
The worse is yet to come
****
"Yan, kamu kok disini?"
"apa itu semua benar?"
Ryan yang sekarang, mengingatkan fia pada Ryan saat ia menelponnya pagi itu,Ryan menggigil tapi bukan karena udara dingin, ia bermandikan keringat,apa karena ia berlari kesini?bahkan suaranya pun terdengar aneh, ia seperti orang ketakutan.
"a..apa maksudmu?apa yang kau bicarakan?"
Ryan mengangkat ponselnya dan membaca berita dengan suaranya yang gemetar dan air mata yang mengalir,
"RAP anak dari pemilik hotel ternama pernah melakukan tabrak lari,Chandra Darmawan (36) bersama dengan istri (35) dan putri mereka (12) terlibat kecelakaan mobil dengan RAP, istri dan putrinya mengalami luka berat namun sang ayah Chandra Darmawan meninggal di tempat, diketahui saat itu RAP mengendarai mobil tanpa pengawasan...."
Ryan tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia sangat terguncang dengan berita itu
"Chandra Darmawan itu ayahmu kan?RAP yang mereka maksud itu aku kan?"
"Yan, aku bisa jelasin..."
Seketika Ryan lemas, ia memang sudah menduganya tapi mendengarnya langsung dari mulut fia terasa beribu kali lebih menyakitkan, bahunya turun, hampir tak ada tenaga tersisa di kakinya hingga ia jatuh berlutut, kenyataan ini terlalu menyakitkan dan membingungkan karena berapapun kerasnya ia mencoba untuk mengingat, yang ia lihat hanya kegelapan, kepalanya terasa bagai ditusuk ribuan jarum. ia merasakan kesakitan yang luar biasa.
"jadi itu benar.... akulah penyebab ayahmu meninggal.... aku seorang pembunuh..."
Fia menghampiri nya,berlutut di tanah bersama Ryan
"jangan bicara seperti itu,kau bukan pembunuh,aku bisa jelaskan semuanya,kumohon tenanglah dulu"
tangisan histeris Ryan membuat mata Fia juga perih,Ryan begitu menderita dan ia tak tahan untuk tidak menangis,
"ampuni aku.... kumohon maafkan aku,, . ya Tuhan, apa yang telah kulakukan... maafkan aku... maafkan aku... aku benar-benar minta maaf"
hati Fia hancur mendengar permohonan maaf Ryan
"dengar aku, kau tidak salah, itu adalah kecelakaan"
"aku tidak bisa mengingat apapun,kepalaku sangat sakit..."
Ryan memukul-mukul kepalanya dengan tangan terkepal
"hentikan itu jangan sakiti dirimu sendiri, kumohon tenanglah"
"aku orang jahat.."
Fia hanya memeluk Ryan,berharap itu bisa menenangkannya
"kau bukan orang jahat.... kau bukan orang jahat.... semua akan baik-baik saja.. tidak apa-apa"
Fia mengulang kata-kata nya terus menerus sampai tangisan Ryan tak terdengar lagi,ia tak lagi menyalahkan dirinya sendiri dan berhenti memukul kepalanya,Fia lega ia sudah berhasil menenangkan Ryan.
Tubuh Ryan dingin tak bergerak, ia juga tak merespon saat Fia memanggil namanya, ketakutan baru merasuki Fia,ketakutan akan kehilangan Ryan.
"Yan.Bangun, bukalah matamu"
Fia mengguncang tubuh Ryan yang sekaku batang kayu.
"Kumohon bangunlah.... ya Tuhan apa yang harus kulakukan?Ryan...bangun... bukalah matamu"
dalam kepanikan, Fia berteriak dan terus berteriak memanggil namanya namun Ryan tak bergeming.
"Sofia...!!!"
Fia merasakan kelegaan ketika Louis tiba-tiba datang,bagaimana ia selalu tahu saat Fia sedang dalam kesulitan?
"Kak,tolong Ryan,ia tak sadarkan diri"
"Mas Sony,siapkan mobil,kita ke Rumah Sakit!"
Saat Sony berlari untuk menyalakan mobil, Louis mengangkat Ryan ke punggungnya tanpa kesulitan, seolah Ryan seringan kapas, Louis memasukkan Ryan ke mobil dan segera menuju Rumah Sakit.
~~
Sudah hampir menjelang subuh namun Ryan masih belum sadar,Sony dan Louis pasti sama lelahnya tapi mereka tetap menemani Fia.
"Kak, apa yang terjadi?bagaimana berita kecelakaan itu bisa sampai bocor?tak ada orang asing yang mengetahui hal ini"
"Aku akan selidiki ini,jangan khawatirkan itu, pastikan saja tentang keadaan Ryan"
"Dia akan baik-baik saja kan?semalam Ryan sangat ketakutan, dia berpikir kalau dia orang jahat dan menyalahkan dirinya atas meninggalnya Ayah,apa yang akan terjadi kak? Fia takut jika Ryan bangun kejadian semalam akan terulang"
"kau harus menjadi lebih kuat untuknya,jangan perlihatkan ketakutanmu dan betapapun lelahnya dirimu tetaplah tersenyum, paling tidak itulah yang bisa kau lakukan untuknya"
bagaimana kak L sangat dalam hal ini adalah karena ia pernah berada di posisi ini saat aku berada di posisi Ryan,saat aku menyalahkan diriku sendiri atas kecelakaan itu, kala L tak pernah jauh dari sisiku,inikah yang kau rasakan saat itu?
