Hey Sofia

Hey Sofia
The promise




jika kau menginginkan sesuatu dan kau memikirkan nya terus-menerus, sesuatu itu mungkin akan terjadi.


_Ryan_


Awalnya fia berpikir meninggalkan Ryan adalah pilihan terbaik untuk kebaikan nya sendiri tapi fia salah, Ryan semakin tak bahagia dan kalut, maka sejak malam itu dia memutuskan untuk bersama Ryan, giliran fia menjaga dan melindungi Ryan, apapun yang akan terjadi di kemudian hari dan pasti akan terjadi fia akan melewati nya bersama Ryan.


***


Malam itu benar-benar melelahkan bagi mereka bertiga tapi bagi Louis ini menguras seluruh tenaganya, ia bahkan memberi tempat bagi Ryan yang merupakan pesaing cintanya, menjadi lemah adalah kekuatannya dan hanya fia satu-satunya yang bisa membuatnya seperti itu, Louis mengendarai Audi nya dengan kencang dengan satu tangan di kemudi dan tangan lainnya memegang rokok yang sejak tadi ingin ia hisap.


Ryan sendiri tak peduli dengan itu, ia hanya ingin secepatnya bisa beristirahat, jika fia tidak menelponnya dan menemukan nya, Ryan akan benar-benar tidur di jalan, dan Louis yang menawarkan tempatnya sungguh sangat ia syukuri tulus atau tidak setidaknya ia harus berterima kasih.


"Louis, aku tahu ini tak nyaman bagi mu tapi..."


Ryan jeda sejenak dan akhirnya mengatakan "...terima kasih" dengan suara seperti berbisik.


Louis melihat Ryan dengan sudut matanya, menghisap rokoknya lalu menjawab dengan santai


"jangan terlalu memandang tinggi dirimu, aku lakukan ini demi fia, mana mungkin aku membiarkannya tidur di jalanan"


Ryan memandang lurus ke depan sadar akan kebenaran kata-kata Louis.


"aku tahu..." jawab Ryan singkat


"bunga... dia tidak pernah bicara banyak tentang mu tapi aku tahu dari caranya memandang mu, dia sangat menghormati dan mengagumi mu, kau seperti panutan untuk nya, seseorang yang bisa diandalkan, jujur aku sedikit iri padamu, aku tahu kau punya tempat spesial di hatinya yang takkan bisa digantikan"


Louis menggenggam erat setir kemudinya, melakukan hisapan terakhir nya dan membuang rokoknya keluar lalu menutup kacanya, ia berpikir betapa ia sangat ingin mengatakan hal sama, bahwa ia iri dengan Ryan, terutama setelah melihat Sofia malam ini dan semua pengorbanan yang fia lakukan untuk Ryan, sekarang Ryan bilang kalau ia iri padanya? Louis tak tahan untuk tersenyum miris sambil menatap langsung mata Ryan.


"tapi kau yang mendapatkan cintanya"


Ryan pun tersentak, kata-kata Louis seperti sebuah pukulan mengenai tepat di wajah nya.


"biarkan aku mendapat rasa hormatnya" lanjut Louis sambil berpaling menatap lurus ke jalan yang sepi. kemudian berkata tanpa nada mengejek


" jangan serakah..."


kini Ryan tahu kenapa fia bersandar pada Louis, Louis bersikap sangat dewasa meski umurnya masih terbilang muda, ia tak menyimpan dendam meski Ryan pernah memukulnya, Louis bisa membaca situasi dan mengambil keputusan yang tepat dengan pemikiran yang matang. berbeda dengan Ryan yang masih suka meletup-letup, ia hanya bertindak sesuai hatinya tanpa berpikir panjang, mungkin jika Ryan tidak menyatakan cintanya pada fia lebih dulu dan Louis datang, fia takkan pernah jadi miliknya, pantas fia sempat goyah tapi Ryan bersyukur fia kembali padanya.


