Hey Sofia

Hey Sofia
Sore itu di bawah langit senja




*****


The worse is yet to come


*****


Waktu bergulir lebih cepat saat kau merasa paling bahagia, itu pula yang dirasakan fia, di hari terakhir ujian, fia, Ryan dan teman-teman nya berkumpul di restoran cepat saji dekat sekolah, mungkin mereka takkan bisa berkumpul sesering ini jika mereka lulus nanti, akan ada suatu hari saat mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri, kesibukan setelah menjadi orang dewasa, mereka akan merindukan hal-hal kecil seperti makan di kantin, menonton pertandingan voli Ayu, menenangkan Rani yang baru putus dengan pacarnya, menghadapi kepolosan Gema atau membaca surat cinta yang di berikan kepada putri oleh penggemarnya, kehidupan SMA mereka menyenangkan karena mereka punya satu sama lain.


Setelah makan siang merekapun berpisah, Ryan dan fia berjalan pulang seperti biasa, langitnya cerah berwarna jingga terang, meski sedikit berangin tapi udaranya hangat, dia memakai sweater pink tanpa kancing dengan tudung yang menutupi kepalanya, ia merasa lega karena ujian telah selesai tapi ia juga merasa gugup dengan apa yang menunggunya didepan, dia sudah tahu apa yang ia mau dan sudah merencanakan semuanya, ia juga sudah mendaftar ke beberapa universitas, dunia baru menunggu fia dan sesuatu yang tidak ia ketahui selalu membuatnya takut. ketidakpastian akan apa yang terjadi membuatnya gelisah.


Fia sudah terbiasa dengan kehadiran Ryan, ia hampir tidak pernah ditinggalkan sendirian, selalu ada Ryan di sampingnya, apa nanti ia akan bisa tanpa Ryan? tanpa sadar ia sudah bergantung padanya, Ryan seperti oksigen yang membuatnya mampu bernapas, ia adalah darah yang mengalir ditubuh fia, tanpa itu semua bagaimana manusia bisa bertahan? Fia terjebak dalam pikiran nya sendiri tanpa tahu Ryan memperhatikannya, ia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dipikirkan wanitanya itu,


"apa yang kau pikirkan?"


"tidak terasa sebentar lagi kita akan lulus dan kuliah"


"apa kau gugup?"


"mm.... sedikit, aku tak tahu apa yang akan kuhadapi nanti"


Ryan menghentikan langkahnya disusul juga dengan fia,


"kenapa berhenti?"


"perubahan terkadang bisa sangat menakutkan, bukan karena itu buruk tapi karena itu hal yang baru, tenanglah semua akan baik-baik saja, kau selalu punya aku"


wajah Fia yang tertutup tudung terlihat imut, ia menghela napas dan merasa lebih tenang karena Ryan meyakinkannya


"kau benar"


angin kencang menjatuhkan daun-daun kering dari pohonnya tapi bagi fia itu seperti convetti yang mengiringinya saat berjalan bersama Ryan, sama sekali tak terasa lelah dan fia berharap jalan ini tak ada ujungnya, fia sangat suka berjalan bergandengan dengan Ryan, fia juga tak keberatan jika waktu berhenti saat itu juga. andai fia bisa kuliah di universitas yang sama dengan Ryan pasti akan sangat menyenangkan tapi kampus yang fia pilih adalah universitas jurusan seni sedangkan Ryan akan mengambil jurusan bisnis, itu berarti akan sedikit waktu mereka bertemu, memikirkan itu fia bersungut-sungut tapi tak ada yang bisa ia lakukan untuk itu.


Fia berhenti di persimpangan jalan, Ryan mencoba menariknya tapi fia tak bergeming.


"kenapa ga jalan?"


"aku mau pulang"


"iya, ayo pulang"


"ke rumahku"


"kenapa?"


"aku mau istirahat dan tidur"


"kau bisa melakukan itu di rumahku"


"aku mau tidur di rumahku, di tempat tidurku sendiri"


sudah terlalu lama fia meninggalkan rumahnya karena Ryan tak bisa meninggalkan fia sendiri,


"sudah waktunya aku pulang yan,"


Ryan memang berencana untuk 'menendang' fia keluar dari rumah demi kesehatan jantungnya tapi ketika itu benar-benar terjadi, Ryan jadi tidak rela, seperti ada sesuatu yang hilang dan sekektika Ryan merasa kesepian untuk sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.


"lalu apa yang harus kulakukan tanpamu?"


Fia mengangkat kedua bahunya.


"terserah"


kecupan di pipi sengaja dihadiahkan fia agar Ryan berhenti merengek dan itu berhasil, wajahnya memerah, Ryan tersipu malu karena tindakan spontan Fia.


"sampai ketemu besok"


"ok"


Ryan berjalan mundur sambil melambaikan tangan pada fia, senyumnya tertarik jauh ke belakang sampai hampir menyentuh telinga,. entah karena cahaya senja yang jatuh tepat dibelakang Ryan atau ini adalah daya tarik Ryan tapi sore itu Ryan sangat mempesona, ia benar-benar indah, keindahannya sampai membuat jantung fia berdebar-debar.


apa ia selalu setampan itu?


