Hey Sofia

Hey Sofia
Aku Percaya




Sementara di kamarnya Ryan.


Aku merebahkan diri setelah selesai mandi, aku terusik dengan sorot mata Fia yang memohon padaku untuk mempercayainya, aku kenal betul karakter Fia, dia tidak mudah cemburu, dia lebih suka menghindari perdebatan dari pada berada di dalamnya, Fia bukan wanita manja yang merengek minta di perhatikan, pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Fia melarangnya dekat dengan Dinda, aku tak merasa ada yang salah dengan Dinda, karena itu aku merasa aneh dengan sikap Fia, apa yang aku lewatkan saat di pesta tadi? apa ada yang terjadi antara Fia dan Dinda? dan kenapa reaksiku berlebihan saat Fia menyinggung soal laki-laki lain? aku akui aku memang terganggu dengan Louis tapi tidak sampai membencinya, Louis justru berjasa menjaga kewarasan Fia saat aku tak ada, aku malah berterima kasih pada Louis karena menjaganya dalam ketidakhadiran ku, dan aku yakin sepenuh hatiku bahwa Fia hanya mencintai ku, lalu perasaan apa ini yang membuat dadaku sesak?


Ryan tertidur dengan perasaan bersalah, ia tak tahu bahwa Fia meninggalkan hotel malam itu juga, seperti Ryan, Fia juga gelisah, ia kecewa karena Ryan tidak percaya padanya tapi ia juga sedih karena tanpa sengaja menyakitinya dengan kehadiran Louis, Fia lebih merasa takut diatas semua itu, antara Ryan dan Louis tak ada kedudukannya yang lebih tinggi, mereka berdua penting, hanya di posisi berbeda, Fia takkan bisa bertahan dan hidup sampai sekarang tanpa dukungan Louis, Fia bisa kembali bersama dengan Ryan saat ini berkat semangat hidup dari Louis, sedangkan Ryan adalah napasnya, Ryan adalah setiap kepingan darah yang mengalir di tubuhnya, bagaimana ia bisa hidup tanpa Ryan?


Di lobby hotel, Fia berdiri menunggu taksi online nya, padahal ada mobil dan supir pribadi yang sengaja di berikan Ryan untuk mengantar Fia kemanapun, tapi itu sudah jam 11 malam dan Pak Surya pasti sudah terlelap, Fia tak mau mengganggu istirahat nya. Andika yang kebetulan bertugas malam itu merasa heran dan menghampiri Fia.


"Nona Sofia, sedang apa malam-malam begini di bawah?"


"Aku sedang menunggu taksi Pak"


"Nona Sofia mau kemana? kenapa tidak dengan Pak Ryan"


"Ini urusan pribadi ku Pak, Pak Ryan tak perlu ikut "


"Kalau begitu biar saya panggilkan Pak Surya, bahaya malam-malam begini naik taksi"


"Tidak perlu Pak, Kasihan Pak Surya, inikan sudah lewat jam kerjanya "


Andika merasa ada yang aneh dengan Sofia, mengingat karakter boss nya yang super protektif dengan tunangannya, ia tak mungkin membiarkan Sofia pergi sendiri malam-malam, apa mereka sedang bertengkar? Andika melihat mata Sofia yang sedikit bengkak dan kemerahan, ia langsung tahu Sofia habis menangis, Andika lihat Fia tak membawa tas besar, hanya tas kecil bertali panjang yang ia silangkan di tubuhnya, itu berarti Sofia tidak kabur dari hotel, Andika sedikit bernapas lega, ia juga heran kenapa ia peduli dengan Fia kabur atau tidak, ia hanya tahu kalau mood bossnya itu ada di tangan Fia, kalau Fia senang bossnya pun akan seribu kali lebih senang yang berarti suasana kerjanya menjadi tenang tapi kalau Fia sedih, Ryan akan melampiaskan kekesalannya pada semua karyawan terutama ia sebagai manager hotel. Jika Ryan sudah uring-uringan maka suasana kerja akan seperti di neraka, yang intinya adalah pemegang kunci ketenangannya bekerja adalah wanita yang berdiri dihadapannya itu, Bunga Sofia Darmawan, Pawang dari bossnya yang moody. Ryan Aji Prasetya.


"Nona Sofia, apa Pak Ryan tahu nona akan pergi?"


"Aku sudah mengirim pesan untuknya, tapi memang belum di baca, mungkin sudah tidur"


"Berarti itu artinya nona tidak meminta ijin pada Pak Ryan?"


seketika Andika berkeringat dingin, tapi hanya di balas dengan senyuman yang sama sekali tidak menenangkan menurut Andika. Sebuah mobil hitam berhenti di depan Sofia, pria didalamnya menurunkan kaca dan menyapa ramah


"Dengan mbak Sofia?"