"jadi, kenapa kau lari? padahal kau bisa saja menolak dari awal, aku yakin kau bukan tipe yang bisa di paksa"


"aku menolaknya, bahkan saat kami putus, aku diam-diam mengawasi nya, menjaga jarak tak terlalu jauh darinya agar setiap kali ia butuh aku ada, meski ia tak tahu itu"


Louis berkata sendiri dalam hatinya


mungkin itu adalah kelebihan fia, selalu ada seseorang yang diam-diam mengawasinya tanpa ia sadar. Sofia you such a moron


dan Louis tersenyum tipis.


"aku masih berharap kami bisa bersama lagi, tapi saat ia bilang tak mau punya hubungan lagi denganku, semua harapan itu hilang, rasanya sangat sakit, lebih sakit dari saat ia minta putus, karena itu aku setuju bertunangan tapi kemudian aku tersadar kalau aku tak bisa hidup tanpanya, aku juga tak bisa hidup dengan orang selain dia, karena itu aku lari"


"you're a trouble maker, you know that right?"


"trouble maker is my middle name, i guess"


baik Ryan dan Louis tertawa akrab seolah mereka berteman sejak lama, kenyataannya adalah mereka dua orang yang berbeda terikat oleh satu tali yang kuat seperti baja dan mustahil terputus, tali baja itu bernama Sofia, mereka berdua menyayangi Sofia dengan cara mereka masing-masing, Louis dengan cintanya yang tak egois, mendalam dan murni sedang Ryan dengan cintanya yang kuat, ekspresif dan tulus.


"lalu apa rencanamu soal Maya? aku kenal Maya cukup baik, ia punya kemauan keras dan akan melakukan apapun itu yang di perlukan untuk mendapatkan keinginannya"


"akan ku putuskan setelah bicara dengan papa, yang jelas aku tak mau punya hubungan apapun itu dengannya"


sejujurnya Ryan benar-benar berharap kali ini Ray akan mendengarkannya, bahkan ia akan terima kemurkaan Ray dengan senang hati asalkan Ray mau mengerti dirinya, sepanjang yang Ryan kenal tentang Ray adalah mereka punya hubungan ayah anak yang sangat baik seperti sahabat, Ray selalu menelpon menanyakan keadaan nya meski mereka tinggal berjauhan, Ray mendengar apapun yang Ryan ceritakan tentang hari-harinya, di tengah kesibukannya Ray menyempatkan waktu khusus untuknya dan Ryan, sehingga Ryan tak kehilangan figur ayah, hubungan itu yang Ryan harap bisa kembali, ia berharap Ray bisa mengambil posisi di sampingnya untuk menemaninya menghadapi situasi ini dan bukan berdiri di depannya untuk melawannya.


"apapun rencanamu pastikan fia tak terluka, Maya bisa sedikit nekat jika ada yang menghalangi keinginannya"


"aku mengerti".


***


sisa perjalanan ke apartemen Louis kembali sunyi, Ryan melihat keluar jendela dengan tatapan kosong dan merasa gelisah sampai mereka akhirnya tiba,


Ryan menempati kamar tamu yang mirip seperti kamar hotel bintang lima, Louis juga memberikan baju baru dengan tag yang masih menempel di area kerah bagian belakang,


setelah berganti pakaian dan bersiap tidur, Louis mengetuk pintu kamar lalu masuk begitu mendapat ijin dari Ryan, meski itu adalah apartemen nya tapi Louis menghargai privasi dan ruang pribadi Ryan.


