
Aku akan meletakkan hidup ku ditangan mu, apapun yang kau lakukan pada hidupku, aku akan menerima nya.
_ryan_
*****
"Let's get married"
ajak Ryan tiba-tiba, fia melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Ryan dengan jelas, fia bertanya sekali lagi untuk memastikan ia tidak salah dengar.
"kamu bilang apa?"
"aku ga bisa jauh-jauh dari kamu, kita nikah aja ya, mau kan?"
fia mengamati Ryan, setiap detil ekspresi Ryan tak luput dari Maya tajam nya dan yang ditemukannya adalah keseriusan.
"kamu lagi bercanda kan?"
"aku ga pernah seserius ini dalam hidup aku kecuali tentang kamu"
"kalau gitu aku punya pertanyaan buat kamu, aku pernah tanya ini tapi kamu belum jawab"
"ok, kamu mau tanya apa?"
"kenapa kamu suka aku?"
"kamu cantik" Ryan menjawab tanpa ragu dan tak perlu berpikir
"oh ya? Putri lebih cantik, Maya jauh lebih cantik, kenapa kamu ga pilih salah satu dari mereka?"
"karena aku cuma lihat kamu, walaupun aku tutup mata yang aku lihat cuma kamu, ga perduli orang lain secantik apa, yang aku mau cuma kamu"
fia mendesah kesal
"tch.... kalau kamu masih bercanda lebih baik aku masuk"
Ryan menahan tangan fia untuk mencegahnya masuk.
"jangan pergi" bujuk Ryan.
"ikut aku ke taman"
fia belum sempat menjawab, Ryan sudah menarik nya ke taman, fia di dudukkan di ayunan menyusul dengan Ryan di sebelah nya
"kenapa bawa aku kesini?"
"disini pertama kali aku lihat kamu, di Sini juga aku bilang suka sama kamu"
"iya aku ingat, kamu kasih aku lagi 'CRY' kan"
Ryan bangkit dari ayunan dan berlutut dengan kedua kaki di hadapan fia, kepalanya terangkat dan kedua tangannya di berada di pangkuan fia
"yang, otakku ga berjalan normal seperti orang lain, aku selalu merasa ketakutan tanpa alasan dan sering cemas berlebihan, aku selalu tersenyum dan berpura-pura ramah pada semua orang karena kupikir itu yang biasa dilakukan orang normal, padahal itu sangat mengganggu, buatku dunia terlalu berisik hingga sering membuat kepalaku sakit, karena itu aku selalu memakai earphone meskipun tanpa music, aku hanya ingin menghindari mereka tanpa membuat mereka tersinggung tapi semua itu berubah saat aku bertemu dengan mu, kamu seperti air yang menenangkan, berjalan mengikuti arus, kamu ga perduli pendapat orang lain dan menjalani hari-hari kamu seperti yang kamu inginkan, aku ga bohong waktu aku bilang kamu segalanya"
Ryan membuka kedua telapak tangan fia dan meletakkan tangannya di atas tangan fia
"aku akan meletakkan hidup ku di tangan mu, apapun yang kau lakukan pada hidup ku, aku akan menerima nya, karena aku tak bisa hidup tanpa bunga ku"
entah lah, mungkin karena debu halus masuk ke mata fia hingga membuat mata nya menjadi perih dan basah, beginikah rasanya sakit karena terlalu bahagia?
orang yang berlutut di hadapannya membuat fia merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, fia tak pernah membayangkan bahkan dalam mimpi ter liarnya bisa di cintai sampai seperti itu, Ryan menyapu cairan bening yang turun ke pipi fia dan merasakan kulit fia yang selembut kapas dengan jarinya.
