
Of all the animals, the boys is most unmanageable
Sofia berlari disepanjang lorong sekolah yang sepi karena saat itu masih jam pelajaran dan semua siswa ada di kelas, langkah kaki nya yang nyaring membuat semua siswa dan guru yang ada di kelas berpaling bersamaan melihat keluar, setelah Rani mengatakan padanya bahwa Ryan terluka akibat berkelahi dengan adik kelas bernama Rendy.
fia membuang semua yang ada dipikirannya dan mengisinya dengan Ryan, ini tidak seperti Ryan yang suka mencari masalah, sebagai siswa teladan perkelahian ini akan menjadi nokta merah di laporannya nanti, dan ia memilih berkelahi di tahun terakhirnya di sekolah, apa yang ia pikirkan?
fia sampai di ruang kesehatan, didepan pintu ia mengatur napas nya yang terengah-engah, setelah ia rasa tenang tangannya berhenti di gagang pintu, ia baru tersadar tindakan nya itu mungkin terlalu terburu-buru, alasan apa yang akan dikatakan nya pada Ryan nanti? akan terdengar bodoh jika ia bilang, ia mengkhawatirkan nya setelah ia mencampakkan nya. fia menjadi ragu-ragu dan menurunkan tangannya seperti nya tindakan yang bijak saat itu.
fia mengurungkan niatnya dan akan meninggalkan ruang kesehatan sebelum pintunya terbuka dari dalam oleh wanita paruh baya yang mengenalinya
"Sofia...."
begitu Ryan mendengar wanita itu menyebut nama Sofia, matanya langsung menangkap sosok gadis yang berdiri di pintu sedang melihatnya dengan matanya yang besar dan sehitam malam, mereka saling bertatapan selama beberapa detik lalu Ryan memalingkan wajah nya karena malu.
tanpa berniat untuk bertanya pada fia ada perlu apa dia kesana, Dian justru meminta pertolongan padanya
"untung kamu disini, saya minta tolong jaga Ryan sebentar dan berikan obat padanya, saya harus ke ruang BP untuk melihat Rendy, sepertinya dia yang terluka lebih parah dari Ryan"
saat ini sepertinya sudah terlambat bagi fia untuk melarikan diri dan Ryan juga sudah melihatnya, tidak mungkin fia pergi begitu saja,
"tapi Bu, kenapa Rendy di ruang BP? kenapa tidak dibawa kesini ke ruang kesehatan jadi ibu lebih mudah merawatnya?"
Dian menengok Ryan dan kembali ke fia lalu menjawab sambil berbisik di wajah fia,
"guru-guru yang lain takut Ryan akan lepas kendali jika mereka berada di satu ruangan yang sama, karena itu Rendy di bawa ke ruang BP, entah ada masalah apa antara mereka berdua sampai berkelahi seperti ini"
fia kembali melihat Ryan yang masih tak berani menatap fia, seperti anak kecil yang sadar telah berbuat salah dan takut di hukum ibunya.
"Sofia saya serahkan Ryan sama kamu ya, obatnya ada di atas meja dekat jendela, saya pergi dulu"
"iya Bu".
fia menunggu Dian menghilang dari pandangan nya lalu perlahan masuk ke dalam dan menutup pintu, ia melihat Kotak obat yang di maksud Dian dan mengambilnya, fia menarik kursi ke hadapan Ryan dan menaruh kotak obat di pangkuannya, pelipis kiri Ryan robek, untungnya darah sudah berhenti mengalir dari sana, sudut bibir nya juga pecah, selain itu Ryan terlihat baik-baik saja, tanpa bicara atau meminta izin, fia mulai membersihkan lukanya dengan alkohol dan kapas, fia tahu Ryan kesakitan tapi ia bertingkah seolah ia kuat di depan fia,
saat ini fia terlihat marah di mata Ryan, dan caranya mengobati Ryan juga kasar, Ryan sadar kemarahan Ryan karena itu meski ia kesakitan tapi ia tak mengeluh, Ryan menunduk agar fia bisa dengan mudah menempel plester luka di pelipisnya yang terbuka, saat itulah ia melihat lutut fia, melupakan semua rasa malunya Ryan bertanya dengan nada cemas,
"kau terluka? lututmu kenapa??"
