Hey Sofia

Hey Sofia
You are save now




you can go to the edge of the world,


i Will find you even if it take my lifetime


Sofia benci hujan, ia tidak suka sesuatu yang lembab dan basah terutama karena udara dinginnya, di hari-hari seperti itu fia hanya akan meringkuk di ranjangnya yang empuk dan nyaman, bersembunyi di bawah selimut seolah ia ada dalam pelukan yang hangat, hujan bisa benar-benar menurunkan mood fia sampai ke titik terendah.


fia mendorong tubuhnya untuk bangun, sambil berlutut di ranjangnya fia menyibak tirai dan seketika itu sinar matahari yang menyilaukan menghambur masuk menerangi kamar fia dengan cahaya panasnya, sinarnya begitu terang membuat fia buta sesaat, ia menyipitkan matanya menahan cahaya bertubi-tubi begitu ia membuka jendela.


bau tanah khas hujan menyeruak menusuk hidung fia, bau nya membuat fia pusing, satu lagi alasan kenapa dia membenci hujan,


pemandangan kebun bunga anggrek yang porak poranda berhasil membuka mata fia lebar-lebar, bunga-bunga cantik yang disayang dan dirawat sang ibu bertaburan dengan posisi mengenaskan, saat ibunya kembali dari perjalanan bisnis ia pasti sedih melihat taman bunga anggrek nya rusak dan itu mengganggu fia, belakangan Liliana memang disibukkan dengan tugas keluar kota,perusahaan retail makanan tempatnya bekerja akan membuka cabang di Bali dan tugasnya untuk mengawasi proses nya sampai waktu pembukaan nanti.


badai semalam telah meninggalkan jejak di rumahnya dan cahaya matahari itu terasa lebih panas seolah ingin menghapus habis sisa-sisa badai yang mengamuk kemarin, fia sudah berada di kamar mandi, ia bergidik setelah merasakan air di bak yang sedingin es, fia mengurungkan niatnya untuk mandi dan hanya mencuci muka, fia kembali ke kamar dengan masih mengenakan piyama, meraih ponselnya diatas meja belajar untuk mengecek pesan masuk, ada pesan dari Liliana menanyakan kabar dan berjanji akan segera pulang, senyum fia merekah seperti bunga di musim semi, fia menggulir dan mengecek lagi dan lagi tapi tidak ada pesan baru dari Ryan,


selama liburan sekolah, Ray mengajak Ryan mengunjungi sanak saudara mereka selagi Ray di Indonesia dan ini sudah hari ke lima tak ada kabar satu pun dari nya, fia pun tak bisa menghubungi Ryan, seketika itu hatinya sebeku es di musim dingin, bahkan cahaya panas yang menyengat tak mampu melelehkan tubuhnya yang kaku, wajahnya berubah murung, fia diselimuti rasa khawatir yang menusuk, ke alpa an Ryan saja sudah membuatnya gelisah setiap hari dan tanpa adanya kabar semakin mendekatkan nya ke titik frustrasi lalu akal sehatnya entah bagaimana mengambil alih untuk menekan rasa frustasinya, Ryan berasal dari keluarga terpandang, jika sesuatu yang buruk terjadi pasti akan menjadi tajuk utama di semua stasiun TV dan selama ini tak ada satu pun berita, fia bisa sedikit rileks karena berarti Ryan baik-baik saja,


mungkin ia hanya sedang menikmati waktu bersama keluarganya yang lama tak berjumpa, mungkin ini atau mungkin itu, fia tetap berfokus pada pikiran-pikiran positif sebelum kecemasan dan kecurigaan melahap nya dari dalam, fia tak mau kehilangan kewarasan nya karena terlalu sedih tanpa kehadiran Ryan, lagipula ini pertama kali nya mereka berpisah cukup lama,


fia berjalan menyusuri tangga menuju dapur dimana sudah ada yang menunggunya untuk sarapan, ia duduk santai menyilang kan kakinya dan membaca koran dengan serius, ia mengangkat tangan untuk meminum kopi saat ia melihat fia turun dari tangga,, ia menaruh kopi dan meletakkan koran disampingnya lalu menyapa fia dengan senyum yang terpahat sempurna.


