
_Call me when you need me, i'll come to you no matter how far_
*******
Pekan olah raga SMA Harapan Pelita telah di mulai, beberapa sekolah di sekitar sana diundang untuk pertandingan persahabatan, SMA Harapan Pelita jadi 3 kali lebih ramai dengan kedatangan SMA Bhakti Pertiwi, hari ini pertandingannya adalah basket, voli dan sepak bola, fia dan teman-temannya menonton Ryan tanding basket, Ryan bermain cemerlang dan langsung menjadi bintang saat namanya di elu-elukan oleh penonton baik dari sekolah Pelita maupun dari sekolah tamu,bukan hanya karena permainan Ryan yang apik tapi juga karena visualnya.
Tiap kali Ryan mencetak skor, ia akan melambai dan melempar kecupan jarak jauh ke fia, Ryan punya kecenderungan bertingkah konyol untuk mengungkapkan perasaan cintanya pada fia, semua orang mengalihkan pandangannya pada fia dengan ekspresi bermacam-macam, lucu nya Ryan mencetak hampir seluruh skor yang team nya dapatkan, bayangkan betapa merahnya wajah fia karena malu. lima menit sebelum pertandingan usai, fia tak tahan untuk pergi ke toilet,
"Ran, aku ke toilet dulu ya"
"oh, mau aku temani?"
"ga perlu, memangnya aku anak kecil, aku akan segera kembali sebelum pertandingan nya selesai"
"ok, cepat sana pergi"
fia setengah berlari menuju toilet, ia bertemu dengan beberapa anak perempuan adik kelasnya yang sedang membetulkan make up nya, mereka kaget ketika fia masuk seperti sudah ketahuan melakukan sesuatu, mereka melempar senyum canggung pada fia, ketika fia berada di dalam toilet mereka berbisik
"itu pacarnya kak Ryan kan?"
"iya, kak Sofia namanya"
"biasa aja ya, ga cantik, kok kak Ryan mau ya?"
"iya, sayang ya .."
Fia tertawa dalam hatinya
mereka sadar kan kalau toilet ini tidak kedap suara? pantas mereka kaget saat aku masuk.
setelah selesai, fia mencuci tangan di wastafel, mengeringkan tangannya dengan tisu toilet lalu berjalan ke sudut toilet untuk membuang sampah tisunya, begitu fia membalik badan, ia di kejutkan dengan sosok misterius berdiri di depannya, pria itu memakai topeng yang menutupi kepala sepenuhnya kecuali di bagian mata dan mulutnya saja, pria itu berpakaian serba hitam dan pisau besar berada di tangannya.
*****
pertandingan basket selesai dengan kemenangan untuk SMA Harapan Pelita, terima kasih kepada Ryan, ia lalu ke bangku penonton di mana dia dan teman-temannya duduk tapi fia tak ada di sana, Ryan bertanya pada putri
"put, Bunga mana?"
"tadi sih katanya mau ke toilet" jawab Rani.
"oh, ya udah, aku mau mandi dan ganti baju dulu, kita ketemu di kantin aja kalau begitu"
Ryan membersihkan dirinya di loker room, ia sudah berganti baju dan hendak menuju kantin menemui fia tapi ia hanya mendapati Putri dan yang lainnya tanpa ada fia.
"Bunga mana?"
"lho, aku kira sama kamu, apa fia belum kembali dari toilet ya?" jawab Rani
Ryan melihat sekeliling kantin, tidak menemukan fia membuatnya gelisah dan cemas karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"mungkin fia sakit perut" kata-kata gema mungkin saja benar tapi itu sama sekali tidak membuatnya tenang, sebelum fia ada di depannya, ia tak akan pernah tenang.
"Ryan, mau kemana?"