Fia hampir mengurungkan niatnya untuk pulang dan berlari menghambur ke dalam pelukan Ryan tapi itu tidak ia lakukan, fia berbalik badan dan berjalan ke arah berlawanan dari Ryan.


aku harus menenangkan diri, kurasa semenit lebih lama jantungku akan meledak


###


Fia di sambut dengan buket bunga daffodil ketika ia membuka pintu, bunga cantik berwarna putih dan kuning di bagian tengahnya tertata rapih diatas meja, harumnya menyebar ke seisi rumahnya, fia mengambil kartu ucapan yang di selipkan dan membacanya


HAPPY GRADUATION DAY


*LOVE, LOUIS*


"kau suka bunganya?"


Louis seakan sudah tahu alasan fia meneleponnya


"suka, terimakasih kak, bunganya cantik tapi fia kan baru selesai ujian, belum tahu hasilnya"


"aku yakin kau pasti lulus, maaf aku tidak bisa kesana untuk memberikan nya langsung jadi aku mengirim Lana"


"kakak masih di Malang?"


"iya, pekerjaan disini lebih lama dari yang kukira, aku akan kembali dalam 2 hari ke depan, apa ada yang kau inginkan? oleh-oleh?"


"fia tak butuh apa-apa, cukup pulang dengan selamat"


Louis terdiam selama beberapa detik kemudian mengakhiri percakapan mereka dengan berkata


"i Miss u too"


###


Fia mengisi vas bunga dengan air dan memindahkan bunga ke dalamnya untuk menaruhnya di kamar, Fia berbaring sambil menatap daffodil nya dan merasa mengantuk lalu tertidur dengan sendirinya.


Fia bermimpi, dalam mimpinya ia berada di tengah taman bunga daffodil, ia melihat kupu-kupu menari di atas bunga lalu mengejarnya tapi kupu-kupu itu terus terbang, Fia lebih jauh masuk ke dalam taman dimana ada ratusan kupu-kupu terbang mengelilinginya seakan ingin bermain dengan fia, ketika kupu-kupu itu pergi, Fia melihat seorang pria berdiri tak jauh darinya, Fia mengenali punggung itu


"Yan...."


Dia berteriak memanggil namanya, Ryan berbalik dan tersenyum pada Fia persis seperti tadi sore, ia juga melambaikan tangan dan berjalan mundur menjauhi Fia,


Fia mengejarnya tapi sekencang apapun Fia berlari, Ryan malah semakin menjauhinya, Fia berlari terus dan terus sambil meneriakkan nama Ryan sampai ia membuka matanya, Fia bangun berkeringat dengan napas yang tersengal-sengal seperti benar-benar habis berlari, itu mimpi yang aneh, apa karena Fia tertidur saat masih sore? keadaan di kamar Fia sudah gelap gulita ternyata hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul 11. pantas ia merasa lelah


Fia ke dapur untuk mengambil air minum dan menyalakan lampu taman lalu kembali ke kamar, Fia mengecek ponsel yang ia letakkan di nakas dan melihat 13 panggilan tak terjawab dari Louis, Fia pasti tak sengaja mengaktifkan mode diam


ada apa kak L menelpon sebanyak ini? apa terjadi sesuatu?


Fia tak bisa tidak merasa cemas dan menelpon Louis,


"halo kak...."


"Sofia, dimana kamu sekarang? kenapa tidak menjawab telepon?"


kakak terdengar panik, ada apa sebenarnya?


"maaf, kak tadi fia ketiduran, ga dengar suara telepon"


"apa Ryan sudah menghubungi mu?"


Ryan? apa hubungannya dengan semua ini


"kak, sebenarnya ada apa?"


"kau pasti belum baca beritanya, aku akan mengirimkan link nya padamu sekarang, setelah kau baca segera hubungi Ryan.... dan Sofia, aku dalam perjalanan pulang, aku akan tiba di rumahmu dalam setengah jam"


hal mendesak apa yang membuat kak L sampai kembali lebih cepat dari jadwalnya?


"iya....."


Fia segera membuka link yang Louis berikan sesaat setelah ia menutup teleponnya, Fia membacanya secara perlahan dan berulang-ulang karena ia tak percaya dengan apa yang dibacanya, tubuhnya tak bisa menahan gemetar, ponsel itu jatuh dari genggaman Fia, ia membeku, membatu dalam kebingungan, jika saja ia tak ingat kata-kata Louis untuk segera menghubungi Ryan begitu ia membaca berita itu Fia pasti sudah terjatuh lemas di lantai, tapi tidak! ia harus menjadi lebih kuat demi Ryan, maka tanpa peduli bahwa itu sudah hampir tengah malam, Fia bergegas menemui Ryan, Fia menuruni tangga dengan kaki telanjang tapi ia tak lagi merasakan dinginnya lantai, tak ada yang lebih penting kecuali Ryan, ia harus cepat-cepat menemuinya.


langkah fia seketika terhenti karena saat ia membuka pintu, Ryan sudah berdiri di halaman rumahnya, Ryan tampak kacau dan shock, entah sudah berapa lama ia berdiri disana, sama halnya dengan Fia, Ryan juga bertelanjang kaki dan Ryan memegang ponsel di tangannya.


oh tidak, apa Ryan sudah membacanya?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


💜💜💜💜