"sudah bangun?"


suaranya se merdu burung yang berkicau di pagi hari, ia meletakkan sarapan yang sudah disediakan untuk fia diatas meja dan menuang susu strawberry kesukaannya,


"ayo sarapan"


fia menarik kursi dan duduk dengan baik, menatap sarapannya dan langsung merasa lapar, roti isi sayuran dengan 2 slices keju yang meleleh menyelimuti potongan besar daging olahan dan acar timun yang sedikit asam membuat air liur fia berjatuhan, ia melahap roti isinya seketika itu juga dengan gigitan besar, fia begitu menikmati sarapannya tanpa sadar ada mayonaise tertinggal di sudut mulutnya yang masih sibuk mengunyah, ia mengambil tisu berdiri didekat fia dan membungkukkan badannya hingga wajah nya hanya sejarak sejengkal tangan, ia terlalu terlalu dekat hingga fia menahan napas nya, fia memandang langsung ke matanya tapi ia melihat ke arah lain, ke bibir fia tepatnya, apa yang mau ia lakukan dengan jarak sedekat ini?


ia tersenyum tipis begitu merasakan kegugupan fia dari tangannya yang gemetar, lalu dengan lembut ia menyapukan tisu ke mulut fia untuk membersihkan mayonaise nya, reaksinya yang polos menggetarkan hati Louis tapi ia berhasil mengendalikan diri untuk kesekian kalinya



Louis sudah tiga hari menginap di rumah fia dan akan tetap disana sampai Liliana kembali karena ini permintaan langsung dari Liliana, perjalanan bisnisnya kali ini memakan waktu lebih lama dari biasanya dan ia tidak mau meninggalkan putri nya tanpa pengawasan, tak ada yang Liliana percaya selain Louis, maka dengan penuh kerelaan dan tanpa paksaan Louis memenuhi permintaannya,


"dingin...." gumam fia dalam tidurnya, Louis menarik selimut sampai dada fia untuk menghangatkannya, lalu tiba-tiba dan tanpa peringatan, fia berguling ke arahnya, melingkar kan tangannya di dada Louis dan mengangkat kakinya naik ke pinggang Louis, seketika itu Louis syok dengan serangan mendadak fia, matanya membuka lebar tak siap dengan apa yang terjadi, jelas bukan ini yang ada di benaknya saat menyelinap masuk ke kamar fia dan posisi ini bisa sangat berbahaya bagi Louis,. perlahan ia melepaskan pelukan fia di dadanya, fia yang menyadari gerakan Louis malah semakin mengencangkan tangannya, menghentak Louis kembali ke posisi semula, fia melesak dan semakin mendekatkan dirinya ke Louis, ia benar-benar menganggap Louis sebagai guling yang hangat, seolah itu tidak cukup membuat darah Louis bergejolak, fia tanpa rasa bersalah menempelkan bibirnya ke lengan Louis, Louis menyerah untuk melarikan diri dan pasrah di bawah kuasa fia sambil meratapi nasibnya yang malang.


badai yang sedang berlangsung di luar tak kalah dahsyat dengan badai di hati Louis, ia memejamkan mata berusaha mengatur jantungnya yang seperti mau meledak, ia mulai berhitung untuk mengalihkan pikiran-pikiran nakal tentang fia tapi begitu ia membuka mata dan melihat wajah polos fia ia lupa akan hitungannya dan mulai lagi dari nol, begitu terus sampai Louis akhirnya tertidur,


seberkas cahaya menerobos dari sela-sela jendela kamar jatuh langsung ke mata Louis dan memaksanya membuka mata, ia melirik ke arah fia yang sedang memunggungi nya, Louis bangun tanpa kesusahan dan ia menyunggingkan senyum bangga, siapa yang tahu bahwa pengendalian diri nya atas fia begitu hebat tapi entah sampai kapan Louis bisa bertahan jika fia dengan polosnya terus memprovokasi Louis.



