
**DEAR, SOFIA.
I ONLY DREAM OF YOU BUT YOU'LL NEVER KNOW
_L**_
***
Ryan mematung dan hanya bisa menyaksikan Fia pergi, merasa seperti pecundang dan mengutuk dirinya sendiri, betapa ia sangat bodoh dan tak berguna
kami bertemu setelah 10 tahun dan yang kulakukan hanyalah membuatnya menangis, apa aku bisa lebih ******** dari pada ini? tidak boleh! kesalahpahaman ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak kembali untuk membuatnya sedih, aku harus menemuinya.
Ryan tak tahu kemana Fia pergi, jadi ia menunggunya didepan rumah, kegelisahan Ryan menjadi kekhawatiran saat sudah hampir tengah malam Fia belum juga pulang.
Sejak dari kantor Wowtoon, Fia tampak lesu, kupikir mengajaknya akan membuatnya terhibur, seharusnya aku tanya apa yang terjadi dan bukan menariknya paksa untuk ikut.
Ryan melihat Fia dari kejauhan, ia bisa tahu Fia kelelahan dari caranya berjalan terhuyung,
"Kenapa kau pulang malam sekali, diluar sangat dingin nanti kau bisa sakit"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku menunggumu, aku ingin menjelaskan semuanya"
"Pulanglah, sudah kubilang tak ada yang perlu dijelaskan"
"Aku takkan pergi sebelum kau mendengar yang ingin kukatakan"
"Baik, bicaralah, kau punya waktu 3 menit"
"Aku kembali untuk mu, aku sangat merindukanmu dan tak ada satu hari pun terlewat tanpa aku memikirkan mu"
Aku sudah mendengar kata-kata itu sebelumnya tapi kata-kata itu tidak bisa menenangkan hatiku saat ini, kenapa?
"Waktu 3 menitmu sudah habis"
"Hah..?"
"Kalau sudah selesai pergilah"
Ah.... aku tahu karena aku belum mendapat jawaban dari pertanyaanku, berdiri dimana aku dalam hatimu? kau tidak juga mengatakan perasaanmu, katakanlah agar semua menjadi jelas
"Tunggu, apa kau tidak mau mengatakan sesuatu?"
"Apa yang harus kukatakan? Bahwa aku senang kau kembali? dan aku juga merindukanmu? setelah itu kita bisa kembali bersama dan hidup bahagia seolah tak pernah terjadi apa-apa? kalau kau benar-benar peduli padaku, kau takkan menunggu sampai 10 tahun untuk kembali, kau memaksakan kehendakmu tanpa bertanya apa yang kuinginkan, kau pikir kau tahu segalanya tentang aku?biar kuberitahu apa yang terjadi padaku setelah kau pergi.
Sekolahku berantakan dan aku di DO dari kampus karena aku tidak bisa berhenti khawatir tentang keadaanmu, aku 2 kali masuk rumah sakit karena tak bisa makan dan selalu memikirkanmu, aku kehilangan semuanya karena kau,aku habiskan 10 tahun hidupku seperti di neraka itu juga karena kau, sekarang setelah aku terbiasa tanpamu tiba-tiba kau muncul, bertingkah seolah semua baik-baik saja, kau mengacaukan pikiran ku lagi dan Sekarang aku kehilangan Daylight Star.
Aku tidak punya apa-apa lagi untuk bisa kau ambil, kau ingin tahu kenapa aku marah? karena kau menjalani hidup yang menyenangkan, kau punya banyak teman, kau bisa tertawa padahal aku disini menderita, ah tidak lebih tepatnya aku iri melihat betapa baiknya hidupmu sementara hidupku sangat menyedihkan, karena itu aku membencimu. Jangan datang lagi dan jangan mencariku Ryan Aji Prasetya, karena aku sudah muak"
Dengan sisa tenagaku, aku berjalan kerumah dan menutup pintu di belakangku, inilah akhirnya,. aku dan Ryan benar-benar sudah selesai, kalau aku melihat ekspresi wajahnya saat aku bilang aku membencinya kurasa Ryan takkan memaafkanku, lebih bagus begitu, Ryan bisa melanjutkan hidupnya tanpa aku, hidupku sudah hancur tapi hidup Ryan harus terus berjalan, satu hal yang kusadari saat aku berjalan tanpa tujuan hari ini adalah ia punya masa depan yang panjang dan cerah, orang seperti ku yang tak punya apa-apa tidak pantas disandingkan dengannya, aku adalah orang yang gagal dalam hidup dan karier ku, aku hanya akan menjadi ranting rapuh yang menghalangi jalannya, aku ingin membersihkan jalanmu dari kerikil-kerikil kecil, inilah yang kumau, tapi kenapa hatiku sangat sakit? hatiku seperti tercabik oleh pisau tak kasat mata, pisau yang sama yang membunuhku berkali-kali, pisau itu bernama cinta, bagaimana cinta bisa terasa sesakit ini?
