
_tetaplah berada di jalur pandangan ku agar aku menjadi tenang_
_Louis_
****
Sofia tidak diturunkan di lobby utama melainkan di depan pintu khusus Louis dimana ia sudah ditunggu oleh lama yang akan membawanya ke lift khusus langsung ke ruang kerja Louis.
"selamat datang nona Sofia" sambut Lana sopan
"halo mbak Lana"
"Mari, Presdir sudah menunggu nona"
Lana dan fia memasuki lift, lalu Lana menekan tombol paling atas, lift nya terbuat dari kaca tebal sehingga fia bisa melihat pemandangan keluar, pemandangan nya semakin indah saat fia semakin naik ke lantai atas, fia akrab dengan suasana ini dan ia juga sudah kenal dengan Lana tapi fia tak terbiasa dengan perlakuan khusus ini, dipanggil nona seperti ia adalah orang penting atau semacamnya, padahal ia hanya kebetulan kenal dengan Louis, jika tidak, fia takkan pernah bisa duduk dimobil mewah atau menikmati wahana taman bermain untuk dirinya sendiri, hal-hal gila yang cuma bisa ia mimpi untuk nikmati, semua itu bisa fia rasakan karena sejak kecil ia menempel pada Louis.
sebenarnya Louis sering memanjakan fia bahkan sejak mereka masih anak-anak, Lily selalu tegas pada fia soal memakan makanan manis seperti permen atau coklat tapi Louis diam-diam memberikan nya hanya untuk menyenangkan fia, es krim favoritnya adalah rum raisin strawberry vanilla, dan fia mendapatkan nya setiap hari dari Louis. Louis selalu murah hati padanya sampai terkadang berlebihan.
"nona, kita sudah hampir sampai"
"ah, iya"
"Presdir masih ada rapat tapi beliau perintahkan saya untuk mengantar nona ke ruang kerjanya"
lift berbunyi dan pintunya terbuka, terakhir fia ke kantor Louis, ia menaiki lift karyawan dan fia tak sempat memasuki ruangan Louis, di dalam ruangan itu terdapat sofa untuk menyambut klien dan tamu penting, di sudut ruangan ada meja dengan nama Sony Biarawan di atas nya, lalu ada pintu menuju ruangan lain yang pastinya ruang kerja Louis, Lana mengetuk pintu 2 kali dan Sony yang membukanya
"halo nona Sofia, selamat datang"
fia langsung di sambut hangat oleh sapaan ramah dari Sony
"kalau begitu saya permisi" pamit Lana
"terimakasih mbak Lana"
"sama-sama, saya permisi pak Sony"
Sony menjawab dengan senyuman canggung dan memandang Lana sampai ia menghilang di lift, Sony yang biasanya kaku dengan image perfeksionis bisa juga membuat ekspresi malu-malu seperti itu, ia bahkan tak sadar Sofia sedang melihat curiga padanya.
"Mas Sony, lift nya bisa bolong kalau dilihat terus kayak gitu"
Sony pun sadar ia tak sendirian dan jadi salah tingkah di depan fia.
"ah maaf, pikiranku teralihkan, mari silahkan masuk"
di dalam terdapat beberapa orang duduk di satu meja panjang, Louis tampak serius mendengar penjelasan dari salah satu karyawan nya, ketika louis melihat fia, Louis tersenyum sesaat untuk menyapa fia lalu kembali pada meeting nya.
"meeting nya memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan tapi nona bisa menunggu disini sebentar"
"Mas Sony, ga pa-pa fia tunggu di sini? takut ganggu"
"siapa yang berani mengeluh kalau Presdir sendiri yang memberi perintah?"
"maksudnya?
"Presdir lebih tenang kalau nona berada dalam jarak pandang nya"
ok apapun maksudnya itu, kenapa orang dewasa suka menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti.
"silahkan duduk dan buat dirimu nyaman, saya akan segera kembali"
fia menuruti Sony dan duduk di sofa, sementara Sony keluar ruangan, dalam meeting itu mereka membicarakan tentang fluktuasi pasar, nilai saham dan hal-hal yang tidak fia mengerti, fia langsung merasa bosan, ia bersandar di punggung sofa untuk membuat dirinya santai, jika dirumah fia pasti sudah mengangkat kaki nya dan tidur tapi ini kantor Louis dan banyak karyawan yang sedang meeting, fia hanya bisa duduk manis sambil menunggu Louis, tak lama Sony datang membawa minuman dan cemilan untuk fia.
