Hey Sofia

Hey Sofia
Rencana Louis




~ when you're not here. God, i wish i was there~.


*****


Dalam dunia Louis semuanya gelap dan membingungkan, tubuhnya mati rasa dan seperti melayang, bahkan ia tak bisa membuka mulut nya untuk bertanya


apa aku sudah mati?


namun rasa sakit yang ada di kepalanya menyadarkan bahwa ia masih hidup, Ryan berpegang pada rasa sakit itu, menggenggam nya erat agar ia tidak jatuh semakin dalam ke kegelapan tapi rasa sakit itu akhirnya tidak tertahan kan, Ryan merasa terbakar di kepalanya dan ia justru semakin kehilangan dirinya.


Ryan mengingat wajah terakhir yang ia lihat sebelum pingsan, wajah ketakutan Sofia yang membuatnya makin merana, bahkan jika Ryan tidak selamat sekalipun ia tak akan membiarkan fia ditinggal dalam kesedihan, fia sekarang pasti sedang menangis memanggil namanya.


Ryan kembali menemukan kekuatan untuk bertahan selama mungkin, kekuatan yang ia dapat dari mengingat wajah fia yang tersenyum menyegarkan, tawa nya yang menenangkan, oh, dan matanya yang dalam dan bersinar seperti ada matahari disana. ya, itu yang harus Ryan genggam, ia harus kembali untuk melihat itu semua lagi, di luar sana Sofia sedang menunggu nya,


....aku harus bangun....


Tapi keinginan tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyataan, begitu Ryan membuka mata, hanya kekecewaan yang ia dapatkan ketika Maya yang dilihat nya, ada urusan apa dia disini, bertingkah seolah ia penting dan peduli.


Maya menggunakan kesempatan ini untuk mengambil hati Ray, ia menemani Ryan sementara Ray tak ada, Ryan hanya menganggap Maya tak lebih dari sebuah furniture di kamar, ia menolak apapun yang Maya tawarkan. jangankan bicara, bahkan melirik pun terasa seperti membuang-buang tenaga.


kebanyakan ia hanya memandang keluar jendela lalu menoleh jika mendengar suara pintu terbuka, berharap sofia memasuki nya. setiap kali ia tak menemukan fia hatinya sakit, satu waktu Ryan menatap layar ponsel nya berjam-jam, sudah ribuan kata yang ia kirim, sudah ratusan kali ia menelpon tapi satu pun tak ada balasan, pergi kemana wanitanya itu?


Tak banyak yang Maya bisa lakukan disana, Ryan tak bicara padanya juga tak meminta bantuan, Maya layaknya vas bunga yang cantik namun terabaikan, tapi maya dengan keras kepala tetap berada disana, berusaha menunjukkan loyalitas dan kesungguhannya pada Ray dan Ryan, seorang lelaki tak mungkin tidak tersentuh dengan ketulusannya kan, sayangnya Ryan bukan lelaki biasa.


Maya mengupas dan memotong buah apel yang ia beli dalam perjalanan ke rumah sakit, ia menyerahkan buah itu dengan penuh perhatian pada Ryan, saat Ryan tak bergeming, Maya dengan nyali nya yang besar mencoba menyuapi Ryan, ia menghempaskan tangan Maya sebelum apelnya menyentuh bibirnya, Maya tersentak dan tak siap dengan penolakan Ryan sehingga sepiring penuh apel berjatuhan dilantai


Ryan tampak tak peduli, ia memandang jauh keluar jendela dan berkata dengan dingin


"keluarlah, aku tak butuh apapun dari mu" Maya menggulung bibirnya


"Ryan,. apa kau tak merasa ini berlebihan?


Ryan memutar kepalanya dan memandang Maya tajam, ia terkejut dan mundur selangkah, tatapan Ryan yang tegas entah bagaimana membuatnya merinding.


"bagian mana dari kata 'keluar' yang tidak kau mengerti??!!! pergilah.... Maya.... atau kau mau petugas keamanan yang menunjukkan pintunya padamu?" Maya menghentak kaki kesal dan berkata sambil bersungut-sungut


"tidak perlu, aku tahu jalan keluarnya". Maya kemudian berbalik dan berlari kecil ke arah pintu, saat Maya baru akan membuka pintu, Ryan mengatakan sesuatu yang membuatnya gemetar karena marah


"bagus dan jangan pernah kembali lagi, kau tak diterima disini".


butuh seluruh harga dirinya yang tersisa untuk berputar menghadap Ryan, ia sekali lagi memandang keluar dengan ekspresi seperti sedang menunggu seseorang tanpa memperdulikan Maya, ia ingin sekali berteriak, berlari dan memukul kepala Ryan, berkata ia sangat bodoh menolak gadis sempurna seperti dirinya, Maya berjalan keluar dan membanting pintu di belakang nya, jari nya membentuk kepalan besar yang kuat sehingga tangannya yang putih berubah menjadi pink, wajahnya merah dan menegang, ia berkata dalam hati