"Iya benar"


Sebelum masuk mobil Fia menoleh ke Andika,


"Pak Andika jangan khawatir"


***


Fia rindu dengan bau kamarnya, bahkan rindu aroma pewangi di sprei nya, meskipun sudah 2 tahun Fia tidak tinggal disini tapi Louis secara rutin mengirim orang untuk membersihkan rumahnya, taman anggrek lily pun terawat dengan sangat baik, rumah ini sama seperti saat Sofia meninggalkannya.


Akhirnya Fia bisa tidur nyenyak setelah merasa gelisah terus-menerus saat di hotel, ia tidak bangun sampai saat cahaya matahari yang masuk ke kamarnya mulai terasa panas, matanya terbuka, mengerjap beberapa saat melihat langit-langit kamar yang ia kenal, langit-langit kamar itu adalah saksi berapa ribu malam Fia habiskan untuk menangisi Ryan, tiba-tiba Fia sangat merindukannya, padahal baru berpisah semalam saja, bagaimana jika....


Fia melihat jam yang tergantung di dinding kamar nya, sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tidak percaya ia bisa tidur selama itu, biasanya jika Minggu pagi di hotel Fia dan Ryan pergi ke Gym untuk olahraga, Ryan memilih angkat beban untuk membentuk otot nya dan Fia berlari kecil di treadmill, setelah itu mereka akan sarapan bersama di roof top, tempat kesukaan Fia. memikirkan tentang sarapan, perut Fia tiba-tiba merasa perih, ah iya, semalam ia tidak makan dengan benar, hanya beberapa Maccarone saja, dan luka semalam juga hanya di beri obat luka luar dan di tutup oleh plester, ada 3 plester di tempat berbeda menempel di lengan Fia.


Fia turun dari tempat tidur menuju wastafel untuk mencuci wajahnya, ia lihat matanya masih bengkak.


jelek sekali batin Fia.


Fia menuruni tangga sambil mengikat rambutnya keatas, betapa terkejutnya ia saat melihat ada sosok pria bertubuh tinggi berada di dapur rumahnya, hampir saja ia terjatuh dari tangga tapi pria itu yang menyadari kedatangan Fia langsung sigap menangkapnya sebelum Fia benar-benar terjatuh, pria itu menarik pinggang Fia mendekat padanya. Fia memicingkan matanya melihat wajah sang pria yang begitu dekat.


"Kak L.. sedang apa disini? bikin takut saja, Fia pikir ada pencuri masuk"


Fia melepaskan tangan Louis yang berada di pinggangnya dan membuat jarak.


"Kalau aku pencuri, rumah ini sudah bising dengan suara alarm kecuali pencurinya tahu password pintu rumahmu" jawab Louis santai sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.


"Kok, kakak bisa tahu aku disini?"


"Mbak Rina, orang yang kusuruh untuk membersihkan rumah ini tadi pagi datang dan ia terkejut melihat ada sepatu di dalam rumah, dia menelponku dan aku langsung datang, kalau bukan kamu, siapa lagi?"


Fia mengangguk tanda mengerti, Louis menelisik Fia dari atas ke bawah, aneh karena butuh 2 tahun untuk Fia datang ke rumahnya, berdasarkan sifat Ryan yang posesif tidak mungkin ia membiarkan Fia menginap sendirian. Melihat mata Fia, Louis langsung mengerti.


"Ini sudah siang, apa kau lapar? aku sudah meminta mbak Rina berbelanja tadi, ayo kita sarapan, aku juga belum makan"


"Sarapan apa?" Fia mengekor Louis ke arah dapur, Louis menggulung kedua lengan kemejanya sampai siku dan memakai apron


"Aku buat Pasta"


"Kakak bisa masak?" Fia melongok ke arah panci berisi pasta yang sedang di rebus. Pertanyaan Fia tidak salah karena selama ini chef Maxime lah yang masak untuk Louis, selama Fia kenal Louis, hampir seumur hidupnya Fia tak pernah melihat Louis memasak sendiri makanannya.


"Aku ini serba bisa, tidak seperti seseorang yang bisanya hanya makan saja"


Fia memberengut, tahu kalau ia sedang di sindir.


"Itu hanya Pasta, siapapun bisa membuatnya" Balas Fia kesal


"Kamu bisa?"


"Ga bisa, hehehe ..." Fia menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih.