"Mas Sony tahu dari mana kesukaan fia?"
"sebagai sekretaris pribadi, saya harus tahu semua informasi penting tentang Presdir"
"informasi penting tentang Presdir? berarti tentang kak L? terus hubungannya dengan tahu kesukaan fia apa?"
"semuanya.."
"huh..?"
"maaf, saya harus kembali menemani Presdir meeting"
"iya silahkan, terima kasih Mas Sony"
orang aneh pikir fia.
Dihadapan fia sekarang ada strawberry milkshake, macaroon dan sekotak coklat, fia tak pernah melihat kotak coklat secantik itu, fia membukanya dengan antusias, itu adalah jenis coklat yang fia suka, coklat tanpa kacang, fia mencoba satu coklat dan ia hampir menangis karena saking enak nya, coklatnya langsung lumer begitu masuk di mulut fia, itu adalah coklat terenak sepanjang hidupnya.
zzt...zzt...zzt...
ponsel di kantung fia bergetar, di layarnya tertera nama Ryan, ternyata fia lupa ia belum mengabari Ryan, fia membaca pesan yang Ryan kirim.
"kamu dimana? aku jemput kamu ke sekolah tapi kamu sudah pulang, dirumah juga kamu ga ada"
fia membalas
"maaf aku lupa mengabarimu, aku bertemu kak L di kantornya"
"oh, kapan pulang?"
"aku belum tahu, Sekarang kakak masih meeting"
dua centang nya sudah berwarna biru tapi Ryan tidak membalas pesannya
apa mungkin Ryan marah?
fia mencoba memberi penjelasan sebelum Ryan menjadi salah paham
"ibu mau pergi ke London, aku mau minta tolong kakak membujuk ibu untuk tinggal, hanya itu, tolong jangan marah"
"kamu ga cerita ibu mau ke London?"
"aku juga baru tahu tadi pagi, maaf ga sempat cerita"
"oke"
rasanya dia ingin langsung pergi menemui Ryan tapi saat ini ibu lebih penting, bodohnya fia, ia ingat mengabari ibunya tapi lupa mengirim pesan pada Ryan, fia berencana untuk menemui Ryan nanti setelah bicara dengan Louis.
30 menit kemudian meetingnya selesai, semua karyawan satu persatu meninggalkan ruangan, mereka tersenyum pada fia seolah mereka saling kenal, fia pun berdiri dan membalas senyuman mereka sebagai tanda kesopanan, meski meeting sudah selesai tapi Louis dan Sony masih membahas soal hasil meeting tadi, fia tak berani untuk mendekati mereka dan memilih menunggu sampai mereka selesai, kalau Louis sesibuk ini kenapa ia menyanggupi untuk bertemu fia?
Louis memberi arahan pada Sony dan setelah menandatangani beberapa dokumen Louis pun akhirnya bisa bersandar santai di kursinya, Sony sudah meninggalkan ruangan dan hanya tersisa fia dan Louis.
Louis melambaikan tangan meminta fia untuk mendekat dan fia menurut, dari ekspresi nya fia tahu Louis sangat lelah.
"duduklah fia"
"kak, ga pa-pa? capek banget kayaknya"
"i'm okay now that you are here"
"kak..!!!"
fia merajuk kesal sambil merapikan rambutnya yang di acak-acak oleh Louis, semakin kesal karena Louis tampak tertawa senang, Louis tidak bohong, kedatangan fia benar-benar membuatnya bersemangat setelah lelah bekerja, dan wajah fia yang merajuk adalah hiburan baginya.
"kenapa mencariku? rindu ya?"
"yeah, you wish..!!"
ketus fia masih kesal
"ouch... that's hurt" dibalas dengan gurauan dari Louis.
"kak, ibu mau pergi ke London"
"aku tahu.."
"pasti tahu lah, kan kakak yang menawarkan fia dan ibu untuk pindah ke sana"
"itu adalah keputusan yang tepat waktu itu Sofia, dan aku melakukan nya untuk mu"
fia tertunduk sedikit malu, tidak di pungkiri waktu itu memang terdengar seperti ide yang bagus tapi sekarang berbeda dan fia tak mau berpisah dengan ibunya,
"iya fia tahu, tapi sekarang fia mau minta tolong kakak untuk bujuk ibu membatalkan kepergiannya"
"Dan kenapa aku harus melakukan itu?"
