
halo readers 😊
maaf baru sempet update 🙏🙏
karena cari waktu luang buat sekedar ngetik tuh susah buat stay at home mom kayak saya 😂😂.
happy reading 🤗🤗
____________________________________
" kak L "
begitu mendengar namanya disebut Louis langsung memeluk fia, melihat pemandangan itu sontak Ryan loncat dari tempatnya duduk dengan kesal dan hendak memukul Louis tapi tertahan saat Ryan melihat fia menyambut pelukan Louis, Ryan kembali terduduk dengan tangan mengepal di meja, menahan marah karena sepertinya fia mengenal orang itu dan ia memanggilnya kakak.
" i knew it was you, i Miss you so much "
fia tak bisa menahan air matanya, ia benar-benar sangat merindukan Louis
" fia juga kangen, kakak kapan kembali ke Indonesia? "
fia melepas pelukannya agar ia bisa memandang wajah louis, memastikan kalau itu benar orang yang sama yang ada di ingatannya, tidak persis seperti Louis yang dulu, pikir fia. Louis yang ini jauh lebih indah.
Louis menghapus air mata fia dengan kedua tangannya, hal yang selalu ia lakukan dulu, bedanya sekarang ia menangis karena bahagia.
" sebulan yang lalu "
Louis mengambil satu langkah kebelakang, mengamati fia dari atas ke bawah.
" you're a big girl now, a pretty one "
fia merona malu mendengar pujian Louis, fia melipat bibirnya dan tertunduk, Ryan semakin tak sabaran karena merasa diacuhkan dan semakin kesal karena reaksi fia yang malu-malu karena pujian Louis, rasa panas mulai merambati tubuh nya,
" ehem " Ryan berdehem keras, itu caranya mengatakan ' hei, aku disini'.
fia lalu menarik tangan Ryan agar mendekat dengannya
" kak, kenalin ini Ryan " ia menyodorkan tangannya dan memasang wajah sombong
" Ryan " katanya singkat dan dingin, Louis melihat Ryan dengan pandangan aneh, matanya menyipit dan dahi nya berkerut seperti sedang berpikir keras tapi ia menyambut tangan Ryan dengan ramah
" Louis "
ekspresi Louis tak berubah, mata coklat Louis mengeras seperti baru melihat sesuatu yang mengerikan,
" mm... kayaknya ga deh " jawab Ryan ragu, tak bisa dipungkiri pandangan Louis membuatnya tak nyaman.
tapi tidak dengan fia, masih terkejut dengan pertemuan mendadak itu jantung fia mau meledak kegirangan, seperti saat pertama kali bertemu Louis, fia tak tahu bagaimana harus bereaksi, ia hanya memandang Louis dengan mata berbinar dan senyum yang kelewat lebar, tapi kenapa hati Ryan terasa perih? seingat nya fia tidak pernah melihat Ryan dengan tatapan seperti itu, Ryan menepuk dadanya diam-diam tanpa disadari dua orang yang sedang mengacuhkannya, berharap rasa perih di hatinya hilang, mengetahui rasa perih nya tak kunjung hilang, Ryan tertunduk sedih, fia masih belum tahu keadaan Ryan, masih belum tahu kalau kekasihnya merasa di abaikan, sebelum ada yang sadar Ryan mundur perlahan.
" kak, kok kita bisa kebetulan ketemu disini ?"
" kakak habis meeting disekitar sini, sekalian mau cari makan, kamu temenin kakak ya "
" eh... sebenernya fia.. "
kata-kata nya berhenti karena begitu ia menoleh, Ryan sudah tidak ada, ia bingung kapan Ryan pergi, fia terus melihat sekeliling tanpa bergerak berharap menemukan Ryan
" fia...?" Louis memanggil fia
" ya..?"
" temani kakak ya "
"....."
***
Ryan turun dari taksi yang membawanya kabur dari situasi yang menyesakkan tadi tapi walaupun dia berhasil kabur hatinya masih saja gelisah, Ryan hanya selangkah dari gerbang rumahnya sebelumnya berbalik dan berjalan menuju pantai di dekat rumah nya, ia sempat berhenti di persimpangan jalan dan memandang rumah ber cat hijau telur asin dengan jendela besar, di sana lah ia pertama kali melihat fia tertidur, Ryan tersenyum mengingat itu tapi kemudian menjadi murung ketika sadar jendelanya tertutup.
masih belum pulang ya?
Ryan memutar kakinya ke pantai yang menjadi tujuannya, begitu sampai Ryan membuka sepatu dan kaus kakinya agar tidak kena pasir, melipat celana panjangnya sampai sebatas lutut lalu ia membawa sepatunya di tangan kiri, berjalan lurus ke depan hingga kakinya basah terkena air laut, sesekali ia memainkan kakinya di air, menendang dan menginjak hingga air lautnya mengenai wajah Ryan,
Ryan duduk diatas pasir dengan lutut ditekuk ke atas dan kedua tangan melingkarinya, pantai sore itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang disana, juga ada sepasang bocah membangun istana pasir tak jauh dari tempatnya duduk, itu memberinya ide untuk memainkan jarinya dipasir, jari telunjuk kanan nya membuat garis melengkung, lingkaran dan garis lurus, ia terkejut saat melihat nama Sofia muncul di pasir akibat dari jari nya,
ah... bahkan alam bawah sadarku selalu mengingat nya
cukup lama Ryan duduk disana memandangi titik terjauh di laut, matahari pun sudah hampir setengah hilang dibalik air laut, warna khas matahari senja menghangatkan hati nya, air lautnya berkelap-kelip bak bertabur ribuan berlian, persis seperti yang fia suka,
lagi-lagi ingat padanya
lalu hatinya mendadak dingin begitu mengingat fia, Ryan sangat suka dengan fia yang tersenyum tapi sayang senyuman tadi tidak ditujukan padanya, Ryan ingin senyuman itu hanya untuk nya, Ryan menunduk, keningnya menempel pada tangan, ia menutup matanya lelah, ia hanya akan istirahat sebentar disana , atau paling tidak begitu rencananya sampai seseorang memanggil namanya
"Yan..."