Fia tersungkur di lantai dan menangis sangat keras, keberaniannya sudah ia habiskan saat di luar tadi, dalam ruangan yang gelap, Fia hanya bisa memeluk lututnya yang gemetar, entah berapa lama Fia dalam posisi itu, 1 jam, 2 jam, Fia tak menghitung waktu.
Tanpa Fia sadari, tangannya bergerak sendiri mengambil ponsel dan menelpon seseorang, begitu ia sadar sudah terdengar kata halo dari seberang sana.
"Halo sayang"
Sudah terlambat untuk menutup telponnya, Fia kemudian mengambil napasnya
"Ibu..."
"Ya sayang, tidak biasanya kamu menelpon jam segini, sekarang pasti sudah tengah malam disana kan? apa kau begadang lagi karena Daylight Star?
"Ibu... Tanpa Daylight Star apa ibu akan bangga pada Fia?"
"Ada apa sayang? tiba-tiba bicara begitu?"
Fia menghapus air matanya dalam sunyi dan berpikir, Ibunya tak perlu tahu apa yang terjadi, Fia tak mau ibunya khawatir
"Fia hanya berpikir untuk mengakhirinya dan mencoba hal baru"
"Apapun yang kamu lakukan, ibu akan selalu bangga dengan atau tanpa Daylight Star, kamu mengerti? kamulah yang paling berharga buat ibu jadi kamu juga harus menghargai dirimu sendiri, lakukan hal yang membuatmu paling bahagia"
"Hmm... "
Ini luar biasa, bagaimana ibu selalu bisa menenangkanku walaupun ibu tak tahu apa yang terjadi
"Ibu, Fia kangen"
"Bagaimana kalau akhir pekan ini kamu datang berkunjung, ibu akan kirimkan tiket, datanglah bersama Louis"
Usaha toko bunga ibu maju pesat, ibu juga sudah mempunyai 5 cabang dan membeli rumah dengan tabungannya selama 10 tahun, ibu juga rutin mengirimkan uang untukku, aku senang ibu hidup bahagia dan nyaman secara mandiri, itu semua karena ibu mengikuti kata hatinya dan melakukan apa yang membuatnya bahagia,
"Iya, nanti Fia beritahu kak L"
###
Hari-hari berlalu dan Ryan selalu datang, yang ia lakukan hanya menunggu di depan rumah Fia, memandang ke arah jendela kamar Fia dimana ia tahu Fia juga sedang melihatnya,Fia pikir Ryan akhirnya akan menyerah dan pergi dari sana tapi setelah 4 hari berlalu, Ryan tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, maka Fia menelpon Louis dan meminta bantuannya,
Dari jendela kamar, Fia menonton 2 laki-laki yang menarik perhatian orang-orang di sekitar karena paras sempurna mereka, Ryan kini hampir sejajar dengan Louis yang tinggi dan besar.
Bagaimana Ryan bisa tumbuh setinggi itu?
"Apa kabar Louis?"
"Lebih baik saat kau tak ada"
Louis bersandar pada Merci hitam seperti halnya Ryan, Ia mengeluarkan rokok, menyalakan pemantik dan mulai menikmatinya, Louis menghembuskan kepulan asap tebal seperti lokomotif dengan sangat elegan.
"Boleh aku minta satu?"
Pinta Ryan, Louis sedikit terkejut tapi tetap menyodorkan kotak rokoknya pada Ryan.
"Sekarang kau merokok?"
