Hey Sofia

Hey Sofia
Pesan ancaman



Halo readers 😊


terima kasih sudah membaca hey Sofia


dan terima kasih mau menunggu update nya


maaf baru di up


karena satu dan lain hal makanya baru bisa sekarang 🙏🙏


selamat membaca, semoga suka 😁😁


------------------------------------------------------------


Author POV.


Fia tak mengerti kenapa dia harus dilindungi, Fia paham banyak yang menyukai Ryan, ia seperti school sweet heart nya SMA HARAPAN PELITA, tapi mereka bukan pasangan selebriti atau semacam nya, Fia pikir temen-temennya sedikit berlebihan soal ini, lagi pula Fia sedang menikmati perhatian Ryan, dia sangat baik dan pengertian, memperlakukan Fia dengan lembut dan kehati-hatian, berbeda sekali dengan image Ryan yang cuek dan tidak suka ikut campur urusan orang, walaupun kata mereka itu salah satu daya tarik Ryan selain parasnya yang indah dan ketampanannya yang lebih mirip tokoh Webtoon saking sempurnanya. Fia tak jarang berpikir bagaimana Ryan bisa tertarik padanya? Fia gadis biasa-biasa saja, yang lebih cantik darinya bertebaran dimana-mana, tak ada yang spesial dalam dirinya yang bisa membuatnya orang lain menoleh 2 kali ke arahnya. Padahal Fia hanya tidak menyadari pesonanya dan Ryan bisa melihat itu. Ryan pun sangat menikmati status barunya, Ryan juga senang bermanja pada kekasih hati nya.


Baru lah setelah dua bulan mereka berpacaran Fia mulai mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, mulai dari pesan di secarik kertas yang diletakkan di kolong meja Fia, pesan itu bertuliskan


Tinggal kan Ryan! lo ga pantas untuk Ryan. Pergilah monyet


Di hari berikutnya pesan itu ada di dalam tas Fia.


Pergi Lo dasar jelek!!!


dua hari kemudian pesan itu ditulis di meja dengan marker permanen


Mati saja sana!!!


Fia langsung menutupi meja nya dengan tas agar Ryan tidak melihat nya, beruntung teman-teman Fia membantu menghilangkannya dari meja sebelum bel masuk dan tanpa sepengetahuan Ryan. Fia sengaja menyembunyikan ini dari Ryan dan menjadikan teman-temannya sebagai kaki tangan Fia dengan membujuk mereka untuk tidak menceritakan ini pada Ryan. Fia pikir itu hanya kerjaan orang iseng, lama-lama akan bosan dan berhenti sendiri, namun meski Fia terlihat baik-baik saja dan tak terpengaruh soal ini hatinya tetap saja sakit dan jauh di lubuk hatinya Fia sangat takut, jika surat itu ditemukan dalam tasnya berarti orang itu sangat dekat dengannya, Fia curiga salah satu teman sekelasnya tapi Fia tidak mau membuat teman-teman nya terutama Ryan khawatir, lagi pula semua rasa takut hilang jika Fia bersama Ryan, bagi Fia, Ryan adalah obat, obat penenang milik Fia seorang.


Sikap acuh Fia hanya membuat peneror itu semakin menjadi, kini tak hanya verbal tapi menjurus pada kekerasan fisik,


saat pelajaran olahraga, selain kelas Fia yaitu 3-2 juga ada kelas 2-8 dan 1-4 yang berbagi lapangan indoor, mereka sedang bermain voli saat salah satu bola yang entah dari mana menghantam keras kepala belakang Fia hingga membuatnya pingsan. Ryan menggendong Fia di punggungnya dan melarikan Fia ke UKS, semua orang menganggap itu hanya kecelakaan karena memang saat itu banyak murid yang sedang bermain voli, maka mereka tidak pernah mencari tahu siapa pelaku nya.


Ketika Fia sadar. Ryan sudah duduk disamping tempat tidur nya, sudah setengah jam Ryan duduk di sana sambil menggenggam tangan nya dan tak berhenti cemas, senyuman Ryan adalah yang pertama kali Fia lihat.


"Udah bangun?"


Tangan kanan Fia memegang kepalanya dan tangan kiri nya mencoba meraih Ryan, dengan sigap Ryan membantu Fia duduk


"Aku kenapa?"


tanya Fia masih bingung


"Kepala mu terkena bola voli tadi dan kamu pingsan"


Fia mencoba mengingat kejadian itu tapi yang ia ingat hanya rasa sakit di kepala nya


"Aww..."


"Kamu sakit? kita ke dokter ya" ajak Ryan cemas


"Ga, cuma pusing sedikit, aku mau makan" sebuah senyum tersungging di wajah Ryan. dalam keadaan ini dia masih ingat makan?


"Kamu lapar?"


"Hem .." Fia mengangguk pelan... ia benar-benar kelaparan sekarang, mereka menuju kantin, kebetulan sudah jam istirahat, Ryan menuntun nya duduk sementara Ryan membeli makanan. Fia melihat sekeliling dan mencari teman-temannya, kenapa di jam istirahat mereka tidak ada di kantin?