"Tunggulah di ruang tamu, kita makan sambil menonton TV, ini hampir selesai"


"Siap komandan, 86" ujung jari Fia menempel di kening, menirukan sikap hormat, lalu setengah berlari ke ruang tamu.


***


"Pasta saus Alfredo sudah siap "


Air liur Fia hampir menetes melihat Pasta buatan Louis yang menggiurkan, Fia memasukkan satu garpu penuh ke dalam mulutnya


"Ini enak" Puji Fia


"Aku tahu" Jawab Louis sombong. Fia menoleh dengan mulutnya yang penuh


"Tsk... dasar!!".


Setelah makan, Fia mencuci piring dan peralatan bekas memasak, Louis berdiri di sampingnya, bersandar ke tembok menghadap Fia.


"Apa yang terjadi?" pertanyaan Louis menghentikan aktivitas mencuci Fia, benar juga, tak ada yang luput dari pengamatan Louis, Fia payah dalam menyembunyikan perasaannya, terutama pada Louis yang lebih mengenal Fia ketimbang Fia nya sendiri, kemudian ia berpikir sejenak.


apa aku ceritakan saja ke kak L? kalau iya, harus mulai dari mana? rasa cemburuku pada Dinda? ah kekanakan sekali, ancaman Dinda? pengecut sekali, rasa insecure ku? bodoh sekali, tidak. Aku tidak mau melibatkan kak L lagi, ini masalah ku dengan Ryan, biar ku selesaikan sendiri.


"Semua baik-baik saja kak, tak ada yang terjadi"


"Kau yakin?"


"Hem ..."


"Lalu apa itu yang ada di lenganmu?"


Louis merujuk pada luka Fia, rupanya plester berwarna coklat itu terlihat sejak saat mereka makan bersama, hampir saja gelas yang sedang Fia cuci terlepas dari genggamannya, Fia merasa seperti pencuri yang sedang diinterogasi, Fia berusaha masang wajah polosnya.


"Tapi ini lenganmu yang terluka "


"Intinya, aku ini orang yang ceroboh, sering tidak sadar melukai diri sendiri "


"Sofia, aku akan berpura-pura tidak peduli karena aku tidak mau mencampuri masalah pribadi kalian, tapi jika Ryan berani membuatmu terluka, bahkan menangis, aku takkan segan-segan, kamu tahu aku serius dengan kata-kata ku"


Fia telah selesai mencuci piring dan sedang mengeringkan tangannya,


"Ini bukan seperti yang Kakak bayangkan, aku baik-baik saja "


Mereka hanya saling menatap untuk beberapa detik, Louis tahu ada yang disembunyikan Fia tapi ia tak mau memaksanya dan Fia tahu Louis tak percaya padanya tapi ia tak ingin melibatkan Louis dalam hal ini.


Fia diselamatkan oleh bel yang tiba-tiba berbunyi, ia bisa terhindar dari pertanyaan Louis yang mendesak, Fia menghela napas diam-diam.


"Biar aku yang buka" tawar Louis.


Louis melangkah lebar-lebar untuk mengecek siapa yang datang, rumah ini sudah 2 tahun kosong jadi hampir mustahil jika ada tamu yang berkunjung, kecuali jika itu....


"Ryan...?"


Sesuai dugaan Louis, pria yang berdiri di ambang pintu rumah Fia punya ekspresi wajah yang sulit di gambarkan, ia tampak gelisah namun juga marah disaat yang bersamaan, arti pandangan Ryan pada Louis adalah heran, kenapa Louis bisa berada di rumah Fia saat Fia melarikan diri darinya? apakah mereka sudah berjanji untuk bertemu disini?.


"Aku ingin bertemu Sofia"


Louis bergeser sedikit memberi ruang untuk Ryan agar bisa masuk.


"Silahkan, Fia ada di dapur, tidak perlu kutunjukkan kan dimana arah dapurnya?"


"Aku tahu, terimakasih"


Mereka memang tidak pernah terang-terangan berkelahi bila bertemu, mereka lebih seperti perang dingin tanpa perlu berbasa-basi agar terlihat akrab satu sama lain, itu terjadi secara naluriah.


"Kukira kau lupa"


Ryan mengabaikan Louis dengan langsung menuju ke dapur, Fia yang sedang minum susu strawberry hangat nya tersedak ketika melihat Ryan,


"Yan....?"


"Sayang, ayo pulang"


"Tapi aku sudah dirumah"


Ryan semakin geram, ingin rasanya ia marah namun ia menahannya, Ryan mengepalkan kedua tangannya dan mencoba bersikap tenang.