Louis datang membawa makanan untuk Ryan, ia tahu Ryan pasti belum makan dan lapar setelah lari tanpa sepeserpun uang, Louis sengaja menghangatkan makanan yang di siapkan oleh koki pribadinya yang datang setiap hari untuk memasak makanan sehat untuk Louis yang bisa di hangatkan agar Louis bisa menikmatinya sepulang kerja,


"makanlah, jangan sampai fia berpikir aku tidak mengurus mu dengan baik"


setelah mengatakan itu Louis keluar tanpa menunggu Ryan mengucapkan terima kasih.


begitu rasa laparnya terpenuhi, Ryan mengira ia akan bisa tidur dengan lelap tapi ia malah semakin terjaga, Ryan mengambil ponselnya dan tergoda untuk menelpon fia, Ryan melihat banyak panggilan tak terjawab baik dari Ray maupun Maya, Ryan memutuskan mengabaikannya untuk sesaat, saat ini pikirannya hanya berpusat pada fia, ia menyentuh bentuk bintang di kontaknya dan keluar nama 'kesayangan' . foto fia ada dalam profilnya. Ryan menarik senyum lebar, memandang foto fia selama beberapa menit tanpa berkedip sampai matanya perih, Ryan mengurungkan niatnya menelpon fia, berpikir saat ini fia pasti sedang tidur, Ryan berbaring telentang dan menghela napas panjang, apa yang bisa ia lakukan saat tak bisa tidur di kamar asing? Ryan bangkit, berjalan ke arah sofa dimana ia meletakkan jas nya dan mengambil ipod di salah satu kantung nya, Ryan kembali ke tempat tidur, berbaring sambil mendengarkan lagu yang menenangkan lalu perlahan menutup matanya tanpa perlu berusaha.


Ryan lupa bagaimana ia tidur, tapi saat ia bangun, matahari sudah merangkak naik, Ryan bergegas ke kamar mandi, menyegarkan dirinya dan turun ketika ia sudah siap, saat itu Louis sudah pergi ke kantor dan meninggalkan Ryan dengan sebuah catatan


'maaf aku harus pergi karena rapat penting, ada sandwich di meja makan dan supir yang menunggu mu di bawah, mintalah ia mengantarmu kemanapun kau mau'


Ryan tak menyentuh sandwich nya, setelah berganti jas yang ia gunakan kemarin, Ryan keluar dari apartemen Louis, menuju lift pribadi yang langsung membawanya ke tempat parkir pribadi Louis, disana ada seorang pria muda berdiri di depan Volvo XC 40 dengan sikap sempurna seperti sudah menunggu Ryan, Ryan mendekatinya dan pemuda itu menyapa dengan riang


"selamat siang tuan Ryan, saya diperintahkan oleh tuan Louis untuk mengantar anda, apa ada tempat yang ingin anda tuju?"


berpikir sesaat, Ryan tahu pasti mau kemana


"ya, sebenarnya ada, tolong bawa saya kesana".


****


Ryan berdiri di hadapan fia dengan senyumnya yang secerah matahari pagi, namun lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan ia tak cukup tidur semalam.


"aku boleh masuk?"


"masuklah..."


fia mengambil tangan Ryan dan mengaitkan jari mereka lalu membawanya ke sofa, Ryan duduk bersandar di punggung sofa bersama fia di sampingnya, fia menyapu wajah Ryan dengan tangannya yang kecil dan kurus, Ryan memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan fia, entah bagaimana tapi itu menenangkan untuk Ryan,


Sofia adalah obat penenang Ryan.


"kau terlihat lelah"


Ryan membuka mata, mengambil tangan fia dan menciumnya disana.


"sedikit"


kemudian Ryan menaruh tangan fia di pipinya,


"semalam ga bisa tidur"


"kenapa?"


"gara-gara kamu"


"kok gara-gara aku?"


"kamu selalu muncul setiap aku menutup mata, itu ganggu tau, aku jadi ga bisa tidur gara-gara kamu"


wajah fia memerah seperti tomat mendengar kata-kata Ryan. jantungnya berdegup kelewat kencang, ia harus segera pergi dan menyelamatkan diri sebelum jantungnya benar-benar meledak.


"kamu mau sesuatu?"