"Kak,terima kasih"
Louis terbang dari malang segera setelah membaca berita yang Sony sampaikan padanya, ia tahu Fia pasti membutuhkan nya jika keadaan menjadi buruk, keputusannya tak pernah salah, bayangkan jika Louis tak datang semalam
"Hm... ya aku harus kembali dari pekerjaanku yang menumpuk itu hanya untuk menemanimu,sudah semestinya kau berterima kasih"
"tsk.... itu dan juga terima kasih untuk semuanya"
Jam 8 pagi Lana datang membawa pakaian ganti dan sarapan untuk mereka lalu kembali ke kantor bersama Sony,Louis menunda semua jadwal pentingnya dan menyerahkan penyelidikan nya pada Sony,bahkan di Rumah Sakit Louis tetap bekerja melalui laptop nya, ia bisa saja meninggalkan Fia tapi ia memilih untuk tetap tinggal, terbuat dari apakah hatinya itu, apa Louis bahkan seorang manusia? karena ia lebih seperti malaikat.
Dokter datang berkunjung dan melakukan pemeriksaan pada Ryan, Louis meletakkan laptopnya dan bergabung bersama Fia untuk mendengarkan penjelasan dokter.
"bagaimana keadaannya, dok?"
"hasil pemeriksaan menunjukkan tak ada yang salah dengannya, Ryan baik-baik saja"
"Tapi kenapa Ryan masih belum sadar, dok? dan semalam Ryan bilang kalau kepalanya sakit"
"Sofia, dengarkan penjelasan saya dulu"
"Dokter kenal saya?"
"Tentu saja saya kenal, saya dr.David, saya adalah dokter yang menangani Ryan sejak kecelakaan 6 tahun lalu, sakit kepala yang Ryan rasakan seharusnya tidak berbahaya, terlebih belakangan ini Ryan rutin memeriksakan diri dan meminum obatnya"
"kalau itu tidak apa-apa, kenapa Ryan masih belum sadar sampai sekarang?"
tanya Fia tidak sabar, Louis mencoba menahannya dan menenangkan Fia.
"Dengarkan dulu apa yang akan di katakan dr. David"
"Ryan secara fisik sangat kuat tapi efek dari kecelakaan itu membuatnya lemah secara mental, kenyataan yang baru diketahuinya membuat Ryan sangat terguncang, sekarang semua tergantung padanya"
"Apa maksudnya dok?"
saat dokter tak mampu menjawab, Louis maju dan menjelaskan pada Fia"
"Maksudnya, Ryan tak berani menghadapi kenyataan, ia sendiri yang menolak untuk bangun"
"a..apa itu masuk akal?"
Fia lalu berteriak ke arah Ryan
"Ryan, bangunlah!! katakan pada mereka itu semua salah, kau hanya sedang tidur dan akan segera bangun, ayo cepat katakan pada mereka!"
Fia menolak mempercayai nya, Ryan pasti akan segera sadar dan semua kembali seperti semula, Fia kehilangan kendali dan memaksa Ryan untuk bangun
"Sofia tenanglah, itu sama sekali tak membantu, Ryan merasa bersalah padamu, akan lebih baik jika untuk sementara kau menjaga jarak"
lanjut dr. David
"Apa?"
"Saya sudah menghubungi Ray,kami akan memindahkan Ryan"
"Dipindahkan? kemana?"
"Ke Jerman"
"Apa?! tidak! tidak boleh!!"
"Ini demi kebaikan Ryan"
Dr. David mencoba meyakinkan Fia
"Tempatnya adalah disini bersamaku, saat ia bangun nanti aku harus mengatakan kalau itu bukan kesalahannya, hanya dengan begitu Ryan bisa sembuh dari traumanya"
"Sofia, jangan membuat ini jadi sulit, Ray punya hak atas Ryan dan saya sebagai dokternya merasa memindahkannya adalah pilihan yang tepat, Ryan mendapat perawatan terbaik di Jerman"
"Memindahkannya? maksud dokter memisahkan aku dengan Ryan?"
"Tolong mengertilah, kalau kau peduli pada Ryan kau akan melepaskannya, bahkan sebenarnya saya tak perlu ijin darimu, saya melakukannya hanya demi kesopanan, karena kau sangat penting bagi Ryan, jika kau melepasnya, Ryan akan pergi dengan perasaan tenang, semua sudah disiapkan, kami akan membawa Ryan pergi dalam 2 jam"
Louis menangkap Fia sebelum ia menghantam lantai Rumah Sakit yang dingin, Louis hanya bisa menatap Fia saat ia mulai menangis tanpa suara.
Apakah tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegahnya pergi? andai saja aku tahu sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat senyum Ryan, aku akan berlari memeluknya dan pergi bersamanya, dengan begitu Ryan takkan pernah membaca berita itu dan semua ini takkan pernah terjadi, apa ini kutukan ku? aku tak boleh bahagia? semuanya direnggut dariku dengan cara yang kejam dan aku hanya bisa diam melihat semua itu hilang dariku, yang paling menyedihkan adalah aku tak mampu melawan, tak diberikan ruang untuk berjuang, betapa aku sangat bodoh dan menyedihkan.
Fia belum berhenti menangis saat mereka akan memasukkan Ryan ke dalam ambulance dan akan membawanya ke Jerman dengan pesawat khusus yang sudah di siapkan Ray, sesaat sebelum Ryan dinaikkan ke ambulance, Fia cukup beruntung di persilahkan untuk berpamitan,Fia berbisik ditelinga Ryan dengan suara pelan hingga hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya
"Aku memaafkanmu, kumohon kembali padaku, aku akan menunggumu sampai kapanpun"
Ciuman di kening Ryan diberikan Fia sebagai salam perpisahan, air mata yang mengalir jatuh di wajah Ryan. sambil melihat ambulance menjauh, Fia berbisik dalam hati
sampai bertemu lagi
.
.
.
.
.
.
.
.
💜💜💜