Hey Sofia

Hey Sofia
The lover after me



**Halo readers 😊


sebelumnya mohon maaf karena update yang moloor banget... 🙏🙏🙏


Dan terima kasih banyak masih menunggu kelanjutan cerita hey sofia...


I purple you 💜**


.


.


.


.


.


.


.



fia lebih sering menghabiskan 2 jam setelah pulang sekolah di perpustakaan, ia merasa sudah jauh tertinggal pelajaran dan butuh untuk mengalihkan pikiran, belajar adalah yang fia pilih dan menjadi sibuk dengan cara yang positif.


fia mengambil tempat duduk di dekat jendela di mana ia bisa melihat langit polos tanpa awan, berwarna biru cerah hingga sedikit menyilaukan mata fia yang memandangnya dengan tatapan kosong, untuk sesaat pikirannya entah berada dimana, matanya menjadi perih karena terlalu lama menatap langit, ia tersadar dan berkedip beberapa kali sebelum kembali ke buku di depannya, siap untuk di baca.


dengan bertopang dagu fia menulis catatan di buku nya, ia adalah satu-satunya siswa yang masih menggunakan buku sementara teman-temannya yang lain menggunakan laptop tapi itu tak pernah menjadi hambatan untuk nya terus belajar atau mengecilkan diri nya didepan teman-temannya, dulu Ryan sering menawarkan untuk membelikan fia laptop tapi fia selalu menolaknya. bukan karakternya untuk meminta sesuatu yang tidak terlalu ia butuhkan.


karena lelah membaca mata fia perlahan hilang fokus, huruf-huruf menjadi tak beraturan dan hampir mustahil untuk di baca, fia mengerjapkan matanya demi mendapatkan fokusnya lagi, fia cukup berjuang sampai akhirnya ia menyerah dan benar-benar menutup matanya lalu jatuh dalam tidur yang dalam....


fia tak ingat ia sedang diperpustakaan saat ia tanpa sadar ketiduran, saat fia tertidur tangan yang di gunakan untuk menopang dagunya tak mampu lagi menahan berat nya, perlahan ia kehilangan keseimbangan dan pasti akan terjatuh membentur meja dengan menyakitkan jika saja sebuah tangan tak menangkapnya tepat waktu, lalu dengan sangat lembut dan hati-hati tangan itu menaruh kepala fia di atas tumpukan buku, ia menarik kursi di depan fia pelan-pelan agar fia tak terbangun, ia menatap fia yang masih tertidur dengan tatapan nanar penuh kerinduan. ia rasakan hatinya sakit karena meski fia begitu dekat tapi ia tak bisa menyentuhnya, sudah tak punya hak untuk membelai rambutnya.


alis fia bertaut karena tajamnya sinar matahari yang masuk melalui jendela, tak ingin fia terganggu bahkan dalam tidurnya, ia menghalangi cahaya matahari dengan telapak tangannya yang besar, kini dahi fia tak lagi berkerut, dengan begitu ia tahu fia tidur dengan nyaman, meski fia tak sadar, ia akan pastikan fia selalu aman.


fia terbangun dengan terkejut karena suara petir yang memekakkan telinga, ia membentuk posisi duduk sempurna dan melihat melalui jendela saat petir membelah langit dengan cahaya putih turun dari atas ke bumi, beberapa saat yang lalu langit sangat cerah dan terang benderang kini berubah menjadi gelap gulita seperti itu sudah malam, fia segera merapikan buku-buku nya dan menaruhnya ditempat semula.


fia berlari menuju pintu keluar, ia berpapasan dengan gadis penjaga perpustakaan yang ia kenal karena ia sering ke perpustakaan beberapa hari ini, gadis dengan kacamata dan rambut kuncir kuda yang ramah dan sangat manis


"Mbak Ola, maaf fia ketiduran tadi"


"iya, ga pa-pa fia, tadi mbak mau bangunin kamu tapi ga boleh, katanya kamu capek jadi jangan di bangunin, dia juga jagain kamu selama kamu tidur lho"


