Hey Sofia

Hey Sofia
You are the center of my universe




****


The truth is sometimes just to be kept to yourself.


****


Ryan dan Sofia belajar bersama untuk menghadapi ujian yang sudah di depan mata, mereka suka membicarakan masa depan dan mimpi-mimpi mereka, Sofia dengan kecintaannya pada menggambar punya impian untuk membuat komiknya sendiri, fia bahkan sudah menyiapkan sketsa dan jalan cerita bagi komik masa depannya, berbeda dengan Ryan, sebagai satu-satunya pewaris hotel Azkaisar, ia punya kewajibannya sendiri, meski ia menginginkan hal lain dalam hidup tapi itu tak lagi membebani nya, paling tidak itu yang dapat ia lakukan sebagai anak yang berbakti dan sebagai bayaran setelah menghabiskan 1 Milyar lebih untuk membeli kalung yang ia berikan pada dia, Ray hampir terbang kembali hanya untuk memukul kepala Ryan yang sepertinya sudah gila karena cinta, tapi kemudian Ray ingat hal buruk yang ia lakukan pada Sofia dan bagaimana Sofia menjadi kunci kebahagiaan Ryan, Ray merasa uang sebanyak itu bahkan tidak cukup untuk berterima kasih.


Fia meregangkan tubuhnya, menutup mulutnya yang terbuka karena menguap, dia merapikan buku-buku nya dan bersiap tidur, Ryan membawa bukunya sambil mengantar fia ke kamarnya yang berada tepat disebelah kamar Ryan, Fia mengucapkan selamat malam dan hendak menutup pintu namun Ryan dengan tangannya yang lebar menahan pintu itu.


"kenapa?" tanya Fia


"aku mau ngomong sebentar boleh?"


Fia mengangguk santai dan membuka jalan untuk Ryan agar ia bisa masuk ke dalam, kamar tamu itu sudah di dekor ulang mengikuti kemauan fia atas perintah dari Ryan, kamarnya di design lebih simple sesuai dengan kepribadian fia, tak ada TV atau walk in closet seperti kamar Ryan tapi ada jendela besar yang bisa di geser dan tempat tidur dengan kelambu yang elegan terikat di keempat tiangnya,


Fia duduk santai di sofa sedang Ryan di sebelahnya begitu tegang,


"mau ngomong apa? sepertinya serius"


Ryan terdiam, ia sedang berpikir keras bagaimana caranya memberitahu fia soal Rendy, Ryan menatap wajah fia cukup lama hingga membuat fia gelisah,


"Yan, kamu buat aku takut"


Ryan mengingat alasan kenapa Louis memasukkan Rendy ke Rumah Sakit Jiwa dan tidak mengatakan kebenaran nya pada fia, Louis berpikir jika kasus itu bocor ke publik, Fia lah yang paling menderita, beberapa orang bisa menyalahkan korban atas pelecehan dan penyerangan yang di alaminya, karena itu lah tak banyak korban yang berani bersuara setelah mengalami tindak kekerasan, dan jika fia tahu pelakunya adalah orang dekat mungkin fia takkan percaya lagi pada orang lain, fia mungkin akan kembali menutup dirinya dari dunia luar.


bagaimana jika Louis benar? bagaimana jika bunga benar-benar terluka karena ini? apa aku harus mengatakan nya? tapi bunga berhak tahu tentang ini, apapun hasilnya nanti aku akan selalu mendukungnya, aku takkan meninggalkannya, ya.... walaupun semua orang menjauhinya karena ini, bunga punya aku....


"mereka sudah menangkapnya, orang yang telah menyerangmu"


tubuh fia menjadi sekaku sebatang kayu, kepalanya seperti berputar-putar mendengar cerita Ryan


"Po.. polisi su.. sudah menangkapnya?"


meski sulit fia berusaha setenang mungkin


"bukan polisi tapi Louis yang menemukannya dan dia memasukkannya ke RS Jiwa"


Fia semakin bingung, ia mencoba untuk tetap dalam kesadarannya dan mengatur napas meski fia berkeringat hebat, telapak tangan nya membentuk tinju besar demi menahan tubuhnya yang gemetaran.


"kak L? RS jiwa?"


Dengan sangat pelan dan hati-hati Ryan meneruskan ceritanya


"orang itu adalah Rendy"


Reaksi fia seperti yang sudah Ryan bayangkan, matanya melebar dan bergetar, ia menahan napasnya atau ia tidak bisa bernapas?


