sigap mengisyaratkan agar orang itu jangan masuk, dengan menggunakan tangannya, lalu menekan tombol angka 5.


Saat pintu lift tertutup, Young Joon berjalan mendekatiku, dan akupun melangkah mundur, namun segera terhenti karena sudah tidak ada ruang lagi.


Young Joon 'mengurungku' dengan menempelkan kedua tangannya di dinding samping kanan dan kiri ku, lalu mendekatkan wajahnya.


Dia terlihat marah!


"A-apa yang akan kau lakukan." Aku sungguh takut melihat wajah Young Joon saat ini!


"Tentu saja menghabisimu!" Ucapnya dengan tatapan memburu.


Dia semakin mendekatkan wajahnya, dan...


'Tiiiinngg'


Pintu lift terbuka!


Kami sudah tiba di lantai 5.


Ya tuhan!


Ada seseorang disana! Aku dapat menyadarinya! Pantulan bayangannya terlihat di cermin besar yang ada di sisi kiri ku!


Aku mengenalnya!


Sosok itu kini terperangah melihat kami!


Dan sosok itu langsung berhambur pergi ketika kami sama-sama menoleh ke arahnya.


"Aku akan menuntaskannya di dalam!" Ucapnya kemudian melepaskan lingkungannya.


Young Joon lalu merangkul ku, kemudian kami melangkah keluar lift, menuju ruang kerjanya. Lututku melemas seketika mendengarnya mengatakan itu.


Saat berada di ruang kerja para karyawan, Young Joon menyapa para karyawannya, dan aku menoleh ke arah meja Hellen.


Ya!


Sosok yang 'memergoki' kami tadi adalah Hellen! Dia tampak ketakutan saat ini.


Wajahnya begitu pucat!


Langkah kami diikuti oleh tatapan aneh para karyawan.


Ada yang terperangah, ada juga yang tersenyum gemas melihat kami.


Dan aku? Aku bagaikan seorang tahanan yang sedang digiring menuju tempat eksekusi.


*********************


"Duduklah!" Young Joon menepuk-nepuk meja kerjanya.


"Disini?" Tanyaku seraya menunjuk ke arah meja kerjanya


"Tentu saja dimana lagi?" Sahutnya.


Young Joon lalu duduk di kursi kerjanya, menatapku yang masih ragu untuk duduk di tempat yang dia pinta tadi.


Young Joon nampak kehilangan kesabaran melihatku yang masih saja memandangi meja kerjanya, dan tidak juga duduk disana.


Young Joon kemudian berdiri, lalu berjalan ke arahku, kemudian membopong tubuhku dan 'meletekkan' tubuhku di atas meja kerjanya. Tepat samping komputernya!


"Sempurna!" Ucapnya lalu kembali duduk di kursi kerjanya seraya menatapku dengan tangan yang menopang wajahnya.


"Mengapa kau membawaku kesini?" Tanyaku seraya menatap wajahnya yang kini sedang menatap wajahku.


Young Joon tersenyum, seolah tidak mendengar kata-kataku.


"Joo... Maksudku, suamiku..."


Aku tampak penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiran Young Joon yang saat ini menatapku sambil tersenyum.


Aku sungguh hilang kesabaran melihat tingkahnya kali ini, hingga akhirnya aku sedikit melompat untuk turun dari meja kerja Young Joon, dan dengan sigap, Young Joon meraih tubuhku, dan membawaku ke pangkuannya!


"Siapa yang mengizinkanmu untuk turun dari sana, huh!" Young Joon menatap wajahku kesal


"Aku ha..."


Young Joon langsung mengunci bibirku dengan bibirnya!


Dia ******* bibirku dengan sangat lembut, namun liar.


Aku merangkul leher Young Joon, dan Young Joon mendekap tubuhku erat.


Ciuman panas kami benar-benar membuat kami sangat bergairah, hingga Young Joon membuka jas kerjanya, kemudian melepas satu per satu kancing kemejanya.


Kau tahu, ketika aku menarik dasi Young Joon untuk membukanya, tiba-tiba aku mendengar suara pintu ruangan Young Joon terbuka!


Mataku terbelalak, dan aku menghentikan 'responku' terhadap Young Joon, namun Young Joon seolah tak peduli!


Dia tetap melanjutkan ciuman kami, dan sedang berusaha untuk membuka kemejanya, namun aku menahannya, aku menepuk punggungnya keras, hingga membuatnya menghentikan 'seranganannya'


"Iiissshhh!!" Lenguhnya.


Young Joon tampak kesal, dan aku memberinya isyarat tentang seseorang yang terlah berdiri di depan pintu ruangannya dengan telunjukku.


Young Joon menoleh, dan menyuruh orang itu masuk, namun tidak memindahkan posisiku


"Ah, kau! Aku tidak mendengar suara ketukan tadi, apa kau mendengarnya, sayang?" Young Joon menanyakan itu kepadaku, dan aku sangat terkejut ketika menoleh ke arah sosok itu!


Kimberly! Apa yang dia lakukan disini! Atau jangan-jangan? Aku menatap wajah Young Joon.