"cari bunga"
Ryan berbalik menjauhi kantin dan mulai berkeliling, sulit mencari fia di tengah keramaian, Ryan sudah mencari di toilet setiap lantai gedung sekolah tapi tak ada jejak fia, Ryan membuka loker fia yang kode nya ia tahu dan menemukan tas fia masih disana, berarti fia belum pulang, lalu kemana fia pergi? kekhawatiran mulai merasuki Ryan, ia teringat kejadian beberapa hari lalu di gerbang sekolah dengan Maya, saat itu Maya terang-terangan mengancam fia, apa mungkin menghilangnya fia berkaitan dengan Maya?
Ryan baru saja akan menelpon fia tapi fia sudah lebih dulu menelponnya.
"yank, kamu dimana?"
"Yan, tolong aku...."
selanjutnya yang Ryan dengar adalah teriakan Sofia, teriakan yang terdengar seperti neraka.
****
Pria bertopeng itu membekap mulut fia, pisau tajam yang berada di pinggangnya membuat fia tak bisa melawan atau berteriak minta tolong, fia tak tahu akan di bawa kemana tapi ia tahu kalau ini adalah situasi yang mengancam nyawa nya, dalam perjalanan fia tak bisa berhenti gemetar, kakinya tak bertenaga tapi rasa sakit yang menusuk pinggangnya membuatnya terus berjalan, pria bertopeng itu membawanya ke gudang tak terpakai yang berada di bagian belakang sekolah, begitu pintunya terbuka fia didorong hingga jatuh tersungkur di lantai, lantainya rusak dan kasar sehingga lutut fia terluka cukup dalam dan mengeluarkan darah, di gedung itu cahaya nya redup, udaranya sesak dan bau kayu yang lapuk membuat fia terbatuk, diam-diam fia mengambil ponsel yang ia simpan di saku depan, dengan cepat menekan nomor Ryan, sebelum pria itu menyadari tindakannya, fia berdiri menghadap pria itu dan membunyikan ponsel di belakang nya, fia mencoba mengulur waktu sampai Ryan mengangkat telpon nya.
"siapa kau, apa yang kau inginkan?" pria bertopeng itu hanya diam tak menjawab, fia mengambil langkah mundur seraya pria itu perlahan-lahan mendekati nya,
"jangan mendekat!! aku akan berteriak!!!"
fia terpojok ke dinding, meski sulit ia berusaha tetap tenang dan mencari cara untuk keluar dari situasi itu, saat pria itu mendekat, fia menendang ke arah vital si pria dan membuatnya meringis kesakitan, fia melihat itu sebagai jalan keluar dan langsung berlari menuju pintu entah bagaimana pria itu pulih cepat dan menangkap fia dari belakang, fia jatuh terlentang dan ponselnya terlepas dari genggaman, pria itu mendekat lagi, fia menendang tulang kering nya dan pria itu sekali lagi kesakitan, ia meremehkan kekuatan fia dan tak menyangka akan mendapat perlawanan sengit dari nya, fia merangkak untuk mengambil ponselnya yang jatuh di bawah meja hingga fia sedikit kesusahan menggapainya, tapi belum sempat fia dapatkan, pria itu menarik kaki fia dan berusaha menjinakkannya.
Secara naluriah fia melawan sekuat tenaga, berusaha mati-matian untuk lepas dari cengkeraman nya, fia berjuang keras dengan tenaga yang hanya bisa keluar saat tubuh mu merasakan ada nya bahaya besar, fia secara ajaib berhasil melepaskan diri, fia meraih ponselnya lalu berbalik dan berlari ke arah pintu, fia mencoba membuka pintu yang ternyata sudah di kunci oleh pria bertopeng itu. oh tidak... fia terjebak di sana.
Seketika fia menjadi lemas dan hilang harapan, saat itulah suara Ryan terdengar di telpon
"yank, kau di mana?"
"Yan, tolong aku..."
fia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika rambutnya di tarik paksa ke belakang dan selanjutnya yang Ryan dengar adalah teriakan Sofia, teriakan yang terdengar seperti neraka.