"kak... !! kok tanya kenapa, jelaslah fia ga mau ibu pergi, fia mau ibu tinggal disini sama fia!!"
fia jadi melampiaskan kekesalannya pada Louis karena menolak membantu nya, Louis tak lagi bersandar di kursinya, wajahnya berubah menjadi serius, fia terkejut dan mengambil posisi mundur, Louis tak pernah memberi fia tatapan tajam sebelumnya, dia bukan seperti Louis yang fia kenal, ah tidak. Louis memang seperti ini jika orang yang ia anggap menganggu, fia tertunduk tak berani menatap Louis, kini tatapan itu di tujukan untuk fia, apa ini berarti fia sudah membuat Louis kesal, apa fia sudah menganggu Louis karena meminta bantuannya?.
"fia, dengarkan aku, ibu sudah bekerja keras selama hidupnya untuk membesarkan mu, ibu melupakan kebahagiaan nya untuk kebahagiaan mu, ibu juga merelakan keinginannya untuk memenuhi keinginan mu, sekarang kamu sudah dewasa dan bisa mencari kebahagiaan mu sendiri lalu bagaimana dengan ibu? suatu hari kamu pasti akan pergi juga"
kedua tangan fia membentuk kepalan besar di pangkuannya, bagaimana Louis mengatakan kebenaran yang terasa pahit di telinga nya, fia memikirkan dirinya sendiri selama ini tanpa memikirkan bagaimana beratnya hidup sang ibu, benar, menjadi orang tua tunggal pasti tidaklah mudah, ibu bisa saja menikah lagi dan bersandar pada pria idaman nya, tapi ibu memilih berjuang sendiri dan menanggung semuanya untuk fia.
perlahan rasa pahit nya menjalar ke setiap sudut hati fia, sakit nya menjadi tak tertahankan dan pandangan nya menjadi kabur, tetes demi tetes ia biarkan keluar dan jatuh di pangkuannya, menangis di depan Louis bukan yang pertama tapi menangis karena alasan ini sangat memalukan, bahkan Louis pun pasti berpikir fia adalah anak yang tak berbakti dan egois, Louis sengaja membiarkan fia memuaskan semua perasaan sakitnya keluar sampai ia benar-benar tenang lalu memberikan fia sapu tangan.
"apa aku tadi terlalu kejam?" tanya Louis
"sedikit.."
"maafkan aku, ok"
"ok"
Louis mengangkat wajah fia di dagu nya, Louis menatap langsung mata fia, kini mata coklat yang indah itu kembali melembut
"jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, kau tahu ibu melakukan itu semua karena ia menyayangi mu dan kau sama sekali bukan beban untuk nya, kau mengerti kan?"
fia menjawab dengan anggukan, suara Louis tak menghakimi malah menenangkan.
"sekarang jangan membuat ibu khawatir dan biarkan ibu melakukan apa yang membuatnya bahagia, bisa kan?"
sekali lagi fia menjawab dengan anggukan
"gadis pintar" kata Louis sambil menepuk kepala fia pelan, Louis kemudian melihat Patek Philippe nya dan waktu sudah menunjukkan pukul 4.30
"kau mau menunggu ku? kita bisa makan malam bersama"
"terima kasih kak, tapi fia mau pulang aja"
"kau yakin? kita bisa pergi ke restoran kesukaan mu"
"iya... fia mau ketemu Ryan"
"oh..."
Louis tak bisa menahan rasa kecewa nya tapi ia juga sudah terbiasa dengan itu, kenapa ia masih belum bisa melepaskan fia? ia berharap untuk kebahagiaan fia tapi jauh di dalam hatinya ia ingin fia menjadi miliknya, bagaimana Louis bisa melupakan fia jika setiap lembar dari hidupnya adalah tentang fia, jika menghilangkan fia berarti ia membuang seluruh hidupnya.
apa ini nasib yang harus Louis terima? selamanya hidup dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan, bahkan jika itu satu-satunya yang diperlukan untuk bisa tetap berada di sampingnya, Louis akan menjalaninya seolah itu jalan menuju surga,
kurasa aku benar-benar sangat menyedihkan sampai di titik dimana orang takkan ada yang mengasihani ku karena aku begitu bodoh.
tetaplah berada di jalur pandang ku agar aku merasa tenang.
.
.
.
.
.
.
.
hope you like this episode 🤗
#stayathome
stay save and stay healthy 💪💪