10 menit kemudian Ryan kembali dengan baki penuh makanan, menu nya nasi goreng , salad buah, sekotak susu strawberry seperti yang Fia suka dan sekotak jus jeruk, Ryan menaruh makanannya satu persatu, menyingkir kan baki nya kepinggir meja lalu duduk didepan Fia.


"Pelan-pelan makannya, ga ada yang minta"


Fia hanya tersenyum dan meneruskan makannya.


"Kamu udah baikan? ga pusing lagi?" tanya Ryan


"Ga, kayaknya aku pusing karena lapar deh"


jawab Fia sambil menelan nasi gorengnya.


"Tsk... dasar kamu tuh gemesin banget sih"


Ryan menepuk pangkal kepala Fia lembut.


Fia meminum habis susu strawberry nya, terdengar bunyi seruput yang nyaring sampai ke seluruh kantin, Fia menggoyang-goyangkan kotak susu nya setelah yakin habis Fia menaruhnya kembali ke meja dengan kecewa dan mulut merengut. Ryan heran mau sampai mana ia di buat gemas dengan pacar nya itu


Dengan tangan menopang dagu Ryan bertanya pada Fia


"Mau susu lagi?"


Fia manggut-manggut dengan semangat "Mau....!!!" teriak nya manja.


Sementara Ryan membelikannya susu. Fia mengincar salad buah yang memanggil namanya terus minta di makan, Ryan datang dengan 2 kotak susu strawberry 250ml, menaruhnya di meja, diikuti dengan Ryan yang duduk.


"Biar ga ada yang cemberut lagi" sindir Ryan,


Fia tidak peduli dan memakan salad buah nya


uhuk uhuk ..


Fia tersedak melon yang jadi salah satu buah di salad nya. Ryan menusuk kotak susu dengan sedotan dan menyuapi Fia.


"Makanya pelan-pelan"


***


Jemima berdiri dengan baki makanannya, memperhatikan mereka dengan tatapan kesal, lalu Jemima dengan percaya diri nya duduk disebelah Ryan tanpa menoleh ke arah Fia seakan Fia tak ada, seakan mereka akrab, Jemima bertingkah sok imut pada Ryan, mencari kesempatan agar bisa menyentuhnya dan bergelayut di lengan nya tanpa memperdulikan ada Sofia yang jelas sekali merasa tidak nyaman, untung lah Ryan orang yang tegas jika itu menyangkut Sofia, dia akan melakukan apa saja agar kekasih nya selalu tersenyum, bahagia dan nyaman, maka dihempaskan lah dengan kasar tangan Jemima yang menempel pada Ryan seolah itu kotor dan Ryan jijik, tanpa basa-basi Ryan langsung bangun dari tempat duduknya, menghampiri Fia menarik tangannya sehingga Fia berdiri, menarik pinggang Fia agar mendekat padanya lalu menaruh kepala Fia di dada nya, Fia yang tidak siap dengan tindakan tiba-tiba Ryan hanya bisa pasrah.


"Kau membuat pacarku tidak senang dan aku paling benci itu"


Ryan menuntun Fia pergi dari kantin meninggalkan Jemima dengan rasa marah dan malu. Jemima sudah lama menginginkan Ryan dan terang-terangan menyatakan sukanya pada Ryan. Jemima merupakan anak kesayangan yang terbiasa dipenuhi keinginannya sehingga ia begitu kesal dengan penolakan Ryan.


****


3 hari setelah kejadian itu Fia kembali mendapat pesan teror melalui SMS dari nomor tidak di kenal, berisi ancaman yang membuat Fia gemetar


Bola voli itu cuma peringatan, tinggalin Ryan atau gue bisa lebih nekat!! jangan sampai Lo nyesel!!


Fia jatuh terduduk di bangkunya, memandang keluar jendela cemas dan beralih mengawasi kelas nya, dari mana orang itu tahu nomor telepon nya? tidak banyak yang tahu kecuali Ryan dan teman-teman dekat nya, mungkin kah salah satu dari mereka? Fia menggeleng keras meyakinkan dirinya kalau itu tidak mungkin, Fia sangat menyayangi teman-temannya dan percaya pada mereka.


Fia tidak menyangka kejadian waktu pelajaran olahraga ternyata bukan kebetulan, bagaimana bisa seseorang melakukan ini semua hanya karena ia pacaran dengan Ryan. Fia melirik ke arah Ryan yang duduk di seberang kanannya, Ryan sedang fokus mendengarkan guru sambil menulis catatan, kepala nya bergantian melihat ke depan dan ke buku catatannya, Ryan yang serius terlihat sangat tampan, sesekali ia memainkan pensil mekanik nya, dengan lihat memutarnya di antara sela-sela jari, sesekali juga ia menggigit ibu jari kirinya


Ah dia seorang kriminal, dia membunuhku dengan pesonanya. Batin Fia


Ryan merasa ada yang memperhatikan nya. Ryan menoleh ke arah Fia, wajah terkejut Fia memerah karena malu dan Ryan tidak bisa menahan untuk tersenyum.


Fia tidak bisa fokus selama pelajaran berlangsung, dalam perjalanan pulang pun ia masih melamun sampai tidak sadar kalau Ryan meneriaki namanya


"Bunga..!!"