Hey Sofia

Hey Sofia
Tentang Ryan



Minggu pagi yang cerah tapi Fia masih bermalas-malasan di tempat tidurnya, tak banyak yang Fia lakukan hanya memandang langit-langit kamarnya seperti biasa, setelah bangun 2 jam sebelumnya Fia gelisah mengingat kejadian semalam, ia ragu itu mimpi atau Kenyataan, semalam Ryan menyatakan perasaan nya dengan cara paling indah menurut Fia, tanpa sadar tersenyum sendiri, menyembunyikan wajahnya di balik selimut karena malu, sesaat kemudian dia menyibakkan selimutnya dan meraih ponsel di atas meja rias dekat tempat tidur nya.


Fia menggambar pola hingga ponselnya terbuka, masuk ke app WhatsApp mencari kontak Ryan dan mulai mengirim pesan.


Ryan


terakhir dilihat 00.09


 


08.15


Hai.... mau ke danau dekat taman


08.15


😊


 


08.18


Boleh


 


08.18


Aku jemput jam 9?


 


08.20


Ok ...


 


Fia langsung melompat dari tempat tidur nya dan lari ke kamar mandi, setelah selesai mandi ia memilih baju di lemarinya, Fia memakai oversize t-shirt putih dan celana pendek selutut, menaburkan bedak tipis dan lip tint agar tidak pucat, waktu menunjukkan pukul 08.48 saat Fia selesai mengeringkan rambut nya, ia membawa buku gambar hard cover tebal berwarna coklat tua dalam dekapannya, sebelum pergi Fia mengetuk pintu kamar ibu nya untuk pamit, pelan-pelan ia membuka pintu dan mendapati ibunya masih terlelap tidur, setiap akhir pekan Lily akan bangun lebih siang karena itu satu-satunya waktu untuk beristirahat setelah bekerja selama 6 hari, Fia menuliskan pesan di secarik kertas dan diletakkan di meja rias


Ibu, Fia pergi ke Taman.


agar tidak menggangu ibunya, Fia menutup pintu kamar tanpa suara.


Fia mengeluarkan sepedanya dari garasi, menaruh buku gambarnya di keranjang dan menunggu Ryan, hanya perlu 2 menit Ryan sudah memasuki pintu pagar rumahnya, tiba-tiba Fia jadi gugup, mereka sudah sering bersama tapi tiap kali bertemu, Ryan selalu mengejutkan Fia betapa Ryan sangat sempurna sebagai laki-laki, ia tampak stylish dengan sweet shirt abu-abu dan celana pendek selutut berwarna hitam dan sepatu sneaker putih kesayangannya.


 "Sudah siap?"


"udah" Fia tersenyum lebar, membuat Ryan gemas dan mengacak rambut Fia.


"Cantik banget sih pacar aku"


"Jangan di acak-acak rambut aku" Protes Fia yang di balas dengan kekehan Ryan.


"Iya maaf, sini aku rapihkan lagi" Fia melihat Ryan sedikit mendongak, benarkah mereka sekarang pacaran? batin Fia berkata.


"Kenapa lihat aku kayak gitu? aku ganteng?"


Banget... Jawab Fia dalam hati tentunya.


"GR" Ketus Fia


\#\#


 


Minggu pagi di taman selalu ramai tak terkecuali di danau. Fia selalu suka pemandangan danau, saat cahaya matahari yang ke emasan jatuh kepermukaan, air nya menjadi berkilauan seperti ribuan berlian bertaburan.


setelah sekian lama tidak menggambar, Fia memilih pemandangan danau untuk memulainya lagi, mereka duduk santai diatas rumput tanpa alas dengan pohon rindang besar dibelakang mereka sebagai pelindung dari hangatnya sinar matahari,


di bawah sana ada jalan setapak yang biasa digunakan orang untuk jogging, antara jalan setapak itu dan danau dipisahkan oleh tembok batu setinggi pinggang orang dewasa, mereka dapat pemandangan terbaik dari tempat mereka duduk.


Ryan mengawasi Fia saat ia menyiapkan peralatan gambarnya, ia belum pernah melihat Fia bersemangat soal sesuatu, sebelumnya Fia tidak menunjukkan ketertarikan pada apapun, diam-diam Ryan tersenyum puas.


