Hey Sofia

Hey Sofia
Let's get married




setelah sekian lama menderita jika mau bertahan sedikit lagi kebahagiaan pasti akan datang


_Ryan_


****


Hanya butuh hitungan menit bagi fia untuk tertidur dalam kehangatan dekapan Ryan, ia tak pernah merasa cukup memandangi fia yang sedang tertidur, seakan waktu berhenti saat mereka sedang bersama dan mereka berdua membeku dalam keabadian, berharap bahagia bersama sampai sisa napas terakhir mereka, Ryan sangat suka dengan halusnya pipi fia yang sedikit kemerahan alami, Ryan menyentuh nya dan baru bisa percaya fia benar-benar ada bersama nya, ini seperti mimpi fia tidur di sampingnya.


"bagaimana kau bisa tidur tak berdaya dalam pelukan ku? apa kau sama sekali tak melihatku sebagai laki-laki? awas saja kalau kau berani tidur di hadapan orang lain dengan wajah itu"


Ryan tak berhenti tersenyum sampai pipinya terasa sedikit kaku, puas menjelajahi wajah fia dengan jarinya, Ryan mencuri kecupan di bibir fia sesaat sebelum ia bangkit dari tempat tidurnya, fia sedikit bereaksi saat Ryan mengecupnya tapi ia masih tertidur.


karena Ryan tak lagi memeluknya dan menghangatkan fia, Ryan mematikan AC di kamarnya dan membuka jendela, ia memanfaatkan udara hangat sebagai pengganti pelukannya lalu berjalan keluar kamar untuk mencari Ray, dalam perjalanannya mencari Ray, Ryan berpapasan dengan bibi Mae, ia membawakan teh hijau untuk Ray ke ruang kerjanya, Ryan mengambil teh itu dan menawarkan untuk membawanya sendiri ke Ray,


Ryan mengetuk pintu sebelum ia membuka nya dengan satu tangan dan tangan yang lainnya memegang baki berisi teh dan cemilan, Ray sedang duduk di balik meja kerjanya sambil menelpon, ia melihat Ryan dan memberi isyarat tangan agar Ryan masuk, Ryan meletakkan teh nya di meja dan duduk di sofa menunggu Ray selesai, Ray berbicara dengan bahasa Jerman, sedikit banyak Ryan mengerti bahasanya meski ia hanya sebentar tinggal di jerman, Ryan bisa tahu dari ekspresi depresi Ray bahwa ada masalah dengan hotel di Jerman dan sepertinya masalah besar. Ray menutup telpon dengan desahan yang keluar dari mulutnya.


Ray lalu bergabung dengan Ryan di sofa, Ray terlihat sangat lelah, ia mengangkat cangkir tehnya, meniupnya sebentar dan meminumnya, kerutan di dahi nya meregang dan ia menjadi lebih santai, lalu ia bertanya pada Ryan,


"dimana Sofia?"


"bunga tidur di kamar"


Ray mengangkat satu alisnya sambil menatap Ryan penuh makna, Ryan tertawa kecil dengan reaksi Ray yang berlebihan.


"tenang pah, ia hanya tidur tidak ada apapun yang terjadi seperti yang papa pikirkan"


"memangnya apa yang papa pikirkan? pikiran mu saja yang mesum"


Ray kembali meminum teh nya


"ok ok itu salah Ryan"


diam-diam Ray merasa lega dalam hatinya, bagaimana pun Ryan adalah remaja dengan gejolak dan keingintahuan yang besar dan ia sedang jatuh cinta seperti orang gila pada gadis yang sedang tidur di kamarnya, meski Ray orang yang modern, berpikiran terbuka dan tinggal di luar negeri tapi ia menganut adat ketimuran yang fanatik.


"ada masalah di Jerman pah?" tanya Ryan penasaran.


"ya, salah satu tamu hotel kedapatan membawa narkoba dalam jumlah besar, Sekarang polisi sedang menyelidiki keterlibatan hotel dan mencurigai hotel sebagai tempat transaksi narkoba"


"itu gawat pah, lalu apa yang akan papa lakukan?"


