
Author POV.
"Indah sekali, Kak"
"Kamu paling suka pemandangan malam kan?"
Fia mengangguk keras, Louis dan Fia kini ada di atap gedung LA Grup, udara malam itu cukup dingin ditambah angin yang bertiup kencang karena mereka kini ada di ketinggian 30 lantai. Louis melepas long coatnya untuk dipakaikan ke Fia setelah melihat gadis itu melipat kedua tangan di dadanya,
"Terimakasih " Ucap Fia. "Aku dan Ryan selalu makan malam di rooftop hotel tapi anehnya aku tidak pernah bosan dengan keajaiban dunia ini, langit dan bumi berkilauan, indah dengan cara mereka masing-masing. Kota begitu tenang dari atas sini, padahal dibawah sana pasti bising sekali, klakson mobil dan suara mesin" Louis mengangguk paham.
"Are you happy, Sofia?"
Sofia menoleh ke arah Louis, sudut bibirnya tertarik ke belakang, Fia tersenyum dengan sangat indahnya. Dari mata Fia yang berkilauan sama seperti bintang di langit malam itu, Louis tahu jawabannya. "Aku tidak menyangka akhirnya hari ini akan datang juga, bertemu kembali dengan Ryan, merencanakan pernikahan dengannya dan dikelilingi orang-orang yang ku sayang. How can i'm not happy?".
kalimat terakhir Fia tujukan untuk Louis, keduanya saling tatap, hening untuk beberapa saat lalu Fia berkata. "Aku tidak punya alasan untuk tidak bahagia" Louis menatap lurus kedepan "Kamu benar, 10 tahun adalah waktu yang sangat lama dan penantianmu terbayar, Aku bahagia karena kamu bahagia, kalian pantas untuk itu". Fia merasakan ketulusan di setiap kata Louis. Fia tahu ada sesuatu yang berbeda dari sikap Louis malam itu, sedikit banyak Fia bisa menebak apa itu, tapi Fia menyangkal, berharap pikirannya salah.
"Sofia.." Ucap Louis masih dengan pandangan yang tertuju ke depan.
"Ya.."
"Aku akan pergi " Seketika mata Fia mengembun tapi ia berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak keluar
"Kemana?" Tanya Fia dengan suara bergetar, Louis masih tidak mau menatapnya.
"New zealand "
"Berapa lama?" Pandangan Louis kini beralih ke Fia, bisa Louis lihat kaca tipis dimata Fia, mata bulatnya jelas menyiratkan kesedihan. Ini pemandangan yang melemahkan Louis, tapi ia mati-matian memasang ekspresi wajah datar, ia harus kuat untuk menguatkan Fia. Louis selalu berdoa untuk kebahagiaan Fia, selalu ingin membuatnya tersenyum dan tertawa. Tapi Louis juga tak sanggup melepas Fia dengan laki-laki lain, ia teramat sakit, Sofia adalah cinta pertamanya, Sofia adalah alasannya mensyukuri kehidupan, Sofia adalah udara yang ia hirup, sumber inspirasi dan pusat alam semestanya.
"Untuk waktu yang tidak ditentukan".
...****************...
"Malam ini bertabur bintang" Louis mengikuti arah pandang Fia, langit malam itu cerah dengan bulan yang membentuk bulat sempurna dan terang milyaran bintang-bintang kecil berkelap-kelip. Salah satu maha karya Tuhan yang paling indah, ini lah kenapa Fia suka pemandangan malam.
"Menurut Kakak, apa Ayah sedang melihatku dari atas sana?"
"Kamu masih ingat?" kini pandangan Louis beralih ke Fia
"Bagaimana aku bisa lupa?" Hening.. Untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan keduanya, dulu saat Fia terpuruk karena kematian Ayahnya, Louis selalu menghiburnya, mengatakan bahwa saat seseorang meninggal, ia akan menjadi bintang dan akan mengawasi kita dari atas sana. Fia yang masih sangat muda percaya saja, itu membuat perasaannya nyaman, kadang Fia benar-benar mengajak bintang bicara seolah itu adalah Ayahnya, bercerita tentang hari-harinya, kesedihan dan kebahagiaannya.
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang Kakak berikan pada Fia, Fia rasa di dunia ini tidak ada orang dengan hati yang setulus Kakak"
"You should marry me then" Canda Louis.
"Should i?" Balas Fia, Meski Louis tertawa tapi hatinya remuk redam, sakit sekali rasanya saat ia harus merelakan gadisnya bahagia dengan laki-laki selain dirinya, entah apa ia bisa jatuh cinta lagi dengan hati yang sudah cacat, sudah retak. Berkali-kali Louis mengatakan perpisahan dengan Fia tapi sepertinya ini adalah yang terakhir kalinya.
Matanya bergetar, sekali saja ia berkedip maka jatuhlah air matanya
"Kamu akan baik-baik saja, kan?" Louis menjeda sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tanpa aku?" Kalimat terakhir membuat tenggorokan Louis tercekat.
"Aku bukan anak kecil lagi" Fia menghapus sudut matanya yang terasa basah. "Aku tahu" Jawab Louis.
"Kamu akan benar-benar menikah ya? dengan dia?" Kalimat 'Dengan Dia' terdengar seperti bisikan yang lirih namun Fia masih bisa mendengarnya.
"Ryan, lumayan"
"Awas saja kalau kamu mengeluh tentang dia, aku akan bawa lari kamu"
"10 Tahun itu waktu yang lama, Kak. Ryan bisa saja melanjutkan hidupnya tanpa aku" Fia coba meyakinkan Louis bahwa pilihannya tidak salah dan Fia memang meyakini itu.
"Ya.. Ya, aku tahu" Louis memutar bola matanya. Fia ingin menahan kepergian Louis tapi Fia akan jadi sangat egois karena Fia tahu, Louis akan selalu mengabulkan apapun yang Fia minta, karena memang seperti itulah Louis, Fia ada dalam prioritas teratasnya.
"Pergilah, Kak. Cari gadis cantik dan baik lalu menikah, Kakak harus bahagia"
"Oke" Lirih Louis, lelaki itu mendekap Fia erat, ia dapat merasakan bahu Fia bergetar yang menandakan gadis itu sedang menangis meski tanpa suara. "Bahagiaanku tak lengkap tanpa Kakak" seru Fia di sela-sela tangisnya.
"Itu tetap Kebahagiaan, ada atau tidaknya aku". Fia semakin terisak, kali ini ia tak menahan suaranya.
"Aku minta maaf, Kak"
"Jangan minta maaf atau aku akan membawamu lari ke New Zealand malam ini juga". Fia memukul pelan dada Louis, membuat Louis tersenyum miris, ia mencium puncak kepala Fia, mengeratkan dekapannya, menyimpan memori itu betapa hangatnya tubuh kecil Fia dan akan ia bawa kemanapun ia pergi, Louis hanya manusia biasa sekuat apapun ia coba untuk kuat, tapi dihadapan Fia, Louis runtuh juga, meski tak menangis sekeras Fia tapi Louis berderai airmata. Inikah akhirnya? ia benar-benar berpisah dengan Fia?
"Di kehidupan ini aku akan mengalah, tapi di kehidupan berikutnya kamu harus memilih aku". Fia mengangguk dalam dekapan Louis.
"I love you, Sofia".