"dia siapa mbak?" tanya fia


"Ryan, dia baru aja pergi ga lama sebelum kamu bangun, kamu ga ketemu dia?"


fia menggeleng, ia terlalu bingung untuk bisa menjawab Ola, fia tidak bertemu dengan Ryan hari ini kecuali di kelas dan ia juga tidak bicara dengan fia setelah mereka putus, fia mengerti Ryan marah padanya hingga fia tak berani untuk menyapanya lebih dulu tapi jika yang Ola katakan benar bahwa Ryan menjaganya selama ia tidur apa itu berarti ia masih peduli padanya? bagaimana ia tahu fia ada di perpustakaan? dan mereka jelas tidak berjanji untuk bertemu di sana.


"aneh, mbak kira kalian bersama"


kata-kata Ola menarik fia kembali dari lamunannya.


saat fia sampai di depan pintu sekolah, hujan sudah sangat deras dan mustahil untuk nya pulang, ia tak membawa payung dan hari ini ia tidak mengenakan sweater nya, betapa fia merasa sangat bodoh saat ini, sekolah sudah hampir kosong kecuali masih ada beberapa siswa yang mengikuti ekstrakurikuler, ia melipat kedua tangan karena udara dingin, berpikir untuk menunggu hujan sampai benar-benar berhenti baru ia bisa pulang.


fia merasakan tubuhnya terdorong kedepan saat sebuah jaket diletakkan seseorang dari belakang ke bahunya yang gemetar kedinginan, secara naluri dia menoleh untuk melihat siapa yang memberinya jaket itu, Ryan dengan santai melewati fia seolah fia tak berdiri disana lalu Ryan berlari menerobos hujan dan segera masuk ke mobil jemputan nya,


Ryan baru saja memberikan jaketnya pada fia dan di perpustakaan tadi juga Ryan, seketika hati fia menjadi hangat bahkan terlalu hangat sampai terasa panas.


mereka memang sudah putus dan Ryan sudah membebaskannya tapi itu tak menghentikan Ryan untuk tetap peduli padanya, seperti perkataan lama seseorang bahwa kebiasaan lama susah hilang.


setelah mereka putus, tak banyak yang berubah dari Ryan, ia tetap Ryan yang mudah bergaul dan masih mendengarkan musik melalui earphone nya sambil bergumam sendiri, masih bermain basket dan masih tampan seperti dulu yang berbeda adalah ia sudah berhenti bicara dengan fia, bahkan tidak menatap nya, seolah fia tembus pandang dan fia hanya bangku kosong di sebelahnya, satu hari fia pernah melihat Maya datang menjemput Ryan di sekolah, hubungan mereka mungkin sudah berkembang menjadi lebih baik, itu hal yang bagus kan? saat Ryan menemukan penggantinya dan bahagia, itu adalah tujuan fia tapi kenapa hatinya menjadi sakit?


fia pulang dengan berjalan kaki setelah hujan benar-benar berhenti, baru jam 5 sore tapi langit sudah gelap dan udara menjadi lebih dingin dan lembab, fia menarik resleting jaketnya sampai ke atas dan memasukkan tangannya ke dalam kantung di kedua sisi jaket, fia merasa kehangatan Ryan, dari aroma tubuh Ryan yang tertinggal di jaketnya fia merasa Ryan sedang memeluknya, untuk sesaat fia mengutuk dirinya yang bodoh karena melepaskan orang yang sangat ia sayangi dan yang menyayangi nya, Ryan seperti harta Karun yang jatuh dengan percuma di pangkuannya namun dengan angkuh fia membuang itu semua, ia takkan bisa menemukan lagi yang seperti Ryan dimana pun ia mencari tapi fia memang tak pernah berencana untuk menemukan pengganti Ryan.


