
"Sayang, Apa kamu sibuk?"
"Aku hanya sedang menggambar, ada apa?"
"Boleh aku minta tolong, Hari ini aku ada meeting tapi ada berkas yang tertinggal di kamarku, Bisa kamu antarkan berkasnya ke sini?"
"Bukankah ada Pak Irwan?"
"Berkasnya aku simpan di Brankas kamar, Tidak mungkin aku berikan kode Brankasnya pada sembarang orang"
"Tapi kamu beritahu aku"
"Kamu pemilik hatiku, Bagaimana bisa dibilang orang sembarangan"
Ryan tersenyum, bisa ia bayangkan wajah Fia yang memerah jelas seakan mereka sedang berhadapan, Padahal hanya bicara lewat telepon genggam.
"Baik, akan ku antarkan Berkasnya"
"Terima kasih, Tolong antar ke Mall World Of Wonder, Brankasnya ada di bagian bawah dalam lemari pakaianku, Kodenya bisa Kamu tebak kan?"
Fia berpikir sejenak dan menjawab ragu-ragu
"Mmm.... Ulang tahunku?"
"Pintar.." Puji Ryan.
"Minta Pak Surya mengantarmu 'ya, Dan Sofia ...."
"Ya... Ada lagi yang kamu perlukan?"
"I love you "
"I love you more ".
Sambungan terputus.
Fia memasuki kamar Ryan, menuju ke Walk in closet nya, ruangan ini mirip seperti toko, begitu rapih dan tertata sesuai warna dan fungsi, Beberapa Jam mahal menempati mejanya sendiri, tidak sebanyak Louis tentunya karena Ryan tidak terlalu suka belanja, hanya sedikit yang Ryan miliki dari uangnya sendiri, kebanyakan dia dapat dari hadiah, Biasanya Pria suka mengoleksi mobil tapi Ryan hanya punya 3 mobil mewah, 1 Roll Royce Wraith yang selalu dipakai, 1 Alphard Vellfire yang digunakan Ray dan 1 Mercy S-Class untuk transportasi Sofia.
Fia menemukan Brankas kecil dibawah lemari, Ia masukkan kode Brankas nya dan terbuka dengan mudah, Ryan itu aneh sebab semua miliknya yang mempunyai kode, menggunakan tanggal lahir Fia, akan sangat mudah membobol semua aset Ryan jika sampai orang jahat tahu ini, Fia mengambil satu-satunya berkas yang ada disana dan memasukkan nya ke dalam tas.
Fia sudah di tunggu oleh Pak Surya dibawah dan langsung membawanya bertemu Ryan. Meeting nya ada di salah satu restoran di Mall itu. Fia melihat Ryan yang sedang menunggu nya di depan restoran lalu memanggil sambil melambaikan tangan.
"Yan..."
Ryan berlari kecil menyambut Fia dan langsung memeluknya sampai Fia terdorong ke belakang
"I Miss you" Kata Ryan, masih memeluk Fia.
"Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu"
"Itulah masalahnya, Aku tidak bisa jauh-jauh darimu, Sebentar saja berpisah rasanya kangen sekali"
Fia melepaskan pelukannya karena ia sadar pandangan orang-orang tertuju padanya.
"Aku membawa berkasnya"
"Terimakasih, Kau penyelamat hidupku"
Seketika wajah Fia memerah saat Ryan mencium pipinya didepan umum. Ryan gemas sekali dengan ekspresi Fia saat ini, ingin sekali dia pulang dan menciumnya tapi saat ini ada pekerjaan yang menunggu.
"Kalau begitu, Aku pulang dulu"
"Jangan pulang, Meeting nya paling lama 2 jam, Tunggu lah dan kita bisa kencan setelah ini, nonton film dan makan malam, oke?"
"Apa yang harus kulakukan selama 2 jam?"
Ryan mengeluarkan kartu hitam dari dalam dompet untuk diberikan kepada Fia.
"Pakai kartu ini untuk beli apapun yang kamu mau"
"Beli apa?"