"Maksudku kita pulang ke Hotel"


"Aku ingin tetap disini"


Habis sudah kesabaran Ryan, Fia sangat keras kepala, Louis hadir di dapur, ia berdiri cukup jauh namun masih bisa mendengar percakapan mereka.


"Aku takkan membiarkan kamu tinggal disini sendirian, ayolah Sofia, pulanglah bersamaku, ya"


Fia tak menjawab ia hanya melihat Louis dan Ryan bergantian, tak tahu harus berkata apa.


"Kenapa kamu melihat ke Louis?" tanya Ryan kesal


"Iya, kenapa kamu melihatku?" Louis bertanya santai, ia bersandar pada dinding dengan tangan terlipat di dada.


"Kamu mau tinggal disini bersama Louis?"


"Percaya atau tidak, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, aku dan Louis tidak punya janji bertemu disini"


"Jadi ini kebetulan, begitu maksudmu?"


"Terserah kamu percaya atau tidak"


"Sofia, jika ada masalah bicarakan denganku baik-baik, bukannya lari dan mencari laki-laki lain"


"Yan..!!!" Protes keras Fia menggema ke seluruh dapur, Louis pun sedikit terlonjak dari tempatnya berdiri. Sofia jarang sekali marah, apalagi sampai meninggikan suara seperti tadi.


"Maaf, itu tadi keterlaluan" Ryan langsung tersadar.


"Ayo, Sofia. Kita pulang"


Ditatapi tangan Ryan yang mengulur padanya. Tak mau ada lagi pertengkaran apalagi didepan Louis, Sofia pun mengangguk tanda setuju.


"Aku akan ke atas untuk mengambil tas ku"


Dibiarkan tangan Ryan menggantung di udara, Sofia melangkah menuju kamarnya, sedang Ryan hanya menatapnya nanar. lagi-lagi ia terbawa emosi.


Selang beberapa lama Fia pun turun, ia berpamitan dengan Louis sebelum pergi.


"Aku pergi dulu. Kak, Terimakasih makanannya"


Louis menepuk-nepuk kepala Fia sambil tersenyum.


"Kalau ada apa-apa, datanglah padaku"


"Terimakasih, Kak."


Sofia menuju mobil dimana Ryan sudah menunggu di dalamnya, begitu Fia masuk Ryan menekan tombol start pada mobil dan mesinnya menyala dengan lembut, nyaris tanpa suara. Perlahan mobil keluar dari halaman rumah. Sepanjang perjalanan Sofia lebih banyak diam, Ryan mencoba mencairkan suasana dengan bertanya namun Fia menjawabnya hanya dengan anggukan atau gelengan.


Sampai di kamar Fia masih tak bicara sepatah kata pun, melihat Ryan pun ia enggan, tak tahan dengan situasi ini akhirnya Ryan langsung memeluk Fia dari belakang, Sofia berusaha melepaskan pelukan Ryan tapi usahanya hanya membuat mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku, Marahlah, Maki aku sebanyak yang kamu mau, pukul aku jika perlu tapi jangan diamkan aku, Aku yang salah. Maafkan aku, tolong jangan pergi lagi, Aku tidak bisa hidup jika tanpa kamu"


Ryan bisa merasakan tubuh Fia bergetar, Ryan pikir itu karena Sofia menahan amarahnya namun setitik air jatuh ditangannya lalu disusul dengan titik-titik lainnya seiring suara Isak tangis Fia, Ryan melepas pelukannya untuk berbalik menghadap Fia, wanita nya sedang tertunduk sambil terus menangis, Ryan kembali memeluknya untuk menenangkan Fia, ia belai lembut rambutnya dan menciumi aroma yang jadi kesukaan Ryan.


"Aku minta maaf, Aku yang bersalah, Maafkan aku"


Permintaan maaf Ryan makin membuat Sofia terisak, Baju Ryan menjadi basah akibat air mata Fia yang tak berkesudahan. Setelah beberapa lama akhirnya Fia tenang juga, Ryan mendudukkan Fia ditepi tempat tidur dan Ryan berlutut dihadapannya, menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di pipi nya.


Ini pemandangan yang paling menyesakkan batin Ryan berkata.


"Kau sudah lebih tenang sekarang?"


Pertanyaan Ryan di jawab dengan anggukan. Fia masih belum sanggup untuk bicara.


"Maafkan aku yang tak percaya padamu, mulai sekarang walaupun seisi dunia mengatakan 'Tidak', asalkan kamu bilang 'Iya'. Aku percaya padamu, kau mau memaafkan aku 'kan?"


Lagi-lagi Fia hanya menjawab dengan anggukan.


"Sekarang katakan padaku, Kenapa kau pergi kemarin malam?"