ini adalah ketiga kalinya Ryan memberikan jaket pada fia, ia ingat saat bermalam di rumah Ryan dan ada walk in closet di kamarnya. fia sempat menengok ke dalamnya dan tak bisa menahan untuk terperangah takjub, ruangan itu separuh besarnya dari rumah fia, disana semua pakaian tertata rapi berdasarkan warna, jenis dan merk baju nya, bahkan ruangan itu lebih baik dari toko yang menjual merk ternama yang biasa fia lihat di mall, juga ada rak 8 susun yang berisi koleksi sepatu Ryan yang disesuaikan untuk kebutuhan acara dan tentu saja dari merk terkenal bahkan ada yang edisi terbatas. satu kesamaan dari sepatu-sepatu itu adalah semua nya berwarna putih, ada ketertarikan aneh antara Ryan dengan sepatu berwarna putih.


selama hidupnya, Ryan tak pernah merasakan kekurangan, ia terbiasa dengan piring perak di atas meja makan dan semua orang yang melayani nya, saat Ryan berkata ia tak peduli dengan semua itu sesungguhnya ia tak tahu betapa sulitnya mencari uang, harusnya ia melihat bagaimana lili bekerja keras setiap hari hanya agar makanan tersedia di meja dan hidup mereka terjamin untuk hari itu, bahkan telapak tangan Ryan lebih halus dari semua teman wanita yang fia kenal,


terjebak dalam pikirannya sendiri, fia tak sadar ada sebuah mini Cooper dengan cat custom warna pink melaju dengan kecepatan normal dari arah kiri, terkejut dan tak sempat menghindar fia terjatuh berlutut di atas jalan aspal ketika ujung mini Cooper menyentuh pahanya, terduduk di jalan fia mendengar suara pintu mobil yang di buka, fia bisa tahu pengendara mini Cooper itu seorang wanita dari suara hentakan sepatu heel nya, fia melihat lututnya yang berdarah dan perih, berpikir ini salahnya karena tak waspada saat berjalan.


wanita itu berdiri dengan sikap angkuh di hadapan fia, ia membuka kaca matanya dan disana terlihat matanya yang besar dan indah, lalu dengan nada terkejut yang di buat-buat ia berkata


"sofia, kau tak apa-apa?" Maya membantu fia berdiri


"aku baik-baik saja"


"kau harus lebih berhati-hati saat berjalan, jangan melamun"


fia ingin bergegas pergi dari sana, entah kenapa Maya membuatnya tak nyaman, fia mulai berjalan tertatih selangkah demi selangkah sambil menahan nyeri, Maya mengambil lengan fia begitu ia menyadarinya sesuatu


"tunggu sebentar, ini jaket Ryan kan"? Maya seketika marah setelah melihat jaket Ryan dipakai fia, ia menarik jaket itu seperti ingin melepas kan dengan paksa


"ah...."


"lepaskan..!!!"


Maya secara kasar memaksa melepas jaket Ryan, fia terhuyung tanpa sempat menolak, begitu jaketnya lepas Maya mendorong fia


"kau masih belum merelakannya? menyerahkan Sofia kalian sudah putus!! atau jangan-jangan kau masih mengharapkan Ryan?!" meski Maya kasar tapi fia masih bisa menahan kekesalannya


"ini tidak seperti yang kau pikirkan"


"oh, aku tahu benar orang-orang seperti mu yang menggunakan berbagai cara dan trik kotor di mendapat kehidupan yang nyaman, bahkan tak ragu melemparkan tubuh kalian agar tujuan kalian tercapai, kau benar-benar menjijikkan Sofia, tak punya harga diri, seorang sampah masyarakat!!"