"sepertinya papa harus kembali ke Jerman"


"kapan papa berangkat?"


"papa sudah memesan tiket untuk besok pagi, kamu akan baik-baik saja kan saat papa tak ada nanti?"


"Ryan bukan anak kecil lagi pah, lagi pula ini bukan pertama kali nya kan, jangan khawatir kan Ryan, selesaikan saja urusan di Jerman dengan tenang"


"Ryan, papa minta maaf"


"untuk apa pah?"


"papa meninggalkan mu untuk hidup sendiri, harusnya papa di sini menemani mu"


"Ryan mengerti kenapa papa memilih pindah ke Jerman, tinggal di sini mengingatkan papa tentang mama kan, papa juga pasti sangat kesepian disana, papa tahu kan Ryan tak keberatan kalau papa mencari pendamping yang bisa menemani papa, Ryan juga mau papa bahagia di masa tua papa"


Ray mendesis mendengar Ryan memanggilnya tua, dan di balas dengan tawa Ryan yang terbahak-bahak, Ray mengambil sekotak rokok di meja, di lemparkan ke arah Ryan dan jatuh di dadanya


"anak kurang ajar, berani-beraninya panggil papa tua!"


Ryan mengusap dadanya, berpura-pura seolah kesakitan


"aw.. papa jahat banget sama anak nya"


Ryan menaruh kembali rokok itu di meja, sekilas ia melihat ekspresi sedih di wajah Ray, ia mengingat kenangan tentang istrinya


"buat papa, mama kamu adalah satu-satunya... takkan ada yang bisa menggantikan nya, sejak awal posisi itu memang milik mama mu"


entah bagaimana, Ryan juga merasakan kesedihan Ray, tapi kenangannya tentang sang mama sedikit kabur, ia hanya ingat wajahnya dan ingat masa kecilnya yang bahagia, selain itu Ryan tidak ingat apa-apa


"waktu mama meninggal, papa berjanji untuk menjaga kamu, dengan perkelahian kamu di sekolah papa sadar belum bisa memenuhi janji papa"


Ryan tertunduk malu, tindakan nya berkelahi dan kabur kemarin sudah membuat Ray kesusahan, orang yang sibuk seperti Ray harus datang ke sekolah untuk membereskan masalah yang ia buat, beruntung Ryan tidak di keluarkan semua itu berkat dari kekuasaan yang Ray miliki, selain itu orang tua Rendy setuju untuk berdamai dengan membayar sejumlah besar uang sebagai kompensasi, uang yang jumlahnya setara dengan dengan gaji ayah Rendy sebagai karyawan selama 2 tahun dikalikan 2 kali lipat, dan untuk anak yang memukul Ryan dengan pot, dia di skors selama dua Minggu setelah kedua orang tua nya memohon pada Ray, ia sangat marah mengetahui Ryan terluka meski itu juga akibat ulahnya sendiri, tapi ia ingat bagaimana dulu ia berlutut di hadapan Lily untuk memohon pengampunan bagi anaknya, maka kemarahan Ray mereda dan setuju dengan perdamaian.


Ray tak mengajarkan Ryan bahwa masalah apapun bisa di selesaikan dengan uang tapi Ray hanyalah seorang ayah yang mencintai anak nya dan berusaha memenuhi janjinya,


"pah, maafkan Ryan"


sebagai anak laki-laki akan sangat memalukan jika Ryan menangis di depan papa nya tapi ia tak bisa menahan matanya untuk memerah perih, rasa bersalah yang tak di tahan-tahan terpancar di matanya yang basah, Ryan belum bisa membanggakan papa nya malah menambahkan beban


"Ryan berjanji takkan mengulangi nya lagi dan menjadi anak yang akan membanggakan untuk papa"


Ray menepuk-nepuk lutut Ryan


"papa percaya sama kamu, kamu anak baik papa, mama juga pasti bangga sama kamu"