"sebenarnya aku sedikit lapar, tolong beri aku makan"


"akan kubuatkan sesuatu, tunggu lah sebentar"


fia pergi ke dapur, fia jelas tak bisa memasak tapi masih menawarkan sesuatu untuk Ryan, mau bagaimana lagi? kekasihnya itu sedang memohon untuk di beri makan. fia mengeluarkan ponselnya dan mulai berselancar di internet, ia menemukan resep pancake hanya dengan pisang dan telur, dua bahan yang kebetulan ada di kulkas.


20 menit di dapur, fia kembali membawa sepiring pancake tumpuk 3 berbalut madu dan segelas jus jeruk, Ryan sedang menonton TV saat fia datang dan meletakkan piring diatas meja lalu duduk bersama Ryan.


"aku menemukan resep ini di internet, sebenarnya aku membuat beberapa tapi yang bentuknya lumayan hanya 3 yang lainnya gosong"


"akan ku makan, terima kasih ya" usapan di kepala fia membuat jerih payahnya di dapur terasa tak sia-sia, setelah makan fia mencuci piring kotor bekas Ryan, begitu fia selesai dan kembali ke ruang tengah, Ryan sudah tertidur pulas, sofa fia tak seberapa besar, Ryan harus meringkuk dan melipat kakinya agar tubuhnya muat, fia memandangi Ryan dan sebuah ide muncul di kepalanya,


fia menaiki tangga menuju kamarnya, membuka pintu dan berjalan ke meja belajarnya, menarik laci kedua dimana ia menyimpan buku gambar hard cover warna coklat miliknya, fia langsung ke ruang tengah dan mencari sudut yang tepat untuk menggambar Ryan, kesempurnaan Ryan sungguh mustahil untuk dilukis dengan tangan amatirnya, tapi keindahan seperti itu sayang jika tidak di abadikan,


fia menggambar Ryan seperti yang pernah ia janjikan.


Ryan terbangun dengan sendirinya ketika fia sudah selesai menggambarnya.


"sudah bangun..."


"kenapa tidak membangunkan ku?"


"kau tidur pulas sekali, aku mana tega"


Ryan duduk dengan enggan.


"lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"


tanya fia


"sesuatu yang penting"


***


saatnya berhadapan dengan Ray akhirnya datang juga, Ryan jelas bukan pengecut, ia berhutang penjelasan pada Ray soal dirinya yang melarikan diri dari pertunangan, tak ada kecemasan dan rasa takut ketika ia hendak menghadap Ray, meski Ryan melarang fia ikut tapi seperti yang sudah fia janjikan pada dirinya sendiri kalau ia akan bersama Ryan melalui apapun termasuk menghadapi Ray, dengan tangan terkait Ryan mencoba sekali lagi mengirim fia pulang


"kau yakin mau bertemu dengan papaku? kau bisa pulang dan tak harus melakukan ini" namun fia dengan keyakinan penuh sama sekali tak gentar


"aku ingin melakukan ini, aku takkan pernah meninggalkan mu sendiri lagi, ayo kita lakukan bersama"


untuk lebih meyakinkan Ryan bahwa ia baik-baik saja, fia sendiri yang memasukkan kode sandi rumah Ryan, pintunya terbuka dan Ray berdiri disana seolah sudah tahu mereka akan datang, dengan tangannya yang terlipat di dada, Ray menatap Ryan dan fia datar, ia selalu sangat pintar menyembunyikan emosinya, baik Ryan ataupun fia tak bisa membaca suasana itu, hingga mereka juga tak bisa melakukan apa-apa sebelum Ray bereaksi, hanya ada kebisuan yang menyesakkan di udara selama beberapa detik sampai Ray membuka mulutnya dan berkata


"kau masih ingat pulang?"


.


.


.


.


.


.


.


halo readers 🤗.


semoga semuanya dalam keadaan sehat...


amin .... 🙏🙏🙏.


stay save, stay healthy 💪💪