Ryan mengangkat bahunya
"Terserah, Beli baju, Sepatu atau Tas, Apapun yang kamu suka, Aku akan menghubungi setelah selesai"
Ryan berbalik setelah mencium puncak kepala Fia, sesaat sebelum masuk ke restoran Ryan melambaikan tangan. Juga berdiri di pintu masuk ada Pak Irwan dan Alan yang menundukkan kepalanya sedikit menyapa Fia lalu mengikuti Ryan ke dalam. Alan adalah calon pengganti Pak Irwan yang sebentar lagi akan pensiun, Alan sudah 6 bulan ikut dengan Pak Irwan sampai ia benar-benar siap mengikuti ritme kerja Ryan yang perfeksionis dan cepat barulah Alan akan benar-benar di lepas.
Fia memandangi kartu hitam yang hanya dilihatnya dalam drama-drama di TV, Sejak bertemu Ryan hidupnya memang penuh dengan drama, Kisah rakyat jelata yang dicintai oleh pria Kaya Raya, Kartu dalam genggamannya adalah impian setiap wanita, Dengan itu Fia bisa membeli apapun yang ia inginkan tapi Fia sudah memiliki segalanya, Tinggal di Griya Tawang mewah dengan fasilitas tanpa batas, Pelayanan 24 jam dan Kekasih yang mencintainya, yang memanjakannya di setiap ada kesempatan.
Tapi semua itu tidak datang dengan mudah, Air mata, Sakit, Penantian dan Kerinduan luar biasa pernah Fia rasakan, Seperti bunga mawar yang mekar sempurna, cantik memang tapi dia tumbuh dengan banyak duri di tangkainya, sama seperti permadani dengan sulaman indah dan warna-warni di permukaan namun dibalik itu ada benang-benang yang saling mengait dan tersangkut satu sama lain, Begitu juga hidup Fia, mungkin inilah saatnya bahagia setelah sekian lama ia menderita tanpa Ryan. Inikah cara Ryan membayar 10 tahun yang hilang? Padahal dengan Ryan berada disampingnya hampir 24 jam saja sudah membuatnya lebih dari bahagia. Bolehkah Fia serakah dengan menikmati kebaikan hati Ryan yang memanjakannya dengan uang? Tentu saja boleh, Karena hidup Ryan hanya untuk kebahagiaan Fia. Dengan semua cara yang Ryan tahu.
"Beli Baju katanya? bahkan ada satu lemari penuh baju yang dia belikan tapi belum terpakai".
**
Ryan sudah menunggu Fia di The Premiere untuk memenuhi janji kencan dengan Fia, hari ini mereka akan menonton film, Setelah 5 menit Fia pun datang. Ryan mengerutkan dahinya heran kenapa Fia datang dengan tangan kosong? Ternyata Fia tidak menggunakan Kartu Hitamnya sama sekali, Ryan sedikit kecewa tapi juga sudah menduganya, Fia tidak suka shopping seperti kebanyakan wanita-wanita diluar sana, Fia bahkan tidak pernah ke salon kecantikan atau apapun itu, Tidak pernah Fia meminta dibelikan barang-barang mewah padahal Ryan lebih dari mampu, Penampilan nya pun selalu sederhana, seperti sekarang ini. Fia hanya memakai celana jeans dengan atasan kaus putih polos, rambut di Cepol tengah dengan poni tipis dan tas punggung, Bahkan kesederhanaan tidak mampu menyembunyikan pesona nya.
Ryan berdiri dari kursinya untuk menyambut Fia, Ia peluk sekilas dan menciumi rambutnya.
"Lama menunggu?" Tanya Fia. Ryan menarik kursi untuk Fia duduk dan di susul oleh Ryan, mereka duduk berseberangan namun tangan tetap terpaut.
"Minumlah dulu" Tawar Ryan setelah melihat Fia terengah-engah, Seperti nya Fia berlari kesana, terlihat dari keringat yang mengalir di pelipis nya, untungnya Ryan sudah memesan jus Mangga kesukaan Fia, gadis itu meminum sampai hampir setengahnya.
"Kasihan sekali Pacarnya aku... "
Habis sudah jus mangga Fia.
"Ah .... Jus nya enak"
"Mau pesan lagi?"
"Tidak, nanti aku bolak-balik ke toilet"
"Kenapa tidak belanja?" Ryan mengelus pipi halus Fia dengan ibu jarinya
"Aku bingung mau beli apa, Semua yang ku butuhkan ada di hotel"
Fia merogoh tas punggungnya dan mengeluarkan Kartu Hitam.