Pria bertopeng itu menyeret fia dengan rambutnya sampai ke ujung ruangan, menekan fia ke dinding dengan tubuhnya yang kuat, fia masih melawan di sisa-sisa tenaganya, setidaknya ia berhasil menelpon Ryan, ia berharap Ryan bisa menemukannya, fia sangat ketakutan ketika pria itu mencoba menciumnya, fia berteriak dan berontak, pria itu sudah kehabisan kesabaran dengan penolakan fia, ia menjadi marah dan semakin kasar, fia dipukul dan di tampar di wajah, meninggalkan banyak memar di sana ya, fia bingung dan ketakutan, dalam usaha terakhir nya ia mendorong kuat pria itu, apapun akan fia lakukan demi mengulur waktu sampai Ryan datang.
Fia tertatih menuju pintu, pria bertopeng itu lagi-lagi menjatuhkan fia dengan wajah menghadap lantai, ia menarik rambut fia dan membenturkan kepalanya ke lantai sebanyak 2 kali, saat fia tak bisa lagi melawan, ia membalikkan tubuh fia dan duduk diatasnya, fia pusing dan limbung, ia seakan sedang berputar di atas komidi putar dengan kecepatan maksimal, pria itu melihat kesempatan dan membuka kancing baju fia, air mata dan darah bercampur menjadi satu di wajah pucat fia, ia hanya bisa memohon dan meminta belas kasihan dari pria itu, ketika ia mulai menciuminya fia merasa jijik
"jangan.... aku mohon lepaskan aku".
pria itu mengabaikan fia dan terus melecehkannya, ia menjilat air mata fia dan menggigit daun telinga nya, fia menangis semakin tak berdaya ketika pria itu menciumi lehernya, tepat ketika itulah bunyi benturan keras mengejutkan si pria bertopeng, suara berdenyit dari pintu yang dibuka paksa diikuti dengan suara yang memanggil namanya.
Fia merasakan beban berat yang ada di tubuhnya terangkat tapi ia sudah kehabisan tenaga untuk berteriak dan tak bisa bergerak, cahaya dari luar menyeruak masuk seiring dengan suara benturan kedua dan seseorang memanggil namanya
"bunga... kau di dalam?!"
"Yan... " jawab fia lemah tapi Ryan bisa mendengarnya, ia berusaha lebih keras lagi untuk membuka pintu nya.
pria itu mengambil kursi dan memecahkan jendela kaca karena panik ia sudah ketahuan, pecahan-pecahan kecil kaca yang jumlahnya tak terhitung jatuh di atas tubuh fia dan menggores kulit fia di sekujur tubuhnya, fia beruntung pecahan kaca tidak mata ke mata nya,
Usaha Ryan yang ketiga berhasil membuka pintunya, di saat yang bersamaan pria itu kabur melalui jendela, Ryan melihat fia terbaring di lantai dengan tubuhnya yang terekspos, Ryan berlari sambil melepas sweaternya untuk menutupi tubuh fia, Ryan lalu melihat ke jendela dimana pria itu menghilang, Jika Ryan mengejarnya sekarang pria itu pasti akan tertangkap tapi saat ini fia lebih penting, fia sangat membutuhkannya. fia di bangunkan setengah duduk, luka-luka yang ada di tubuh dan wajahnya tampak mengerikan
"Yan...." panggil fia lirih, ia ingin memastikan bahwa ia tak bermimpi dan itu benar Ryan yang datang menyelamatkan nya, tangis fia pecah disana.
"ya sayang, ini aku" Ryan memeluk fia hati-hati, ia menangis dalam dekapannya
"Yan..."
"aku disini, tenanglah kau aman sekarang... tidak apa-apa, semua sudah berakhir".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**halo readers 🤗.
terus baca episode-episode terakhir hey Sofia ya...
hope you like this episode**.
#stayathome
#staysaveandstayhealthy 💪