' suatu hari Ryan harus membayar penghinaan ini, aku akan membuatmu menjadi milikku bagaimanapun caranya'


****


pertengahan bulan Desember adalah saat dimana tanah mulai di basahi dengan hujan yang turun hampir setiap hari, udara semakin dingin ketika langit berangsur gelap, fia sedang berada di kamarnya saat ia melihat Louis dari balik jendela, di payungi oleh Sony, mereka menerobos hujan melewati sekumpulan bunga anggrek dan berhenti didepan pintu rumah Sofia, kedatangannya memang sudah ditunggu-tunggu dan lili menyambut mereka sebelum sempat menekan bel.


tak jauh dibelakang lili, berdiri Sofia memakai setelan training dan sweater Hoodie yang dipakai sampai menutupi kepalanya dengan warna hijau lumut, melihat fia, Louis memicingkan matanya dan berpikir dengan berpakaian seperti itu fia mirip seperti ulat bulu.


Louis menggantung jubah panjangnya, setelah menyapa lili, ia menghampiri fia dan memeluk ulat bulu nya.


setelah makan malam yang mengenyangkan, mereka menikmati teh hangat di ruang keluarga sambil menonton TV, fia menekuk kakinya ke atas dan bersandar pada lili, wajahnya tampak tak bahagia namun masih memaksa untuk tersenyum, tubuhnya di sana tapi Louis tahu dari tatapan matanya fia sedang tersesat, jejak tangisan semalam terpampang di matanya yang bengkak, Louis tertunduk, sudut hatinya terasa perih, semua usahanya selama ini seakan sia-sia, ia merasa tak berguna dan tak cukup kuat untuk melindungi Sofia nya, Louis memandang Sofia yang kini meringkuk di pangkuan lili, lalu dengan suara yang lembut seperti membujuk Louis berkata


"Sofia...."


"Hem...." fia menjawab seadanya tanpa repot mengangkat kepala untuk melihat Louis, matanya tertuju pada acara komedi di TV yang sama sekali tidak lucu dan fia pun tak tertawa.


"kau mau ikut aku?"


"kemana?" fia menjawab malas, memang nya malam-malam hujan begini mereka bisa kemana? kemana pun itu fia lebih memilih merasa hangat di rumah.


"ikut aku ke London" kali ini Louis berhasil mengalihkan perhatian fia dari TV, fia bahkan langsung duduk tegap saking terkejut.


"ke London? sama kakak?" Louis mengesap teh nya dan mengangguk sambil menaruh cangkirnya di meja


"perusahaan sudah stabil dan menunjukkan kemajuan yang signifikan, aku bisa menugaskan mas Sony untuk mengurusnya" baik Louis dan fia sama-sama melirik ke arah Sony yang tersenyum canggung


"aku bisa melakukan meeting melalui tele conference, aku juga sesekali akan kembali untuk pengecekan rutin, aku sudah merencanakan semua, kau tak perlu khawatir, asal kau bilang 'iya' aku akan mengurus segalanya untuk mu"


Louis selalu punya rencana di hidupnya, pandangannya jauh ke depan dan hidupnya penuh keteraturan, karena itu lah Louis sempurna dalam melakukan apapun.


fia sadar maksud dari Louis memintanya pergi namun tidak menyangka Louis akan bertindak sejauh ini untuk nya, ini bukan pengorbanan yang kecil, fia tidak bisa menerima begitu banyak dari Louis padahal ia tidak pernah memberikan apa-apa sebagai balasannya, melihat keraguan fia, Louis pun mencoba meyakinkan


"kau bisa lanjutkan pendidikan mu di sana, tak perlu memikirkan apapun, kau berada di bawah perlindungan ku, aku akan penuhi segala kebutuhan mu" kata-kata Louis terdengar seperti angin hangat di cuaca dingin, rasanya menyenangkan dan menggoda tapi itu semakin menambah alasan fia untuk menolak kebaikan Louis yang tidak masuk akal, fia hanya tidak mau bergantung pada siapapun, ia ingin punya kebanggaan dengan berhasil atas usahanya sendiri, terlalu banyak yang Louis korbankan hanya untuk fia, lagi pula mereka tidak punya hubungan dan Louis tidak berkewajiban apapun atas dirinya, tentu saja fia akan menolak


sebelum fia sempat membuka mulutnya untuk bicara, Lili sudah mendahuluinya dan berkata dengan suara selembut beludru nya "Sofia, ini adalah kesempatanmu untuk memulai segala sesuatu nya dari awal, lupakan masa lalu, lupakan semuanya yang membuatmu tidak bahagia, apapun itu, siapapun itu, di atas segalanya ibu hanya ingin kamu bahagia" fia merasakan perih di matanya, Lili merengkuh pipi fia dengan kedua tangannya yang hangat dan sedikit kasar "jangan sedih lagi, jangan menangis lagi, kamu satu-satunya anak ibu, ibu akan bilang apa nanti kalau ketemu Ayah, bahwa ibu tidak bisa menjaga putri kesayangannya? kamu mau ibu dimarahi Ayah?" Lili menangis tapi juga tertawa.


kalau fia pergi, ibu gimana? fia ga mau ninggalin ibu" fia memeluk ibunya,


"tentu saja Tante akan ikut, sebenarnya mom baru membuka toko bunga, Tante bisa bantu mengelola toko itu,. lagi pula siapa yang paling tahu tentang bunga selain Tante?" lanjut Louis.