"Ini, Kartu mu aku kembalikan "
"Simpan saja" Ryan kembali memasukkan Kartunya ke dalam tas Fia.
"Eh...."
"Itu untukmu".
Fia tergagu bingung.
"Ini bukan hari ulang tahunku"
Kata Fia setelah beberapa detik terdiam karena terkejut.
"Aku tahu"
Jawab Ryan diiringi dengan tawa.
"Untuk apa memberiku hadiah?"
"Apa harus menunggu ulang tahun untuk memberikan hadiah?"
"Tidak juga, Tapi ini Kartu Hitam. Yang"
"Aku tahu"
"Tapi...."
"Sudah, Ayo masuk, Filmnya sudah akan mulai "
Belum selesai Fia bicara, Ryan sudah menarik tangannya dan masuk ke studio.
Setelah nonton Ryan dan Fia pergi ke pantai, berkejaran di pinggir pantai bertelanjang kaki sekedar bermain pasir dan ombak, begitu langit mulai kemerahan mereka berhenti bermain untuk menikmati pemandangan megah yang alam tawarkan secara cuma-cuma.
Pantainya berkilauan terkena matahari senja seperti hamparan kristal yang berpendar menyilaukan tapi sekaligus indah, Fia suka sekali pemandangan seperti ini, hal-hal yang berkilauan seperti kembang api, lampu-lampu kota saat malam hari dan titik-titik cahaya kecil di langit saat matahari digantikan bulan. Ryan dan Fia berdiri bersisian sambil bergandengan tangan.
"Ini indah..."
"Ya ... indah sekali" Ryan memandangi Fia, baginya matahari yang tenggelam di wajah Fia adalah yang terindah. Mereka saling menatap penuh cinta.
"Aku selalu penasaran seperti apa hidupmu saat 10 tahun kita berpisah"
"Aku selalu merindukan mu, itu pasti. Tak ada satu hari pun terlewatkan tanpa memikirkan mu. Aku merindukan mu sampai di sini rasanya sakit"
Ryan memegang dadanya.
"Lalu kenapa butuh waktu lama untuk mu kembali?"
"Aku pengecut, Aku terlalu takut jika kamu menyalahkan ku soal kecelakaan itu, Aku takut kamu membenciku, Aku tidak bernyali untuk kembali dan meminta ampunan darimu. Aku merasa tersiksa karena rasa bersalah, Saat itu aku hanya ingin mati dan mengakhiri penderitaanku"
Mata Fia mulai berkaca, membayangkan penderitaan yang dialami Ryan.
"Kalau saja Papa tak memberi tahu tentang Daylight Star waktu itu, mungkin kita takkan berdiri disini sekarang"
"Yan...." Bulir-bulir air bening lolos dari mata Fia, hatinya pun ikut merasakan sakit yang Ryan rasakan kala itu.
"Karena Daylight Star aku selamat, Karena kamu aku hidup, Kamu lah penyelamat hidupku Sofia, Ini bukan gombalan tapi ini lah kenyataan"
Ryan menciumi punggung tangan Fia bergantian berkali-kali.
"Aku memutuskan untuk menjadi kuat, menjadi layak untukmu, menjadi orang yang bisa kamu andalkan, tempatmu bersandar dan membuatmu bahagia dengan segala cara yang kubisa"
"Terimakasih sudah kembali, Terimakasih karena menjadi kuat"
Fia menangkup wajah Ryan dengan kedua tangan.
"Kamu lah yang kuat Fia, Kamu bisa bangkit dan melawan penderitaan mu tanpa menyerah, Yang kuat itu Kamu"
Kata-kata Ryan begitu lembut dan penuh kesungguhan, Matanya menatap Fia dengan tatapan pemujaan. Ryan menyatukan kening mereka
"Aku mencintaimu Bunga Sofia, Sangat-sangat mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
Dengan ibu jarinya, Ryan membuka bibir bawah Fia dan menciumnya dengan lembut, sangat hati-hati seperti kelopak bunga mawar yang rapuh. Ryan menciumi Fia sampai matahari benar-benar hilang ditelan lautan.