fia refleks menarik roknya hingga menutupi lutut, dalam keadaan nya yang seperti ini Ryan masih tetap khawatir pada fia, dengan canggung fia menjawab
"aku tidak apa-apa, ini hanya aku yang terlalu ceroboh tak perhatikan jalan kemarin"
"kau punya kebiasaan melukai dirimu sendiri ya, tak bisakah kau lebih berhati-hati? kau itu selalu lamban dan ceroboh"
fia sama sekali tak tersinggung dengan kata-kata Ryan, toh, apa yang ia kalau ia pikir-pikir setelah mereka putus, ini adalah pertama kalinya Ryan mau bicara lagi dengan fia, kenangan yang berputar di mata fia menghasilkan senyum di wajahnya, hati Ryan melunak dan ia menghela napasnya
"kalau kau membuat ekspresi seperti itu bagaimana aku bisa marah? dan jangan pernah tersenyum seperti itu pada laki-laki lain, kau mengerti?"
fia memiringkan kepalanya karena bingung
"huh?"
"sudah lupakan saja, aku juga tak berharap kau mengerti kata-kata ku" lanjut Ryan.
senyum fia yang Ryan rindukan walaupun baru beberapa hari tapi rasanya seperti seabad, mereka bertatapan seperti orang bodoh yang melihat bintang untuk pertama kalinya, merasa kebekuannya sudah mencair, fia bertanya kenapa Ryan sampai berkelahi.
****
setiap hari Sofia sengaja berangkat sekolah lebih pagi dan mengambil jalan berputar hanya untuk menghindar dari bertemu dengan Ryan, jalan memutar membutuhkan waktu lebih lama sampai ke sekolah, fia menaiki bis yang berhenti di halte tak jauh dari sekolahnya, di dalam bis tak terlalu ramai tapi seseorang selalu menyisakan tempat duduk untuk nya, seorang junior di sekolah yang baru ditemuinya sejak ia pergi ke sekolah dengan bis, anak yang ceria dan penuh percaya diri, dia juga lucu hingga membuat perjalanan ke sekolah terasa menyenangkan dan cepat, orang itu bernama Rendy.
Rendy sudah lama memperhatikan fia, pertama kali ia melihat nya adalah saat fia bermain voli di pelajaran olahraga, ia sangat cakap dan mendominasi permainan, bahkan Ayu yang merupakan atlet andalan sekolah kalah darinya, fia sangat kuat sekaligus anggun, tubuhnya yang kecil dan penuh keringat membuat nya semakin menggairahkan, dan tawanya sangat luar biasa, membuat jantung Rendy berdegup kencang layaknya genderang yang di tabuh, ini pertama kalinya jantungnya berdegup karena orang lain, ia merasa kehilangan dirinya karena kepalanya penuh dengan gambaran-gambaran fia, tak ada yang dilihatnya kecuali gadis itu meski Ryan selalu berada di sampingnya,
Rendy berada di belakang fia seperti bayangan, tanpa siapapun sadar akan kehadirannya, mengikuti fia seperti suatu keharusan namun kehadiran Ryan membuatnya kesal, apalah ia dibanding dengan Ryan, Rendy hanyalah anak dari seorang pegawai kantoran biasa dan Ryan berada jauh diatas nya.
sampai suatu hari mimpinya seakan menjadi nyata saat fia menaiki bis yang sama dengannya, Rendy tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang dari surga untuk nya, ia memberanikan diri berbicara dengan fia.
Ryan melihat fia bersama orang itu lagi, beberapa hari ini mereka selalu terlihat berangkat sekolah bersama, yang mengesalkan Ryan adalah fia tertawa dengannya, orang itu bahkan tak pantas menyentuh bayangan fia.
"kau yakin Sofia akan menerima pernyataan cintamu?"
