Hey Sofia

Hey Sofia
Untitled




_to love you until my last breath_


*****


Aku takkan pernah mengerti ikatan dan hubungan yang mengikat antara Louis dan Bunga, aku melihat Louis keluar dari ruangan Bunga dengan wajah seperti habis kalah perang, Louis selalu memasang wajah angkuh ini namun ia sangat menawan, bahkan aku sebagai seorang pria pun mengakui nya, tapi saat itu wajahnya sedih dan muram, yang ia katakan padaku sebelum pergi adalah 'jaga dia' kemudian Louis berlalu tanpa keraguan dan langkah nya yang goyah.


Aku melihat Bunga menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dan aku tahu saat itu ia sedang menahan sesuatu, tangannya menggenggam erat selimut dan tampak jelas tulang-tulang yang menonjol di sana, ragu-ragu aku duduk di sampingnya, membawanya dalam perlindunganku yang hangat.... oh... ia menangis, ia menangis keras sampai dadanya sesak, ia kesulitan bernapas. lalu aku berpikir, kekasih mana yang menenangkan wanitanya saat ia menangisi pria lain?


Apa yang bisa kulakukan selain berada di sisi nya? Bunga adalah milikku, punyaku seutuhnya, hati dan jiwa nya tapi ada satu tempat di hati nya yang terkunci untuk siapapun termasuk aku, tempat itu di huni Louis dan hanya Louis satu-satunya. Bunga tertidur dalam pelukan ku karena air matanya sudah kering, dan tidur adalah satu-satunya jalan ia melarikan diri dari rasa sakit nya, memar dan luka-luka di tubuhnya akan sembuh dengan obat dan seiring waktu akan hilang namun sakit yang ini takkan ada obatnya, jadi kubiarkan ia menangis, bersedih-sedihlah sepuas hatimu sayangku karena besok takkan ada waktu untuk meratap, aku akan membuatmu sangat bahagia hingga kau melupakan semua, hanya akan ada aku dihatimu.


##


Seminggu setelah fia keluar dari rumah sakit, ia terlihat seperti biasa tapi jika Ryan berpaling sebentar saja dari mengawasi fia, ia menjadi berbeda, fia yang selalu berpendar seperti berlian berubah menjadi langit yang berawan hitam, ia hanya akan menghabiskan harinya memandang jauh tanpa tujuan dengan matanya yang tak berjiwa, seketika cahaya itu hilang dari matanya dan senyumnya tak lagi sempurna. ini bukan trauma karena kejadian waktu itu, ini karena Louis.


prang


suara seperti pecahan kaca mengagetkan Ryan yang sedang berada di kamar, ia berlari ke arah suara itu berasal dan menemukan fia berusaha memunguti pecahan itu sementara ia kesakitan di kakinya yang memerah seperti habis terkena air panas, Ryan meraih tangan fia dan mengangkat tubuhnya yang ringan


"apa yang kau lakukan?"


"maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan gelasnya"


Ryan menyadari ketakutan fia dan melembutkan suaranya


"kenapa minta maaf, aku tidak marah"


Ryan membawa fia pergi dari dapur


"mau kemana? bagaimana dengan pecahan gelasnya?"


"biarkan saja, akan ada orang lain yang membereskan nya"


fia didudukkan dengan hati-hati di sofa nyaman yang ada di kamar Ryan, ia mengambil kotak P3K dan mengolesi salep pendingin untuk mengobati kakinya,


"apa yang kau lakukan di dapur?"


"aku sedang menghangatkan susu, saat kutuang ke gelas pancinya mengenai tanganku dan gelasnya tersenggol lalu jatuh"


"kalau kau mau susu hangat kenapa tidak menyuruh bibi Mae?"


"bibi sedang ke mini market"


"sayang..... ada puluhan asisten rumah tangga yang bekerja disini, kau boleh perintahkan mereka sesuka hatimu"


Ryan selesai mengobati fia lalu duduk bersamanya.


"aku tidak membawamu ke rumah ini untuk melakukan semuanya sendiri"


"lebih tepatnya kau tidak membiarkan ku melakukan apapun"


"kau hanya perlu berada di sisiku, jangan lakukan hal yang tidak penting"


fia dilayani dengan sangat baik di rumah Ryan hingga terasa tidak nyaman, fia sudah seperti nyonya di rumah besar itu, Ryan tidak membiarkan fia pergi sebelum ia benar-benar stabil baik fisik dan mentalnya, luka-luka nya memang sudah sembuh tapi siapapun tahu ada yang menganggu pikiran nya, akhir-akhir ini fia tak fokus dan sering melamun.


"apa yang kau pikirkan?"


"tidak ada"


"kalau kau tidak mengatakannya, aku takkan tahu. hmm...? apa kau memikirkan Louis?"


"iya, sudah seminggu kakak tidak menjawab telpon ku, pesanku juga tidak di balas, aku khawatir padanya"


"apa kau menyesal memilihku dan bukannya dia?"


"itu tidak mungkin!! ditanya berapa kali pun jawabanku akan tetap sama, di kehidupan ini atau kehidupan berikutnya aku akan tetap memilihmu tanpa ragu"


"lalu apa masalahnya?"