"Bunga Sofia Darmawan, jadikanlah aku milikmu, maukah kau menikah dengan ku?"
fia tahu kata-kata itu akan keluar tapi begitu Ryan mengucapkan nya rasanya seperti tidak nyata, bagaikan mimpi padahal ia tak tidur, pandangan fia semakin kabur karena basah dan ia tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan nya saat itu, sementara Ryan masih menunggu dengan gelisah
"lalu apa jawaban mu?"
hati fia ingin berteriak 'iya' tapi logikanya berbicara lain
hanya ada satu alasan kenapa orang menikah di usia 17 tahun dan orang-orang pasti akan bicara buruk tentang mereka, Sofia hanyut dalam lamunan dan pikiran liarnya sendiri tentang bagaimana teman-teman mereka akan bergosip dan menilai pernikahan nya dengan Ryan, takkan ada yang percaya kalau mereka menikah benar-benar karena cinta.
"aku ga bisa, kita masih muda, masih banyak yang mau aku lakukan, cita-cita ku, mimpiku dan ibu juga pasti tidak akan setuju"
Ryan tertawa kecil
"aku ga minta kita menikah sekarang, dasar bodoh, papa juga pasti akan marah dan menendang ku keluar jika aku menikahimu sekarang"
"maksudnya...?"
"aku mau kamu tahu kalau aku serius, aku tahu ini terdengar gila, ya. memang aku sedikit gila, tapi aku merasa sudah mengenalmu bahkan sebelum kita bertemu, apa kamu percaya takdir? mungkin ini nasib baik aku kalau jalan hidup kita berpapasan. aku ga pernah merasakan ini sebelumnya dan aku ga mau kehilangan perasaan ini karena ini buat aku merasa hidup, aku ga perlu pura-pura bahagia lagi karena aku benar-benar bahagia sekarang, kamu udah buat aku jadi orang yang paling bahagia" Ryan berdiri dengan lututnya agar ia bisa sejajar dengan fia, bahkan saat gelap sekalipun dalam rengkuhan tangannya wajah fia tampak kemerahan dan kecil, seperti memegang dunia dalam genggaman nya karena bagi Ryan, fia adalah dunia nya
"kamu sudah melakukan semua itu padaku, makanya kamu harus tanggung jawab dengan terus berada di sisi ku"
sentuhan tangan Ryan di pipi fia terasa semakin panas dan membuatnya semakin salah tingkah hingga membuat jantungnya tak karuan, ini gawat. jika Ryan tak berhenti, fia akan benar-benar terkena serangan jantung, apalagi sekarang Ryan menempelkan dahi mereka, fia bisa merasakan napas Ryan menyapu wajahnya
"aku akan menunggu mu, katakan lah kapanpun kau siap, aku akan datang"
Ryan menutup lamaran nya dengan kecupan di dahi fia dan bertanya
"setuju?"
alasan apalagi yang bisa fia katakan? semua argumen nya telah dipatahkan oleh Ryan, dengan malu-malu fia akhirnya menjawab
."setuju..."
"ah... aku seneng banget, rasanya aku mau cium kamu sekarang"
seketika dia mematung, fia pikir jantungnya tak bisa berdetak lebih kencang lagi tapi ternyata ia salah, jantungnya berpacu dalam kecepatan yang tak masuk akal.
"Boleh ya?"
dadanya terasa akan meledak kapan saja jika ia membuka mulutnya dan berkata 'boleh', itu pasti akan sangat memalukan,
fia tak bergerak, tak juga berkedip, ia hanya bisa memandang mata indah Ryan, cahayanya yang paling bersinar di tengah kegelapan taman, bagai sihir yang membuat fia menuruti apapun yang dikatakan Ryan.
"diam berarti boleh kan?'"
fia mengangguk pelan tanpa berbicara, seraya Ryan mendekat jantung fia berdetak semakin kencang hingga bisa terdengar sampai keluar, begitu bibir Ryan menyentuh bibir nya, mata fia terpejam. selanjutnya yang fia rasakan hanya kelembutan dan perlakuan manis Ryan pada bibir nya, fia tak pernah pandai berciuman, ia hanya mengikuti irama Ryan dan membiarkan insting nya mengambil alih
.
.
.
.
.
.
.
.
.
hope you like this episode 🤗
.
.
.
#stayathome
stay save and stay healthy 💪💪