Ryan mengurungkan niatnya untuk keluar dan membuka telinga nya lebar-lebar begitu ia mendengar nama Sofia disebut, ia hanya kenal satu orang bernama Sofia dan ia penasaran, Sofia mana yang mereka maksud.
lalu orang yang satu nya menjawab dengan angkuh
"aku yakin, beberapa hari ini kita sudah sangat dekat dan ia mulai nyaman dengan ku"
air di wastafel berhenti mengalir, suara kedua orang itu menjadi semakin jelas
"Sofia saat ini sedang kesepian, dan aku lah yang akan mengisi kekosongan itu, lagipula setiap kali aku menggodanya dia memberiku respon, dia juga pasti menyukaiku"
"Rend, dia mantannya Ryan, kau tahu Ryan kan? itulah selera Sofia"
telinga Ryan memerah begitu mendengar namanya, Sofia yang mereka maksud adalah Sofia yang sama seperti yang ia pikirkan.
"kau tahu, kurasa Sofia membenci Ryan sekarang kalau tidak untuk apa ia menghindari Ryan? ini kesempatan emas untuk mendapatkan sofia, aku akan mengatakannya sepulang sekolah nanti"
"okelah,. kalau kau sangat yakin aku akan mendukungku, semoga berhasil"
saat suara tertawa mereka menjauh Ryan membuka pintu toilet dengan tinjunya yang tajam hingga menimbulkan suara yang keras dan menimbulkan lubang di pintu, kecemburuan membutakan matanya, tak ada seorang pun yang boleh memiliki fia selain dia, tak boleh seorang pun mendapatkan cinta fia kecuali dia, tak seorangpun!!.
Ryan berlari mengejar 2 orang yang keluar dari toilet, ia tak yakin yang mana itu orang gila yang cukup berani merebut Sofia, tapi dia ingat seseorang memanggilnya dengan nama "Ren..!!!" teriak Ryan.
dan orang yang menengok ke belakang langsung bertemu dengan kepalan Ryan yang keras, Rendy jatuh bebas dengan satu pukulan, Ryan yang marah tak memberi kesempatan Rendy untuk bangun, malah ia duduk di atas Rendy sehingga ia leluasa memukul lagi dan lagi, ia tak tahu apa yang ia lakukan, yang ia tahu di wajah Rendy ia melihat sofia tertawa bersamanya,
tangannya kotor karena darah milik Rendy.
tangan lain menarik bahu Ryan ke belakang hingga berdiri, tiba-tiba Ryan merasakan kepalanya berputar dan kehilangan keseimbangan, ia meraba dahinya dan ada cairan lengket di jari-jari nya berwarna merah.
Rendy bangun dibantu dengan beberapa orang lainnya tapi pandangannya jatuh pada satu orang yang memegang pot kecil, pot itu seharusnya ada di jendela tapi sekarang berpindah ke tangannya, sebelum Ryan mengumpulkan dirinya Rendy secara dr frontal memukulnya di wajah, setelah itu pak Aji datang dan memisahkan mereka.
****
"kenapa kau berkelahi?"
wajah Ryan bersemu merah karena malu, bagaimana ia bisa bilang kalau ia berkelahi karena cemburu dan untuk menutupinya Ryan menjawab dengan kasar
"kenapa? kau khawatir pada ku?"
"tentu saja aku khawatir" jawaban fia membuat Ryan mau tak mau tersenyum dalam hati
"ku dengar akhir bulan ini kau akan bertunangan, selamat ya"
seperti lampu yang dimatikan fia membuat hati Ryan yang semula terang menjadi gelap
"apa kau bahagia?"
Ryan balik bertanya
"apa hubungannya dengan ku?"
"semuanya" Ryan menatap fia tajam, untuk beberapa menit dia terpaku pada Ryan dan paru-parunya mulai kehabisan udara untuk bernapas
"sudah selesai kan?" Ryan mengacu pada kotak P3K yang ada di pangkuan fia, ia pun mengerti maksud Ryan,
"oh, iya sudah selesai"
Ryan bangkit dan menuju pintu dengan langkah yang lebar, Ryan berhenti di depan pintu dan mengingat kata-kata Rendy, dan Ryan menjadi lebih sakit dari luka yang ada di wajahnya. lalu dengan perasaan perih ia bertanya
" kau...."
"ya...?"
"apa kau membenciku?"