"aku belum menjelaskan semua pada kakak, dia pergi dengan ekspresi yang tak bisa kulupakan, kakak pasti sangat terluka"


"kenapa tidak kau coba menghubungi mas Sony? tanyakan padanya bagaimana keadaan Louis"


"ah... kenapa aku tidak memikirkan itu sebelumnya?"


fia segera mengambil ponselnya dan mencari kontak Sony.


fia dengan ditemani Ryan segera menuju apartemen Louis begitu mendapat kabar sakitnya Louis, di basemen apartemen Sony sudah menunggu mereka, Sony mengantar fia dan Ryan ke lantai dimana Louis tinggal, Sony memasukkan passcode yang ternyata adalah tanggal lahir fia, Sony menunjukkan kamar Louis pada fia, menyilahkan ia masuk sementara Ryan dan dirinya menunggu si ruang tengah.


Louis sedang tertidur dan ia terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu namun Louis seindah biasanya, seperti patung lilin dengan kontur wajah yang simetris sempurna, dengan selang infus terpasang di tangannya, Louis tampak rapuh, Louis selalu bersikap tangguh dan tidak pernah menunjukkan kelemahannya, sekarang ia berbaring tak berdaya, yang fia lakukan hanya menunggu dengan tenang di sisi Louis sampai ia bangun.


ketika Louis membuka matanya ia pikir itu adalah mimpi melihat Sofia dihadapannya tapi sensasi hangat yang ada di tangannya meyakinkan Louis itu adalah kenyataan, Sofia menatap Louis dengan mata besarnya yang bersinar sama persis seperti gadis kecil yang ia kenal dulu.


"Sofia, apa yang kau lakukan disini?"


"katanya kakak sedang sakit, jangan bekerja terlalu keras perhatikanlah kesehatan mu"


"jika aku tidak melakukan itu, aku hanya akan memikirkan mu, kenapa? kau khawatir padaku?"


"tentu saja fia khawatir, kakak tidak bisa di hubungi dan fia juga tidak bisa bertemu, seperti menghilang begitu saja, menguap di udara"


"kau takut aku menghilang?"


"fia takut tidak bisa bertemu denganmu"


"kenapa?"


"karena kakak sangat penting"


ini terdengar egois, tentu saja. tapi fia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya, Louis pun tahu itu tapi itu membuatnya semakin bingung, Louis tak bisa terus tersakiti olehnya, tidak bisa menerima penolakan lagi dari mulutnya, Louis ingin berdamai dengan perasaannya karena itu ia menjaga jarak, sekarang fia datang dan membuatnya lemah sekali lagi, karena sejujurnya Louis takkan bisa menolak apapun pemintaan fia. Louis berpaling dari tatapan fia.


"pulanglah Sofia, tak ada yang harus di bicarakan"


"fia akan pulang jika itu yang kakak inginkan tapi ada yang harus fia katakan itupun jika kakak ijinkan"


sudah Louis duga, ia tidak bisa menolak fia, seperti robot yang sudah di program untuk hanya menerima perintah Sofia


"baiklah, lakukan apa yang menyenangkan mu, aku akan dengar"


fia mengambil napas dan membuangnya untuk membuatnya rileks


"waktu di Rumah Sakit, kakak pergi tanpa mendengar penjelasan dari fia"


"penjelasan apa yang bisa mencegah hatiku tersakiti Sofia? apapun yang kau katakan tak ada bedanya bagiku"


"jangan memotong kata-kata fia, dengarkan dulu fia sampai selesai, bisa kan?"


Louis tak punya pilihan, lagipula bisa pergi kemana dia dengan tangan yang di tusuk jarum infus.


"saat pertama kali kita bertemu 10 tahun lalu, fia jatuh cinta pada kakak, fia bahkan tak tahu apa itu cinta tapi fia sangat yakin dengan perasaan fia, fia tak pernah melihat yang seindah kakak, fia dulu mengira kakak adalah malaikat, tapi kakak sangat dingin, setiap kali fia ke rumah dan Tante Renata tidak ada kakak selalu mengusir fia tapi fia terus datang karena fia suka sekali berada di dekat kakak lalu saat kecelakaan itu fia sangat hancur, fia tidak mengerti kenapa fia masih hidup dan tidak menemukan alasan untuk terus hidup sampai kakak datang, bahkan ibu menyerah pada fia tapi tidak dengan kakak, kakak yang tadinya dingin berubah menjadi hangat, kakak tidak pernah menjauh dari fia, kakak ikut kelaparan saat fia mogok makan, saat menangis kakak tidak menyuruh fia berhenti, sebaliknya kakak malah menangis bersama fia, kakak terima semua kelakuan konyol fia dan menganggap itu wajar, dengan kakak fia merasa aman, merasa semuanya akan baik-baik saja, karena itu kakak sangat penting, fia mencintai kakak dengan cara yang berbeda, kakak mengajarkan fia untuk tidak hidup dalam keegoisan, fia mengerti kalau kakak mau menjaga jarak, fia takkan mencoba untuk menahan kakak"


"kau datang untuk mengucapkan selamat tinggal?"


"fia benar-benar berharap untuk kebahagiaan kakak"


"baiklah Sofia, selamat tinggal"


sesungguhnya fia tak mau berpisah tapi menahan Louis hanya akan semakin membuat Louis menderita, maka fia tersenyum, ia sudah siap dengan hasilnya. Louis berhak memutuskan apapun yang ia inginkan. fia sudah berjanji untuk memperlakukan Louis dengan lebih baik dan meski perpisahan ini sangat menyakitkan bagi keduanya, fia percaya ini yang terbaik


"kalau begitu fia pamit dulu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading..... 🤗