Sony tertunduk saat diam-diam tersenyum penuh arti, kenyataannya adalah ditengah malam saat Sony sedang terlelap, ia menerima telepon dari Louis, Sony diperintahkan untuk mencari toko bunga di London dan membelinya, Sony pikir ia masih dalam keadaan mimpi mendengar perintah konyol bos nya itu, Sony hanya lah sekretaris pribadi yang harus menuruti perintah tanpa mengeluh.


Sony tidak tahu untuk apa Louis membeli toko bunga, sekarang ia tahu alasannya.


Sony mengangkat tangan dan membungkuk melihat usaha Louis untuk gadis yang dicintainya, ia bahkan melawan semua dewan direksi dengan menyerahkan perusahaan di tangan orang luar seperti Sony, bertahun-tahun Sony hanya cerita tentang Sofia dan kini setelah ia mengenal nya, Sony tahu kenapa Louis sangat mencintainya. Sofia, dia istimewa


fia tidak mengatakan iya, tidak juga bilang tidak. ia masih belum memutuskan, pindah ke negara asing bisa sangat menakutkan dan fia tidak pernah hebat soal perubahan, hidupnya disini, teman-temannya disini, Ryan juga disini meski mungkin tak ada yang tersisa dari mereka tapi bisa melihatnya dari jauh dan tahu ia baik-baik saja cukup membahagiakan fia.


lain ceritanya ketika akhirnya fia harus berhadapan dengan Ryan, fia sedang duduk di tempat favoritnya, tangan kanan menopang pipinya dan pandangannya melayang keluar jendela, beberapa bulan lagi adalah hari kelulusan, fia memaksakan diri masuk sekolah untuk mengejar ketinggalan, meski awan mendung masih menaunginya.


pagi yang cerah dan hangat itu buat fia sekelam dan sedingin musim es, betapapun sakit yang dirasakannya saat ini hidup tetap berjalan, bumi masih terus berputar dan matahari tetap bersinar, fia menutup matanya menyerap panas dari matahari untuk menghangatkan nya, saat tiba-tiba hatinya berdegup liar mendengar suara memanggil namanya, fia membuka mata dan menoleh ke tempat dimana Ryan berdiri didepannya.


fia menahan napas nya, Ryan tampak tampan meski bibirnya sedikit putih, mata nya menatap tajam dan menusuk hati fia hingga kini ia kesakitan, namun diatas semua itu Ryan terlihat jauh lebih baik dari terakhir ia melihatnya, fia tidak bisa berpura-pura tidak panik.


"Yank...." sapa Ryan


"kamu sudah sembuh?" pertanyaan nya mengandung kelagaan


"kamu kenapa ga jawab telepon aku? ga balas pesan aku? kamu juga ga datang ke rumah sakit" Ryan sudah cukup frustasi bertanya-tanya kenapa Sofia tidak datang, ia sangat merindukannya, lalu dengan fakta bahwa sekarang Sofia sedang mengabaikannya membuat Ryan hilang kendali. ketakutannya adalah jika fia benar-benar muak dengannya dan berhenti peduli padanya, alasannya membuka mata adalah fia, alasannya mengusir Maya adalah fia, alasan dia keluar dari rumah sakit lebih cepat juga karena fia, semua yang ia lakukan alasannya adalah fia tapi apa yang Ryan dapat? wajah panik fia ketika melihatnya.


"aku senang kamu baik-baik saja"


"kamu ga jawab pertanyaan aku" Ryan mulai kehilangan kesabarannya karena fia menghindar dan membuang mukanya pada Ryan


"aku....." fia melihat putri yang baru saja memasuki kelas, tanpa fia perlu berkata putri tahu ia sedang meminta pertolongan, wajahnya berubah ungu karena panik, fia pikir dia sudah mempersiapkan diri untuk keadaan ini ternyata jauh lebih sulit ketika Ryan benar-benar berada di depannya, fia hampir jatuh dari kursinya karena terkejut begitu tangan Ryan menghentak meja


"Bunga!! lihat aku, aku sedang bicara padamu!!"


.


.


.


.


.


.


.


halo readers 😊


happy new year 2020 hope we all have a great years ahead


i purple you 💜