"Maya cukup!!" fia mencoba mengendalikan emosinya dan bersabar meski Maya menghinanya tapi Maya seperti kucing liar yang marah karena makanannya diambil


"jangan berteriak padaku!! manusia rendah seperti mu bahkan tak pantas menghirup udara yang sama dengan ku, sadarlah Sofia di mana tempatmu dan siapa aku, perbedaan di antara kita seumur hidupmu takkan bisa mencapai levelku, bagaimanapun akhirnya akulah yang akan menang karena aku lebih pantas untuk Ryan"


fia tersenyum tenang, sebelah bibirnya tertarik ke atas dan menatap Maya dengan pandangan merendahkan


"kalau kau begitu percaya diri, Maya. lalu untuk apa kau mengatakan semua itu padaku? apa menghinaku membuatmu hatimu lebih baik?"


fia tak ingin menghabiskan tenaganya hanya untuk meladeni tuan putri manja seperti Maya, jelas Maya sedang memprovokasi nya dan berharap fia bereaksi seperti yang ia inginkan, merasa kecil, merasa terhina lalu menangis dan berlari ke rumah, tentu fia takkan memberikan kepuasan itu pada Maya, fia berjalan mundur menjauhi Maya sambil berkata dan tak lupa tersenyum sinis


"pulanglah Maya, dan mandi air dingin, kau sedang terbakar saat ini"


fia meninggalkan Maya dengan kemarahan di matanya, fia berhenti ketika Maya memanggilnya, tanpa merasa perlu untuk berbalik, fia membiarkan Maya berbicara dengan punggungnya.


"Hey, sofia!! akhir Minggu ini kami akan bertunangan, tentu saja kau diundang, datanglah"


fia memang tak melihat Maya tapi ia tahu dari suaranya yang cerah Maya saat ini pasti sedang tersenyum,


waktu terasa lambat, malam menjadi semakin dingin dan sunyi sejak mereka putus, dari balik selimutnya fia lupa alasan kenapa ia melepaskan Ryan, kata-kata Maya masih terngiang di telinga fia, ia tahu ini akan terjadi tapi tak menyangka rasanya akan sesakit ini, kenapa setiap kali ia mengingat Ryan air matanya jatuh tanpa ijin darinya, melalui kaca jendela fia lihat bayangan dirinya dan Ryan berjalan bergandengan tangan, tertawa bersama dan bahagia, lalu hatinya menjadi lebih sakit dari sebelumnya.


kebahagiaan adalah lapisan es tipis yang sekali retak sudah pasti hancur dan takkan kembali utuh.


beberapa hari yang lalu fia tidur dipangkuan Lili, sambil ibunya menonton drama yang ia suka, dengan jari kasarnya lili menyisir rambut fia, mata fia tertutup tapi tidak tertidur suasana hati fia sedang sangat buruk dan pangkuan ibunya adalah hal yang ternyaman saat itu,


itu adalah saat fia putus dengan Ryan.


"kamu yakin itu keputusan yang tepat?" fia membuka matanya tapi mulutnya tetap tertutup, ia tak punya jawaban atas pertanyaan Lili


"kamu benci Ryan?"


"tidak!"


"lalu kenapa kamu memutuskan nya?"


"karena fia terlalu mencintai Ryan, makanya fia mau Ryan bahagia walaupun tanpa fia, asal Ryan bahagia itu sudah cukup"


"kok ibu jadi bingung, kalau kamu mencintai Ryan seharusnya kamu bahagia bersama dia bukan malah merelakan Ryan bahagia bersama orang lain"


"Bu, kalau Ryan tahu tentang kecelakaan itu ia pasti akan sangat terluka, fia tidak mau itu"


"lalu apa jaminannya kalau kalian terpisah dan Ryan takkan pernah tahu tentang itu?"


"tidak ada jaminan, tapi fia mau membebaskan Ryan dari rasa bersalah"


"karena itu kamu harus mendampingi Ryan selama masa-masa itu dan meyakinkan Ryan kalau itu bukan kesalahannya, itu tanggung jawabku sofia, kamu mau lari dan melempar tanggung jawab mu pada orang lain?".


.


.


.


.


.


untuk saat ini satu chapter dulu ya...


terimakasih sudah membaca Hey sofia 🤗🤗