fia merasa ada yang salah dengan kepalanya, ia terus berpikir Louis bukanlah Louis yang ia kenal, ia selalu perhatian pada fia dan menganggapnya seperti adik kecil karena itu fia merasa nyaman bermanja-manja atau merajuk padanya, tapi belakangan ini jantung fia berdegup tak karuan dengan kebaikan Louis, seperti pagi ini saat Louis tiba-tiba mendekatinya dan mengelap bibirnya dengan tisu, setengah mati fia berencana untuk tidak terbawa suasana, Louis begitu indah dilihat dari jauh dan ia benar-benar menyilaukan mata jika dilihat dari dekat, fia pertama kali melihatnya saat berumur 7 tahun dan pesonanya masih belum berubah,


Louis kembali duduk dan menyeruput kopi nya, meninggalkan fia untuk menghabiskan sarapannya, ia ingin menikmati Minggu yang cerah ini.


"kak, udah lihat kebun anggrek ibu?" Louis mengangguk


"kakak sudah menghubungi mas Sony, nanti akan ada orang yang datang untuk membereskan nya"


fia mengangguk pelan tanda mengerti


Louis duduk di sofa sambil memainkan ponselnya dan fia bergabung sesaat setelah ia mencuci piring bekas sarapannya, fia duduk di sofa dengan kaki yang terlipat di atas, ia mengeluh betapa ia sangat bosan liburan dirumah dan merengek untuk diajak ke taman bermain, seperti gadis kecil meminta permen fia selamanya berusia 7 tahun jika bersama Louis, dan Louis selamanya akan menuruti kemauan fia seperti itu sebuah keharusan.


Sofia tak berhenti tertawa dan berteriak saat menaiki wahana yang memicu adrenalin, bukan tanpa alasan fia memaksa pergi ke taman bermain, karena disanalah ia bisa melepas semua kegelisahan dan rasa frustasinya menunggu kabar dari Ryan, jadi fia berteriak sampai ke batas paru-paru nya seperti orang yang kehilangan akal dan ia tak peduli karena hatinya jadi sedikit lega, ternyata berteriak mampu mengusir kegalauan hatinya.


ada sebuah pertunjukan musik rock disana, fia bersama Louis ada di tengah kerumunan penonton dan menikmati musiknya, cuaca terik saat itu menambah panas suasana dan saat orang-orang menjadi tidak sabaran keadaan yang tadi nya damai dan menyenangkan berubah menjadi mencekam dalam kedipan mata, awalnya hanya 2 orang berkelahi lalu seperti efek domino perkelahian itu menjadi melebar, orang-orang berlarian, berteriak dan panik, fia dengan tubuhnya yang kecil tak bisa melawan gelombang manusia dan terdorong paksa menjauh dari Louis, fia memanggil namanya dengan putus asa, ia mencari keberadaan Louis dalam kepanikan, mungkin karena semua orang berteriak suara fia jadi tenggelam, ia terus saja terdorong tak tentu arah dan tak berdaya, fia seperti tertabrak beton keras saat orang-orang itu melewatinya, ia jatuh terduduk dan hampir terinjak-injak, air mata ketakutan mengalir deras menyusuri pipinya, ia menutup mata dan membisikkan nama Ryan.


dalam kepasrahan tangan fia ditarik paksa keatas dengan kasar hingga membuatnya berdiri seketika, lalu kakinya terangkat mulus ke atas seolah ia seringan kapas, fia dengan refleks mengunci leher Louis dengan kedua tangannya seakan takut lepas dari gendongan nya, mereka saling menatap penuh kelegaan karena saling menemukan,


"i got you" kata Louis, fia menangis keras dalam gendongannya, ia menoleh ke belakang dan melihat pemandangan mengerikan saat orang-orang seperti larut dalam kegilaan mereka


"don't look fia!!" perintah Louis tegas pada fia, ia membenamkan kepalanya diantara leher dan bahu Louis, Louis mengokohkan tangannya dan membawa fia menjauhi kerumunan orang, setelah aman fia didudukkan di bangku taman jauh dari lokasi awal kerusuhan, fia masih menangis ketakutan, Louis bersimpuh dengan kedua lutut menyentuh tanah, ia merengkuh wajah fia dengan tangannya yang besar dan berusaha menenangkan nya


"it's ok, you're save now".