"Re.... Rendy?"


"iya..... aku tidak tahu detailnya tapi Louis......"


Sementara Ryan bicara, kenangan-kenangan buruk itu memaksa masuk secara bertubi-tubi ke kepala fia, membuatnya kewalahan dan terpaksa mengingat kejadian mengerikan yang sudah hampir ia lupakan, fia mengerjap berkali-kali berharap kenangan itu akan hilang dengan sendirinya tapi itu hanya membuatnya semakin jelas, sudah sebulan tapi rasanya seperti baru kemarin, Fia mencari udara untuk paru-parunya yang berdenyut, ia tak bisa bernapas dan semakin kehilangan kendali atas tubuhnya, Fia mencium aroma kayu basah yang ada di gudang sekolah, Fia merasa ia menjadi gila, Fia menatap Ryan yang masih bicara namun fia tak bisa mendengar apapun yang Ryan katakan, yang dia dengar hanyalah suaranya sendiri yang berteriak meminta tolong, Fia terkena serangan panik, ia menutup kedua telinganya agar tidak mendengar teriakan meminta tolongnya, untuk menghentikan suara-suara itu Fia mulai berteiak


"BERHENTI....!!!"


Ryan terkejut, ia baru menyadari keadaan fia, secara naluriah Ryan hendak memeluknya namun Fia secara aneh bersikap defensif seperti seekor mangsa dihadapan predatornya, tindakan fia membuka mata Ryan, bahwa ia telah membangunkan trauma Fia yang sudah ia kubur dalam-dalam, dengan penuh kehati-hatian Ryan mencoba meraih fia.


suara Ryan secara ajaib menenangkan fia, pandangan nya perlahan menjadi jernih dan latar belakang gudang sekolah yang ada dalam pikirannya perlahan kabur


"Ryan...?"


"iya, ini aku..."


Ryan pelan-pelan menurunkan tangan fia yang berada di telinganya


"Ryan...."


fia mengulang panggilannya, ia ingin memastikan bahwa itu bukan hanya khayalan nya


"ya sayang...."


"yan...."


Fia masuk ke dalam pelukan Ryan dan tangisnya pecah disana. Ryan menyusur lembut rambut fia dan memberikannya kehangatan yang fia butuhkan, dalam pelukan Ryan, tubuh fia masih gemetar, Ryan mengusap punggung fia untuk memuai rasa takutnya. melihat fia membuatnya sedih dan yang lebih menyakitkan adalah Louis ternyata benar, menutupi nya adalah yang terbaik untuk fia. ini juga menyadarkan nya bahwa ia tidak mengenal fia sebaik yang ia kira.


Ryan mengira fia adalah buku yang terbuka, mudah di baca dan gampang ditebak namun ia salah besar, banyak yang tidak ia ketahui tentang fia, masa lalunya, kehidupan nya sebelum mereka bertemu, selama ini fia terlihat baik-baik saja, fia selalu tersenyum dan tak jarang bermanja kepadanya, bahkan Ryan tak pernah mencari tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ryan terlalu fokus pada diri nya sendiri seolah dia lah tokoh utamanya, Ryan lupa kalau fia juga adalah tokoh utama dalam panggung kehidupan nya, tanpa fia maka hidup itu sendiri tidak pernah ada.


Fia menjadi tenang dan tidur karena lelah menangis, Ryan menarik selimut dan berencana keluar dari kamar itu namun fia mencegahnya.


"jangan pergi.."


"aku pikir kau sudah tidur"


"bahkan setelah aku tidur jangan pergi"


Ryan tak bisa menolak fia, kini mereka berada dalam satu selimut yang sama, Ryan merelakan bahunya sebagai bantal, Ryan merapikan rambut-rambut halus yang menempel di kening fia


"maafkan aku.."


"hmm... untuk apa?"


"entah, semuanya..."


maafkan aku karena tidak pandai menjagamu, karena tidak peka dan membuatmu mengingat mimpi buruk itu lagi dan karena aku tidak benar-benar mengenalmu, mulai sekarang kau adalah pusat dari alam semesta ku,


Ryan hanya berani mengatakannya dalam hati, ia terlalu malu untuk menunjukkan ketidakmampuan nya pada fia, Ryan menarik fia lebih dekat dalam pelukannya.


"aku benar-benar minta maaf"


"berhenti lah meminta maaf, cukup cintai saja aku"


"baiklah, akan kulakukan semua keinginan mu".


.


.


.


.


.


💜💜💜