"tapi pah, Ryan tidak ingat waktu mama meninggal, saat itu Ryan ada di mana pah?"


bahu Ray menjadi tegang seketika, ia tak siap dengan pertanyaan Ryan yang tiba-tiba, Ray terpaku di tempat nya duduk, diam dan tak bisa bergerak sementara otak nya berpikir keras, keringat sebesar biji jagung mulai tampak di pelipis karena panik, Ray akan membuka mulutnya siap memberi jawaban namun suara pintu diketuk telah menyelamatkan nya, di balik pintu itu ada bibi Mae yang memberitahu makan malam sudah siap. Ray sedikit lega, berkat dia, Ray bisa menghindar dari pertanyaan Ryan tanpa Ryan merasa curiga.


"pergilah, bangunkan Sofia, ajak dia makan malam"


Ryan bangkit hendak memanggil Sofia namun ada hal yang ingin Ray sampaikan sebelum ia berangkat ke Jerman, maka ia memanggil Ryan untuk duduk kembali


"Ryan, selama papa pergi jaga dirimu baik-baik, jauhi masalah dan jaga Sofia, pergilah ke dokter meski kamu tidak merasa sakit, papa sudah bicara dengan Sofia, dia akan menemanimu, turuti kata-katanya, demi Sofia kamu harus sembuh, dia gadis istimewa jadi jangan kecewakan dia"


Ryan tersenyum senang karena akhirnya Ray bisa menerima fia dan menyadari betapa istimewanya dia.


"Ryan janji pah"


"soal Maya, kamu jangan pikirkan apa-apa, serahkan itu pada papa, lakukan lah apa yang membuatmu bahagia, papa akan mendukung keputusan mu"


adakah hal yang lebih membahagiakan dari ini? setelah sekian lama menderita jika mau bertahan sedikit lagi kebahagiaan pasti akan datang.


"terimakasih pah....."


***


Makan malam hari ini semuanya menu kesukaan Sofia, pastinya dengan dessert puding mangga yang menjadi favoritnya. bini Mae menyayangi Sofia seperti anak nya sendiri dan ketika Sofia tak lagi datang ia juga merindukannya, bibi Mae tak mengerti kenapa Ray memilih Maya sebagai tunangan Ryan, Maya bersikap manis hanya saat Ray ada tapi begitu Ray atau Ryan tak ada, sikap nya berubah sombong dan bertingkah seperti ia adalah pemilik rumah ini, berbeda sekali dengan fia yang rendah hati, sederhana baik di dalam dan cantik di luar.


setelah makan malam fia berterima kasih pada bibi Mae untuk makanannya dan berpamitan pada Ray untuk pulang, Ryan mengantar fia menuju rumah, mereka berjalan dengan bergandengan tangan, Ryan merasakan seluruh tubuhnya dialiri listrik dengan daya rendah tapi cukup membuat jantungnya tersentak dan memompa lebih kuat, fia lah alasan jantungnya terus berdetak tanpa fia, Ryan hanya lah mayat berjalan, ia tak mau berada di dalam neraka itu lagi maka Ryan menggenggam erat tangan fia seperti tangan nya terlem disana.


sampai di depan rumah fia, Ryan masih tak mau melepaskan tangannya.


"aku masuk ya"


"ok..."


"Boleh kuminta tangan ku?"


"masih kangen..." jawab Ryan sambil mengayunkan tangan nya, Ryan merajuk seperti bocah kecil yang minta di manja


"sini peluk" kata fia.


mata Ryan membuka lebar dan berbinar, ia menerima tawaran fia dengan senang hati, menikmati kehangatan dan aroma fia yang lama ia rindukan, lalu tanpa berpikir Ryan mengatakan apa yang terlintas di kepalanya saat itu.


"yank...."


"ya...?"


"let's get married"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


hallo readers... 🤗.


kira-kira fia jawab apa ya?


kalau kamu tiba-tiba di lamar pacar kamu gimana? 🤭🤭.


.


.


.


.


.


stay save and stay healthy 💪💪