"Yang benar saja Oppa! Apa tidak ada tempat lain!" Kim terlihat sebal melihat kami, namun dia dapat dengan santai duduk di hadapan kami


"Yaaahh, aku hanya ingin mencoba suasana baru, dengan istriku." Young Joon mendekapku erat.


Dia membuatku benar-benar merasa risi! Pikiranku sungguh kacau!


"Aku mau..." Young Joon menahanku, ketika aku mencoba untuk berdiri


"Apa ada hal yang penting?" Tanya Young Joon santai.


Kim terlihat benar-benar kesal!


"Young Joon, aku sudah tidak tahan! Apa kau ingin ku kencingi!" Aku berbisik sambil mengumpat kepadanya.


"Yang benar saja, sayang..." Protesnya, dan aku memicingkan mataku kepadanya, kemudian dia menyerah, dan melepaskan ku.


Dapat ku lihat dengan jelas, noda lipstik ku benar-benar mengotori sekitar bibir Young Joon. Dan mungkin saat ini, make up ku berantakan sekali.


Aku melangkah keluar, tanpa mengucapkan permisi kepada gadis yang tadi ada di hadapanku.


"Sayang, jangan tutup pintunya, dan segera kembali." Ujar Young Joon.


Aku menghiraukan kata-katanya dan melanjutkan langkahku.


Seluruh karyawan menatapku aneh, tentu saja! Karena make up ku yang sudah pasti berantakan karena ciuman kami tadi!


Aku berjalan seraya mencari ponsel yang ku taruh di dalam tas kecilku.


Hellen menyapaku


"Kau mau kemana, Nyonya Park, ummm maksudku, Nona Jennifer?" Sapanya ramah, namun terkesan canggung, aku menghentikan langkahku


"Aku mau ke kamar kecil." Jawabku kemudian berlalu


"Bukankah di ruangan Tuan Park ada kamar kecil?" Hellen melanjutkan kata-katanya, dan itu membuatku menghentikan langkahku.


Aku mulai memikirkan sesuatu, mengapa Young Joon tidak memberitahuku akan hal itu?


Aku membalikkan tubuhku ke arah ruang kerja Young Joon, lalu menatapnya.


Aku sudah mendapatkan ponselku, dan ketika kubuka layar kunci ponsel, aku mencari nomor eomma, lalu segera menghubunginya.


Pintu lift terbuka, dan aku langsung masuk ke dalamnya.


Aku dapat dengan jelas melihat betapa berantakannya lipstik ku, melalui cermin yang ada di dalam lift ini!


Sesegera mungkin aku meraih tissue basah yang memang selalu tersedia di dalam tasku, untuk menghapusnya!


Aaah, panggilan tersambung


"Eomma..." Sapaku di seberang sini, seraya menghapus noda lipstik di sekitar bibirku.


"Ah Jen, 怎么了? (Ada apa?)" Sahut eomma di seberang sana


"妈也许我几天不能回家,所以也许我不能带你回家.(Ma, mungkin aku nggak bisa pulang selama beberapa hari, jadi mungkin aku nggak bisa mengantarmu pulang.)" Ujarku merasa bersalah di seberang sini


"到底是怎么回事, Jen?(memangnya ada apa, Jen?)"


"我现在必须在城外观察。这决定了我的毕业. (Aku harus melakukan observasi di luar kota sekarang. Ini menentukan kelulusanku, ma)" ujarku sedikit sedih. Eomma terdiam sejenak diseberang sana.


Pintu lift terbuka, dan aku langsung melangkah keluar. Aku berhenti tepat di depan meja resepsionis.


"好的,Jen. 可以,我们了解。祝你好运,亲爱的我们的祈祷永远伴随着你. (Baiklah, Jen. Tidak apa-apa, kami mengerti. Semoga sukses ya, sayang. Doa kami selalumenyertaimu.)" Eomma terdengar pasrah.


"Terima kasih, ma... Sampaikan salam ku kepada yang lain." Ucapku lalu menutup panggilan.


Aku terdiam sejenak. Menyadari akan sesuatu. Mataku kini berkaca-kaca, memikirkan apa yang akan ku lakukan selanjutnya.


Aku segera tersadar setelahnya, seolah segera tahu apa yang harus ku lakukan!


Aku kemudian menyapa resepsionis yang sedari tadi memperhatikanku.


"Hey, pria tampan. Dapatkah kau menolongku?" Sapaku ramah.


Pria itu tampak ragu kali ini.


"Be-begini nyonya..."


"Aku titip ini kepadamu, aku ingin ke kamar kecil sebentar, ok!" Kataku sedikit tegas


"Tap-tapi nyonya..."


"Simpan ini dengan hati-hati!" Aku sedikit mengancamnya, kemudian berlalu.


*********************


Aku sedang menunggu taksi di depan gedung tempat Young Joon bekerja.


Dan beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di depanku setelah aku melambaikan tangan, kemudian aku segera masuk ke dalamnya.


"Mau kemana, nyonya?"