
halo readers 😊
ini chapter terakhir dari mode flashback
let's see things from Louis point of view.
happy reading 🤗.
___________________________________
Betapa bisa sangat menakutkan nya dunia baru bagi seorang anak.
Louis terpaksa meninggalkan dunia yang selama 13 tahun ini ia tahu ke tempat yang asing, ia hanya bisa pasrah saat orang tuanya memutuskan untuk pindah demi memperluas bisnis keluarganya, lagi pula apa yang bisa ia lakukan, ia hanya seorang bocah.
akhirnya perjalanan yang melelahkan selama kurang lebih 15 jam itu berakhir, dari bandara, ia dan keluarganya dijemput oleh mobil perusahaan langsung menuju rumah baru nya,
sampai lah ia di sebuah rumah besar bercat putih dan halaman yang cukup luas, dengan tubuh lelah nya Louis menyeret koper memasuki rumah, di kamar baru nya ia tidak bisa tidur, tubuh nya memang lelah tapi ia juga belum terbiasa dengan perbedaan waktu yang ada, ia menghitung domba sampai akhirnya bisa tertidur.
sinar matahari di dunia baru Louis lebih panas dari yang ia bayangkan, paling tidak udaranya cukup segar, setelah mandi Louis keluar kamar dan melihat-lihat isi rumah baru nya, masih banyak kardus-kardus yang belum di bongkar dan perabotan yang masih terbungkus kain putih, dengan rumah sebesar ini pasti butuh waktu lama untuk membereskan nya, Louis menemukan ibu nya bergelut di dapur, sejak pagi Renata sudah sibuk menyiapkan sarapan dan memanggang pie apple, rencananya pie apple itu akan dibagikan ke tetangga sebelah sebagai hadiah perkenalan,
setelah selesai sarapan Renata menyeret Louis untuk ikut dengannya dan menyapa tetangga baru mereka. Louis hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan sang ibu.
rumah pertama yang mereka datangi tidak sebesar rumah nya tapi punya halaman yang dipenuhi taman bunga anggrek berbagai warna, ada kolam ikan dengan air mancur dan juga ayunan ditengah-tengah nya,
Ting tong
Renata memencet bel dengan gugup, begitu pintu terbuka, hal pertama yang Louis lihat adalah gadis kecil dengan mata yang besar dan cerah, Louis tertegun sesaat, ia berkata dalam hati
ternyata ada sesuatu yang lebih indah dari taman bunga anggrek di tempat ini
tapi anak itu aneh, ia terus menatap Louis tanpa mengedipkan matanya, apa matanya tidak perih?
such a weird girl, beautiful but weird.
perkenalannya berjalan mulus sepertinya mereka akan menjadi tetangga yang baik
***
kecintaan Renata pada anak perempuan membuat Louis harus melihat fia setiap hari, gadis dengan mata cerah itu berkeliaran di sekitar Louis dan itu sangat menggangu. Awalnya....
lama-kelamaan jadi terbiasa dan malah aneh jika tidak ada, fia suka memegang tangannya saat mereka berjalan bersama. ah tidak, Louis lah yang senang fia memegang tangannya,
tangan fia begitu kecil dalam genggaman nya, cocok sekali dengan wajah nya yang mungil dan imut, meski begitu ia punya keberanian luar biasa untuk mengajak Louis menikah, apa ia bahkan mengerti apa arti kata itu? Louis berumur 13 tahun dan ia tidak tahu, lalu dimana akal sehat nya saat berjanji akan menikahinya jika besar nanti? Louis yakin dia akan tumbuh jadi lebih cantik dari sekarang saat ia dewasa, ya... paling tidak ia akan punya istri yang cantik nanti.
Bertahun-tahun Louis lalui dengan senyuman dan tawa fia, sungguh itu tahun-tahun yang indah sampai bencana itu terjadi, begitu louis mendengar tentang kecelakaan yang menimpa keluarga Darmawan, Louis berlari ke rumah sakit dan menemukan fia terbaring tak berdaya disana, setiap langkah mendekati fia terasa amat berat, semakin berat ketika luka-luka di sekujur tubuh Fia terlihat jelas.
God, please save her, take me and not her
hari-hari setelah kecelakaan menjadi semakin buruk, fia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Ayahnya, kadang ia menangis histeris, kadang mogok makan, dan tak jarang ia sampai harus membujuk fia untuk makan.
***
saat itu langit dengan sombong memamerkan keindahannya dan Louis tak tahan untuk mengajak fia melihat bintang dari atap rumahnya,
" kau suka? "
fia mengangguk pelan dan menatap lurus ke atas
" iya, bagus kak"
" kamu pernah baca cerita ga kalau orang yang sudah meninggal berubah jadi bintang"
" yang bener kak ?"
Louis mengangkat bahu nya
" menurut cerita sih gitu, makanya kalau kamu kangen sama Ayah, kamu lihat aja Bintang, pasti Ayah kamu ada di salah satu bintang-bintang itu, dan Ayah juga lagi lihat kamu sekarang "
fia memandangi langit dan mulai menangis
"jangan menangis " kata Louis sambil menghapus air mata fia dengan kedua tangannya
" kalau kamu menangis, langit akan hujan"
fia tertawa kecil
" sejak kapan kakak jadi gombal gini ?"
" ga pantes ya ?"
" eng-ngak!!"
hah..... lega rasa hati Louis melihat fia tertawa, hari-hari berikutnya jadi lebih mudah buat fia, ia kembali ceria seperti fia yang seharusnya, Louis pikir keadaan akan semakin baik antara ia dan fia sampai saat Louis tiba-tiba harus kembali ke Landon karena kakek nya sakit,
lagi-lagi fia merasa kehilangan, untuk kedua kali nya ia ditinggal kan oleh orang yang ia sayang, meski Louis berjanji akan kembali fia tetap tak bisa membendung kesedihannya, fia berteriak dalam hati betapa ini sangat tidak adil, baru saja ia bangkit berkat dukungan dari seseorang dan sekarang orang itu juga yang menarik nya kembali ke kegelapan, apa ia tidak boleh bahagia? kenapa semua yang ia punya direnggut paksa darinya?
meninggalkan fia mungkin adalah hal terberat bagi Louis, ia sadar kemungkinan kembali lagi sangat kecil, ia mengutuk ke tidakberdayaan nya, tak ada yang bisa ia lakukan selain berharap fia bahagia, entah itu dengan siapa tak lagi jadi masalah untuk nya, benar-benar hanya ingin fia bahagia.
sebulan sudah fia menunggu Louis tapi tak ada tanda ia akan pulang, dan tabungan sang ibu mulai menipis, ia mendapat tawaran pekerjaan di luar kota jadi fia terpaksa pindah meninggalkan kenangannya disana dan memulai kehidupan barunya ditempat asing, dimana ia juga bertemu dengan orang asing bernama Ryan.