"Aku tidak tahu kamu suka menggambar"


"Aku sangat suka menggambar, tapi karena sudah lama sekali sepertinya tanganku kaku"


Ryan mengusap punggung Fia, membuat gadis itu merinding dan pori-pori tangannya menjadi besar seperti kulit jeruk,


"Tak perlu buru-buru.... lakukanlah perlahan"


kata-katanya bagai suntikan semangat bagi Fia, dia meletakkan peralatannya dan berbalik menghadap Ryan,


"Bagaimana denganmu? apa yang kau suka?"


Fia balik bertanya, saat Ryan bercerita tentang kecelakaan nya waktu itu, Fia sadar ia ingin mengenal Ryan lebih baik lagi, Fia tahu Ryan bukan hanya sekedar senyuman manis, ada yang lebih di balik senyuman itu.


"Aku suka kamu..."


Fia memukul pelan lengan Ryan, yang dipukul meringis sambil terkekeh.


"Aku serius..."


"Aku juga serius"


"Aku pulang aja deh" Ulti Fia.


"Iya iya, jangan ngambek dong, baru juga jadian masa udah marahan"


"Salah siapa?" Bibir Fia mengerucut. kalau bukan ditempat umum mungkin Ryan sudah menyambar bibir itu


"Aku suka sekali musik, aku juga suka bernyanyi ...."


matanya berbinar disertai dengan tawa kecil


"Jangan tertawa ya tapi cita-cita ku ingin menjadi penyanyi terkenal"


Fia tahu Ryan suka mendengarkan musik tapi Fia tidak pernah mendengar nya bernyanyi sekalipun


"Jadi apa kamu akan mengejar cita-cita mu menjadi penyanyi?"


"Itu mustahil..."


Kini Ryan menekuk kakinya ke atas dan mengaitkan kedua tangannya di antara lutut.


"Aku adalah anak tunggal, satu-satunya ahli waris papaku, kelak aku harus meneruskan perusahaannya kan?"


tak ada raut sedih dari wajah Ryan, hanya ada rasa kesal dari nada suaranya.


Bagaimana rasanya terpaksa melakukan hal yang tidak kau suka dan dipaksa menyerah pada hal yang kau cintai


"Apa kamu baik-baik saja? kamu tidak masalah soal itu?"


Ryan mengangguk meyakinkan Fia.


"Aku tidak apa-apa, lagi pula aku tidak bisa berada di keramaian dan menjadi pusat perhatian"


"Oh ya, kamu kan tidak suka keramaian"


Fia mengingat bagaimana Ryan juga selalu menghindar dan tidak peduli dengan sekitarnya, meski di sekolah Ryan selalu dikerumuni adik kelas dia hanya tersenyum dan terus berjalan atau saat banyak mata yang meliriknya seperti sekarang Ryan bertingkah seolah tidak ada apa-apa, dia selalu menghindari kontak mata dengan orang yang tidak dikenal.


air mukanya berubah serius ..


"Aku bukan tidak suka, aku tidak bisa"


tubuhnya bergetar saat mengatakan itu, baru kali ini Fia melihat Ryan ketakutan seperti itu.


"Aku sering memimpikan hal yang sama terus menerus, di mimpi itu aku ada di sebuah pemakaman, ada seseorang yang sedang dimakamkan di sana tapi aku tidak tahu siapa, aku mendengar suara tangisan yang menyakitkan hatiku saat mendengarnya, aku coba mendekat tapi saat mereka melihatku, aku merasa ketakutan... mereka mempunyai mata merah yang sangat menyeramkan, aku bisa merasakan kebencian yang amat sangat besar dari mereka, aku ingin berlari tapi kakiku tak bisa bergerak, aku berteriak tapi suaraku hilang, aku terjebak di sana dan mereka terus saja memandangiku.."


tubuh Ryan bergetar hebat dan dia berkeringat. Fia memegang tangan Ryan berusaha menenangkannya, Fia menghapus keringat Ryan dengan tisu yang ia bawa dan berkata dengan nada menenangkan


"kamu tidak apa-apa, kamu aman bersama ku"


"Aku sering tidak bisa tidur karena mimpi itu"


dengan nada yang sangat lemah lembut Fia berkata


"Lain kali kalau kamu bermimpi buruk lagi, telpon aku ya"


"kapan pun boleh?"


"Boleh". Fia menjawab yakin


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Halo readers 😊


terima kasih masih setia membaca hey Sofia.


i purple you all 💜💜