
Ryan berbaring sambil menemani Fia menggambar, rencananya cuma ingin menutup mata sebentar tapi angin yang sejuk membuatnya tertidur pulas.
2 jam kemudian Fia selesai menggambar, tanpa berani membangunkan Ryan, Fia mengamati Ryan yang sedang tertidur pulas dari dekat dan semakin dekat, sangat dekat hingga Fia bisa melihat titik hitam kecil diatas alis sebelah kanannya, dia mengagumi keindahan itu cukup lama, bahkan kulit Fia tidak sehalus dan sebersih Ryan, bahkan bulu matanya pun lentik, bibirnya penuh dan pink alami, Fia penasaran bagaimana rasanya di cium bibir indah itu, jantung Fia berdegup kelewat kencang sampai suaranya membangunkan Ryan dan mata mereka bertemu.
POV Ryan.
Aku terkejut melihatnya sedekat ini, aku bisa melihat dengan jelas kecantikannya yang menyilaukan, bibirnya sangat dekat dengan bibirku rasanya ingin ku tarik kepala Fia dan menciumi bibirnya tapi tanganku kaku tak bergerak.
tangan sialan
POV Sofia.
Aku tak menyangka Ryan bangun secepat itu, tapi ada bagusnya juga kalau saja Ryan bangun lima menit lebih lama pasti aku sudah mencium bibirnya yang menggoda itu
ah... apa aku sudah jadi orang mesum...!!!
POV author.
"Eh .. kamu sudah bangun?" Tanya Fia canggung, ia seperti habis ketahuan mencuri ya, mencuri pandang Ryan. Mereka kembali ke posisi duduk normal dan merasa canggung.
"Sudah selesai menggambar nya?"
"Hem..."
Fia menunjukkan hasil gambarnya dengan rasa cemas, Fia tak pernah menggambar untuk ditunjukkan pada orang lain sebelumnya, Fia melakukan yang terbaik yang ia bisa dengan tangan kaku nya, mata Ryan berbinar seakan baru melihat sesuatu yang indah
"Ini bagus sekali.... kamu benar-benar berbakat"
Ryan tulus memuji Fia sambil mengusap kepalanya lembut, Fia suka sekali saat Ryan melakukan itu, Ryan mengingatkannya pada sang Ayah yang dulu juga sering melakukan itu.
"Serius...?"
Fia senang dapat pujian dari Ryan, pipi nya jadi merona merah
"Kamu harus menggambar ku nanti"
desak Ryan dan Fia mengiyakan
"Janji?"
Ryan mengangkat jari kelingkingnya, dengan yakin Fia menyambutnya.
"kamu juga janji nanti bernyanyi untukku ya?"
"Janji"
mereka menjawab bersamaan.
Ryan mengantar Fia pulang sebelum jam makan siang dan berjanji berangkat sekolah bersama besok seperti yang biasa mereka lakukan, yang tidak biasa adalah Ryan mengajak Fia berjalan kaki ke sekolah, Fia setuju karena jaraknya memang hanya 20 menit dan dia sudah biasa berjalan kaki sebelum punya sepeda.
POV Ryan.
Aku memang selama ini berangkat sekolah bersamanya, tapi inilah yang ku inginkan, berjalan bersama disampingnya bukan lagi dibelakangnya dan bukan punggung nya lagi yang kulihat, kami melihat ke arah yang sama, aku tidak tahan ingin sekali menggandeng tangannya,
Fia terkejut saat aku tiba-tiba memegang tangannya, seperti ada sengatan listrik menjalar dari tangan ke sekujur tubuhku, menghentak jantungku hingga berpacu cepat, aku mengepalkan tanganku yang bebas mencoba menyembunyikan betapa gugupnya aku
ya Tuhan...aku hanya memegang tangannya tapi rasanya seperti mau mati karena bahagia, bagaimana jika aku memeluknya? bagaimana jika aku menciumnya?
dan adegan saat di danau kemarin berkelebat di kepala Ryan, membuat pipinya merah.
POV Author.
Langkah Fia terhenti seketika saat Ryan menggandeng tangannya, matanya langsung tertuju pada tangan mereka yang sekarang bertautan, Ryan mengangkat kedua tangan mereka
Fia masih memandangi Ryan
"Boleh kan aku gandeng tangan mu, kita kan sudah pacaran"
Fia tersadar dari lamunan nya ketika mendengar kata pacaran.
Fia teringat beberapa hari lalu saat di taman, waktu itu Ryan menyatakan perasaanya dan mencoba meyakinkan Fia lewat lagu, hal yang sebenarnya tidak perlu Karena Fia sudah punya jawaban nya, sehabis lagu itu selesai Ryan mengantar Fia pulang seperti janji nya, Ryan sudah merasa Fia menolaknya karena tidak ada respon apapun dari Fia, gadis itu hanya diam sepanjang jalan pulang, ini lebih sakit dari ditolak langsung, sampai digerbang rumah Fia, Ryan pun pamit dengan senyum yang dipaksakan karena hati nya sakit, hatinya patah dan hancur.
"Aku pulang ya, masuklah udaranya semakin dingin"
tanpa mendengar jawaban Fia, Ryan membalik badan berjalan pulang, Ryan hanya ingin pulang dan meratapi cinta pertamanya yang gagal, Ryan tak ingin Fia terbebani dengan perasaannya, langkah Ryan terhenti saat Fia menarik kaus belakang Ryan
"Kamu tidak salah"
kata Fia pelan, kepalanya tertunduk malu
"Aku tahu yang kamu maksud dan kamu tidak salah"
Ryan ingin memastikan apa maksud dari kata-kata Fia, ia hendak berbalik badan saat Fia melarangnya.
"Jangan berbalik!!!"
bentak Fia pada Ryan
"Aku peringatkan ya, saat ini aku sangat jelek, saat kamu melihat ku mungkin kamu akan berubah pikiran dan menyesal, tapi aku hanya ingin bilang, aku juga menyukaimu"
Rasa sakit di dada Ryan akibat merasa ditolak kini semakin sakit tapi karena dadanya tak kuat menahan rasa bahagia yang Ryan rasakan saat ini, rasanya dada Ryan seperti akan meledak, apa ini berarti Bunga membalas cintanya? Penantiannya selama 5 tahun ternyata tidak sia-sia.
"Aku boleh berbalik sekarang?"
"Hemm.."
Fia melepaskan kaus nya, Ryan berbalik dan memandang gadis yang masih tertunduk malu itu, ia memegang dagu Fia dan mengangkat kepala nya, Fia mengintip sebelum membuka kedua matanya, Ryan tertawa kecil dengan tingkah imut gadis pujaannya itu. Ryan membelai lembut pipi Fia dengan punggung jari telunjuk nya, bergerak ke atas dan ke bawah sambil terus menatap intens, Fia merinding sekujur tubuh ditatap begitu dalam oleh Ryan, ia tak yakin apa itu karena udara malam yang dingin atau karena sentuhan Ryan di pipinya tapi Fia merasa sedingin es.
"Kamu cantik, di mataku kamulah yang paling bersinar"
.
.
.
.
.
.
.
.
halo readers 😊
terima kasih masih setia membaca hey Sofia.
happy weekend
i purple you all 💜💜