Ryan mengambil satu batang dan mulai menghisapnya seperti ia sudah terbiasa, lalu membuat bentuk pada asapnya seakan ia professional.
"Hanya sesekali..."
Sambil menghabiskan rokok, mereka berdua memandang ke arah yang sama, jendela kamar Fia.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Menunggu"
"Kau menganggu"
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya, aku sudah membuatnya menderita"
"Aku ragu kau tahu apa itu penderitaan saat kau jalani hidupmu dengan bahagia di sana"
Tatapan mata Ryan penuh kesedihan, ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi di hatinya, seperti gelembung yang semakin lama semakin besar dan akhirnya meledak, Ryan menahan perasaan itu sekuat tenaga, ia hisap rokoknya dalam-dalam untuk menyembunyikan kegelisahannya,
"Kau lulus dari universitas dan mendapatkan gelarmu sedangkan Fia pernah di DO, Kau tertawa dan berkumpul dengan teman-teman mu tapi Fia kesulitan membuka dirinya pada orang lain,Jangan bicara tentang penderitaan padaku saat kau tidak melihat dengan mata kepalamu sendiri Sofia menangis tak henti-henti dan bermimpi buruk setiap malam atau saat pandangan matanya kosong padahal kau tepat berada di hadapannya. Oh satu lagi, ini kabar baik, sekarang Fia sudah tahan dengan dingin, kau tahu kenapa? Fia pernah hampir tiada karena Hipotermia"
Ryan menjatuhkan rokok yang berada di antara kedua jarinya, wajahnya menegang sambil memandang Louis.
"Kau bilang apa tadi? Bunga... maksudku Fia hampir tiada? apa yang terjadi?"
"Fia berdiri di depan rumahmu yang akan dijual selama berjam-jam di bawah guyuran hujan, sekujur tubuhnya menggigil dan bibirnya membiru tapi ia tetap disana seperti patung yang tak merasakan apapun, Fia ditemukan pingsan dan di bawa ke Rumah Sakit, ia benar-benar beruntung bisa selamat"
Ryan menjadi lemas mendengar perkataan Louis, Fia mengalami begitu banyak hal bahkan hampir meninggal, apa bahkan ia pantas untuk dimaafkan?
"Karena itu pergilah dan biarkan Fia tenang menjalani hidupnya, ia bisa lebih baik tanpamu"
Kata-kata Louis membingungkan Ryan, jika semua kemalangan itu terjadi saat Ryan tak ada, bukankah kehadirannya justru bisa mengobati luka Fia? kenapa ia harus pergi? kenapa Fia mengabaikannya?.
Ini yang Ryan tidak mengerti, kenapa Fia menolaknya? Kenapa Fia sangat ingin Ryan pergi? alasan karena Fia ingin hidup tenang tanpa Ryan menjadi tidak masuk akal.
"Aku mengerti apa yang terjadi antara kalian sampai harus berpisah, karena itu aku bisa berdiri disini dan bicara baik-baik denganmu, Fia memintaku untuk menyuruhmu pergi"
"Tapi kenapa...?"
"Lakukan saja apa yang ia inginkan, hormatilah keputusannya"
Bukankah Fia menungguku? sekarang aku sudah ada disini, lalu apa yang menahannya untuk kembali padaku? ini tidak benar, pasti ada sesuatu yang Fia sembunyikan.
"Aku tidak akan pergi, sebelum aku meminta maaf, sebelum Fia mendengar penjelasan ku dan sebelum Fia mengatakan kenapa ia mengabaikan ku"
"Kau sangat keras kepala"
Louis beranjak setelah rokoknya habis dan hendak menuju ke dalam
"Terserah padamu saja"
###
Louis meninggalkan Ryan, ia langsung menuju kamar Fia dimana ia mengawasi mereka dari balik jendela.
"Kakak sudah bicara dengannya?"
"Percuma, ia masih bersikeras ingin bertemu dengan mu"
ya, itu terdengar seperti Ryan, sejak dulu ia harus mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.
"Ryan ingin tahu kenapa kau menghindarinya, dia sudah kembali, bukankah itu yang kau mau? ada apa Sofia? apa yang menahanmu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
hope you like it 💜💜💜